alexametrics
24.1 C
Jember
Friday, 1 July 2022

Copot Saja Logo Tembakau

Pada 1980-an dan akhir 1990-an, tembakau menjadi tanaman yang paling menguntungkan. Tapi siapa sangka, kini daun berjuluk emas hijau itu tak lagi digdaya. Para petani banyak yang merugi karena harganya anjlok. Bahkan nyaris tak laku. Melihat kondisi ini, apakah pemerintah akan tetap diam?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang begitu terik. Pak Indah, warga Lingkungan Pelindu, Karangrejo, Sumbersari, seolah tak menghiraukan panas yang menyengat itu. Dia tetap mengemasi tembakau jenis kasturi yang dijemur di atas tanah kosong. Sebagai buruh tani, pria 45 tahun ini tampak terbiasa dengan teknik pengolahan daun yang menjadi bahan dasar kretek tersebut.

Tahun-tahun sebelumnya, Pak Indah bercerita, bila musim tembakau seperti sekarang ini, hampir semua buruh tani di kampungnya bekerja. Bahkan, ibu rumah tangga juga mendapatkan penghasilan tambahan karena tembakau. Sebab, tanaman ini memang menyerap cukup banyak tenaga kerja. Mulai dari penanaman, perawatan, masa panen, hingga pengolahan pascapanen.

Tapi sekarang, dia mengungkapkan, kondisinya jauh berbeda. Harga jual tembakau murah, berkisar antara Rp 20 ribu per kilogram. Sedangkan tahun kemarin bisa mencapai lebih dari Rp 50 ribu per kilogram. Hal ini juga berdampak terhadap penyerapan buruh tani yang biasanya bekerja di sektor tembakau. Petani tembakau disebut banyak yang merugi. “Saat ini bisa bekerja saja sudah bersyukur. Karena harga tembakau murah, tidak seperti tahun kemarin,” tuturnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Hendro Handoko, petani tembakau di Ledokombo, juga hanya bisa geleng-geleng melihat kondisi tembakau saat ini. Bahkan, kata dia, keadaannya lebih parah dari dampak erupsi Gunung Raung 2015 lalu. Kala itu, harga jual tembakau krosok atau voor oogst kasturi juga anjlok. Tapi kini, disebutnya paling merana.

Hendro yang aktif sebagai Ketua Aliansi Petani Tembakau Jember tersebut menuturkan, sekarang ini pabrikan atau gudang hanya mau membeli daun tembakau bagian bawah, yang kualitasnya sangat rendah. Sementara bagian tengah yang kualitasnya lebih bagus, justru terserap sangat sedikit. “Kalau begini terus, daun tembakau atas mau dikemanakan?” tuturnya.

Kondisi ini di luar prediksi petani. Apalagi, petani tembakau kasturi sangat berharap dengan tembakau bagian tengah sampai atas. Sebab, tembakau bagian tengah sampai ke atas kualitasnya bagus dan harganya lebih tinggi.

Menurutnya, hampir seluruh pabrikan dan gudang menerapkan kebijakan serupa. Mereka hanya membeli tembakau petani yang berkualitas rendah. Bahkan, petani yang bermitra kondisinya tak jauh berbeda. Daun bawah dihargai Rp 7.500 – 18.000 per kilogram. Sementara harga daun bagian tengah di kisaran Rp 20 – 25 ribu per kilogram. Sedangkan daun atas masih belum dihargai. “Tahun kemarin, daun bawah saja dihargai Rp 25 ribu per kilogram,” jelasnya.

Menurutnya, tidak semua pabrikan dan gudang selalu buka dan membeli tembakau petani. Tahun-tahun sebelumnya, di akhir Agustus. Meski begitu, jika pabrikan dan gudang sudah buka, biasanya mereka akan membeli tembakau petani hingga masa panen selesai. Tapi sekarang, kalaupun ada yang buka, hanya dua hari saja. “Selanjutnya kembali tutup,” ungkapnya.

Pria yang juga Wakil Ketua Asosiasi Petani Tembakau ini mengaku tidak tahu apa yang menjadi alasan perusahaan hanya membeli daun bagian bawah. Bila berdalih lantaran korona, dia menilai alasan itu tidak logis. “Rokok itu jadi kebutuhan bagi perokok. Mereka akan tetap merokok, walau pandemi. Jika penurunan penjualan, maka tidak akan begitu drop. Tapi anehnya, kok tembakau bagian bawah yang dibeli,” jelasnya.

