alexametrics
23 C
Jember
Thursday, 11 August 2022

Jatah Tahunan Berkurang, Kuota Bulanan Bertambah Alokasi Pupuk Bersubsidi Januari 2020

Mobile_AP_Rectangle 1

BANGSALSARI, Radar Jember ID – Petani tak perlu risau soal kelangkaan pupuk bersubsidi pada masa tanam perdana tahun ini. Sebab, meski alokasi secara keseluruhan selama setahun berkurang hampir 50 persen, namun kuota pada Januari 2020 jumlahnya lebih besar dibandingkan pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sehingga kekhawatiran kekurangan rabuk di masa pemupukan diprediksi tak akan terjadi.

Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Jember Satuki mengatakan, pengurangan alokasi pupuk bersubsidi itu tak hanya terjadi di tingkat kabupaten, tapi secara nasional. Termasuk untuk tingkat Jatim. Sehingga pengurangan itu berdampak terhadap jumlah alokasi pupuk subsidi untuk Jember. Dia mengakui, bahwa petani galau terhadap kebijakan pengurangan kuota pupuk subsidi itu. Karena saat ini kondisinya berbeda dengan tahun kemarin, yaitu musim tanam perdana dilakukan serentak pada Januari.

Sehingga, kata dia, pada Januari ini perwakilan petani melalui organisasi petani menginginkan jangan sampai ada pengurangan alokasi pupuk bersubsidi, khususnya di Januari, karena kebutuhan pupuk khususnya urea cukup tinggi, utamanya pada masa awal tanam sebab merupakan masa pertumbuhan tanaman. “Untuk alokasi per bulannya, sudah ada,” tambahnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sementara itu Account Executive PT Pupuk Kaltim di Jember, Nursalim memaparkan, secara total alokasi pupuk urea bersubdisi tahun ini memang berkurang hampir 50 persen bila dibandingkan tahun sebelumnya. “Tahun 2019 mencapai 90.975 ton dan sekarang turun jadi 46.975 ton,” tuturnya.

Kendati begitu, menurut dia, pemotongan jatah pupuk bersubsidi tahunan itu tak memengaruhi kuota untuk Januari 2020. Kata dia, jumlahnya tidak berubah, bahkan lebih tinggi dari tahun kemarin. “Pada Januari 2019 alokasi pupuk urea bersubsidi mencapai 4.570 ton, sementara Januari 2020 naik menjadi 4.674 ton,” terangnya.

Setelah itu, Nursalim menjelaskan, alokasi pupuk urea bersubsidi pada Febuari dan selanjutnya rata-rata tetap konsisten di angka 3.739 ton (selengkapnya lihat grafis). Dia menyebut, Pupuk Kaltim sejatinya sudah mengantisipasi jauh-jauh hari sebelum keluarnya alokasi pupuk subsidi dari pemerintah. “Jadi sebelum musim tanam dimulai, kami sudah antisipasi dan beberapa gudang milik Pupuk Kaltim juga terisi pupuk urea bersubsdi,” jelasnya.

Jumlah stok pupuk urea bersubsidi di tiga Gudang Langkap Bangsalsari, Petung Bangsalsari, dan GPP Rambipuji, setidaknya ada sekitar 10 ribu ton. Besaran tersebut, kata Nursalim, akan cukup selama dua bulan ke depan atau sampai Maret 2020.

Dihubungi terpisah, Ketua Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Jember Sucipto, mengaku sejak ada penurunan alokasi pupuk bersubsidi membuat petani resah. Apalagi, ditambah musim tanam tahun ini berjalan serentak dan belum ada kepastian kapan alokasi setiap bulan itu turun. “Jika tidak ada SK alokasi per bulan, pedagang eceran tidak berani menjual. Inilah yang membuat petani makin galau,” terangnya.

Sehingga, KTNA mendorong agar jangan sampai ada pengurangan alokasi pupuk subsidi pada Januari 2020. “Walau secara tahun itu berkurang, tapi musim tanam pertama jangan dikurangi dulu,” jelasnya.

