alexametrics
24.1 C
Jember
Thursday, 11 August 2022

Cukai Melambung, Petani Limbung

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Merosotnya harga jual tembakau kasturi menjadi pukulan telak petani tembakau. Penurunan yang mencapai 35 persen itu membuat petani merugi. Padahal daun emas ini menjadi salah satu penyokong utama pendapatan negara yang tahun ini ditargetkan mencapai Rp 168 triliun.

Ketua Asosiasi Petani Tembakau Kasturi (APTK) Kabupaten Jember Abdurrahman mengungkapkan, penurunan harga kasturi tahun ini memang tidak wajar dan tidak seperti biasanya. Ia membeberkan, sebenarnya di Jember, produksi petani tembakau kasturi masih cukup bagus. Bahkan lebih dari cukup untuk memasok kebutuhan pabrik atau perusahaan rokok. “Jika diestimasikan, kasturi di Jember bisa dicapai sekitar 15 ribu ton. Sementara daya serap pabrik dan perusahaan baru 8.800 ton. Ada kelebihan 6.200 ton,” bebernya.

Sementara soal harga, lanjut dia, tahun lalu dengan tahun ini juga terjadi penurunan begitu signifikan. Ia menyebut, turunnya harga itu ada berbagai faktor. Paling utama adalah karena kenaikan cukai rokok. Karena pemerintah hari ini ingin menargetkan pemasukan sebesar-besarnya ke kas negara melalui cukai rokok.

Mobile_AP_Rectangle 2

Hal itu dinilainya menjadi faktor dominan dari mata rantai yang saling terkait. Tak bisa dilepaskan antara satu dengan yang lain. Yakni petani, pabrik atau perusahaan, dan pemerintah. Kata dia, akar masalahnya berawal dari pemerintah yang menaikkan cukai rokok. “Naiknya cukai, maka perusahaan juga menaikkan harga. Sehingga hal itu membuat pasar melemah karena rokok naik. Dan itu pasti berdampak terhadap berkurangnya serapan tembakau dari petani,” jelas Abdurrahman.

Sebab, dengan naiknya cukai, banyak konsumen tidak menjangkau untuk membeli rokok kelas premium ke atas lantaran semakin mahal. Muaranya tetap saja ke petani. Karena sektor hulu kretek ini sangat bergantung pada sektor hilir. “Dalam hal ini yang tidak terdampak itu hanya pemerintah. Pemerintah tak mau tahu, yang penting Rp 168 triliun itu masuk ke kas negara. Risiko di bawah, ya sudah ditanggung sendiri. Itulah pemerintah,” terangnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Merosotnya harga jual tembakau kasturi menjadi pukulan telak petani tembakau. Penurunan yang mencapai 35 persen itu membuat petani merugi. Padahal daun emas ini menjadi salah satu penyokong utama pendapatan negara yang tahun ini ditargetkan mencapai Rp 168 triliun.

Ketua Asosiasi Petani Tembakau Kasturi (APTK) Kabupaten Jember Abdurrahman mengungkapkan, penurunan harga kasturi tahun ini memang tidak wajar dan tidak seperti biasanya. Ia membeberkan, sebenarnya di Jember, produksi petani tembakau kasturi masih cukup bagus. Bahkan lebih dari cukup untuk memasok kebutuhan pabrik atau perusahaan rokok. “Jika diestimasikan, kasturi di Jember bisa dicapai sekitar 15 ribu ton. Sementara daya serap pabrik dan perusahaan baru 8.800 ton. Ada kelebihan 6.200 ton,” bebernya.

Sementara soal harga, lanjut dia, tahun lalu dengan tahun ini juga terjadi penurunan begitu signifikan. Ia menyebut, turunnya harga itu ada berbagai faktor. Paling utama adalah karena kenaikan cukai rokok. Karena pemerintah hari ini ingin menargetkan pemasukan sebesar-besarnya ke kas negara melalui cukai rokok.

Hal itu dinilainya menjadi faktor dominan dari mata rantai yang saling terkait. Tak bisa dilepaskan antara satu dengan yang lain. Yakni petani, pabrik atau perusahaan, dan pemerintah. Kata dia, akar masalahnya berawal dari pemerintah yang menaikkan cukai rokok. “Naiknya cukai, maka perusahaan juga menaikkan harga. Sehingga hal itu membuat pasar melemah karena rokok naik. Dan itu pasti berdampak terhadap berkurangnya serapan tembakau dari petani,” jelas Abdurrahman.

Sebab, dengan naiknya cukai, banyak konsumen tidak menjangkau untuk membeli rokok kelas premium ke atas lantaran semakin mahal. Muaranya tetap saja ke petani. Karena sektor hulu kretek ini sangat bergantung pada sektor hilir. “Dalam hal ini yang tidak terdampak itu hanya pemerintah. Pemerintah tak mau tahu, yang penting Rp 168 triliun itu masuk ke kas negara. Risiko di bawah, ya sudah ditanggung sendiri. Itulah pemerintah,” terangnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Merosotnya harga jual tembakau kasturi menjadi pukulan telak petani tembakau. Penurunan yang mencapai 35 persen itu membuat petani merugi. Padahal daun emas ini menjadi salah satu penyokong utama pendapatan negara yang tahun ini ditargetkan mencapai Rp 168 triliun.

Ketua Asosiasi Petani Tembakau Kasturi (APTK) Kabupaten Jember Abdurrahman mengungkapkan, penurunan harga kasturi tahun ini memang tidak wajar dan tidak seperti biasanya. Ia membeberkan, sebenarnya di Jember, produksi petani tembakau kasturi masih cukup bagus. Bahkan lebih dari cukup untuk memasok kebutuhan pabrik atau perusahaan rokok. “Jika diestimasikan, kasturi di Jember bisa dicapai sekitar 15 ribu ton. Sementara daya serap pabrik dan perusahaan baru 8.800 ton. Ada kelebihan 6.200 ton,” bebernya.

Sementara soal harga, lanjut dia, tahun lalu dengan tahun ini juga terjadi penurunan begitu signifikan. Ia menyebut, turunnya harga itu ada berbagai faktor. Paling utama adalah karena kenaikan cukai rokok. Karena pemerintah hari ini ingin menargetkan pemasukan sebesar-besarnya ke kas negara melalui cukai rokok.

Hal itu dinilainya menjadi faktor dominan dari mata rantai yang saling terkait. Tak bisa dilepaskan antara satu dengan yang lain. Yakni petani, pabrik atau perusahaan, dan pemerintah. Kata dia, akar masalahnya berawal dari pemerintah yang menaikkan cukai rokok. “Naiknya cukai, maka perusahaan juga menaikkan harga. Sehingga hal itu membuat pasar melemah karena rokok naik. Dan itu pasti berdampak terhadap berkurangnya serapan tembakau dari petani,” jelas Abdurrahman.

Sebab, dengan naiknya cukai, banyak konsumen tidak menjangkau untuk membeli rokok kelas premium ke atas lantaran semakin mahal. Muaranya tetap saja ke petani. Karena sektor hulu kretek ini sangat bergantung pada sektor hilir. “Dalam hal ini yang tidak terdampak itu hanya pemerintah. Pemerintah tak mau tahu, yang penting Rp 168 triliun itu masuk ke kas negara. Risiko di bawah, ya sudah ditanggung sendiri. Itulah pemerintah,” terangnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/