alexametrics
31 C
Jember
Thursday, 19 May 2022

Buah Kecewa Prestasi dan Kinerja

Ibarat bahtera, KONI Jember sudah oleng. Sejumlah cabor yang tidak puas dengan kepemimpinan periode sekarang menyatakan mosi tidak percaya. Mereka juga menggalang suara untuk menyelenggarakan musorkablub dan menargetkan nakhoda KONI berganti di tengah perjalanan. Kini, lambung kapal mulai terbelah, Jenderal!

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – “Atlet senam Jember itu bondone semangat tok,” ucap Anik Kuntariani, pelatih Persatuan Senam Indonesia (Persani) saat menggelar latihan perdana bagi atletnya di MTsN 2 Jember. Ucapan Anik semacam itu sebenarnya merupakan sindiran. Sebab, selama ini, sarana dan prasarana peralatan olahraga sangat minim perhatian. Baik dari Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jember maupun pemerintah daerah.

Cabor senam yang pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jatim VI 2019 lalu menyumbang tiga medali perunggu tersebut, memang hanya bermodalkan semangat. Sebab, Jember menjadi tuan rumah di pesta akbar olahraga se-Jatim tersebut. “Ya malu kalau tidak dapat medali. Karena Jember tuan rumah,” tuturnya.

Berbicara Porprov Jatim, sejatinya Jember adalah kabupaten yang diperhitungkan dalam raihan medali. Tapi, itu dulu. Awal kali Porprov Jatim digelar 2007 dengan tuan rumah Surabaya, Jember finis di urutan kelima dalam raihan medali dari 38 kota/kabupaten se-Jatim. Tiga medali emas, tujuh medali perak, dan sembilan medali perunggu.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dua tahun berikutnya, yaitu Porprov II 2009 di Malang Raya, medali emas Jember bertambah menjadi 8, tapi klasemen perolehan medali turun menjadi urutan ketujuh. Jember mulai kesulitan untuk mempertahankan peringkat raihan medali di Porprov selanjutnya. Pada Porprov III 2011 di Kediri Raya, Jember keluar dari zona 10 besar, dan bertengger di peringkat 14.

Sejak saat itu, kontingen Jember di Porprov menjadi langganan finis di urutan belasan dalam raihan medali. Jumlah medali emas pun tak bisa memecahkan rekor pada Porprov II, yaitu 8 medali emas. Bahkan, pada Porprov terakhir yaitu Porprov VI 2019 lalu, peringkat Jember semakin jeblok. Keluar dari zona belasan dan menjadi urutan ke-24 dari 38 kab/kota se-Jatim. Dibandingkan kabupaten tetangga, Banyuwangi, Jember tertinggal jauh. Kota Gandrung itu finis di urutan kedelapan pada Porprov 2019.

“Kalau mengingat Porprov 2019 itu paling minim. Seragam kontingen saja tidak lengkap. Tidak ada tas dan tidak seperti Porprov sebelumnya,” ucap Anik. Bahkan, Jember hanya mengirimkan 150 atlet. Jumlah itu sangat jauh berbeda dengan juara umum, yaitu Surabaya, yang mengirimkan sampai 800 atlet.

Walau klasemen raihan medali Jember di Porprov 2019 kemarin menurun, tapi bagi Ketua KONI Jember Abdul Haris Afianto, untuk raihan medali itu lebih baik daripada Porprov 2015. “Untuk medali itu bertambah. Dari sebelumnya lima medali emas, Porprov 2019 mendapatkan tujuh medali emas,” jelasnya.

Dia mengklaim, prestasi itu juga cukup bagus. Mengingat, pada waktu itu tidak ada dana hibah dari APBD Jember ke KONI untuk pembinaan prestasi cabang olahraga. Catatan Porprov 2019 kemarin, setidaknya ada lebih 500 olahraga yang dipertandingkan dari 42 cabang olahraga. Sementara itu, juara umum yaitu Surabaya yang meraih 113 medali emas.

