alexametrics
27.9 C
Jember
Sunday, 22 May 2022

Gontor Waled Jangan Musiman!

Pembersihan Sungai Tak Harus Menunggu Bupati

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID Istilah “gontor waled” ramai menjadi perbincangan sejumlah warga di Kabupaten Jember. Bagaimana tidak, kata tersebut jarang dipakai. Namun demikian, Bupati Jember melakukan aksi bersih-bersih sungai di Desa Curahmalang, Rambipuji, dengan mengambil tema “Gontor Waled”.

Baca Juga : Kasus Bayi Dalam Sumur Terkuak, Ibu Kandung Tersangka Motifnya Mengejutkan

Guna mengetahui kata gontor dan waled, Jawa Pos Radar Jember mengonfirmasi pakar bahasa Sanskerta dan Jawa kuno, Dr Asri Sundari. Dikatakan, bahasa Indonesia memang banyak menyerap bahasa lain. Mulai dari bahasa Arab, Jawa, Inggris, termasuk bahasa Sanskerta. Namun demikian, dalam perkembangannya ada dialek yang memengaruhinya. “Bahasa Indonesia itu memang menyerap banyak bahasa, bahasa Sanskerta dan Jawa kuno juga banyak diserap,” ucapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dia mencontohkan, Pendapa Wahyawibawagraha diambil dari bahasa Sanskerta. Demikian dengan Bhinneka Tunggal Ika yang memiliki arti tersendiri. Sejauh ini banyak bahasa Sanskerta dan Jawa kuno yang diserap namun tidak semuanya terkenal.

Nah, salah satu yang dipakai dalam kegiatan bersih-bersih sungai, Sabtu (26/3), oleh bupati menggunakan istilah “gontor waled”. Kedua kata tersebut diserap dari bahasa Jawa kuno. Gontor itu sendiri memiliki arti dihanyutkan atau diguyur air deras-deras. Sementara, waled adalah endapan lumpur sungai yang mengeras. Kata waled secara umum telah banyak diketahui orang. Namun, untuk kata gontor memang sangat asing.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID Istilah “gontor waled” ramai menjadi perbincangan sejumlah warga di Kabupaten Jember. Bagaimana tidak, kata tersebut jarang dipakai. Namun demikian, Bupati Jember melakukan aksi bersih-bersih sungai di Desa Curahmalang, Rambipuji, dengan mengambil tema “Gontor Waled”.

Baca Juga : Kasus Bayi Dalam Sumur Terkuak, Ibu Kandung Tersangka Motifnya Mengejutkan

Guna mengetahui kata gontor dan waled, Jawa Pos Radar Jember mengonfirmasi pakar bahasa Sanskerta dan Jawa kuno, Dr Asri Sundari. Dikatakan, bahasa Indonesia memang banyak menyerap bahasa lain. Mulai dari bahasa Arab, Jawa, Inggris, termasuk bahasa Sanskerta. Namun demikian, dalam perkembangannya ada dialek yang memengaruhinya. “Bahasa Indonesia itu memang menyerap banyak bahasa, bahasa Sanskerta dan Jawa kuno juga banyak diserap,” ucapnya.

Dia mencontohkan, Pendapa Wahyawibawagraha diambil dari bahasa Sanskerta. Demikian dengan Bhinneka Tunggal Ika yang memiliki arti tersendiri. Sejauh ini banyak bahasa Sanskerta dan Jawa kuno yang diserap namun tidak semuanya terkenal.

Nah, salah satu yang dipakai dalam kegiatan bersih-bersih sungai, Sabtu (26/3), oleh bupati menggunakan istilah “gontor waled”. Kedua kata tersebut diserap dari bahasa Jawa kuno. Gontor itu sendiri memiliki arti dihanyutkan atau diguyur air deras-deras. Sementara, waled adalah endapan lumpur sungai yang mengeras. Kata waled secara umum telah banyak diketahui orang. Namun, untuk kata gontor memang sangat asing.

JEMBER, RADARJEMBER.ID Istilah “gontor waled” ramai menjadi perbincangan sejumlah warga di Kabupaten Jember. Bagaimana tidak, kata tersebut jarang dipakai. Namun demikian, Bupati Jember melakukan aksi bersih-bersih sungai di Desa Curahmalang, Rambipuji, dengan mengambil tema “Gontor Waled”.

Baca Juga : Kasus Bayi Dalam Sumur Terkuak, Ibu Kandung Tersangka Motifnya Mengejutkan

Guna mengetahui kata gontor dan waled, Jawa Pos Radar Jember mengonfirmasi pakar bahasa Sanskerta dan Jawa kuno, Dr Asri Sundari. Dikatakan, bahasa Indonesia memang banyak menyerap bahasa lain. Mulai dari bahasa Arab, Jawa, Inggris, termasuk bahasa Sanskerta. Namun demikian, dalam perkembangannya ada dialek yang memengaruhinya. “Bahasa Indonesia itu memang menyerap banyak bahasa, bahasa Sanskerta dan Jawa kuno juga banyak diserap,” ucapnya.

Dia mencontohkan, Pendapa Wahyawibawagraha diambil dari bahasa Sanskerta. Demikian dengan Bhinneka Tunggal Ika yang memiliki arti tersendiri. Sejauh ini banyak bahasa Sanskerta dan Jawa kuno yang diserap namun tidak semuanya terkenal.

Nah, salah satu yang dipakai dalam kegiatan bersih-bersih sungai, Sabtu (26/3), oleh bupati menggunakan istilah “gontor waled”. Kedua kata tersebut diserap dari bahasa Jawa kuno. Gontor itu sendiri memiliki arti dihanyutkan atau diguyur air deras-deras. Sementara, waled adalah endapan lumpur sungai yang mengeras. Kata waled secara umum telah banyak diketahui orang. Namun, untuk kata gontor memang sangat asing.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/