alexametrics
27.8 C
Jember
Tuesday, 24 May 2022

Satu-satunya Akses Warga Menyeberangi Sungai

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bak di sebuah daerah pedalaman, sejumlah warga di Dusun Krajan, Desa Sabrang, Ambulu, itu harus terbiasa menyeberangi Sungai Mayang, tiap hari. Tak ada pilihan lain bagi mereka. Itu adalah satu-satunya akses menuju tempat mereka bekerja, yakni di lahan persawahan yang lokasinya di seberang sungai.

Salah satunya adalah Supat. Saat itu dia membawa sepeda motor tuanya. Sesampainya di bibir sungai, tampak satu pengendali getek yang sudah stand by. Di tangan Supat, sudah siap selembar uang Rp 2 ribu untuk membayar jasa pengendali getek tersebut. Sekali dayung, 10 hingga 12 orang bisa terangkut.

Pemandangan saat menyeberangi sungai pun cukup ajaib. Mereka terlihat sangat menikmatinya tanpa ada ekspresi susah. Saling bercanda dan mengobrol lepas. Tak terlintas beban di antara bapak-bapak yang hendak ke sawah itu. Bahkan, pembicaraan kecil yang berlangsung sekitar satu menit saat menyeberang, kian menambah keharmonisan antara mereka.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Makin sering bertutur sapa, kan makin akrab,” imbuh Pardi, warga yang juga menyeberang menggunakan getek saat itu.

Pada getek yang terbuat dari kayu berlapis tong besar itu mereka menggantungkan hidup. Seakan-akan menjadi idola bagi mereka. Bukan karena suka sejak awal, tapi karena hanya itu akses mereka satu-satunya untuk menuju ke sawah.

Tak heran, beragam cerita terukir di atas getek itu. Meskipun hanya sekilas. “Pengennya ya pasti memakai jembatan. Tapi, selama ini kan tidak ada bantuan membuat jembatan,” imbuhnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bak di sebuah daerah pedalaman, sejumlah warga di Dusun Krajan, Desa Sabrang, Ambulu, itu harus terbiasa menyeberangi Sungai Mayang, tiap hari. Tak ada pilihan lain bagi mereka. Itu adalah satu-satunya akses menuju tempat mereka bekerja, yakni di lahan persawahan yang lokasinya di seberang sungai.

Salah satunya adalah Supat. Saat itu dia membawa sepeda motor tuanya. Sesampainya di bibir sungai, tampak satu pengendali getek yang sudah stand by. Di tangan Supat, sudah siap selembar uang Rp 2 ribu untuk membayar jasa pengendali getek tersebut. Sekali dayung, 10 hingga 12 orang bisa terangkut.

Pemandangan saat menyeberangi sungai pun cukup ajaib. Mereka terlihat sangat menikmatinya tanpa ada ekspresi susah. Saling bercanda dan mengobrol lepas. Tak terlintas beban di antara bapak-bapak yang hendak ke sawah itu. Bahkan, pembicaraan kecil yang berlangsung sekitar satu menit saat menyeberang, kian menambah keharmonisan antara mereka.

“Makin sering bertutur sapa, kan makin akrab,” imbuh Pardi, warga yang juga menyeberang menggunakan getek saat itu.

Pada getek yang terbuat dari kayu berlapis tong besar itu mereka menggantungkan hidup. Seakan-akan menjadi idola bagi mereka. Bukan karena suka sejak awal, tapi karena hanya itu akses mereka satu-satunya untuk menuju ke sawah.

Tak heran, beragam cerita terukir di atas getek itu. Meskipun hanya sekilas. “Pengennya ya pasti memakai jembatan. Tapi, selama ini kan tidak ada bantuan membuat jembatan,” imbuhnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bak di sebuah daerah pedalaman, sejumlah warga di Dusun Krajan, Desa Sabrang, Ambulu, itu harus terbiasa menyeberangi Sungai Mayang, tiap hari. Tak ada pilihan lain bagi mereka. Itu adalah satu-satunya akses menuju tempat mereka bekerja, yakni di lahan persawahan yang lokasinya di seberang sungai.

Salah satunya adalah Supat. Saat itu dia membawa sepeda motor tuanya. Sesampainya di bibir sungai, tampak satu pengendali getek yang sudah stand by. Di tangan Supat, sudah siap selembar uang Rp 2 ribu untuk membayar jasa pengendali getek tersebut. Sekali dayung, 10 hingga 12 orang bisa terangkut.

Pemandangan saat menyeberangi sungai pun cukup ajaib. Mereka terlihat sangat menikmatinya tanpa ada ekspresi susah. Saling bercanda dan mengobrol lepas. Tak terlintas beban di antara bapak-bapak yang hendak ke sawah itu. Bahkan, pembicaraan kecil yang berlangsung sekitar satu menit saat menyeberang, kian menambah keharmonisan antara mereka.

“Makin sering bertutur sapa, kan makin akrab,” imbuh Pardi, warga yang juga menyeberang menggunakan getek saat itu.

Pada getek yang terbuat dari kayu berlapis tong besar itu mereka menggantungkan hidup. Seakan-akan menjadi idola bagi mereka. Bukan karena suka sejak awal, tapi karena hanya itu akses mereka satu-satunya untuk menuju ke sawah.

Tak heran, beragam cerita terukir di atas getek itu. Meskipun hanya sekilas. “Pengennya ya pasti memakai jembatan. Tapi, selama ini kan tidak ada bantuan membuat jembatan,” imbuhnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/