alexametrics
23 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

Teknis Karantina Jadi Tantangan

Butuh Kerja Sama ODR, ODP, dan Keluarganya

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Fasilitas karantina untuk memutus penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) telah dipersiapkan dan menjadi yang perdana di Indonesia. Sekalipun fasilitas itu tuntas kemarin, tetapi terdapat tantangan tersendiri yang harus dimatangkan. Yaitu petunjuk dan teknis untuk mengarantina warga di gedung Jember Spot Garden (JSG) Desa/Kecamatan Ajung tersebut.

Seperti diketahui, tempat karantina masal di JSG dikhususkan untuk warga yang masuk kategori orang dalam risiko (ODR) dan orang dalam pemantauan (ODP). Apalagi, selama menjalani karantina yang bertujuan untuk penanganan pengobatan dan memutus mata rantai penyebaran Covid-19 ini juga membutuhkan waktu tidak singkat, yakni 14 hari.

“Hari ini fokus kedaruratan Covid-19. Untuk Jember memang kami siapkan tempat karantina, karena memang idealnya isolasi itu 14 hari,” kata Bupati Jember dr Faida MMR di Pendapa Wahyawibawagraha, Kamis (26/3) sore.

Mobile_AP_Rectangle 2

Proses karantina menjadi hal penting bagi ODR dan ODP. Apalagi, untuk mengendalikan diri dengan berdiam di rumah, melakukan social distancing, menjaga jarak dengan orang atau keluarga belum tentu bisa dilakukan oleh semua orang. Untuk itu, tempat karantina dipersiapkan sebagai solusi memutus Covid-19. “Tidak semua orang bisa menertibkan diri dan menjaga mengendalikan dirinya dalam waktu 14 hari selama masa isolasi,” jelas Faida.

Secara teknis, Faida belum menjelaskan petunjuk pelaksanaan untuk mengarantina ODR dan ODP. Dalam proses yang dipersiapkan, belum diketahui apakah ODR dan ODP akan diberi pemahaman hingga menyadari pentingnya karantina. Apakah mereka akan dijemput, atau petunjuk lain yang dapat mengarantina warga dimaksud.

Teknis untuk membuat ODR dan ODP agar mau dikarantina, tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi Satgas Penangan Covid-19 Jember. Di sinilah pentingnya menyosialisasikan hal tersebut. Dengan begitu, apabila nantinya karantina harus dilakukan, bisa berjalan dengan baik dan sesuai harapan.

Pada keadaan tertentu, Faida menambahkan, pihaknya akan menggunakan tempat karantina ini. Terutama untuk ODP. Sebab, tidak mungkin semua dimasukkan ke rumah sakit. Oleh karena itu, pihaknya perlu memfokuskan rumah sakit untuk menangani pasien-pasien yang non-korona. “Supaya (layanan kesehatan, Red) tetap berjalan dan semua dapat teratasi dengan baik,” beber Faida.

ODP saat ini, menurutnya, ada yang dirawat di rumah sakit dan ada yang tidak. Jumlah tersebut bisa saja berkurang dan bertambah. Nah, apabila jumlah ODP itu nanti terus-terusan bertambah dan keadaan memburuk, maka karantina akan dilakukan. “Kalau keadaan tidak membaik, kami akan lakukan karantina. Ini untuk mempercepat dan memastikan isolasi berjalan efektif, sekaligus pemerintah dapat memantau,” tegas Faida.

Kini, Pemkab Jember dan Satgas Covid-19 yang merupakan gabungan dari TNI, Polri, serta sejumlah pihak lain terus mematangkan hal-hal teknis terkait karantina masal. “Kami siapkan sebaik-baiknya. Makanya, karantina itu lebih efektif, adalah satu-satunya cara untuk memutus mata rantai penularan. Sebab, kalau sudah jumlahnya melebar luar biasa, kita akan sulit mengendalikannya,” papar Faida.

