alexametrics
28.4 C
Jember
Saturday, 25 June 2022

Kangen Masakan Istri

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tak pernah terlintas di benak Prof Achmad Subagio harus tinggal lama di Afrika. Lebih tiga bulan, guru besar Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember (Unej) ini berada di Kota Benin, Nigeria. Kota yang terletak sekitar 200 mil timur Kota Lagos, bekas ibu kota Nigeria sebelum pindah ke ibu kota baru, Abuja. Bahkan, pada Lebaran tahun ini, pakar tepung Mocaf tersebut harus merayakan Idul Fitri di Benua Hitam. Jauh dari keluarga dan sanak saudara.

“Terkadang saya kangen masakan istri,” kata Bagio, sapaannya, ketika dihubungi Jawa Pos Radar Jember, baru-baru ini. Dia berangkat ke Nigeria pada 15 Maret 2020 lalu untuk memberikan konsultasi teknologi pangan sesuai kepakarannya. Sesampainya di sana, pandemi Covid-19 melanda banyak negara, termasuk Nigeria. Sehingga dia tertahan karena pemerintah setempat menerapkan kebijakan lockdown di kota-kota besar sejak 21 Maret. Kebijakan ini otomatis menghentikan penerbangan internasional.

“Di sini tidak ada salat Id berjamaah. Karena pemerintah melarang orang berkumpul,” ceritanya. Sebenarnya, kata dia, pihak perusahaan yang mengundang sudah melakukan usaha untuk memulangkannya ke Indonesia. Tapi tak ada maskapai yang melayani penerbangan dari Nigeria ke negara lain hingga kini.

Mobile_AP_Rectangle 2

Selain itu, sempat ada upaya patungan menyewa pesawat secara bersama-sama, agar para ekspatriat di Nigeria bisa pulang ke negaranya masing-masing. Hanya saja, tidak semua ekspatriat bisa membeli tiket mengingat harganyanya melambung tinggi. Jika dihitung, satu orang dikenai harga Rp 80 juta. “Tiket jadi mahal karena satu pesawat hanya boleh diisi separuh dari kapasitas kursi yang ada,” tuturnya.

Guru besar di Program Studi Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian Unej, ini berkisah, jika di tanah air, biasanya dia akan mudik bersama keluarga ke rumah mertua di Situbondo. Kemudian, berlanjut ke Kediri untuk pulang kampung ke tanah kelahirannya sendiri. “Tentu saya rindu suasana seperti itu,” ungkapnya.

Suasana Lebaran dan Ramadan di Nigeria, menurutnya, tak jauh berbeda dengan di Indonesia. Semangat Ramadan juga menjadikan dinamika masyarakat meningkat untuk beramal saleh. Beberapa kebiasaan orang Nigeria juga berubah. Jika biasanya suka berdebat, kebiasaan itu tak lagi ditemui. Justru, mereka menjadi lebih sering mengingatkan yang lain kalau sedang berpuasa. “Sebenarnya di sini, Kota Benin, muslim menjadi minoritas. Sedangkan di Nigeria utara mayoritas. Meski minoritas, tapi umat muslimnya cukup banyak. Masjid juga ada,” katanya.

Hanya saja, untuk menu berbuka maupun santapan sehari-hari saat Lebaran, Bagio harus menyesuaikan dengan makanan pokok di sana. Dia berbuka dengan makanan lokal yang terbuat dari singkong dan umbi-umbian, juga beragam jenis pisang yang direbus atau digoreng. Biasanya, pisang yang kerap dikonsumsi adalah sejenis pisang gepok, pisang raja nangka, dan pisang agung. “Makanan-makanan tersebut adalah makanan pokok orang Nigeria. Kalau sudah begitu, saya selalu kangen masakan istri,” ucapnya.