Beruntunglah, kata dia, alokasi pupuk urea bersubsidi sesuai harapan tidak terjadi pengurangan. “Pada awal musim tanam ini pupuk urea sangat dibutuhkan. Jika telat atau tidak dipupuk, maka pertumbuhan padi akan lambat salah satu contohnya tidak muncul anakan padi,” pungkasnya. (dwi/rus)

- Advertisement -

BANGSALSARI, Radar Jember ID – Petani tak perlu risau soal kelangkaan pupuk bersubsidi pada masa tanam perdana tahun ini. Sebab, meski alokasi secara keseluruhan selama setahun berkurang hampir 50 persen, namun kuota pada Januari 2020 jumlahnya lebih besar dibandingkan pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sehingga kekhawatiran kekurangan rabuk di masa pemupukan diprediksi tak akan terjadi.

Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Jember Satuki mengatakan, pengurangan alokasi pupuk bersubsidi itu tak hanya terjadi di tingkat kabupaten, tapi secara nasional. Termasuk untuk tingkat Jatim. Sehingga pengurangan itu berdampak terhadap jumlah alokasi pupuk subsidi untuk Jember. Dia mengakui, bahwa petani galau terhadap kebijakan pengurangan kuota pupuk subsidi itu. Karena saat ini kondisinya berbeda dengan tahun kemarin, yaitu musim tanam perdana dilakukan serentak pada Januari.

Sehingga, kata dia, pada Januari ini perwakilan petani melalui organisasi petani menginginkan jangan sampai ada pengurangan alokasi pupuk bersubsidi, khususnya di Januari, karena kebutuhan pupuk khususnya urea cukup tinggi, utamanya pada masa awal tanam sebab merupakan masa pertumbuhan tanaman. “Untuk alokasi per bulannya, sudah ada,” tambahnya.

Sementara itu Account Executive PT Pupuk Kaltim di Jember, Nursalim memaparkan, secara total alokasi pupuk urea bersubdisi tahun ini memang berkurang hampir 50 persen bila dibandingkan tahun sebelumnya. “Tahun 2019 mencapai 90.975 ton dan sekarang turun jadi 46.975 ton,” tuturnya.

Kendati begitu, menurut dia, pemotongan jatah pupuk bersubsidi tahunan itu tak memengaruhi kuota untuk Januari 2020. Kata dia, jumlahnya tidak berubah, bahkan lebih tinggi dari tahun kemarin. “Pada Januari 2019 alokasi pupuk urea bersubsidi mencapai 4.570 ton, sementara Januari 2020 naik menjadi 4.674 ton,” terangnya.

Setelah itu, Nursalim menjelaskan, alokasi pupuk urea bersubsidi pada Febuari dan selanjutnya rata-rata tetap konsisten di angka 3.739 ton (selengkapnya lihat grafis). Dia menyebut, Pupuk Kaltim sejatinya sudah mengantisipasi jauh-jauh hari sebelum keluarnya alokasi pupuk subsidi dari pemerintah. “Jadi sebelum musim tanam dimulai, kami sudah antisipasi dan beberapa gudang milik Pupuk Kaltim juga terisi pupuk urea bersubsdi,” jelasnya.

Jumlah stok pupuk urea bersubsidi di tiga Gudang Langkap Bangsalsari, Petung Bangsalsari, dan GPP Rambipuji, setidaknya ada sekitar 10 ribu ton. Besaran tersebut, kata Nursalim, akan cukup selama dua bulan ke depan atau sampai Maret 2020.

Dihubungi terpisah, Ketua Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Jember Sucipto, mengaku sejak ada penurunan alokasi pupuk bersubsidi membuat petani resah. Apalagi, ditambah musim tanam tahun ini berjalan serentak dan belum ada kepastian kapan alokasi setiap bulan itu turun. “Jika tidak ada SK alokasi per bulan, pedagang eceran tidak berani menjual. Inilah yang membuat petani makin galau,” terangnya.

Sehingga, KTNA mendorong agar jangan sampai ada pengurangan alokasi pupuk subsidi pada Januari 2020. “Walau secara tahun itu berkurang, tapi musim tanam pertama jangan dikurangi dulu,” jelasnya.

