alexametrics
28 C
Jember
Thursday, 18 August 2022

Copot Saja Logo Tembakau

Pada 1980-an dan akhir 1990-an, tembakau menjadi tanaman yang paling menguntungkan. Tapi siapa sangka, kini daun berjuluk emas hijau itu tak lagi digdaya. Para petani banyak yang merugi karena harganya anjlok. Bahkan nyaris tak laku. Melihat kondisi ini, apakah pemerintah akan tetap diam?

Mobile_AP_Rectangle 1

 

Merugi Rp 20-30 Juta

Badan Pusat Statistik (BPS) Jember mencatat, total luas areal tanaman tembakau di Jember pada 2019 mencapai 12.279 hektaree. Dari jumlah tersebut, tertinggi adalah tembakau kasturi yang mencapai 10,4 hektare. Kondisi demikian, tentu saja membuat komoditas krosok paling banyak menyedot petani hingga buruh tani.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Kalau musim tembakau seperti ini, di daerah Jember utara dan timur, hampir semua buruh tani bahkan ibu rumah tangga dapat penghasilan karena tembakau,” terang Hendro. Budi daya tanaman tembakau memang banyak menyedot tenaga kerja.

Dia menjelaskan, untuk lahan per hektare tenaga kerja bagian tanam setidaknya butuh 20-30 orang. Itu belum tenaga kerja yang merawat setiap hari, mencangkul, hingga memanen. Belum lagi pengolahan pascapanen, juga membutuhkan tenaga kerja dengan jumlah yang cukup besar. Jika dikalkulasi, lahan satu hektare tembakau kasturi hulu hingga hilir, tenaga kerja yang diserap setidaknya 80-100 orang. “Kalau pascapanen seperti sujen, menjemur, hingga packing, semua menyerap tenaga kerja. Jadi, memang padat karya,” tuturnya.

Tingginya kebutuhan tenaga kerja berdampak terhadap biaya yang dikeluarkan. Hendro menghitung, biaya tanam tembakau kasturi, setidaknya Rp 50 juta kalau lahan sewa. Biaya itu bisa membengkak jika pupuk yang digunakan adalah nonsubsidi. Sebab, kebutuhannya mencapai 1,5 ton per hektare.

Berdasarkan perhitungan itu, Hendro menambahkan, petani bisa untung jika harga tembakau di tingkat petani minimal Rp 40 ribu per kilogram. Sebab, rata-rata hasil tembakau kasturi per hektare mencapai 1,3–1,5 ton. Jika harga segitu, setidaknya petani untung Rp 10–20 juta. Tapi, kalau saat ini dengan harga kasturi Rp 7.500 per kilogram, maka petani krosok terancam merugi Rp 20–30 juta per hektare.

Abdul Holip, mantan pedagang pengepul tembakau krosok, mengakui, jadi petani itu serba tidak enak. “Ada risiko ruginya. Karena harga saat panen tidak pasti. Lebih enak jadi pedagang,” tutur pedagang yang telah berhenti sejak lima tahun lalu ini.

Dia mengatakan, keuntungan yang dia dapat per kuintal waktu itu Rp 300 ribu. Artinya, per ton bisa untung Rp 3 juta. “Tinggal lihat di gudang harganya berapa. Terus keliling ke desa-desa mencari tembakau. Banyak petani yang nggak mau repot jual ke gudang,” katanya.

Sementara itu, BPS Jatim merilis Analisis Data Tembakau Jatim 2018. Dalam data itu tercatat, produksi tembakau Jember urutan kedua setelah Pamekasan. Bahkan, tembakau merupakan salah satu komoditas perkebunan yang punya peran strategis dalam ekonomi nasional. Mulai dari sumber pendapatan negara melalui devisa negara, cukai, pajak, serta sumber pendapatan petani, juga berperan menciptakan lapangan kerja.

- Advertisement -

 

Merugi Rp 20-30 Juta

Badan Pusat Statistik (BPS) Jember mencatat, total luas areal tanaman tembakau di Jember pada 2019 mencapai 12.279 hektaree. Dari jumlah tersebut, tertinggi adalah tembakau kasturi yang mencapai 10,4 hektare. Kondisi demikian, tentu saja membuat komoditas krosok paling banyak menyedot petani hingga buruh tani.

“Kalau musim tembakau seperti ini, di daerah Jember utara dan timur, hampir semua buruh tani bahkan ibu rumah tangga dapat penghasilan karena tembakau,” terang Hendro. Budi daya tanaman tembakau memang banyak menyedot tenaga kerja.

Dia menjelaskan, untuk lahan per hektare tenaga kerja bagian tanam setidaknya butuh 20-30 orang. Itu belum tenaga kerja yang merawat setiap hari, mencangkul, hingga memanen. Belum lagi pengolahan pascapanen, juga membutuhkan tenaga kerja dengan jumlah yang cukup besar. Jika dikalkulasi, lahan satu hektare tembakau kasturi hulu hingga hilir, tenaga kerja yang diserap setidaknya 80-100 orang. “Kalau pascapanen seperti sujen, menjemur, hingga packing, semua menyerap tenaga kerja. Jadi, memang padat karya,” tuturnya.