Muncul Bibit Kudeta

Turunnya raihan prestasi serta minimnya suplai anggaran ini membuat gejolak di tubuh KONI menyeruak. Terlebih ketika Bupati Jember Hendy Siswanto menargetkan juara umum dan wacana rekonstruksi di tubuh KONI. Bahkan, kata-kata rekonstruksi itu kembali dilontarkan oleh Hendy saat tasyakuran seusai dilantik menjadi bupati di salah satu rumah makan di Kelurahan Mangli, Kaliwates. Acara itu digelar oleh Askab PSSI Jember, 21 Maret lalu.

Pertemuan di rumah makan itu menjadi titik awal cabor-cabor mulai merapatkan barisan. Mereka berdiskusi tentang wacana rekontruksi yang diucapkan oleh bupati. Meski kala itu tak ada kata-kata kudeta dari puluhan cabor yang hadir, tapi mereka bersepekat membentuk tim 9 untuk menuju Musorkablub KONI. Dari daftar kehadiran, setidaknya ada 29 cabor yang datang dan berkumpul.

Pegiat olahraga karate, Djatmiko, mengatakan, cabor merasa resah karena prestasi Jember melorot cukup tajam di Porprov sebelumnya. Belum lagi soal kurangnya kucuran anggaran. Padahal, menurut pria yang juga sebagai Ketua Harian Federasi Karate-Do Indonesia (Forki) Jember ini, cabor perlu dukungan finansial dalam rangka pembinaan untuk meraih prestasi. Apalagi, beberapa tahun terakhir juga tidak ada bantuan dana dari pemerintah daerah ke KONI yang mengucur ke cabor.

Untuk itu, puluhan cabor yang hadir sepakat melakukan rekonstruksi melalui musorkablub. Ini berangkat dari penilaian bahwa kepengurusan KONI di periode sekarang gagal pada dua hal. Meraih prestasi dan mendatangkan anggaran pembinaan. Ditambah lagi, bupati juga ingin Jember jadi juara umum pada Porprov mendatang, karena Jember menjadi tuan rumah.

Ketua Kick Boxing Indonesia (KBI) Jember Ardhinto Oky Wijaya mengatakan, Porprov Jatim 2022 menjadi panggung bupati. Namun, bila KONI tidak sejalan dengan bupati yang baru, tentu saja akan terjadi ketimpangan.

Sementara itu, alasan munculnya mosi tidak percaya kepada KONI Jember, menurutnya, didasarkan pada tiga hal. Pertama, prestasi Porprov Jember yang jeblok dan mengingat tahun depan Jember adalah tuan rumah. Kedua, selama tiga tahun KONI juga tidak mengelar rapat tahunan atau disebut rapat kerja kabupaten (rakerkab). Dan yang terakhir, selama ini KONI tidak bisa menghadirkan dana dari APBD untuk pembinaan cabor. “Dalam AD ART KONI, pasal 34 menjelaskan KONI wajib melakukan rapat tahunan tersebut,” jelasnya.

Dia menjelaskan, rakerkab itu diikuti peserta yang memiliki hak suara, yaitu cabor. Walau dalam kepengurusan KONI itu terdapat perwakilan cabor, namun dia menegaskan, rapat tahunan itu berbeda dengan rapat pengurus. Sebab, rakerkab harus mengundang cabor-cabor untuk menyelenggarakan rapat kerja. “Selama tiga tahun tidak ada undangan di cabor untuk acara rapat tahunan,” ungkapnya.

Menurut dia, rapat tahunan tersebut tidak sekadar membahas laporan pertanggungjawaban (LPJ) keuangan KONI. Namun, LPJ secara menyeluruh. Bahkan, dalam rapat tahunan tersebut juga dibahas penetapan atau penolakan permohonan untuk menjadi anggota. “Jadi, kalau tidak ada rapat tahunan, tidak akan ada tambahan cabor yang masuk jadi anggota KONI Jember. Padahal, itu menjadi yang penting dalam rapat tahunan tersebut,” jelasnya.

