alexametrics
23.4 C
Jember
Wednesday, 18 May 2022

Cegah Kebocoran PAD dari Sektor Reklame

Pemkab menargetkan besaran PAD dari sektor reklame mencapai Rp 6 miliar lebih. Target itu bisa tercapai selama pemerintah tegas menindak advertensi bodong. Jangan sampai, reklame itu menjadi sampah visual, tanpa memberi sumbangsih bagi pembangunan.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kemarin (27/6) sore, kendaraan terlihat memadati ruas-ruas jalan di kawasan Jember Kota. Meski hari libur, namun kondisinya terlihat cukup sibuk. Mulai Jalan Trunojoyo, Jalan Hos Cokroaminoto, Jalan Gajah Mada, Jalan Sultan Agung, Jalan PB Sudirman, hingga Jalan Slamet Riyadi. Pemandangan beragam reklame berbagai ukuran menjadi suguhan pengendara. Termasuk papan penanda toko yang berdiri di sepanjang jalan.

Di antara beberapa pengendara itu, ada yang menengok ke baliho berukuran besar. Bahkan, juga ada yang menyempatkan diri menoleh ke banner iklan mini yang terpaku di pohon-pohon. Entah, apakah pengendara itu ingin membaca pesan yang termuat di iklan mini atau justru menggerutu karena banner-banner tersebut menjadi sampah visual. Yang jelas, penampakan reklame berbagai ukuran itu menjadi pemandangan yang tak bisa dilewatkan.

Seperti diketahui, berdasar Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 42 Tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Reklame, pasal 17 menyebutkan tentang larangan pemasangan reklame di beberapa tempat. Mulai lampu pengatur lalu lintas, tiang kamera lalu lintas, pohon, dan pembatas jalan. Namun dalam praktiknya, ada saja yang melanggar. Dan hal itu, nyaris tanpa tindakan penertiban.

Mobile_AP_Rectangle 2

BACA JUGA : Begini Cara Menggunakan Fitur Instagram Musik

Pantauan Jawa Pos Radar Jember, ditemukan empat banner yang tertancap di pohon di sepanjang Jalan Trunojoyo hingga Jalan Hos Cokroaminoto. Semua banner tersebut merupakan penanda usaha. Beberapa ada yang berisi iklan tentang produk jasa. Sekilas, banner ilegal itu memang susah diketahui. Sebab, selain ukurannya kecil, warnanya juga sudah kusam.

Sementara itu, dari arah Jalan Gajah Mada ke arah selatan hingga lampu merah di Perumahan Argopuro, terdapat tiga banner mini yang juga tertancap di pohon. Sementara dari arah Jalan Gajah Mada ke timur menuju Jalan Sultan Agung, terdapat 16 banner serupa. “Di sini memang banyak banner-banner kecil yang dipasang di pohon,” ungkap Aditya, salah seorang penjual tisu di Jalan Gajah Mada.

Menurut dia, ukuran papan reklame itu memang kecil. Namun, rata terpasang di sepanjang jalan. Meski dirasa lebih kecil daripada spanduk pemilu, dia menegaskan, itu bukan hal yang baik karena bisa merusak pohon, serta mengganggu pemandangan. Terlebih selama ini, dia mengaku, jarang melihat ada petugas yang melakukan penertiban. “Mungkin karena ukurannya kecil, jadi jarang terlihat,” katanya.

Penelusuran berlanjut ke Jalan PB Sudirman hingga Jalan Slamet Riyadi, Kelurahan/Kecamatan Patrang. Sedikitnya, terdapat 11 banner dan spanduk yang tertancap di pohon. Jadi, pohon-pohon itu digunakan untuk mempromosikan barang dagangan. “Maklum, di sepanjang jalan ini kan banyak yang berjualan,” tutur Ahmadi, salah seorang tukang becak.

Warga Kelurahan Gebang, Kecamatan Patrang, itu menyebut, selama ini upaya penertiban juga jarang dilakukan. Bahkan, selama mangkal di salah satu palang pintu kereta api Jalan PB Sudirman, dia tidak pernah mengetahui ada petugas yang membongkar atau menegur orang yang memasang banner tersebut. “Sebenarnya, kalau diberitahukan dengan baik, mereka pasti paham kalau menempel promosi di pohon itu dilarang,” tutur Ahmadi.

