alexametrics
30.1 C
Jember
Friday, 27 May 2022

Kokohnya Hampir Seabad

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Di Jember, peninggalan Belanda masih kerap dijumpai. Bahkan beberapa di antaranya masih kokoh berdiri hingga Kini. Seperti Pabrik Gula (PG) Semboro ini.
Pabrik yang berlokasi di Desa/Kecamatan Semboro tersebut telah berdiri dan beroperasi sejak 1928 silam atau nyaris satu abad. Persisnya 93 tahun. Didirikan awal kali oleh Handels Vereninging Amsterdam (HVA) asal Belanda sebagai tempat pengelolaan hasil tebu di sekitar wilayah Jember dan sekitarnya.
Sejak beroperasi hingga hari ini, tidak banyak perubahan pada arsitektur pabrik. Dari mesin penggilingannya, sampai bentuk atau konstruksi bangunannya.
Jawa Pos Radar Jember sempat mendatangi pabrik yang berlokasi sekitar 33 kilometer dari pusat kota Jember itu. Di dalamnya, terdapat banyak sekali jenis mesin. Dari yang berukuran segenggam tangan, sampai yang sebesar rumah. Semua ada. Beberapa dari mesin tertulis ejaan berbahasa Belanda. “Mesinnya memang banyak dan besar. Secara khusus ada untuk pemeras tebu, memasak, dan packing,” kata Riki Wanggara, Bagian Aset PG Semboro.
Saat itu, kondisi pabrik sedang lengang. Sejumlah karyawan terlihat tengah melakukan perawatan dan pengecekan kondisi mesin. Karena saat ini, tanaman tebu masih masa perawatan. Pabrik benar-benar beroperasi ketika tebu sudah memasuki panen. Antara Juni sampai September.
Humas PG Semboro Yudho Rahadityo Utomo menjelaskan, untuk operasional pabrik, dalam sehari, PG Semboro bisa menggiling sekitar 7.000 ton tebu per hari dan menghasilkan 80-100 ribu ton gula. “Ada sekitar 750-an karyawan. Ketika memasuki musim panen, bisa seribu lebih,” jelasnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Di Jember, peninggalan Belanda masih kerap dijumpai. Bahkan beberapa di antaranya masih kokoh berdiri hingga Kini. Seperti Pabrik Gula (PG) Semboro ini.
Pabrik yang berlokasi di Desa/Kecamatan Semboro tersebut telah berdiri dan beroperasi sejak 1928 silam atau nyaris satu abad. Persisnya 93 tahun. Didirikan awal kali oleh Handels Vereninging Amsterdam (HVA) asal Belanda sebagai tempat pengelolaan hasil tebu di sekitar wilayah Jember dan sekitarnya.
Sejak beroperasi hingga hari ini, tidak banyak perubahan pada arsitektur pabrik. Dari mesin penggilingannya, sampai bentuk atau konstruksi bangunannya.
Jawa Pos Radar Jember sempat mendatangi pabrik yang berlokasi sekitar 33 kilometer dari pusat kota Jember itu. Di dalamnya, terdapat banyak sekali jenis mesin. Dari yang berukuran segenggam tangan, sampai yang sebesar rumah. Semua ada. Beberapa dari mesin tertulis ejaan berbahasa Belanda. “Mesinnya memang banyak dan besar. Secara khusus ada untuk pemeras tebu, memasak, dan packing,” kata Riki Wanggara, Bagian Aset PG Semboro.
Saat itu, kondisi pabrik sedang lengang. Sejumlah karyawan terlihat tengah melakukan perawatan dan pengecekan kondisi mesin. Karena saat ini, tanaman tebu masih masa perawatan. Pabrik benar-benar beroperasi ketika tebu sudah memasuki panen. Antara Juni sampai September.
Humas PG Semboro Yudho Rahadityo Utomo menjelaskan, untuk operasional pabrik, dalam sehari, PG Semboro bisa menggiling sekitar 7.000 ton tebu per hari dan menghasilkan 80-100 ribu ton gula. “Ada sekitar 750-an karyawan. Ketika memasuki musim panen, bisa seribu lebih,” jelasnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Di Jember, peninggalan Belanda masih kerap dijumpai. Bahkan beberapa di antaranya masih kokoh berdiri hingga Kini. Seperti Pabrik Gula (PG) Semboro ini.
Pabrik yang berlokasi di Desa/Kecamatan Semboro tersebut telah berdiri dan beroperasi sejak 1928 silam atau nyaris satu abad. Persisnya 93 tahun. Didirikan awal kali oleh Handels Vereninging Amsterdam (HVA) asal Belanda sebagai tempat pengelolaan hasil tebu di sekitar wilayah Jember dan sekitarnya.
Sejak beroperasi hingga hari ini, tidak banyak perubahan pada arsitektur pabrik. Dari mesin penggilingannya, sampai bentuk atau konstruksi bangunannya.
Jawa Pos Radar Jember sempat mendatangi pabrik yang berlokasi sekitar 33 kilometer dari pusat kota Jember itu. Di dalamnya, terdapat banyak sekali jenis mesin. Dari yang berukuran segenggam tangan, sampai yang sebesar rumah. Semua ada. Beberapa dari mesin tertulis ejaan berbahasa Belanda. “Mesinnya memang banyak dan besar. Secara khusus ada untuk pemeras tebu, memasak, dan packing,” kata Riki Wanggara, Bagian Aset PG Semboro.
Saat itu, kondisi pabrik sedang lengang. Sejumlah karyawan terlihat tengah melakukan perawatan dan pengecekan kondisi mesin. Karena saat ini, tanaman tebu masih masa perawatan. Pabrik benar-benar beroperasi ketika tebu sudah memasuki panen. Antara Juni sampai September.
Humas PG Semboro Yudho Rahadityo Utomo menjelaskan, untuk operasional pabrik, dalam sehari, PG Semboro bisa menggiling sekitar 7.000 ton tebu per hari dan menghasilkan 80-100 ribu ton gula. “Ada sekitar 750-an karyawan. Ketika memasuki musim panen, bisa seribu lebih,” jelasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/