alexametrics
29.9 C
Jember
Friday, 20 May 2022

Bus Angkutan Umum Mati Suri

Dampak PSBB di Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pembatasan sosial berskala besar atau PSBB yang diberlakukan di Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik berdampak terhadap sarana angkutan transportasi umum. Terutama bus angkutan Antar Kota Antar Provinsi (AKAP).

PSBB yang mulai diberlakukan sejak Selasa (28/4) kemarin itu membatasi segala aktivitas dan kegiatan sosial warga, baik yang keluar maupun yang masuk ke tiga daerah tersebut, termasuk juga aktivitas bus. Akibatnya, banyak perusahaan otobus (PO) yang memutuskan menghentikan sementara operasional bus selama masa PSBB berlangsung hingga usai.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember di Terminal Tawang Alun Jember, di sekitar terminal nyaris tak ada satu pun bus yang terparkir untuk persiapan keberangkatan. Padahal, saat itu Terminal Tawang Alun masih buka. Hanya terlihat beberapa angkutan kota (angkot) atau lin kuning dan beberapa angkutan umum jenis mini bus.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Puasa seperti ini sebenarnya ramai-ramainya penumpang,” kata Mohammad Husen, sopir bus patas dari PO Ladju trayek Jember-Surabaya. Pria 48 tahun itu pun merasakan bagaimana sulitnya mendapatkan penghasilan di tengah kondisi seperti saat ini. Sebab, selain kesulitan mendapatkan penumpang, pemasukan juga tak sebanding dengan ongkos solar.

Tak hanya bus yang dikemudikan Husen, beberapa sopir bus lain juga mengaku demikian. Sebab, tak jauh dari terminal, cukup banyak garasi bus dari berbagai PO. Rata-rata, hampir semua PO yang biasa keluar masuk di Tawang Alun terlihat hanya parkir di garasi masing-masing. Tampaknya, mereka memilih tak beroperasi daripada harus tekor dengan biaya bahan bakar.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pembatasan sosial berskala besar atau PSBB yang diberlakukan di Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik berdampak terhadap sarana angkutan transportasi umum. Terutama bus angkutan Antar Kota Antar Provinsi (AKAP).

PSBB yang mulai diberlakukan sejak Selasa (28/4) kemarin itu membatasi segala aktivitas dan kegiatan sosial warga, baik yang keluar maupun yang masuk ke tiga daerah tersebut, termasuk juga aktivitas bus. Akibatnya, banyak perusahaan otobus (PO) yang memutuskan menghentikan sementara operasional bus selama masa PSBB berlangsung hingga usai.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember di Terminal Tawang Alun Jember, di sekitar terminal nyaris tak ada satu pun bus yang terparkir untuk persiapan keberangkatan. Padahal, saat itu Terminal Tawang Alun masih buka. Hanya terlihat beberapa angkutan kota (angkot) atau lin kuning dan beberapa angkutan umum jenis mini bus.

“Puasa seperti ini sebenarnya ramai-ramainya penumpang,” kata Mohammad Husen, sopir bus patas dari PO Ladju trayek Jember-Surabaya. Pria 48 tahun itu pun merasakan bagaimana sulitnya mendapatkan penghasilan di tengah kondisi seperti saat ini. Sebab, selain kesulitan mendapatkan penumpang, pemasukan juga tak sebanding dengan ongkos solar.

Tak hanya bus yang dikemudikan Husen, beberapa sopir bus lain juga mengaku demikian. Sebab, tak jauh dari terminal, cukup banyak garasi bus dari berbagai PO. Rata-rata, hampir semua PO yang biasa keluar masuk di Tawang Alun terlihat hanya parkir di garasi masing-masing. Tampaknya, mereka memilih tak beroperasi daripada harus tekor dengan biaya bahan bakar.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pembatasan sosial berskala besar atau PSBB yang diberlakukan di Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik berdampak terhadap sarana angkutan transportasi umum. Terutama bus angkutan Antar Kota Antar Provinsi (AKAP).

PSBB yang mulai diberlakukan sejak Selasa (28/4) kemarin itu membatasi segala aktivitas dan kegiatan sosial warga, baik yang keluar maupun yang masuk ke tiga daerah tersebut, termasuk juga aktivitas bus. Akibatnya, banyak perusahaan otobus (PO) yang memutuskan menghentikan sementara operasional bus selama masa PSBB berlangsung hingga usai.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember di Terminal Tawang Alun Jember, di sekitar terminal nyaris tak ada satu pun bus yang terparkir untuk persiapan keberangkatan. Padahal, saat itu Terminal Tawang Alun masih buka. Hanya terlihat beberapa angkutan kota (angkot) atau lin kuning dan beberapa angkutan umum jenis mini bus.

“Puasa seperti ini sebenarnya ramai-ramainya penumpang,” kata Mohammad Husen, sopir bus patas dari PO Ladju trayek Jember-Surabaya. Pria 48 tahun itu pun merasakan bagaimana sulitnya mendapatkan penghasilan di tengah kondisi seperti saat ini. Sebab, selain kesulitan mendapatkan penumpang, pemasukan juga tak sebanding dengan ongkos solar.

Tak hanya bus yang dikemudikan Husen, beberapa sopir bus lain juga mengaku demikian. Sebab, tak jauh dari terminal, cukup banyak garasi bus dari berbagai PO. Rata-rata, hampir semua PO yang biasa keluar masuk di Tawang Alun terlihat hanya parkir di garasi masing-masing. Tampaknya, mereka memilih tak beroperasi daripada harus tekor dengan biaya bahan bakar.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/