alexametrics
21.3 C
Jember
Monday, 23 May 2022

Pengepul Khawatir Cabai Palsu

Dampak Harga Masih Belum Stabil

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Fenomena cabai diberi pewarna agar tampak merah, yang belakangan viral, ternyata berdampak pada psikologis para pengepul cabai dari perdesaan. Mereka khawatir kasus cabai berlapis cat berdampak terhadap hasil penjualan.

Ya, meski hingga hari ini belum ditemukan adanya cabai rawit bercat yang masuk ke Jember, sejumlah pedagang mulai ketar-ketir. Sebab, praktik nakal dari oknum tak bertanggung jawab tersebut sedikit banyak akan berimbas pada distribusi cabai.

Hal ini seperti yang dialami oleh Irul, pengepul cabai asal Jelbuk. Kabar adanya cabai yang dicat tersebut sudah menjadi buah bibir di masyarakat sekelilingnya. Tidak hanya di kalangan para pengepul dan pedagang, keresahan juga dirasakan para pelanggan.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dengan adanya kabar tersebut, para pedagang semakin meningkatkan kewaspadaan saat membeli cabai dari petani. “Karena di masa pandemi ini pasar masih lesu. Belum bisa normal lagi. Apalagi ada kabar cabai palsu,” kata Irul, Sabtu, (27/3).

Menurut Irul, kenaikan harga cabai yang terjadi pada satu bulan yang lalu tak sebanding dengan permintaan. Adapun kondisi sekarang, harganya sudah berangsur menurun untuk jenis cabai rawit atau familier dengan sebutan cabai sret merah. “Yang merah masih tinggi. Walaupun ada penurunan ya sedikit. Tidak sedrastis penurunan rawit hijau,” imbuh Irul.

Hingga saat ini Irul belum berani melakukan pengiriman dalam skala besar di kota-kota langganannya, seperti Jambi dan Palembang. Padahal sebelum pandemi, Irul mampu mengirim cabai keriting satu truk setiap harinya. Kini, dia hanya mampu kirim lima hingga sepuluh karung cabai setiap harinya. “Itu saja saya kirimnya pakai ekspedisi. Tidak seperti dulu langsung pakai truk sendiri,” ujarnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Fenomena cabai diberi pewarna agar tampak merah, yang belakangan viral, ternyata berdampak pada psikologis para pengepul cabai dari perdesaan. Mereka khawatir kasus cabai berlapis cat berdampak terhadap hasil penjualan.

Ya, meski hingga hari ini belum ditemukan adanya cabai rawit bercat yang masuk ke Jember, sejumlah pedagang mulai ketar-ketir. Sebab, praktik nakal dari oknum tak bertanggung jawab tersebut sedikit banyak akan berimbas pada distribusi cabai.

Hal ini seperti yang dialami oleh Irul, pengepul cabai asal Jelbuk. Kabar adanya cabai yang dicat tersebut sudah menjadi buah bibir di masyarakat sekelilingnya. Tidak hanya di kalangan para pengepul dan pedagang, keresahan juga dirasakan para pelanggan.

Dengan adanya kabar tersebut, para pedagang semakin meningkatkan kewaspadaan saat membeli cabai dari petani. “Karena di masa pandemi ini pasar masih lesu. Belum bisa normal lagi. Apalagi ada kabar cabai palsu,” kata Irul, Sabtu, (27/3).

Menurut Irul, kenaikan harga cabai yang terjadi pada satu bulan yang lalu tak sebanding dengan permintaan. Adapun kondisi sekarang, harganya sudah berangsur menurun untuk jenis cabai rawit atau familier dengan sebutan cabai sret merah. “Yang merah masih tinggi. Walaupun ada penurunan ya sedikit. Tidak sedrastis penurunan rawit hijau,” imbuh Irul.

Hingga saat ini Irul belum berani melakukan pengiriman dalam skala besar di kota-kota langganannya, seperti Jambi dan Palembang. Padahal sebelum pandemi, Irul mampu mengirim cabai keriting satu truk setiap harinya. Kini, dia hanya mampu kirim lima hingga sepuluh karung cabai setiap harinya. “Itu saja saya kirimnya pakai ekspedisi. Tidak seperti dulu langsung pakai truk sendiri,” ujarnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Fenomena cabai diberi pewarna agar tampak merah, yang belakangan viral, ternyata berdampak pada psikologis para pengepul cabai dari perdesaan. Mereka khawatir kasus cabai berlapis cat berdampak terhadap hasil penjualan.

Ya, meski hingga hari ini belum ditemukan adanya cabai rawit bercat yang masuk ke Jember, sejumlah pedagang mulai ketar-ketir. Sebab, praktik nakal dari oknum tak bertanggung jawab tersebut sedikit banyak akan berimbas pada distribusi cabai.

Hal ini seperti yang dialami oleh Irul, pengepul cabai asal Jelbuk. Kabar adanya cabai yang dicat tersebut sudah menjadi buah bibir di masyarakat sekelilingnya. Tidak hanya di kalangan para pengepul dan pedagang, keresahan juga dirasakan para pelanggan.

Dengan adanya kabar tersebut, para pedagang semakin meningkatkan kewaspadaan saat membeli cabai dari petani. “Karena di masa pandemi ini pasar masih lesu. Belum bisa normal lagi. Apalagi ada kabar cabai palsu,” kata Irul, Sabtu, (27/3).

Menurut Irul, kenaikan harga cabai yang terjadi pada satu bulan yang lalu tak sebanding dengan permintaan. Adapun kondisi sekarang, harganya sudah berangsur menurun untuk jenis cabai rawit atau familier dengan sebutan cabai sret merah. “Yang merah masih tinggi. Walaupun ada penurunan ya sedikit. Tidak sedrastis penurunan rawit hijau,” imbuh Irul.

Hingga saat ini Irul belum berani melakukan pengiriman dalam skala besar di kota-kota langganannya, seperti Jambi dan Palembang. Padahal sebelum pandemi, Irul mampu mengirim cabai keriting satu truk setiap harinya. Kini, dia hanya mampu kirim lima hingga sepuluh karung cabai setiap harinya. “Itu saja saya kirimnya pakai ekspedisi. Tidak seperti dulu langsung pakai truk sendiri,” ujarnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/