Berkaitan dengan karantina ODP, Faida menegaskan, belum mengambil kebijakan kapan akan dilakukan. Akan tetapi, fasilitas karantina sudah dipersiapkan cukup matang. “Sampai hari ini kami baru persiapan, belum mengambil langkah kapan akan dioperasikan. Hal yang paling baik pada hari ini, apabila ada ledakan (ODP bertambah, Red), maka kami sudah siap segala sesuatunya,” tukasnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Fasilitas karantina untuk memutus penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) telah dipersiapkan dan menjadi yang perdana di Indonesia. Sekalipun fasilitas itu tuntas kemarin, tetapi terdapat tantangan tersendiri yang harus dimatangkan. Yaitu petunjuk dan teknis untuk mengarantina warga di gedung Jember Spot Garden (JSG) Desa/Kecamatan Ajung tersebut.

Seperti diketahui, tempat karantina masal di JSG dikhususkan untuk warga yang masuk kategori orang dalam risiko (ODR) dan orang dalam pemantauan (ODP). Apalagi, selama menjalani karantina yang bertujuan untuk penanganan pengobatan dan memutus mata rantai penyebaran Covid-19 ini juga membutuhkan waktu tidak singkat, yakni 14 hari.

“Hari ini fokus kedaruratan Covid-19. Untuk Jember memang kami siapkan tempat karantina, karena memang idealnya isolasi itu 14 hari,” kata Bupati Jember dr Faida MMR di Pendapa Wahyawibawagraha, Kamis (26/3) sore.

Proses karantina menjadi hal penting bagi ODR dan ODP. Apalagi, untuk mengendalikan diri dengan berdiam di rumah, melakukan social distancing, menjaga jarak dengan orang atau keluarga belum tentu bisa dilakukan oleh semua orang. Untuk itu, tempat karantina dipersiapkan sebagai solusi memutus Covid-19. “Tidak semua orang bisa menertibkan diri dan menjaga mengendalikan dirinya dalam waktu 14 hari selama masa isolasi,” jelas Faida.

Secara teknis, Faida belum menjelaskan petunjuk pelaksanaan untuk mengarantina ODR dan ODP. Dalam proses yang dipersiapkan, belum diketahui apakah ODR dan ODP akan diberi pemahaman hingga menyadari pentingnya karantina. Apakah mereka akan dijemput, atau petunjuk lain yang dapat mengarantina warga dimaksud.

Teknis untuk membuat ODR dan ODP agar mau dikarantina, tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi Satgas Penangan Covid-19 Jember. Di sinilah pentingnya menyosialisasikan hal tersebut. Dengan begitu, apabila nantinya karantina harus dilakukan, bisa berjalan dengan baik dan sesuai harapan.

Pada keadaan tertentu, Faida menambahkan, pihaknya akan menggunakan tempat karantina ini. Terutama untuk ODP. Sebab, tidak mungkin semua dimasukkan ke rumah sakit. Oleh karena itu, pihaknya perlu memfokuskan rumah sakit untuk menangani pasien-pasien yang non-korona. “Supaya (layanan kesehatan, Red) tetap berjalan dan semua dapat teratasi dengan baik,” beber Faida.

ODP saat ini, menurutnya, ada yang dirawat di rumah sakit dan ada yang tidak. Jumlah tersebut bisa saja berkurang dan bertambah. Nah, apabila jumlah ODP itu nanti terus-terusan bertambah dan keadaan memburuk, maka karantina akan dilakukan. “Kalau keadaan tidak membaik, kami akan lakukan karantina. Ini untuk mempercepat dan memastikan isolasi berjalan efektif, sekaligus pemerintah dapat memantau,” tegas Faida.

Kini, Pemkab Jember dan Satgas Covid-19 yang merupakan gabungan dari TNI, Polri, serta sejumlah pihak lain terus mematangkan hal-hal teknis terkait karantina masal. “Kami siapkan sebaik-baiknya. Makanya, karantina itu lebih efektif, adalah satu-satunya cara untuk memutus mata rantai penularan. Sebab, kalau sudah jumlahnya melebar luar biasa, kita akan sulit mengendalikannya,” papar Faida.

