alexametrics
23.7 C
Jember
Saturday, 24 September 2022

Eksistensi Griya Asih Masih Diperlukan

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID- Griya Asih merupakan salah satu organisasi yang bergerak di lingkungan desa. Organisasi ini memberikan layanan advokasi kepada perempuan dan anak terkait dengan pemenuhan hak-hak mereka. Khususnya para penyintas pelecehan maupun kekerasan seksual. Selain itu, cakupannya juga menyasar pada anak-anak pekerja migran Indonesia (PMI).

Namun, kini organisasi yang berbasis di setiap desa itu sudah tidak ada lagi. Hal ini cukup disayangkan. Sebab, dalam praktiknya Griya Asih dapat menjadi perantara pemberantasan kesenjangan terhadap perempuan dan anak.

Presidium wilayah kelompok pemuda pelajar mahasiswa Koalisi Peduli Perempuan, Saras Dumasari menjelaskan, selain sebagai salah satu upaya intervensi pemerintah, Griya Asih juga merupakan bentuk partisipasi pemerintah dalam menanggulangi kesenjangan anak dan perempuan. Sebab, bisa menjadi tempat curhat bagi para penyintas dengan basis desa. Dan kehadirannya dianggap sebagai upaya yang lebih efisien.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Mereka yang punya masalah tidak perlu ke kota. Cukup diselesaikan dengan Griya Asih yang anggotanya dari daerah sana. Mereka akan lebih terbuka,” jelas Saras, seusai diskusi webinar terkait penguatan pekerja buruh migran yang menjadi penyintas, Selasa (27/7).

Hingga bulan Juni-Juli, pihaknya telah menerima empat laporan permasalahan PMI. Satu di antaranya berasal dari Kecamatan Panti. Masalahnya adalah yang bersangkutan diberangkatkan secara unprocedural. Namun, tidak sampai mengalami pelecehan seksual. “Di lingkup desa, masalah seperti ini bisa diusut melalui Griya Asih tadi. Griya Asih juga sebagai solusi,” imbuhnya.

Eksistensi terakhir, Griya Asih berlangsung pada 2003 lalu. Setelah itu, tidak ada lagi kelanjutannya. Saras menjelaskan, hal ini disebabkan tidak adanya estafet keberlangsungan kepengurusan. Akibatnya, lembaga ini tidak memiliki pengakuan. “Kami pernah audiensi di DPRD. Ada dananya untuk Griya Asih. Kucurannya di DP3AKB. Tapi, pelaksanaannya di PKK,” ungkap Saras.

Terpisah, Plt Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Pemkab Jember Suprihandoko mengungkapkan, eksistensi Griya Asih ini memang sudah tidak ada sejak jauh hari. Namun, dia tidak menjelaskan secara gamblang mengenai nonaktifnya Griya Asih tersebut. “Griya Asih sudah tidak ada sejak dulu,” jelas Suprihondoko, singkat.

Reporter: Dian Cahyani
Fotografer: Dian Cahyani
Editor: Mahrus Sholih

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID- Griya Asih merupakan salah satu organisasi yang bergerak di lingkungan desa. Organisasi ini memberikan layanan advokasi kepada perempuan dan anak terkait dengan pemenuhan hak-hak mereka. Khususnya para penyintas pelecehan maupun kekerasan seksual. Selain itu, cakupannya juga menyasar pada anak-anak pekerja migran Indonesia (PMI).

Namun, kini organisasi yang berbasis di setiap desa itu sudah tidak ada lagi. Hal ini cukup disayangkan. Sebab, dalam praktiknya Griya Asih dapat menjadi perantara pemberantasan kesenjangan terhadap perempuan dan anak.

Presidium wilayah kelompok pemuda pelajar mahasiswa Koalisi Peduli Perempuan, Saras Dumasari menjelaskan, selain sebagai salah satu upaya intervensi pemerintah, Griya Asih juga merupakan bentuk partisipasi pemerintah dalam menanggulangi kesenjangan anak dan perempuan. Sebab, bisa menjadi tempat curhat bagi para penyintas dengan basis desa. Dan kehadirannya dianggap sebagai upaya yang lebih efisien.

“Mereka yang punya masalah tidak perlu ke kota. Cukup diselesaikan dengan Griya Asih yang anggotanya dari daerah sana. Mereka akan lebih terbuka,” jelas Saras, seusai diskusi webinar terkait penguatan pekerja buruh migran yang menjadi penyintas, Selasa (27/7).

