alexametrics
23.5 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Cegah Macet, tapi Rawan Laka

Plus Minus Rekayasa Lalin di Perempatan Slawu

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tin tin tin, bunyi klakson truk siang itu mengagetkan salah seorang pengendara motor yang berhenti di lampu merah perempatan Slawu, Kecamatan Patrang. Salah seorang sopir meneriaki pengendara motor di depannya agar tidak berhenti. Perempuan pengedaran motor itu sempat menoleh ke arah lampu yang hanya kelap-kelip kuning. Dia kemudian tancap gas.

Selasa kemarin (28/4), kejadian serupa banyak terjadi di perempatan tersebut. Sebab, di jalur itu tengah dilakukan uji coba rekayasa lalu lintas (lalin) dengan mengaktifkan kembali bundaran, dan menonaktifkan lampu merah. Karena masih awal, banyak pengendara yang bingung. Tak ayal, ada beberapa pengendara yang belum tahu dan memilih berhenti.

Plt Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Jember Siswanto menjelaskan, pihaknya mulai mengadakan sosialisasi rekayasa lalin di simpang empat Slawu, Kecamatan Patrang, kemarin. Rekayasa itu berupa penerapan simpang bundaran yang dilengkapi dengan warning light.

Mobile_AP_Rectangle 2

Menurut dia, rekayasa tersebut berdasar hasil evaluasi dan analisis terhadap kondisi lalu lintas dan fisik ruas jalan, serta simpang. Di beberapa titik, kata dia, kerap mengalami delay alias antrean kendaraan panjang. “Setidaknya, ini bisa digunakan untuk meminimalkan antrean kendaraan,” jelasnya.

Dia menuturkan, pelaksanaan evaluasi dan analisis juga akan diberlakukan di beberapa simpang lain. Misalnya, simpang empat Jalan Mastrip dan simpang tiga Kaliputih. “Serta simpang lain yang membutuhkan penanganan dan pengendalian sesuai degan kondisi lalu lintas yang sangat dinamis,” ujarnya.

Sementara itu, Kanit Dikyasa Satlantas Polres Jember Ipda Heru Siswanto menuturkan, pihaknya telah menyiapkan beberapa hal guna melancarkan rekayasa lalin itu. Di antaranya, dengan menggunakan warning light yang berfungsi sebagai tanda untuk para pengendara yang melintas supaya berhati-hati. Juga rambu lalu lintas berbentuk arah panah melingkar yang berarti wajib mengitari bundaran.

Dia menegaskan, rekayasa tersebut bakal terus dikaji dan dipantau menggunakan CCTV yang terpasang di sekitar lampu merah. “Jika memungkinkan untuk dilanjutkan, akan terus diperbaiki. Jika tidak, akan dikembalikan seperti fungsi semula,” pungkasnya.

Dikembalikannya fungsi bundaran di perempatan Slawu ini memunculkan pro dan kontra dari masyarakat sekitar. Rahayu, warga Jalan Manggar, Kelurahan Slawu, Kecamatan Patrang, mengungkapkan, adanya rekayasa lalin dengan mengaktifkan bundaran memiliki kelebihan, sekaligus kekurangan.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tin tin tin, bunyi klakson truk siang itu mengagetkan salah seorang pengendara motor yang berhenti di lampu merah perempatan Slawu, Kecamatan Patrang. Salah seorang sopir meneriaki pengendara motor di depannya agar tidak berhenti. Perempuan pengedaran motor itu sempat menoleh ke arah lampu yang hanya kelap-kelip kuning. Dia kemudian tancap gas.

Selasa kemarin (28/4), kejadian serupa banyak terjadi di perempatan tersebut. Sebab, di jalur itu tengah dilakukan uji coba rekayasa lalu lintas (lalin) dengan mengaktifkan kembali bundaran, dan menonaktifkan lampu merah. Karena masih awal, banyak pengendara yang bingung. Tak ayal, ada beberapa pengendara yang belum tahu dan memilih berhenti.

Plt Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Jember Siswanto menjelaskan, pihaknya mulai mengadakan sosialisasi rekayasa lalin di simpang empat Slawu, Kecamatan Patrang, kemarin. Rekayasa itu berupa penerapan simpang bundaran yang dilengkapi dengan warning light.

Menurut dia, rekayasa tersebut berdasar hasil evaluasi dan analisis terhadap kondisi lalu lintas dan fisik ruas jalan, serta simpang. Di beberapa titik, kata dia, kerap mengalami delay alias antrean kendaraan panjang. “Setidaknya, ini bisa digunakan untuk meminimalkan antrean kendaraan,” jelasnya.