Sementara itu, menurutnya Ketua Pengkab Taekwondo Indonesia (TI) Jember Rahmat yang juga sebagai pengurus KONI, selama ini KONI Jember tidak mendapatkan dana hibah dari APBD Jember. “Tidak ada dana hibah dari pemerintah, yang mau di-LPJ-kan ini apa nanti?” jelasnya.

 

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – “Atlet senam Jember itu bondone semangat tok,” ucap Anik Kuntariani, pelatih Persatuan Senam Indonesia (Persani) saat menggelar latihan perdana bagi atletnya di MTsN 2 Jember. Ucapan Anik semacam itu sebenarnya merupakan sindiran. Sebab, selama ini, sarana dan prasarana peralatan olahraga sangat minim perhatian. Baik dari Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jember maupun pemerintah daerah.

Cabor senam yang pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jatim VI 2019 lalu menyumbang tiga medali perunggu tersebut, memang hanya bermodalkan semangat. Sebab, Jember menjadi tuan rumah di pesta akbar olahraga se-Jatim tersebut. “Ya malu kalau tidak dapat medali. Karena Jember tuan rumah,” tuturnya.

Berbicara Porprov Jatim, sejatinya Jember adalah kabupaten yang diperhitungkan dalam raihan medali. Tapi, itu dulu. Awal kali Porprov Jatim digelar 2007 dengan tuan rumah Surabaya, Jember finis di urutan kelima dalam raihan medali dari 38 kota/kabupaten se-Jatim. Tiga medali emas, tujuh medali perak, dan sembilan medali perunggu.

Dua tahun berikutnya, yaitu Porprov II 2009 di Malang Raya, medali emas Jember bertambah menjadi 8, tapi klasemen perolehan medali turun menjadi urutan ketujuh. Jember mulai kesulitan untuk mempertahankan peringkat raihan medali di Porprov selanjutnya. Pada Porprov III 2011 di Kediri Raya, Jember keluar dari zona 10 besar, dan bertengger di peringkat 14.

Sejak saat itu, kontingen Jember di Porprov menjadi langganan finis di urutan belasan dalam raihan medali. Jumlah medali emas pun tak bisa memecahkan rekor pada Porprov II, yaitu 8 medali emas. Bahkan, pada Porprov terakhir yaitu Porprov VI 2019 lalu, peringkat Jember semakin jeblok. Keluar dari zona belasan dan menjadi urutan ke-24 dari 38 kab/kota se-Jatim. Dibandingkan kabupaten tetangga, Banyuwangi, Jember tertinggal jauh. Kota Gandrung itu finis di urutan kedelapan pada Porprov 2019.

“Kalau mengingat Porprov 2019 itu paling minim. Seragam kontingen saja tidak lengkap. Tidak ada tas dan tidak seperti Porprov sebelumnya,” ucap Anik. Bahkan, Jember hanya mengirimkan 150 atlet. Jumlah itu sangat jauh berbeda dengan juara umum, yaitu Surabaya, yang mengirimkan sampai 800 atlet.

Walau klasemen raihan medali Jember di Porprov 2019 kemarin menurun, tapi bagi Ketua KONI Jember Abdul Haris Afianto, untuk raihan medali itu lebih baik daripada Porprov 2015. “Untuk medali itu bertambah. Dari sebelumnya lima medali emas, Porprov 2019 mendapatkan tujuh medali emas,” jelasnya.

Dia mengklaim, prestasi itu juga cukup bagus. Mengingat, pada waktu itu tidak ada dana hibah dari APBD Jember ke KONI untuk pembinaan prestasi cabang olahraga. Catatan Porprov 2019 kemarin, setidaknya ada lebih 500 olahraga yang dipertandingkan dari 42 cabang olahraga. Sementara itu, juara umum yaitu Surabaya yang meraih 113 medali emas.