Tingginya kebutuhan tenaga kerja berdampak terhadap biaya yang dikeluarkan. Hendro menghitung, biaya tanam tembakau kasturi, setidaknya Rp 50 juta kalau lahan sewa. Biaya itu bisa membengkak jika pupuk yang digunakan adalah nonsubsidi. Sebab, kebutuhannya mencapai 1,5 ton per hektare.

Berdasarkan perhitungan itu, Hendro menambahkan, petani bisa untung jika harga tembakau di tingkat petani minimal Rp 40 ribu per kilogram. Sebab, rata-rata hasil tembakau kasturi per hektare mencapai 1,3–1,5 ton. Jika harga segitu, setidaknya petani untung Rp 10–20 juta. Tapi, kalau saat ini dengan harga kasturi Rp 7.500 per kilogram, maka petani krosok terancam merugi Rp 20–30 juta per hektare.

Abdul Holip, mantan pedagang pengepul tembakau krosok, mengakui, jadi petani itu serba tidak enak. “Ada risiko ruginya. Karena harga saat panen tidak pasti. Lebih enak jadi pedagang,” tutur pedagang yang telah berhenti sejak lima tahun lalu ini.

Dia mengatakan, keuntungan yang dia dapat per kuintal waktu itu Rp 300 ribu. Artinya, per ton bisa untung Rp 3 juta. “Tinggal lihat di gudang harganya berapa. Terus keliling ke desa-desa mencari tembakau. Banyak petani yang nggak mau repot jual ke gudang,” katanya.

Sementara itu, BPS Jatim merilis Analisis Data Tembakau Jatim 2018. Dalam data itu tercatat, produksi tembakau Jember urutan kedua setelah Pamekasan. Bahkan, tembakau merupakan salah satu komoditas perkebunan yang punya peran strategis dalam ekonomi nasional. Mulai dari sumber pendapatan negara melalui devisa negara, cukai, pajak, serta sumber pendapatan petani, juga berperan menciptakan lapangan kerja.

 

Merugi Rp 20-30 Juta

Badan Pusat Statistik (BPS) Jember mencatat, total luas areal tanaman tembakau di Jember pada 2019 mencapai 12.279 hektaree. Dari jumlah tersebut, tertinggi adalah tembakau kasturi yang mencapai 10,4 hektare. Kondisi demikian, tentu saja membuat komoditas krosok paling banyak menyedot petani hingga buruh tani.

“Kalau musim tembakau seperti ini, di daerah Jember utara dan timur, hampir semua buruh tani bahkan ibu rumah tangga dapat penghasilan karena tembakau,” terang Hendro. Budi daya tanaman tembakau memang banyak menyedot tenaga kerja.

Dia menjelaskan, untuk lahan per hektare tenaga kerja bagian tanam setidaknya butuh 20-30 orang. Itu belum tenaga kerja yang merawat setiap hari, mencangkul, hingga memanen. Belum lagi pengolahan pascapanen, juga membutuhkan tenaga kerja dengan jumlah yang cukup besar. Jika dikalkulasi, lahan satu hektare tembakau kasturi hulu hingga hilir, tenaga kerja yang diserap setidaknya 80-100 orang. “Kalau pascapanen seperti sujen, menjemur, hingga packing, semua menyerap tenaga kerja. Jadi, memang padat karya,” tuturnya.

Tingginya kebutuhan tenaga kerja berdampak terhadap biaya yang dikeluarkan. Hendro menghitung, biaya tanam tembakau kasturi, setidaknya Rp 50 juta kalau lahan sewa. Biaya itu bisa membengkak jika pupuk yang digunakan adalah nonsubsidi. Sebab, kebutuhannya mencapai 1,5 ton per hektare.

Berdasarkan perhitungan itu, Hendro menambahkan, petani bisa untung jika harga tembakau di tingkat petani minimal Rp 40 ribu per kilogram. Sebab, rata-rata hasil tembakau kasturi per hektare mencapai 1,3–1,5 ton. Jika harga segitu, setidaknya petani untung Rp 10–20 juta. Tapi, kalau saat ini dengan harga kasturi Rp 7.500 per kilogram, maka petani krosok terancam merugi Rp 20–30 juta per hektare.

Abdul Holip, mantan pedagang pengepul tembakau krosok, mengakui, jadi petani itu serba tidak enak. “Ada risiko ruginya. Karena harga saat panen tidak pasti. Lebih enak jadi pedagang,” tutur pedagang yang telah berhenti sejak lima tahun lalu ini.

Dia mengatakan, keuntungan yang dia dapat per kuintal waktu itu Rp 300 ribu. Artinya, per ton bisa untung Rp 3 juta. “Tinggal lihat di gudang harganya berapa. Terus keliling ke desa-desa mencari tembakau. Banyak petani yang nggak mau repot jual ke gudang,” katanya.

Sementara itu, BPS Jatim merilis Analisis Data Tembakau Jatim 2018. Dalam data itu tercatat, produksi tembakau Jember urutan kedua setelah Pamekasan. Bahkan, tembakau merupakan salah satu komoditas perkebunan yang punya peran strategis dalam ekonomi nasional. Mulai dari sumber pendapatan negara melalui devisa negara, cukai, pajak, serta sumber pendapatan petani, juga berperan menciptakan lapangan kerja.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/