alexametrics
22.4 C
Jember
Tuesday, 16 August 2022

Bisa Putus Beberapa Rantai Perdagangan

Untung dan Rugi Kemitraan

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMEBR.ID – Harga tembakau kasturi di Jember memang sedang anjlok. Kini, penjualan tembakau kasturi sedang lesu-lesunya. Para petani pun merasakan benar penurunan harga tersebut. Tembakau dari petani yang dibeli oleh pabrik rokok pun tak sebanyak tahun lalu. Pola kemitraan antara petani dan pabrik pun ada sisi untung dan ruginya sekarang ini. Terlebih, mereka belum mendapat kepastian harga.

Mahfud Ali, salah satu petani tembakau kasturi di Desa Glagahwero, Kecamatan Kalisat, merasakan benar lesunya tembakau tahun ini. Dirinya sempat bersyukur tidak mengalami rugi besar. “Biaya produksi tembakau dan hasil penjualan sekarang ini tidak ada labanya. Mungkin hanya balik modal saja. Informasi dari gudang memang dikarenakan pengaruh pandemi korona ini,” jelas Mahfud.

Pola kemitraan petani dengan pabrik rokok pun memang ada sisi positif dan negatifnya. Mahfud menambahkan, klausul kemitraan tersebut perjanjian berdasarkan pangsa pasarnya. “Jadi, tidak sama dengan kemitraan jagung. Kalau jagung ada patokan harga di awal. Kalau tembakau ini beda. Hanya saja, ada kepastian pasar,” bebernya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Untungnya, bagi petani yang sudah bermitra, mereka sudah mendapatkan kepastian pasar, di mana harus menjual produk tembakaunya. “Kalau masalah harga, tergantung harga pasaran tembakau global. Bisa naik turun. Tidak ada patokan harganya. Kalau turun ya pasti rugi,” imbuh pria berusia 42 tahun ini.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMEBR.ID – Harga tembakau kasturi di Jember memang sedang anjlok. Kini, penjualan tembakau kasturi sedang lesu-lesunya. Para petani pun merasakan benar penurunan harga tersebut. Tembakau dari petani yang dibeli oleh pabrik rokok pun tak sebanyak tahun lalu. Pola kemitraan antara petani dan pabrik pun ada sisi untung dan ruginya sekarang ini. Terlebih, mereka belum mendapat kepastian harga.

Mahfud Ali, salah satu petani tembakau kasturi di Desa Glagahwero, Kecamatan Kalisat, merasakan benar lesunya tembakau tahun ini. Dirinya sempat bersyukur tidak mengalami rugi besar. “Biaya produksi tembakau dan hasil penjualan sekarang ini tidak ada labanya. Mungkin hanya balik modal saja. Informasi dari gudang memang dikarenakan pengaruh pandemi korona ini,” jelas Mahfud.

Pola kemitraan petani dengan pabrik rokok pun memang ada sisi positif dan negatifnya. Mahfud menambahkan, klausul kemitraan tersebut perjanjian berdasarkan pangsa pasarnya. “Jadi, tidak sama dengan kemitraan jagung. Kalau jagung ada patokan harga di awal. Kalau tembakau ini beda. Hanya saja, ada kepastian pasar,” bebernya.

Untungnya, bagi petani yang sudah bermitra, mereka sudah mendapatkan kepastian pasar, di mana harus menjual produk tembakaunya. “Kalau masalah harga, tergantung harga pasaran tembakau global. Bisa naik turun. Tidak ada patokan harganya. Kalau turun ya pasti rugi,” imbuh pria berusia 42 tahun ini.

JEMBER, RADARJEMEBR.ID – Harga tembakau kasturi di Jember memang sedang anjlok. Kini, penjualan tembakau kasturi sedang lesu-lesunya. Para petani pun merasakan benar penurunan harga tersebut. Tembakau dari petani yang dibeli oleh pabrik rokok pun tak sebanyak tahun lalu. Pola kemitraan antara petani dan pabrik pun ada sisi untung dan ruginya sekarang ini. Terlebih, mereka belum mendapat kepastian harga.

Mahfud Ali, salah satu petani tembakau kasturi di Desa Glagahwero, Kecamatan Kalisat, merasakan benar lesunya tembakau tahun ini. Dirinya sempat bersyukur tidak mengalami rugi besar. “Biaya produksi tembakau dan hasil penjualan sekarang ini tidak ada labanya. Mungkin hanya balik modal saja. Informasi dari gudang memang dikarenakan pengaruh pandemi korona ini,” jelas Mahfud.

Pola kemitraan petani dengan pabrik rokok pun memang ada sisi positif dan negatifnya. Mahfud menambahkan, klausul kemitraan tersebut perjanjian berdasarkan pangsa pasarnya. “Jadi, tidak sama dengan kemitraan jagung. Kalau jagung ada patokan harga di awal. Kalau tembakau ini beda. Hanya saja, ada kepastian pasar,” bebernya.

Untungnya, bagi petani yang sudah bermitra, mereka sudah mendapatkan kepastian pasar, di mana harus menjual produk tembakaunya. “Kalau masalah harga, tergantung harga pasaran tembakau global. Bisa naik turun. Tidak ada patokan harganya. Kalau turun ya pasti rugi,” imbuh pria berusia 42 tahun ini.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/