Muncul Bibit Kudeta

Turunnya raihan prestasi serta minimnya suplai anggaran ini membuat gejolak di tubuh KONI menyeruak. Terlebih ketika Bupati Jember Hendy Siswanto menargetkan juara umum dan wacana rekonstruksi di tubuh KONI. Bahkan, kata-kata rekonstruksi itu kembali dilontarkan oleh Hendy saat tasyakuran seusai dilantik menjadi bupati di salah satu rumah makan di Kelurahan Mangli, Kaliwates. Acara itu digelar oleh Askab PSSI Jember, 21 Maret lalu.

Pertemuan di rumah makan itu menjadi titik awal cabor-cabor mulai merapatkan barisan. Mereka berdiskusi tentang wacana rekontruksi yang diucapkan oleh bupati. Meski kala itu tak ada kata-kata kudeta dari puluhan cabor yang hadir, tapi mereka bersepekat membentuk tim 9 untuk menuju Musorkablub KONI. Dari daftar kehadiran, setidaknya ada 29 cabor yang datang dan berkumpul.

Pegiat olahraga karate, Djatmiko, mengatakan, cabor merasa resah karena prestasi Jember melorot cukup tajam di Porprov sebelumnya. Belum lagi soal kurangnya kucuran anggaran. Padahal, menurut pria yang juga sebagai Ketua Harian Federasi Karate-Do Indonesia (Forki) Jember ini, cabor perlu dukungan finansial dalam rangka pembinaan untuk meraih prestasi. Apalagi, beberapa tahun terakhir juga tidak ada bantuan dana dari pemerintah daerah ke KONI yang mengucur ke cabor.

Untuk itu, puluhan cabor yang hadir sepakat melakukan rekonstruksi melalui musorkablub. Ini berangkat dari penilaian bahwa kepengurusan KONI di periode sekarang gagal pada dua hal. Meraih prestasi dan mendatangkan anggaran pembinaan. Ditambah lagi, bupati juga ingin Jember jadi juara umum pada Porprov mendatang, karena Jember menjadi tuan rumah.

Ketua Kick Boxing Indonesia (KBI) Jember Ardhinto Oky Wijaya mengatakan, Porprov Jatim 2022 menjadi panggung bupati. Namun, bila KONI tidak sejalan dengan bupati yang baru, tentu saja akan terjadi ketimpangan.

Sementara itu, alasan munculnya mosi tidak percaya kepada KONI Jember, menurutnya, didasarkan pada tiga hal. Pertama, prestasi Porprov Jember yang jeblok dan mengingat tahun depan Jember adalah tuan rumah. Kedua, selama tiga tahun KONI juga tidak mengelar rapat tahunan atau disebut rapat kerja kabupaten (rakerkab). Dan yang terakhir, selama ini KONI tidak bisa menghadirkan dana dari APBD untuk pembinaan cabor. “Dalam AD ART KONI, pasal 34 menjelaskan KONI wajib melakukan rapat tahunan tersebut,” jelasnya.

Dia menjelaskan, rakerkab itu diikuti peserta yang memiliki hak suara, yaitu cabor. Walau dalam kepengurusan KONI itu terdapat perwakilan cabor, namun dia menegaskan, rapat tahunan itu berbeda dengan rapat pengurus. Sebab, rakerkab harus mengundang cabor-cabor untuk menyelenggarakan rapat kerja. “Selama tiga tahun tidak ada undangan di cabor untuk acara rapat tahunan,” ungkapnya.

Menurut dia, rapat tahunan tersebut tidak sekadar membahas laporan pertanggungjawaban (LPJ) keuangan KONI. Namun, LPJ secara menyeluruh. Bahkan, dalam rapat tahunan tersebut juga dibahas penetapan atau penolakan permohonan untuk menjadi anggota. “Jadi, kalau tidak ada rapat tahunan, tidak akan ada tambahan cabor yang masuk jadi anggota KONI Jember. Padahal, itu menjadi yang penting dalam rapat tahunan tersebut,” jelasnya.

Sementara itu, menurutnya Ketua Pengkab Taekwondo Indonesia (TI) Jember Rahmat yang juga sebagai pengurus KONI, selama ini KONI Jember tidak mendapatkan dana hibah dari APBD Jember. “Tidak ada dana hibah dari pemerintah, yang mau di-LPJ-kan ini apa nanti?” jelasnya.