Menurutnya, derita petani sekarang tidak hanya yang menanam hortikultura, tapi juga petani tembakau. Bila pemerintah hanya diam, dia memastikan, maka pertanian Jember terancam hancur. Sebab, tembakau menjadi salah satu andalan. Apalagi, Jember sudah dikenal sebagai Kota Tembakau yang ditandai dengan penyematan daun emas itu pada logo daerah. “Harga tebasan saja per batang hanya Rp 800. Harga segitu sudah di luar nalar,” paparnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang begitu terik. Pak Indah, warga Lingkungan Pelindu, Karangrejo, Sumbersari, seolah tak menghiraukan panas yang menyengat itu. Dia tetap mengemasi tembakau jenis kasturi yang dijemur di atas tanah kosong. Sebagai buruh tani, pria 45 tahun ini tampak terbiasa dengan teknik pengolahan daun yang menjadi bahan dasar kretek tersebut.

Tahun-tahun sebelumnya, Pak Indah bercerita, bila musim tembakau seperti sekarang ini, hampir semua buruh tani di kampungnya bekerja. Bahkan, ibu rumah tangga juga mendapatkan penghasilan tambahan karena tembakau. Sebab, tanaman ini memang menyerap cukup banyak tenaga kerja. Mulai dari penanaman, perawatan, masa panen, hingga pengolahan pascapanen.

Tapi sekarang, dia mengungkapkan, kondisinya jauh berbeda. Harga jual tembakau murah, berkisar antara Rp 20 ribu per kilogram. Sedangkan tahun kemarin bisa mencapai lebih dari Rp 50 ribu per kilogram. Hal ini juga berdampak terhadap penyerapan buruh tani yang biasanya bekerja di sektor tembakau. Petani tembakau disebut banyak yang merugi. “Saat ini bisa bekerja saja sudah bersyukur. Karena harga tembakau murah, tidak seperti tahun kemarin,” tuturnya.

Hendro Handoko, petani tembakau di Ledokombo, juga hanya bisa geleng-geleng melihat kondisi tembakau saat ini. Bahkan, kata dia, keadaannya lebih parah dari dampak erupsi Gunung Raung 2015 lalu. Kala itu, harga jual tembakau krosok atau voor oogst kasturi juga anjlok. Tapi kini, disebutnya paling merana.

Hendro yang aktif sebagai Ketua Aliansi Petani Tembakau Jember tersebut menuturkan, sekarang ini pabrikan atau gudang hanya mau membeli daun tembakau bagian bawah, yang kualitasnya sangat rendah. Sementara bagian tengah yang kualitasnya lebih bagus, justru terserap sangat sedikit. “Kalau begini terus, daun tembakau atas mau dikemanakan?” tuturnya.

Kondisi ini di luar prediksi petani. Apalagi, petani tembakau kasturi sangat berharap dengan tembakau bagian tengah sampai atas. Sebab, tembakau bagian tengah sampai ke atas kualitasnya bagus dan harganya lebih tinggi.

Menurutnya, hampir seluruh pabrikan dan gudang menerapkan kebijakan serupa. Mereka hanya membeli tembakau petani yang berkualitas rendah. Bahkan, petani yang bermitra kondisinya tak jauh berbeda. Daun bawah dihargai Rp 7.500 – 18.000 per kilogram. Sementara harga daun bagian tengah di kisaran Rp 20 – 25 ribu per kilogram. Sedangkan daun atas masih belum dihargai. “Tahun kemarin, daun bawah saja dihargai Rp 25 ribu per kilogram,” jelasnya.

Menurutnya, tidak semua pabrikan dan gudang selalu buka dan membeli tembakau petani. Tahun-tahun sebelumnya, di akhir Agustus. Meski begitu, jika pabrikan dan gudang sudah buka, biasanya mereka akan membeli tembakau petani hingga masa panen selesai. Tapi sekarang, kalaupun ada yang buka, hanya dua hari saja. “Selanjutnya kembali tutup,” ungkapnya.

Pria yang juga Wakil Ketua Asosiasi Petani Tembakau ini mengaku tidak tahu apa yang menjadi alasan perusahaan hanya membeli daun bagian bawah. Bila berdalih lantaran korona, dia menilai alasan itu tidak logis. “Rokok itu jadi kebutuhan bagi perokok. Mereka akan tetap merokok, walau pandemi. Jika penurunan penjualan, maka tidak akan begitu drop. Tapi anehnya, kok tembakau bagian bawah yang dibeli,” jelasnya.