Jika ingin ganti menu, dia terkadang menyantap nasi ala India. Karena dirinya memiliki teman orang India yang hobi masak. Tentu saja, rasanya berbeda dengan makanan khas Indonesia. Tapi paling tidak, hidangan itu dapat mengurangi kerinduannya menyantap suguhan tanah air. “Kalau pas Idul Fitri seperti ini, kebiasaan orang Nigeria juga hampir sama dengan Indonesia. Hari pertama Lebaran ada selamatan,” kisahnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tak pernah terlintas di benak Prof Achmad Subagio harus tinggal lama di Afrika. Lebih tiga bulan, guru besar Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember (Unej) ini berada di Kota Benin, Nigeria. Kota yang terletak sekitar 200 mil timur Kota Lagos, bekas ibu kota Nigeria sebelum pindah ke ibu kota baru, Abuja. Bahkan, pada Lebaran tahun ini, pakar tepung Mocaf tersebut harus merayakan Idul Fitri di Benua Hitam. Jauh dari keluarga dan sanak saudara.

“Terkadang saya kangen masakan istri,” kata Bagio, sapaannya, ketika dihubungi Jawa Pos Radar Jember, baru-baru ini. Dia berangkat ke Nigeria pada 15 Maret 2020 lalu untuk memberikan konsultasi teknologi pangan sesuai kepakarannya. Sesampainya di sana, pandemi Covid-19 melanda banyak negara, termasuk Nigeria. Sehingga dia tertahan karena pemerintah setempat menerapkan kebijakan lockdown di kota-kota besar sejak 21 Maret. Kebijakan ini otomatis menghentikan penerbangan internasional.

“Di sini tidak ada salat Id berjamaah. Karena pemerintah melarang orang berkumpul,” ceritanya. Sebenarnya, kata dia, pihak perusahaan yang mengundang sudah melakukan usaha untuk memulangkannya ke Indonesia. Tapi tak ada maskapai yang melayani penerbangan dari Nigeria ke negara lain hingga kini.

Selain itu, sempat ada upaya patungan menyewa pesawat secara bersama-sama, agar para ekspatriat di Nigeria bisa pulang ke negaranya masing-masing. Hanya saja, tidak semua ekspatriat bisa membeli tiket mengingat harganyanya melambung tinggi. Jika dihitung, satu orang dikenai harga Rp 80 juta. “Tiket jadi mahal karena satu pesawat hanya boleh diisi separuh dari kapasitas kursi yang ada,” tuturnya.

Guru besar di Program Studi Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian Unej, ini berkisah, jika di tanah air, biasanya dia akan mudik bersama keluarga ke rumah mertua di Situbondo. Kemudian, berlanjut ke Kediri untuk pulang kampung ke tanah kelahirannya sendiri. “Tentu saya rindu suasana seperti itu,” ungkapnya.

Suasana Lebaran dan Ramadan di Nigeria, menurutnya, tak jauh berbeda dengan di Indonesia. Semangat Ramadan juga menjadikan dinamika masyarakat meningkat untuk beramal saleh. Beberapa kebiasaan orang Nigeria juga berubah. Jika biasanya suka berdebat, kebiasaan itu tak lagi ditemui. Justru, mereka menjadi lebih sering mengingatkan yang lain kalau sedang berpuasa. “Sebenarnya di sini, Kota Benin, muslim menjadi minoritas. Sedangkan di Nigeria utara mayoritas. Meski minoritas, tapi umat muslimnya cukup banyak. Masjid juga ada,” katanya.

Hanya saja, untuk menu berbuka maupun santapan sehari-hari saat Lebaran, Bagio harus menyesuaikan dengan makanan pokok di sana. Dia berbuka dengan makanan lokal yang terbuat dari singkong dan umbi-umbian, juga beragam jenis pisang yang direbus atau digoreng. Biasanya, pisang yang kerap dikonsumsi adalah sejenis pisang gepok, pisang raja nangka, dan pisang agung. “Makanan-makanan tersebut adalah makanan pokok orang Nigeria. Kalau sudah begitu, saya selalu kangen masakan istri,” ucapnya.