 

JEMBER, RADARJEMBER.ID – “Atlet senam Jember itu bondone semangat tok,” ucap Anik Kuntariani, pelatih Persatuan Senam Indonesia (Persani) saat menggelar latihan perdana bagi atletnya di MTsN 2 Jember. Ucapan Anik semacam itu sebenarnya merupakan sindiran. Sebab, selama ini, sarana dan prasarana peralatan olahraga sangat minim perhatian. Baik dari Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jember maupun pemerintah daerah.

Cabor senam yang pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jatim VI 2019 lalu menyumbang tiga medali perunggu tersebut, memang hanya bermodalkan semangat. Sebab, Jember menjadi tuan rumah di pesta akbar olahraga se-Jatim tersebut. “Ya malu kalau tidak dapat medali. Karena Jember tuan rumah,” tuturnya.

Berbicara Porprov Jatim, sejatinya Jember adalah kabupaten yang diperhitungkan dalam raihan medali. Tapi, itu dulu. Awal kali Porprov Jatim digelar 2007 dengan tuan rumah Surabaya, Jember finis di urutan kelima dalam raihan medali dari 38 kota/kabupaten se-Jatim. Tiga medali emas, tujuh medali perak, dan sembilan medali perunggu.

Dua tahun berikutnya, yaitu Porprov II 2009 di Malang Raya, medali emas Jember bertambah menjadi 8, tapi klasemen perolehan medali turun menjadi urutan ketujuh. Jember mulai kesulitan untuk mempertahankan peringkat raihan medali di Porprov selanjutnya. Pada Porprov III 2011 di Kediri Raya, Jember keluar dari zona 10 besar, dan bertengger di peringkat 14.

Sejak saat itu, kontingen Jember di Porprov menjadi langganan finis di urutan belasan dalam raihan medali. Jumlah medali emas pun tak bisa memecahkan rekor pada Porprov II, yaitu 8 medali emas. Bahkan, pada Porprov terakhir yaitu Porprov VI 2019 lalu, peringkat Jember semakin jeblok. Keluar dari zona belasan dan menjadi urutan ke-24 dari 38 kab/kota se-Jatim. Dibandingkan kabupaten tetangga, Banyuwangi, Jember tertinggal jauh. Kota Gandrung itu finis di urutan kedelapan pada Porprov 2019.

“Kalau mengingat Porprov 2019 itu paling minim. Seragam kontingen saja tidak lengkap. Tidak ada tas dan tidak seperti Porprov sebelumnya,” ucap Anik. Bahkan, Jember hanya mengirimkan 150 atlet. Jumlah itu sangat jauh berbeda dengan juara umum, yaitu Surabaya, yang mengirimkan sampai 800 atlet.

Walau klasemen raihan medali Jember di Porprov 2019 kemarin menurun, tapi bagi Ketua KONI Jember Abdul Haris Afianto, untuk raihan medali itu lebih baik daripada Porprov 2015. “Untuk medali itu bertambah. Dari sebelumnya lima medali emas, Porprov 2019 mendapatkan tujuh medali emas,” jelasnya.

Dia mengklaim, prestasi itu juga cukup bagus. Mengingat, pada waktu itu tidak ada dana hibah dari APBD Jember ke KONI untuk pembinaan prestasi cabang olahraga. Catatan Porprov 2019 kemarin, setidaknya ada lebih 500 olahraga yang dipertandingkan dari 42 cabang olahraga. Sementara itu, juara umum yaitu Surabaya yang meraih 113 medali emas.

Muncul Bibit Kudeta

Turunnya raihan prestasi serta minimnya suplai anggaran ini membuat gejolak di tubuh KONI menyeruak. Terlebih ketika Bupati Jember Hendy Siswanto menargetkan juara umum dan wacana rekonstruksi di tubuh KONI. Bahkan, kata-kata rekonstruksi itu kembali dilontarkan oleh Hendy saat tasyakuran seusai dilantik menjadi bupati di salah satu rumah makan di Kelurahan Mangli, Kaliwates. Acara itu digelar oleh Askab PSSI Jember, 21 Maret lalu.

