alexametrics
21.6 C
Jember
Thursday, 30 June 2022

Bumil Terpapar Butuh Penanganan Khusus

Kecepatan Layanan dan Fasilitas Medis Perlu Ditamba

Mobile_AP_Rectangle 1

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID– Fakta baru di balik penanganan pandemi Covid-19 terungkap di ruang sidang utama DPRD Jember, kemarin (27/7). Seorang ibu hamil (bumil) yang terpapar korona tidak segera tertangani tim medis. Akibatnya, bumil itu meninggal dengan usia kandungan tujuh bulan.

Rapat anggota dewan bersama sejumlah instansi ini dipimpin Hafidi, Ketua Komisi D DPRD Jember. Dalam kesempatan itu, rapat membahas berbagai langkah penanganan pandemi. Termasuk soal penanganan terhadap bumil yang terpapar. “Tentang ibu hamil, ketika terjadi masalah (karena Covid-19, Red), masih bingung harus ke mana,” kata politisi PKB tersebut.

Hafidi pun mempertanyakan layanan khusus bumil dan langkah apa saja yang dilakukan pemerintah melalui Dinas Kesehatan (Dinkes). Dia juga meminta agar pemerintah optimal dalam memberikan layanan, terlebih kepada bumil.

Mobile_AP_Rectangle 2

Terkait bumil yang meninggal, dia diketahui warga Jember. Suami dari bumil tersebut merupakan teman akrab Wakil Ketua DPRD Jember Dedy Dwi Setiawan. “Dia sudah seperti keluarga dengan saya. Saat sakit, bingung harus ke mana,” ujar Dedy.

Dikatakannya, istri temannya yang hamil tujuh bulan itu sempat dibawa ke RS Soebandi. Namun, di tempat itu kondisinya penuh, sehingga harus mencari tempat lain. Perempuan tersebut selanjutnya dibawa ke RS Siloam, namun tidak ada ruang untuk itu. “Bisa ke Bina Sehat, tetapi saat perjalanan ketubannya pecah. Setelah itu meninggal,” paparnya.

Selain kasus bumil yang meninggal, juga ada kasus lain. Seorang bumil yang terpapar korona tidak mendapatkan layanan medis di puskesmas karena tidak ada ruang isolasi untuk bumil. Dengan terpaksa, bumil itu melahirkan di tempat dukun beranak.

Kasus semacam ini harus mendapatkan perhatian khusus. Setidaknya, bumil yang terpapar tidak lagi bingung mencari fasilitas kesehatan yang bisa melayani mereka. Tanpa kecepatan penanganan, kasus bumil meninggal dan melahirkan di dukun bisa saja terjadi lagi.

Kepala Dinkes Pemkab Jember dr Wiwik Supartiwi tak menyampaikan secara detail langkah apa yang bakal dilakukan pemerintah untuk merespons kasus itu. Dia hanya bilang, setiap bumil pastinya ditangani semaksimal mungkin. “Bumil akan dibantu di puskesmas dan kami akan lakukan perbaikan layanan,” paparnya.

- Advertisement -

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID– Fakta baru di balik penanganan pandemi Covid-19 terungkap di ruang sidang utama DPRD Jember, kemarin (27/7). Seorang ibu hamil (bumil) yang terpapar korona tidak segera tertangani tim medis. Akibatnya, bumil itu meninggal dengan usia kandungan tujuh bulan.

Rapat anggota dewan bersama sejumlah instansi ini dipimpin Hafidi, Ketua Komisi D DPRD Jember. Dalam kesempatan itu, rapat membahas berbagai langkah penanganan pandemi. Termasuk soal penanganan terhadap bumil yang terpapar. “Tentang ibu hamil, ketika terjadi masalah (karena Covid-19, Red), masih bingung harus ke mana,” kata politisi PKB tersebut.

Hafidi pun mempertanyakan layanan khusus bumil dan langkah apa saja yang dilakukan pemerintah melalui Dinas Kesehatan (Dinkes). Dia juga meminta agar pemerintah optimal dalam memberikan layanan, terlebih kepada bumil.

Terkait bumil yang meninggal, dia diketahui warga Jember. Suami dari bumil tersebut merupakan teman akrab Wakil Ketua DPRD Jember Dedy Dwi Setiawan. “Dia sudah seperti keluarga dengan saya. Saat sakit, bingung harus ke mana,” ujar Dedy.