Jika ingin ganti menu, dia terkadang menyantap nasi ala India. Karena dirinya memiliki teman orang India yang hobi masak. Tentu saja, rasanya berbeda dengan makanan khas Indonesia. Tapi paling tidak, hidangan itu dapat mengurangi kerinduannya menyantap suguhan tanah air. “Kalau pas Idul Fitri seperti ini, kebiasaan orang Nigeria juga hampir sama dengan Indonesia. Hari pertama Lebaran ada selamatan,” kisahnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tak pernah terlintas di benak Prof Achmad Subagio harus tinggal lama di Afrika. Lebih tiga bulan, guru besar Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember (Unej) ini berada di Kota Benin, Nigeria. Kota yang terletak sekitar 200 mil timur Kota Lagos, bekas ibu kota Nigeria sebelum pindah ke ibu kota baru, Abuja. Bahkan, pada Lebaran tahun ini, pakar tepung Mocaf tersebut harus merayakan Idul Fitri di Benua Hitam. Jauh dari keluarga dan sanak saudara.

“Terkadang saya kangen masakan istri,” kata Bagio, sapaannya, ketika dihubungi Jawa Pos Radar Jember, baru-baru ini. Dia berangkat ke Nigeria pada 15 Maret 2020 lalu untuk memberikan konsultasi teknologi pangan sesuai kepakarannya. Sesampainya di sana, pandemi Covid-19 melanda banyak negara, termasuk Nigeria. Sehingga dia tertahan karena pemerintah setempat menerapkan kebijakan lockdown di kota-kota besar sejak 21 Maret. Kebijakan ini otomatis menghentikan penerbangan internasional.

“Di sini tidak ada salat Id berjamaah. Karena pemerintah melarang orang berkumpul,” ceritanya. Sebenarnya, kata dia, pihak perusahaan yang mengundang sudah melakukan usaha untuk memulangkannya ke Indonesia. Tapi tak ada maskapai yang melayani penerbangan dari Nigeria ke negara lain hingga kini.

Selain itu, sempat ada upaya patungan menyewa pesawat secara bersama-sama, agar para ekspatriat di Nigeria bisa pulang ke negaranya masing-masing. Hanya saja, tidak semua ekspatriat bisa membeli tiket mengingat harganyanya melambung tinggi. Jika dihitung, satu orang dikenai harga Rp 80 juta. “Tiket jadi mahal karena satu pesawat hanya boleh diisi separuh dari kapasitas kursi yang ada,” tuturnya.

Guru besar di Program Studi Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian Unej, ini berkisah, jika di tanah air, biasanya dia akan mudik bersama keluarga ke rumah mertua di Situbondo. Kemudian, berlanjut ke Kediri untuk pulang kampung ke tanah kelahirannya sendiri. “Tentu saya rindu suasana seperti itu,” ungkapnya.

Suasana Lebaran dan Ramadan di Nigeria, menurutnya, tak jauh berbeda dengan di Indonesia. Semangat Ramadan juga menjadikan dinamika masyarakat meningkat untuk beramal saleh. Beberapa kebiasaan orang Nigeria juga berubah. Jika biasanya suka berdebat, kebiasaan itu tak lagi ditemui. Justru, mereka menjadi lebih sering mengingatkan yang lain kalau sedang berpuasa. “Sebenarnya di sini, Kota Benin, muslim menjadi minoritas. Sedangkan di Nigeria utara mayoritas. Meski minoritas, tapi umat muslimnya cukup banyak. Masjid juga ada,” katanya.

Hanya saja, untuk menu berbuka maupun santapan sehari-hari saat Lebaran, Bagio harus menyesuaikan dengan makanan pokok di sana. Dia berbuka dengan makanan lokal yang terbuat dari singkong dan umbi-umbian, juga beragam jenis pisang yang direbus atau digoreng. Biasanya, pisang yang kerap dikonsumsi adalah sejenis pisang gepok, pisang raja nangka, dan pisang agung. “Makanan-makanan tersebut adalah makanan pokok orang Nigeria. Kalau sudah begitu, saya selalu kangen masakan istri,” ucapnya.

Jika ingin ganti menu, dia terkadang menyantap nasi ala India. Karena dirinya memiliki teman orang India yang hobi masak. Tentu saja, rasanya berbeda dengan makanan khas Indonesia. Tapi paling tidak, hidangan itu dapat mengurangi kerinduannya menyantap suguhan tanah air. “Kalau pas Idul Fitri seperti ini, kebiasaan orang Nigeria juga hampir sama dengan Indonesia. Hari pertama Lebaran ada selamatan,” kisahnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/