Pertemuan di rumah makan itu menjadi titik awal cabor-cabor mulai merapatkan barisan. Mereka berdiskusi tentang wacana rekontruksi yang diucapkan oleh bupati. Meski kala itu tak ada kata-kata kudeta dari puluhan cabor yang hadir, tapi mereka bersepekat membentuk tim 9 untuk menuju Musorkablub KONI. Dari daftar kehadiran, setidaknya ada 29 cabor yang datang dan berkumpul.

Pegiat olahraga karate, Djatmiko, mengatakan, cabor merasa resah karena prestasi Jember melorot cukup tajam di Porprov sebelumnya. Belum lagi soal kurangnya kucuran anggaran. Padahal, menurut pria yang juga sebagai Ketua Harian Federasi Karate-Do Indonesia (Forki) Jember ini, cabor perlu dukungan finansial dalam rangka pembinaan untuk meraih prestasi. Apalagi, beberapa tahun terakhir juga tidak ada bantuan dana dari pemerintah daerah ke KONI yang mengucur ke cabor.

Untuk itu, puluhan cabor yang hadir sepakat melakukan rekonstruksi melalui musorkablub. Ini berangkat dari penilaian bahwa kepengurusan KONI di periode sekarang gagal pada dua hal. Meraih prestasi dan mendatangkan anggaran pembinaan. Ditambah lagi, bupati juga ingin Jember jadi juara umum pada Porprov mendatang, karena Jember menjadi tuan rumah.

Ketua Kick Boxing Indonesia (KBI) Jember Ardhinto Oky Wijaya mengatakan, Porprov Jatim 2022 menjadi panggung bupati. Namun, bila KONI tidak sejalan dengan bupati yang baru, tentu saja akan terjadi ketimpangan.

Sementara itu, alasan munculnya mosi tidak percaya kepada KONI Jember, menurutnya, didasarkan pada tiga hal. Pertama, prestasi Porprov Jember yang jeblok dan mengingat tahun depan Jember adalah tuan rumah. Kedua, selama tiga tahun KONI juga tidak mengelar rapat tahunan atau disebut rapat kerja kabupaten (rakerkab). Dan yang terakhir, selama ini KONI tidak bisa menghadirkan dana dari APBD untuk pembinaan cabor. “Dalam AD ART KONI, pasal 34 menjelaskan KONI wajib melakukan rapat tahunan tersebut,” jelasnya.

Dia menjelaskan, rakerkab itu diikuti peserta yang memiliki hak suara, yaitu cabor. Walau dalam kepengurusan KONI itu terdapat perwakilan cabor, namun dia menegaskan, rapat tahunan itu berbeda dengan rapat pengurus. Sebab, rakerkab harus mengundang cabor-cabor untuk menyelenggarakan rapat kerja. “Selama tiga tahun tidak ada undangan di cabor untuk acara rapat tahunan,” ungkapnya.

Menurut dia, rapat tahunan tersebut tidak sekadar membahas laporan pertanggungjawaban (LPJ) keuangan KONI. Namun, LPJ secara menyeluruh. Bahkan, dalam rapat tahunan tersebut juga dibahas penetapan atau penolakan permohonan untuk menjadi anggota. “Jadi, kalau tidak ada rapat tahunan, tidak akan ada tambahan cabor yang masuk jadi anggota KONI Jember. Padahal, itu menjadi yang penting dalam rapat tahunan tersebut,” jelasnya.

Sementara itu, menurutnya Ketua Pengkab Taekwondo Indonesia (TI) Jember Rahmat yang juga sebagai pengurus KONI, selama ini KONI Jember tidak mendapatkan dana hibah dari APBD Jember. “Tidak ada dana hibah dari pemerintah, yang mau di-LPJ-kan ini apa nanti?” jelasnya.

 

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/