 

Bisa Diturunkan

Plt. Kepala Bidang Penegakan Produk Hukum Daerah Satpol PP Kabupaten Jember Erwin Prasetyo menuturkan, semua reklame harus mengurusi perizinan di Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP). Pemasang iklan juga wajib membayar pajar sesuai yang telah ditentukan oleh Badan Pendapatan Daerah (Bapenda). Selanjutnya, setelah pembayaran disepakati, iklan yang akan dipasang diberi penanda berupa porporasi.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kemarin (27/6) sore, kendaraan terlihat memadati ruas-ruas jalan di kawasan Jember Kota. Meski hari libur, namun kondisinya terlihat cukup sibuk. Mulai Jalan Trunojoyo, Jalan Hos Cokroaminoto, Jalan Gajah Mada, Jalan Sultan Agung, Jalan PB Sudirman, hingga Jalan Slamet Riyadi. Pemandangan beragam reklame berbagai ukuran menjadi suguhan pengendara. Termasuk papan penanda toko yang berdiri di sepanjang jalan.

Di antara beberapa pengendara itu, ada yang menengok ke baliho berukuran besar. Bahkan, juga ada yang menyempatkan diri menoleh ke banner iklan mini yang terpaku di pohon-pohon. Entah, apakah pengendara itu ingin membaca pesan yang termuat di iklan mini atau justru menggerutu karena banner-banner tersebut menjadi sampah visual. Yang jelas, penampakan reklame berbagai ukuran itu menjadi pemandangan yang tak bisa dilewatkan.

Seperti diketahui, berdasar Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 42 Tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Reklame, pasal 17 menyebutkan tentang larangan pemasangan reklame di beberapa tempat. Mulai lampu pengatur lalu lintas, tiang kamera lalu lintas, pohon, dan pembatas jalan. Namun dalam praktiknya, ada saja yang melanggar. Dan hal itu, nyaris tanpa tindakan penertiban.

BACA JUGA : Begini Cara Menggunakan Fitur Instagram Musik

Pantauan Jawa Pos Radar Jember, ditemukan empat banner yang tertancap di pohon di sepanjang Jalan Trunojoyo hingga Jalan Hos Cokroaminoto. Semua banner tersebut merupakan penanda usaha. Beberapa ada yang berisi iklan tentang produk jasa. Sekilas, banner ilegal itu memang susah diketahui. Sebab, selain ukurannya kecil, warnanya juga sudah kusam.

Sementara itu, dari arah Jalan Gajah Mada ke arah selatan hingga lampu merah di Perumahan Argopuro, terdapat tiga banner mini yang juga tertancap di pohon. Sementara dari arah Jalan Gajah Mada ke timur menuju Jalan Sultan Agung, terdapat 16 banner serupa. “Di sini memang banyak banner-banner kecil yang dipasang di pohon,” ungkap Aditya, salah seorang penjual tisu di Jalan Gajah Mada.

Menurut dia, ukuran papan reklame itu memang kecil. Namun, rata terpasang di sepanjang jalan. Meski dirasa lebih kecil daripada spanduk pemilu, dia menegaskan, itu bukan hal yang baik karena bisa merusak pohon, serta mengganggu pemandangan. Terlebih selama ini, dia mengaku, jarang melihat ada petugas yang melakukan penertiban. “Mungkin karena ukurannya kecil, jadi jarang terlihat,” katanya.

Penelusuran berlanjut ke Jalan PB Sudirman hingga Jalan Slamet Riyadi, Kelurahan/Kecamatan Patrang. Sedikitnya, terdapat 11 banner dan spanduk yang tertancap di pohon. Jadi, pohon-pohon itu digunakan untuk mempromosikan barang dagangan. “Maklum, di sepanjang jalan ini kan banyak yang berjualan,” tutur Ahmadi, salah seorang tukang becak.

Warga Kelurahan Gebang, Kecamatan Patrang, itu menyebut, selama ini upaya penertiban juga jarang dilakukan. Bahkan, selama mangkal di salah satu palang pintu kereta api Jalan PB Sudirman, dia tidak pernah mengetahui ada petugas yang membongkar atau menegur orang yang memasang banner tersebut. “Sebenarnya, kalau diberitahukan dengan baik, mereka pasti paham kalau menempel promosi di pohon itu dilarang,” tutur Ahmadi.