Menurutnya, derita petani sekarang tidak hanya yang menanam hortikultura, tapi juga petani tembakau. Bila pemerintah hanya diam, dia memastikan, maka pertanian Jember terancam hancur. Sebab, tembakau menjadi salah satu andalan. Apalagi, Jember sudah dikenal sebagai Kota Tembakau yang ditandai dengan penyematan daun emas itu pada logo daerah. “Harga tebasan saja per batang hanya Rp 800. Harga segitu sudah di luar nalar,” paparnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang begitu terik. Pak Indah, warga Lingkungan Pelindu, Karangrejo, Sumbersari, seolah tak menghiraukan panas yang menyengat itu. Dia tetap mengemasi tembakau jenis kasturi yang dijemur di atas tanah kosong. Sebagai buruh tani, pria 45 tahun ini tampak terbiasa dengan teknik pengolahan daun yang menjadi bahan dasar kretek tersebut.

Tahun-tahun sebelumnya, Pak Indah bercerita, bila musim tembakau seperti sekarang ini, hampir semua buruh tani di kampungnya bekerja. Bahkan, ibu rumah tangga juga mendapatkan penghasilan tambahan karena tembakau. Sebab, tanaman ini memang menyerap cukup banyak tenaga kerja. Mulai dari penanaman, perawatan, masa panen, hingga pengolahan pascapanen.

Tapi sekarang, dia mengungkapkan, kondisinya jauh berbeda. Harga jual tembakau murah, berkisar antara Rp 20 ribu per kilogram. Sedangkan tahun kemarin bisa mencapai lebih dari Rp 50 ribu per kilogram. Hal ini juga berdampak terhadap penyerapan buruh tani yang biasanya bekerja di sektor tembakau. Petani tembakau disebut banyak yang merugi. “Saat ini bisa bekerja saja sudah bersyukur. Karena harga tembakau murah, tidak seperti tahun kemarin,” tuturnya.

Hendro Handoko, petani tembakau di Ledokombo, juga hanya bisa geleng-geleng melihat kondisi tembakau saat ini. Bahkan, kata dia, keadaannya lebih parah dari dampak erupsi Gunung Raung 2015 lalu. Kala itu, harga jual tembakau krosok atau voor oogst kasturi juga anjlok. Tapi kini, disebutnya paling merana.

Hendro yang aktif sebagai Ketua Aliansi Petani Tembakau Jember tersebut menuturkan, sekarang ini pabrikan atau gudang hanya mau membeli daun tembakau bagian bawah, yang kualitasnya sangat rendah. Sementara bagian tengah yang kualitasnya lebih bagus, justru terserap sangat sedikit. “Kalau begini terus, daun tembakau atas mau dikemanakan?” tuturnya.

Kondisi ini di luar prediksi petani. Apalagi, petani tembakau kasturi sangat berharap dengan tembakau bagian tengah sampai atas. Sebab, tembakau bagian tengah sampai ke atas kualitasnya bagus dan harganya lebih tinggi.

Menurutnya, hampir seluruh pabrikan dan gudang menerapkan kebijakan serupa. Mereka hanya membeli tembakau petani yang berkualitas rendah. Bahkan, petani yang bermitra kondisinya tak jauh berbeda. Daun bawah dihargai Rp 7.500 – 18.000 per kilogram. Sementara harga daun bagian tengah di kisaran Rp 20 – 25 ribu per kilogram. Sedangkan daun atas masih belum dihargai. “Tahun kemarin, daun bawah saja dihargai Rp 25 ribu per kilogram,” jelasnya.

Menurutnya, tidak semua pabrikan dan gudang selalu buka dan membeli tembakau petani. Tahun-tahun sebelumnya, di akhir Agustus. Meski begitu, jika pabrikan dan gudang sudah buka, biasanya mereka akan membeli tembakau petani hingga masa panen selesai. Tapi sekarang, kalaupun ada yang buka, hanya dua hari saja. “Selanjutnya kembali tutup,” ungkapnya.

Pria yang juga Wakil Ketua Asosiasi Petani Tembakau ini mengaku tidak tahu apa yang menjadi alasan perusahaan hanya membeli daun bagian bawah. Bila berdalih lantaran korona, dia menilai alasan itu tidak logis. “Rokok itu jadi kebutuhan bagi perokok. Mereka akan tetap merokok, walau pandemi. Jika penurunan penjualan, maka tidak akan begitu drop. Tapi anehnya, kok tembakau bagian bawah yang dibeli,” jelasnya.

Menurutnya, derita petani sekarang tidak hanya yang menanam hortikultura, tapi juga petani tembakau. Bila pemerintah hanya diam, dia memastikan, maka pertanian Jember terancam hancur. Sebab, tembakau menjadi salah satu andalan. Apalagi, Jember sudah dikenal sebagai Kota Tembakau yang ditandai dengan penyematan daun emas itu pada logo daerah. “Harga tebasan saja per batang hanya Rp 800. Harga segitu sudah di luar nalar,” paparnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/