alexametrics
29 C
Jember
Sunday, 26 June 2022

Gontor Waled Jangan Musiman!

Pembersihan Sungai Tak Harus Menunggu Bupati

Mobile_AP_Rectangle 1

Menurut Asri, kata gontor tersebut telah dipengaruhi oleh dialek yang berkembang di masyarakat. Gontor diambil dari bahasa Jawa kuno yaitu glontor. “Karena terpengaruh dialek, maka glontor menjadi gontor,” papar dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember tersebut.

Sementara itu, Ketua Komisi A DPRD Jember Tabroni meminta agar semua pihak tidak sekadar musiman dalam melangsungkan Gontor Waled. “Bupati sudah mengawali bersih-bersih sungai. Jangan hanya menjadi acara seremonial. Kalau perlu setiap kecamatan yang dialiri sungai melakukan hal yang sama tanpa menunggu bupati turun,” tuturnya.

Kepada Jawa Pos Radar Jember, Tabroni membenarkan gotong royong kian pudar di tengah masyarakat. Bagaimana tidak, dulu, apabila selokan tertutup kotoran, cukup warga setempat yang menyelesaikannya. Namun, di masa sekarang, gotong royong tersebut nyaris tiada. “Sekarang orang akan sibuk siapa petugasnya. Kalau dulu, cukup warga setempat saja,” tuturnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Tak hanya itu, keberadaan sungai yang menjadi bagian penting untuk pertanian di Jember layak untuk terus dilestarikan. Apabila ada sungai yang dangkal, selayaknya dilakukan pembersihan secara gotong royong. “Wilayah kecamatan yang dialiri sungai, sudah saatnya melakukan Gontor Waled. Toh, ini untuk kepentingan bersama, termasuk untuk pertanian di Jember,” pungkasnya. (c2/nur)

- Advertisement -

Menurut Asri, kata gontor tersebut telah dipengaruhi oleh dialek yang berkembang di masyarakat. Gontor diambil dari bahasa Jawa kuno yaitu glontor. “Karena terpengaruh dialek, maka glontor menjadi gontor,” papar dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember tersebut.

Sementara itu, Ketua Komisi A DPRD Jember Tabroni meminta agar semua pihak tidak sekadar musiman dalam melangsungkan Gontor Waled. “Bupati sudah mengawali bersih-bersih sungai. Jangan hanya menjadi acara seremonial. Kalau perlu setiap kecamatan yang dialiri sungai melakukan hal yang sama tanpa menunggu bupati turun,” tuturnya.

Kepada Jawa Pos Radar Jember, Tabroni membenarkan gotong royong kian pudar di tengah masyarakat. Bagaimana tidak, dulu, apabila selokan tertutup kotoran, cukup warga setempat yang menyelesaikannya. Namun, di masa sekarang, gotong royong tersebut nyaris tiada. “Sekarang orang akan sibuk siapa petugasnya. Kalau dulu, cukup warga setempat saja,” tuturnya.

Tak hanya itu, keberadaan sungai yang menjadi bagian penting untuk pertanian di Jember layak untuk terus dilestarikan. Apabila ada sungai yang dangkal, selayaknya dilakukan pembersihan secara gotong royong. “Wilayah kecamatan yang dialiri sungai, sudah saatnya melakukan Gontor Waled. Toh, ini untuk kepentingan bersama, termasuk untuk pertanian di Jember,” pungkasnya. (c2/nur)

Menurut Asri, kata gontor tersebut telah dipengaruhi oleh dialek yang berkembang di masyarakat. Gontor diambil dari bahasa Jawa kuno yaitu glontor. “Karena terpengaruh dialek, maka glontor menjadi gontor,” papar dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember tersebut.

Sementara itu, Ketua Komisi A DPRD Jember Tabroni meminta agar semua pihak tidak sekadar musiman dalam melangsungkan Gontor Waled. “Bupati sudah mengawali bersih-bersih sungai. Jangan hanya menjadi acara seremonial. Kalau perlu setiap kecamatan yang dialiri sungai melakukan hal yang sama tanpa menunggu bupati turun,” tuturnya.

Kepada Jawa Pos Radar Jember, Tabroni membenarkan gotong royong kian pudar di tengah masyarakat. Bagaimana tidak, dulu, apabila selokan tertutup kotoran, cukup warga setempat yang menyelesaikannya. Namun, di masa sekarang, gotong royong tersebut nyaris tiada. “Sekarang orang akan sibuk siapa petugasnya. Kalau dulu, cukup warga setempat saja,” tuturnya.

Tak hanya itu, keberadaan sungai yang menjadi bagian penting untuk pertanian di Jember layak untuk terus dilestarikan. Apabila ada sungai yang dangkal, selayaknya dilakukan pembersihan secara gotong royong. “Wilayah kecamatan yang dialiri sungai, sudah saatnya melakukan Gontor Waled. Toh, ini untuk kepentingan bersama, termasuk untuk pertanian di Jember,” pungkasnya. (c2/nur)

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/