Dikatakannya, istri temannya yang hamil tujuh bulan itu sempat dibawa ke RS Soebandi. Namun, di tempat itu kondisinya penuh, sehingga harus mencari tempat lain. Perempuan tersebut selanjutnya dibawa ke RS Siloam, namun tidak ada ruang untuk itu. “Bisa ke Bina Sehat, tetapi saat perjalanan ketubannya pecah. Setelah itu meninggal,” paparnya.

Selain kasus bumil yang meninggal, juga ada kasus lain. Seorang bumil yang terpapar korona tidak mendapatkan layanan medis di puskesmas karena tidak ada ruang isolasi untuk bumil. Dengan terpaksa, bumil itu melahirkan di tempat dukun beranak.

Kasus semacam ini harus mendapatkan perhatian khusus. Setidaknya, bumil yang terpapar tidak lagi bingung mencari fasilitas kesehatan yang bisa melayani mereka. Tanpa kecepatan penanganan, kasus bumil meninggal dan melahirkan di dukun bisa saja terjadi lagi.

Kepala Dinkes Pemkab Jember dr Wiwik Supartiwi tak menyampaikan secara detail langkah apa yang bakal dilakukan pemerintah untuk merespons kasus itu. Dia hanya bilang, setiap bumil pastinya ditangani semaksimal mungkin. “Bumil akan dibantu di puskesmas dan kami akan lakukan perbaikan layanan,” paparnya.

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID– Fakta baru di balik penanganan pandemi Covid-19 terungkap di ruang sidang utama DPRD Jember, kemarin (27/7). Seorang ibu hamil (bumil) yang terpapar korona tidak segera tertangani tim medis. Akibatnya, bumil itu meninggal dengan usia kandungan tujuh bulan.

Rapat anggota dewan bersama sejumlah instansi ini dipimpin Hafidi, Ketua Komisi D DPRD Jember. Dalam kesempatan itu, rapat membahas berbagai langkah penanganan pandemi. Termasuk soal penanganan terhadap bumil yang terpapar. “Tentang ibu hamil, ketika terjadi masalah (karena Covid-19, Red), masih bingung harus ke mana,” kata politisi PKB tersebut.

Hafidi pun mempertanyakan layanan khusus bumil dan langkah apa saja yang dilakukan pemerintah melalui Dinas Kesehatan (Dinkes). Dia juga meminta agar pemerintah optimal dalam memberikan layanan, terlebih kepada bumil.

Terkait bumil yang meninggal, dia diketahui warga Jember. Suami dari bumil tersebut merupakan teman akrab Wakil Ketua DPRD Jember Dedy Dwi Setiawan. “Dia sudah seperti keluarga dengan saya. Saat sakit, bingung harus ke mana,” ujar Dedy.

Dikatakannya, istri temannya yang hamil tujuh bulan itu sempat dibawa ke RS Soebandi. Namun, di tempat itu kondisinya penuh, sehingga harus mencari tempat lain. Perempuan tersebut selanjutnya dibawa ke RS Siloam, namun tidak ada ruang untuk itu. “Bisa ke Bina Sehat, tetapi saat perjalanan ketubannya pecah. Setelah itu meninggal,” paparnya.

Selain kasus bumil yang meninggal, juga ada kasus lain. Seorang bumil yang terpapar korona tidak mendapatkan layanan medis di puskesmas karena tidak ada ruang isolasi untuk bumil. Dengan terpaksa, bumil itu melahirkan di tempat dukun beranak.

Kasus semacam ini harus mendapatkan perhatian khusus. Setidaknya, bumil yang terpapar tidak lagi bingung mencari fasilitas kesehatan yang bisa melayani mereka. Tanpa kecepatan penanganan, kasus bumil meninggal dan melahirkan di dukun bisa saja terjadi lagi.

Kepala Dinkes Pemkab Jember dr Wiwik Supartiwi tak menyampaikan secara detail langkah apa yang bakal dilakukan pemerintah untuk merespons kasus itu. Dia hanya bilang, setiap bumil pastinya ditangani semaksimal mungkin. “Bumil akan dibantu di puskesmas dan kami akan lakukan perbaikan layanan,” paparnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/