Dia menuturkan, pelaksanaan evaluasi dan analisis juga akan diberlakukan di beberapa simpang lain. Misalnya, simpang empat Jalan Mastrip dan simpang tiga Kaliputih. “Serta simpang lain yang membutuhkan penanganan dan pengendalian sesuai degan kondisi lalu lintas yang sangat dinamis,” ujarnya.

Sementara itu, Kanit Dikyasa Satlantas Polres Jember Ipda Heru Siswanto menuturkan, pihaknya telah menyiapkan beberapa hal guna melancarkan rekayasa lalin itu. Di antaranya, dengan menggunakan warning light yang berfungsi sebagai tanda untuk para pengendara yang melintas supaya berhati-hati. Juga rambu lalu lintas berbentuk arah panah melingkar yang berarti wajib mengitari bundaran.

Dia menegaskan, rekayasa tersebut bakal terus dikaji dan dipantau menggunakan CCTV yang terpasang di sekitar lampu merah. “Jika memungkinkan untuk dilanjutkan, akan terus diperbaiki. Jika tidak, akan dikembalikan seperti fungsi semula,” pungkasnya.

Dikembalikannya fungsi bundaran di perempatan Slawu ini memunculkan pro dan kontra dari masyarakat sekitar. Rahayu, warga Jalan Manggar, Kelurahan Slawu, Kecamatan Patrang, mengungkapkan, adanya rekayasa lalin dengan mengaktifkan bundaran memiliki kelebihan, sekaligus kekurangan.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tin tin tin, bunyi klakson truk siang itu mengagetkan salah seorang pengendara motor yang berhenti di lampu merah perempatan Slawu, Kecamatan Patrang. Salah seorang sopir meneriaki pengendara motor di depannya agar tidak berhenti. Perempuan pengedaran motor itu sempat menoleh ke arah lampu yang hanya kelap-kelip kuning. Dia kemudian tancap gas.

Selasa kemarin (28/4), kejadian serupa banyak terjadi di perempatan tersebut. Sebab, di jalur itu tengah dilakukan uji coba rekayasa lalu lintas (lalin) dengan mengaktifkan kembali bundaran, dan menonaktifkan lampu merah. Karena masih awal, banyak pengendara yang bingung. Tak ayal, ada beberapa pengendara yang belum tahu dan memilih berhenti.

Plt Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Jember Siswanto menjelaskan, pihaknya mulai mengadakan sosialisasi rekayasa lalin di simpang empat Slawu, Kecamatan Patrang, kemarin. Rekayasa itu berupa penerapan simpang bundaran yang dilengkapi dengan warning light.

Menurut dia, rekayasa tersebut berdasar hasil evaluasi dan analisis terhadap kondisi lalu lintas dan fisik ruas jalan, serta simpang. Di beberapa titik, kata dia, kerap mengalami delay alias antrean kendaraan panjang. “Setidaknya, ini bisa digunakan untuk meminimalkan antrean kendaraan,” jelasnya.

Dia menuturkan, pelaksanaan evaluasi dan analisis juga akan diberlakukan di beberapa simpang lain. Misalnya, simpang empat Jalan Mastrip dan simpang tiga Kaliputih. “Serta simpang lain yang membutuhkan penanganan dan pengendalian sesuai degan kondisi lalu lintas yang sangat dinamis,” ujarnya.

Sementara itu, Kanit Dikyasa Satlantas Polres Jember Ipda Heru Siswanto menuturkan, pihaknya telah menyiapkan beberapa hal guna melancarkan rekayasa lalin itu. Di antaranya, dengan menggunakan warning light yang berfungsi sebagai tanda untuk para pengendara yang melintas supaya berhati-hati. Juga rambu lalu lintas berbentuk arah panah melingkar yang berarti wajib mengitari bundaran.

Dia menegaskan, rekayasa tersebut bakal terus dikaji dan dipantau menggunakan CCTV yang terpasang di sekitar lampu merah. “Jika memungkinkan untuk dilanjutkan, akan terus diperbaiki. Jika tidak, akan dikembalikan seperti fungsi semula,” pungkasnya.

Dikembalikannya fungsi bundaran di perempatan Slawu ini memunculkan pro dan kontra dari masyarakat sekitar. Rahayu, warga Jalan Manggar, Kelurahan Slawu, Kecamatan Patrang, mengungkapkan, adanya rekayasa lalin dengan mengaktifkan bundaran memiliki kelebihan, sekaligus kekurangan.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/