alexametrics
29 C
Jember
Sunday, 26 June 2022

Kerja Total Setelah Dapat Kabar dari Kominfo tentang New Normal

Mobile_AP_Rectangle 1

Wabah Covid-19 memukul perekonomian warga Jember. Tak terkecuali bagi Muhammad Yunan, seorang tukang sedot WC. Dirinya nyaris putus asa lantaran terdampak korona. Tapi setelah Kementerian Komunikasi dan Informatika menyiarkan kabar new normal, pria itu kembali bersemangat. Kini, dia mulai door to door menawarkan jasa dengan tetap melaksanakan protokol kesehatan.

NUR HARIRI, Jember Kidul, Radar Jember

Siang itu, langit mulai gelap. Tak lama kemudian, hujan pun mengguyur. Dari sudut sebuah halte, seorang pria bermasker tampak mengemasi barang-barangnya. Dirinya nekat menerabas hujan agar pekerjaannya cepat selesai. Keringat di wajahnya yang sempat ada, seketika mengalir bersama air yang turun.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pria berkaus putih ini adalah Muhammad Yunan. Setiap hari, dirinya bekerja sebagai tukang sedot WC. Pria 47 tahun ini tinggal tak jauh dari mobil sedot WC yang diparkir di Jalan Hos Cokroaminoto, Kelurahan Jember Kidul, Kecamatan Kaliwates. “Rumah saya dekat. Ini di gang dua nomor 53,” ucap pria yang juga menyebut rumahnya berada di Lingkungan Kulon Pasar RT 2 RW 11 itu.

Hujan yang mengguyur tak kunjung berhenti. Yunan pun terus menggulung pipa dan selang yang baru digunakan menyedot WC milik warga. Dia melakukan itu untuk membalas dendam, karena sebelumnya cukup lama tak bekerja akibat korona. Hujan yang turun baginya bukanlah halangan, tapi berkah. Ketimbang dia hanya menganggur di rumah akibat korona.

“Saya sudah lama tidak bekerja. Kalau tidak salah empat bulan penuh. Dulu saya sangat khawatir pada korona. Kalau tidak ada jalan keluar, keluarga makan apa. Saya pun bingung karena tidak mendapat penghasilan,” ucapnya.

Yunan mengaku, saat menghadapi masa-masa pandemi benar-benar mati langkah. Jasa sedot WC tak digunakan sejak ada korona. Tidak ada panggilan. Tidak berani menawarkan karena takut diduga macam-macam. Pekerjaan yang digeluti sejak 20 tahun lalu ini bahkan sempat membuatnya nyaris putus asa.

Yunan pun sempat berkeluh kesah kepada istrinya, Kurnia Ely Susanti, 47. Dia memikirkan nasib keluarga, termasuk kedua anaknya, Nabela Yuneli Putri, 22, dan Marsela Yuneli Putri. “Anak saya yang pertama kuliah, sementara yang kedua sudah SMA. Jadi, saya sangat bingung. Jasa sedot WC tidak ada yang memakai,” ulasnya, sambil duduk di halte bersama Jawa Pos Radar Jember.

- Advertisement -

Wabah Covid-19 memukul perekonomian warga Jember. Tak terkecuali bagi Muhammad Yunan, seorang tukang sedot WC. Dirinya nyaris putus asa lantaran terdampak korona. Tapi setelah Kementerian Komunikasi dan Informatika menyiarkan kabar new normal, pria itu kembali bersemangat. Kini, dia mulai door to door menawarkan jasa dengan tetap melaksanakan protokol kesehatan.

NUR HARIRI, Jember Kidul, Radar Jember

Siang itu, langit mulai gelap. Tak lama kemudian, hujan pun mengguyur. Dari sudut sebuah halte, seorang pria bermasker tampak mengemasi barang-barangnya. Dirinya nekat menerabas hujan agar pekerjaannya cepat selesai. Keringat di wajahnya yang sempat ada, seketika mengalir bersama air yang turun.

Pria berkaus putih ini adalah Muhammad Yunan. Setiap hari, dirinya bekerja sebagai tukang sedot WC. Pria 47 tahun ini tinggal tak jauh dari mobil sedot WC yang diparkir di Jalan Hos Cokroaminoto, Kelurahan Jember Kidul, Kecamatan Kaliwates. “Rumah saya dekat. Ini di gang dua nomor 53,” ucap pria yang juga menyebut rumahnya berada di Lingkungan Kulon Pasar RT 2 RW 11 itu.

