alexametrics
22.9 C
Jember
Sunday, 22 May 2022

Bukan Hanya Pemandangan, tapi Ritual Pesugihan

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tak hanya air laut yang mengalami pasang surut. Datangnya wisatawan di Pantai Teluk Love, Desa Sumberejo, Kecamatan Wuluhan, juga demikian. Kadang banyak, kadang mengalami penurunan pengunjung setelah terjadinya tragedi misterius yang memakan korban hingga sebelas jiwa. Selain itu, banyak yang datang bukan sekadar menikmati pemandangan, tetapi justru melakukan ritual. Baik demi kecantikan, pesugihan, maupun awet muda.

Baca Juga : Baru Bisa Nyetir dan Hindari Pemotor, Warga Jember Tabrak Toko Listrik

Nuriyati, warga yang saat itu berdagang menggantikan saudaranya, menyebut, banyak yang datang untuk ritual. Bahkan, sebelumnya terjadi ritual oleh wisatawan yang berasal dari Nganjuk. Namun, tindakan ritual tersebut mendapatkan respons negatif oleh masyarakat setempat. “Namun, dimassa oleh masyarakat,” ujar Nuriyati.

Mobile_AP_Rectangle 2

Perempuan 40 tahun itu menjelaskan bahwa penunggu dari lautan tersebut tidak suka dengan ritual-ritual. “Nyai Roro Kidul juga tidak mau pada perbuatan syirik,” imbuhnya saat menjelaskan kepada Jawa Pos Radar Jember.

Selain itu, Nuriyati juga menyampaikan cerita rakyat yang berkembang tentang lautan tersebut. Dirinya menyatakan, batu berbentuk bagian badan dan ekor ular yang ada di pantai selatan, tepatnya di Watu Ulo, merupakan kiasan. “Kepalanya ada di Banyuwangi,” terang Nuriyati, saat diwawancara.

Berdasarkan cerita yang melegenda, semua laut yang tergolong pantai selatan berada di bawah kekuasaan Nyai Roro Kidul. Keberadaan wisata tersebut sampai saat ini masih didatangi pengunjung. “Wisata lain sedikit pengunjung karena PPKM, kalau ini beda,” ungkap Nuriyati dengan nada guyonnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tak hanya air laut yang mengalami pasang surut. Datangnya wisatawan di Pantai Teluk Love, Desa Sumberejo, Kecamatan Wuluhan, juga demikian. Kadang banyak, kadang mengalami penurunan pengunjung setelah terjadinya tragedi misterius yang memakan korban hingga sebelas jiwa. Selain itu, banyak yang datang bukan sekadar menikmati pemandangan, tetapi justru melakukan ritual. Baik demi kecantikan, pesugihan, maupun awet muda.

Baca Juga : Baru Bisa Nyetir dan Hindari Pemotor, Warga Jember Tabrak Toko Listrik

Nuriyati, warga yang saat itu berdagang menggantikan saudaranya, menyebut, banyak yang datang untuk ritual. Bahkan, sebelumnya terjadi ritual oleh wisatawan yang berasal dari Nganjuk. Namun, tindakan ritual tersebut mendapatkan respons negatif oleh masyarakat setempat. “Namun, dimassa oleh masyarakat,” ujar Nuriyati.

Perempuan 40 tahun itu menjelaskan bahwa penunggu dari lautan tersebut tidak suka dengan ritual-ritual. “Nyai Roro Kidul juga tidak mau pada perbuatan syirik,” imbuhnya saat menjelaskan kepada Jawa Pos Radar Jember.

Selain itu, Nuriyati juga menyampaikan cerita rakyat yang berkembang tentang lautan tersebut. Dirinya menyatakan, batu berbentuk bagian badan dan ekor ular yang ada di pantai selatan, tepatnya di Watu Ulo, merupakan kiasan. “Kepalanya ada di Banyuwangi,” terang Nuriyati, saat diwawancara.

Berdasarkan cerita yang melegenda, semua laut yang tergolong pantai selatan berada di bawah kekuasaan Nyai Roro Kidul. Keberadaan wisata tersebut sampai saat ini masih didatangi pengunjung. “Wisata lain sedikit pengunjung karena PPKM, kalau ini beda,” ungkap Nuriyati dengan nada guyonnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tak hanya air laut yang mengalami pasang surut. Datangnya wisatawan di Pantai Teluk Love, Desa Sumberejo, Kecamatan Wuluhan, juga demikian. Kadang banyak, kadang mengalami penurunan pengunjung setelah terjadinya tragedi misterius yang memakan korban hingga sebelas jiwa. Selain itu, banyak yang datang bukan sekadar menikmati pemandangan, tetapi justru melakukan ritual. Baik demi kecantikan, pesugihan, maupun awet muda.

Baca Juga : Baru Bisa Nyetir dan Hindari Pemotor, Warga Jember Tabrak Toko Listrik

Nuriyati, warga yang saat itu berdagang menggantikan saudaranya, menyebut, banyak yang datang untuk ritual. Bahkan, sebelumnya terjadi ritual oleh wisatawan yang berasal dari Nganjuk. Namun, tindakan ritual tersebut mendapatkan respons negatif oleh masyarakat setempat. “Namun, dimassa oleh masyarakat,” ujar Nuriyati.

Perempuan 40 tahun itu menjelaskan bahwa penunggu dari lautan tersebut tidak suka dengan ritual-ritual. “Nyai Roro Kidul juga tidak mau pada perbuatan syirik,” imbuhnya saat menjelaskan kepada Jawa Pos Radar Jember.

Selain itu, Nuriyati juga menyampaikan cerita rakyat yang berkembang tentang lautan tersebut. Dirinya menyatakan, batu berbentuk bagian badan dan ekor ular yang ada di pantai selatan, tepatnya di Watu Ulo, merupakan kiasan. “Kepalanya ada di Banyuwangi,” terang Nuriyati, saat diwawancara.

Berdasarkan cerita yang melegenda, semua laut yang tergolong pantai selatan berada di bawah kekuasaan Nyai Roro Kidul. Keberadaan wisata tersebut sampai saat ini masih didatangi pengunjung. “Wisata lain sedikit pengunjung karena PPKM, kalau ini beda,” ungkap Nuriyati dengan nada guyonnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/