Hingga bulan Juni-Juli, pihaknya telah menerima empat laporan permasalahan PMI. Satu di antaranya berasal dari Kecamatan Panti. Masalahnya adalah yang bersangkutan diberangkatkan secara unprocedural. Namun, tidak sampai mengalami pelecehan seksual. “Di lingkup desa, masalah seperti ini bisa diusut melalui Griya Asih tadi. Griya Asih juga sebagai solusi,” imbuhnya.

Eksistensi terakhir, Griya Asih berlangsung pada 2003 lalu. Setelah itu, tidak ada lagi kelanjutannya. Saras menjelaskan, hal ini disebabkan tidak adanya estafet keberlangsungan kepengurusan. Akibatnya, lembaga ini tidak memiliki pengakuan. “Kami pernah audiensi di DPRD. Ada dananya untuk Griya Asih. Kucurannya di DP3AKB. Tapi, pelaksanaannya di PKK,” ungkap Saras.

Terpisah, Plt Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Pemkab Jember Suprihandoko mengungkapkan, eksistensi Griya Asih ini memang sudah tidak ada sejak jauh hari. Namun, dia tidak menjelaskan secara gamblang mengenai nonaktifnya Griya Asih tersebut. “Griya Asih sudah tidak ada sejak dulu,” jelas Suprihondoko, singkat.

Reporter: Dian Cahyani
Fotografer: Dian Cahyani
Editor: Mahrus Sholih

JEMBER, RADARJEMBER.ID- Griya Asih merupakan salah satu organisasi yang bergerak di lingkungan desa. Organisasi ini memberikan layanan advokasi kepada perempuan dan anak terkait dengan pemenuhan hak-hak mereka. Khususnya para penyintas pelecehan maupun kekerasan seksual. Selain itu, cakupannya juga menyasar pada anak-anak pekerja migran Indonesia (PMI).

Namun, kini organisasi yang berbasis di setiap desa itu sudah tidak ada lagi. Hal ini cukup disayangkan. Sebab, dalam praktiknya Griya Asih dapat menjadi perantara pemberantasan kesenjangan terhadap perempuan dan anak.

Presidium wilayah kelompok pemuda pelajar mahasiswa Koalisi Peduli Perempuan, Saras Dumasari menjelaskan, selain sebagai salah satu upaya intervensi pemerintah, Griya Asih juga merupakan bentuk partisipasi pemerintah dalam menanggulangi kesenjangan anak dan perempuan. Sebab, bisa menjadi tempat curhat bagi para penyintas dengan basis desa. Dan kehadirannya dianggap sebagai upaya yang lebih efisien.

“Mereka yang punya masalah tidak perlu ke kota. Cukup diselesaikan dengan Griya Asih yang anggotanya dari daerah sana. Mereka akan lebih terbuka,” jelas Saras, seusai diskusi webinar terkait penguatan pekerja buruh migran yang menjadi penyintas, Selasa (27/7).

Hingga bulan Juni-Juli, pihaknya telah menerima empat laporan permasalahan PMI. Satu di antaranya berasal dari Kecamatan Panti. Masalahnya adalah yang bersangkutan diberangkatkan secara unprocedural. Namun, tidak sampai mengalami pelecehan seksual. “Di lingkup desa, masalah seperti ini bisa diusut melalui Griya Asih tadi. Griya Asih juga sebagai solusi,” imbuhnya.

Eksistensi terakhir, Griya Asih berlangsung pada 2003 lalu. Setelah itu, tidak ada lagi kelanjutannya. Saras menjelaskan, hal ini disebabkan tidak adanya estafet keberlangsungan kepengurusan. Akibatnya, lembaga ini tidak memiliki pengakuan. “Kami pernah audiensi di DPRD. Ada dananya untuk Griya Asih. Kucurannya di DP3AKB. Tapi, pelaksanaannya di PKK,” ungkap Saras.

Terpisah, Plt Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Pemkab Jember Suprihandoko mengungkapkan, eksistensi Griya Asih ini memang sudah tidak ada sejak jauh hari. Namun, dia tidak menjelaskan secara gamblang mengenai nonaktifnya Griya Asih tersebut. “Griya Asih sudah tidak ada sejak dulu,” jelas Suprihondoko, singkat.

Reporter: Dian Cahyani
Fotografer: Dian Cahyani
Editor: Mahrus Sholih

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

Perajin Besi Tak Takut Kalah Saing

Jalur Sepeda Akan Diperbaiki

Tips Kendalikan Hama Pakai Botol

/