 

Bisa Diturunkan

Plt. Kepala Bidang Penegakan Produk Hukum Daerah Satpol PP Kabupaten Jember Erwin Prasetyo menuturkan, semua reklame harus mengurusi perizinan di Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP). Pemasang iklan juga wajib membayar pajar sesuai yang telah ditentukan oleh Badan Pendapatan Daerah (Bapenda). Selanjutnya, setelah pembayaran disepakati, iklan yang akan dipasang diberi penanda berupa porporasi.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kemarin (27/6) sore, kendaraan terlihat memadati ruas-ruas jalan di kawasan Jember Kota. Meski hari libur, namun kondisinya terlihat cukup sibuk. Mulai Jalan Trunojoyo, Jalan Hos Cokroaminoto, Jalan Gajah Mada, Jalan Sultan Agung, Jalan PB Sudirman, hingga Jalan Slamet Riyadi. Pemandangan beragam reklame berbagai ukuran menjadi suguhan pengendara. Termasuk papan penanda toko yang berdiri di sepanjang jalan.

Di antara beberapa pengendara itu, ada yang menengok ke baliho berukuran besar. Bahkan, juga ada yang menyempatkan diri menoleh ke banner iklan mini yang terpaku di pohon-pohon. Entah, apakah pengendara itu ingin membaca pesan yang termuat di iklan mini atau justru menggerutu karena banner-banner tersebut menjadi sampah visual. Yang jelas, penampakan reklame berbagai ukuran itu menjadi pemandangan yang tak bisa dilewatkan.

Seperti diketahui, berdasar Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 42 Tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Reklame, pasal 17 menyebutkan tentang larangan pemasangan reklame di beberapa tempat. Mulai lampu pengatur lalu lintas, tiang kamera lalu lintas, pohon, dan pembatas jalan. Namun dalam praktiknya, ada saja yang melanggar. Dan hal itu, nyaris tanpa tindakan penertiban.

BACA JUGA : Begini Cara Menggunakan Fitur Instagram Musik

Pantauan Jawa Pos Radar Jember, ditemukan empat banner yang tertancap di pohon di sepanjang Jalan Trunojoyo hingga Jalan Hos Cokroaminoto. Semua banner tersebut merupakan penanda usaha. Beberapa ada yang berisi iklan tentang produk jasa. Sekilas, banner ilegal itu memang susah diketahui. Sebab, selain ukurannya kecil, warnanya juga sudah kusam.

Sementara itu, dari arah Jalan Gajah Mada ke arah selatan hingga lampu merah di Perumahan Argopuro, terdapat tiga banner mini yang juga tertancap di pohon. Sementara dari arah Jalan Gajah Mada ke timur menuju Jalan Sultan Agung, terdapat 16 banner serupa. “Di sini memang banyak banner-banner kecil yang dipasang di pohon,” ungkap Aditya, salah seorang penjual tisu di Jalan Gajah Mada.

Menurut dia, ukuran papan reklame itu memang kecil. Namun, rata terpasang di sepanjang jalan. Meski dirasa lebih kecil daripada spanduk pemilu, dia menegaskan, itu bukan hal yang baik karena bisa merusak pohon, serta mengganggu pemandangan. Terlebih selama ini, dia mengaku, jarang melihat ada petugas yang melakukan penertiban. “Mungkin karena ukurannya kecil, jadi jarang terlihat,” katanya.

Penelusuran berlanjut ke Jalan PB Sudirman hingga Jalan Slamet Riyadi, Kelurahan/Kecamatan Patrang. Sedikitnya, terdapat 11 banner dan spanduk yang tertancap di pohon. Jadi, pohon-pohon itu digunakan untuk mempromosikan barang dagangan. “Maklum, di sepanjang jalan ini kan banyak yang berjualan,” tutur Ahmadi, salah seorang tukang becak.

Warga Kelurahan Gebang, Kecamatan Patrang, itu menyebut, selama ini upaya penertiban juga jarang dilakukan. Bahkan, selama mangkal di salah satu palang pintu kereta api Jalan PB Sudirman, dia tidak pernah mengetahui ada petugas yang membongkar atau menegur orang yang memasang banner tersebut. “Sebenarnya, kalau diberitahukan dengan baik, mereka pasti paham kalau menempel promosi di pohon itu dilarang,” tutur Ahmadi.

 

Bisa Diturunkan

Plt. Kepala Bidang Penegakan Produk Hukum Daerah Satpol PP Kabupaten Jember Erwin Prasetyo menuturkan, semua reklame harus mengurusi perizinan di Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP). Pemasang iklan juga wajib membayar pajar sesuai yang telah ditentukan oleh Badan Pendapatan Daerah (Bapenda). Selanjutnya, setelah pembayaran disepakati, iklan yang akan dipasang diberi penanda berupa porporasi.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/