Hujan yang mengguyur tak kunjung berhenti. Yunan pun terus menggulung pipa dan selang yang baru digunakan menyedot WC milik warga. Dia melakukan itu untuk membalas dendam, karena sebelumnya cukup lama tak bekerja akibat korona. Hujan yang turun baginya bukanlah halangan, tapi berkah. Ketimbang dia hanya menganggur di rumah akibat korona.

“Saya sudah lama tidak bekerja. Kalau tidak salah empat bulan penuh. Dulu saya sangat khawatir pada korona. Kalau tidak ada jalan keluar, keluarga makan apa. Saya pun bingung karena tidak mendapat penghasilan,” ucapnya.

Yunan mengaku, saat menghadapi masa-masa pandemi benar-benar mati langkah. Jasa sedot WC tak digunakan sejak ada korona. Tidak ada panggilan. Tidak berani menawarkan karena takut diduga macam-macam. Pekerjaan yang digeluti sejak 20 tahun lalu ini bahkan sempat membuatnya nyaris putus asa.

Yunan pun sempat berkeluh kesah kepada istrinya, Kurnia Ely Susanti, 47. Dia memikirkan nasib keluarga, termasuk kedua anaknya, Nabela Yuneli Putri, 22, dan Marsela Yuneli Putri. “Anak saya yang pertama kuliah, sementara yang kedua sudah SMA. Jadi, saya sangat bingung. Jasa sedot WC tidak ada yang memakai,” ulasnya, sambil duduk di halte bersama Jawa Pos Radar Jember.

Wabah Covid-19 memukul perekonomian warga Jember. Tak terkecuali bagi Muhammad Yunan, seorang tukang sedot WC. Dirinya nyaris putus asa lantaran terdampak korona. Tapi setelah Kementerian Komunikasi dan Informatika menyiarkan kabar new normal, pria itu kembali bersemangat. Kini, dia mulai door to door menawarkan jasa dengan tetap melaksanakan protokol kesehatan.

NUR HARIRI, Jember Kidul, Radar Jember

Siang itu, langit mulai gelap. Tak lama kemudian, hujan pun mengguyur. Dari sudut sebuah halte, seorang pria bermasker tampak mengemasi barang-barangnya. Dirinya nekat menerabas hujan agar pekerjaannya cepat selesai. Keringat di wajahnya yang sempat ada, seketika mengalir bersama air yang turun.

Pria berkaus putih ini adalah Muhammad Yunan. Setiap hari, dirinya bekerja sebagai tukang sedot WC. Pria 47 tahun ini tinggal tak jauh dari mobil sedot WC yang diparkir di Jalan Hos Cokroaminoto, Kelurahan Jember Kidul, Kecamatan Kaliwates. “Rumah saya dekat. Ini di gang dua nomor 53,” ucap pria yang juga menyebut rumahnya berada di Lingkungan Kulon Pasar RT 2 RW 11 itu.

Hujan yang mengguyur tak kunjung berhenti. Yunan pun terus menggulung pipa dan selang yang baru digunakan menyedot WC milik warga. Dia melakukan itu untuk membalas dendam, karena sebelumnya cukup lama tak bekerja akibat korona. Hujan yang turun baginya bukanlah halangan, tapi berkah. Ketimbang dia hanya menganggur di rumah akibat korona.

“Saya sudah lama tidak bekerja. Kalau tidak salah empat bulan penuh. Dulu saya sangat khawatir pada korona. Kalau tidak ada jalan keluar, keluarga makan apa. Saya pun bingung karena tidak mendapat penghasilan,” ucapnya.

Yunan mengaku, saat menghadapi masa-masa pandemi benar-benar mati langkah. Jasa sedot WC tak digunakan sejak ada korona. Tidak ada panggilan. Tidak berani menawarkan karena takut diduga macam-macam. Pekerjaan yang digeluti sejak 20 tahun lalu ini bahkan sempat membuatnya nyaris putus asa.

Yunan pun sempat berkeluh kesah kepada istrinya, Kurnia Ely Susanti, 47. Dia memikirkan nasib keluarga, termasuk kedua anaknya, Nabela Yuneli Putri, 22, dan Marsela Yuneli Putri. “Anak saya yang pertama kuliah, sementara yang kedua sudah SMA. Jadi, saya sangat bingung. Jasa sedot WC tidak ada yang memakai,” ulasnya, sambil duduk di halte bersama Jawa Pos Radar Jember.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/