Beruntunglah, kata dia, alokasi pupuk urea bersubsidi sesuai harapan tidak terjadi pengurangan. “Pada awal musim tanam ini pupuk urea sangat dibutuhkan. Jika telat atau tidak dipupuk, maka pertumbuhan padi akan lambat salah satu contohnya tidak muncul anakan padi,” pungkasnya. (dwi/rus)

BANGSALSARI, Radar Jember ID – Petani tak perlu risau soal kelangkaan pupuk bersubsidi pada masa tanam perdana tahun ini. Sebab, meski alokasi secara keseluruhan selama setahun berkurang hampir 50 persen, namun kuota pada Januari 2020 jumlahnya lebih besar dibandingkan pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sehingga kekhawatiran kekurangan rabuk di masa pemupukan diprediksi tak akan terjadi.

Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Jember Satuki mengatakan, pengurangan alokasi pupuk bersubsidi itu tak hanya terjadi di tingkat kabupaten, tapi secara nasional. Termasuk untuk tingkat Jatim. Sehingga pengurangan itu berdampak terhadap jumlah alokasi pupuk subsidi untuk Jember. Dia mengakui, bahwa petani galau terhadap kebijakan pengurangan kuota pupuk subsidi itu. Karena saat ini kondisinya berbeda dengan tahun kemarin, yaitu musim tanam perdana dilakukan serentak pada Januari.

Sehingga, kata dia, pada Januari ini perwakilan petani melalui organisasi petani menginginkan jangan sampai ada pengurangan alokasi pupuk bersubsidi, khususnya di Januari, karena kebutuhan pupuk khususnya urea cukup tinggi, utamanya pada masa awal tanam sebab merupakan masa pertumbuhan tanaman. “Untuk alokasi per bulannya, sudah ada,” tambahnya.

Sementara itu Account Executive PT Pupuk Kaltim di Jember, Nursalim memaparkan, secara total alokasi pupuk urea bersubdisi tahun ini memang berkurang hampir 50 persen bila dibandingkan tahun sebelumnya. “Tahun 2019 mencapai 90.975 ton dan sekarang turun jadi 46.975 ton,” tuturnya.

Kendati begitu, menurut dia, pemotongan jatah pupuk bersubsidi tahunan itu tak memengaruhi kuota untuk Januari 2020. Kata dia, jumlahnya tidak berubah, bahkan lebih tinggi dari tahun kemarin. “Pada Januari 2019 alokasi pupuk urea bersubsidi mencapai 4.570 ton, sementara Januari 2020 naik menjadi 4.674 ton,” terangnya.

Setelah itu, Nursalim menjelaskan, alokasi pupuk urea bersubsidi pada Febuari dan selanjutnya rata-rata tetap konsisten di angka 3.739 ton (selengkapnya lihat grafis). Dia menyebut, Pupuk Kaltim sejatinya sudah mengantisipasi jauh-jauh hari sebelum keluarnya alokasi pupuk subsidi dari pemerintah. “Jadi sebelum musim tanam dimulai, kami sudah antisipasi dan beberapa gudang milik Pupuk Kaltim juga terisi pupuk urea bersubsdi,” jelasnya.

Jumlah stok pupuk urea bersubsidi di tiga Gudang Langkap Bangsalsari, Petung Bangsalsari, dan GPP Rambipuji, setidaknya ada sekitar 10 ribu ton. Besaran tersebut, kata Nursalim, akan cukup selama dua bulan ke depan atau sampai Maret 2020.

Dihubungi terpisah, Ketua Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Jember Sucipto, mengaku sejak ada penurunan alokasi pupuk bersubsidi membuat petani resah. Apalagi, ditambah musim tanam tahun ini berjalan serentak dan belum ada kepastian kapan alokasi setiap bulan itu turun. “Jika tidak ada SK alokasi per bulan, pedagang eceran tidak berani menjual. Inilah yang membuat petani makin galau,” terangnya.

Sehingga, KTNA mendorong agar jangan sampai ada pengurangan alokasi pupuk subsidi pada Januari 2020. “Walau secara tahun itu berkurang, tapi musim tanam pertama jangan dikurangi dulu,” jelasnya.

Beruntunglah, kata dia, alokasi pupuk urea bersubsidi sesuai harapan tidak terjadi pengurangan. “Pada awal musim tanam ini pupuk urea sangat dibutuhkan. Jika telat atau tidak dipupuk, maka pertumbuhan padi akan lambat salah satu contohnya tidak muncul anakan padi,” pungkasnya. (dwi/rus)

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/