Berkaitan dengan karantina ODP, Faida menegaskan, belum mengambil kebijakan kapan akan dilakukan. Akan tetapi, fasilitas karantina sudah dipersiapkan cukup matang. “Sampai hari ini kami baru persiapan, belum mengambil langkah kapan akan dioperasikan. Hal yang paling baik pada hari ini, apabila ada ledakan (ODP bertambah, Red), maka kami sudah siap segala sesuatunya,” tukasnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Fasilitas karantina untuk memutus penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) telah dipersiapkan dan menjadi yang perdana di Indonesia. Sekalipun fasilitas itu tuntas kemarin, tetapi terdapat tantangan tersendiri yang harus dimatangkan. Yaitu petunjuk dan teknis untuk mengarantina warga di gedung Jember Spot Garden (JSG) Desa/Kecamatan Ajung tersebut.

Seperti diketahui, tempat karantina masal di JSG dikhususkan untuk warga yang masuk kategori orang dalam risiko (ODR) dan orang dalam pemantauan (ODP). Apalagi, selama menjalani karantina yang bertujuan untuk penanganan pengobatan dan memutus mata rantai penyebaran Covid-19 ini juga membutuhkan waktu tidak singkat, yakni 14 hari.

“Hari ini fokus kedaruratan Covid-19. Untuk Jember memang kami siapkan tempat karantina, karena memang idealnya isolasi itu 14 hari,” kata Bupati Jember dr Faida MMR di Pendapa Wahyawibawagraha, Kamis (26/3) sore.

Proses karantina menjadi hal penting bagi ODR dan ODP. Apalagi, untuk mengendalikan diri dengan berdiam di rumah, melakukan social distancing, menjaga jarak dengan orang atau keluarga belum tentu bisa dilakukan oleh semua orang. Untuk itu, tempat karantina dipersiapkan sebagai solusi memutus Covid-19. “Tidak semua orang bisa menertibkan diri dan menjaga mengendalikan dirinya dalam waktu 14 hari selama masa isolasi,” jelas Faida.

Secara teknis, Faida belum menjelaskan petunjuk pelaksanaan untuk mengarantina ODR dan ODP. Dalam proses yang dipersiapkan, belum diketahui apakah ODR dan ODP akan diberi pemahaman hingga menyadari pentingnya karantina. Apakah mereka akan dijemput, atau petunjuk lain yang dapat mengarantina warga dimaksud.

Teknis untuk membuat ODR dan ODP agar mau dikarantina, tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi Satgas Penangan Covid-19 Jember. Di sinilah pentingnya menyosialisasikan hal tersebut. Dengan begitu, apabila nantinya karantina harus dilakukan, bisa berjalan dengan baik dan sesuai harapan.

Pada keadaan tertentu, Faida menambahkan, pihaknya akan menggunakan tempat karantina ini. Terutama untuk ODP. Sebab, tidak mungkin semua dimasukkan ke rumah sakit. Oleh karena itu, pihaknya perlu memfokuskan rumah sakit untuk menangani pasien-pasien yang non-korona. “Supaya (layanan kesehatan, Red) tetap berjalan dan semua dapat teratasi dengan baik,” beber Faida.

ODP saat ini, menurutnya, ada yang dirawat di rumah sakit dan ada yang tidak. Jumlah tersebut bisa saja berkurang dan bertambah. Nah, apabila jumlah ODP itu nanti terus-terusan bertambah dan keadaan memburuk, maka karantina akan dilakukan. “Kalau keadaan tidak membaik, kami akan lakukan karantina. Ini untuk mempercepat dan memastikan isolasi berjalan efektif, sekaligus pemerintah dapat memantau,” tegas Faida.

Kini, Pemkab Jember dan Satgas Covid-19 yang merupakan gabungan dari TNI, Polri, serta sejumlah pihak lain terus mematangkan hal-hal teknis terkait karantina masal. “Kami siapkan sebaik-baiknya. Makanya, karantina itu lebih efektif, adalah satu-satunya cara untuk memutus mata rantai penularan. Sebab, kalau sudah jumlahnya melebar luar biasa, kita akan sulit mengendalikannya,” papar Faida.

Berkaitan dengan karantina ODP, Faida menegaskan, belum mengambil kebijakan kapan akan dilakukan. Akan tetapi, fasilitas karantina sudah dipersiapkan cukup matang. “Sampai hari ini kami baru persiapan, belum mengambil langkah kapan akan dioperasikan. Hal yang paling baik pada hari ini, apabila ada ledakan (ODP bertambah, Red), maka kami sudah siap segala sesuatunya,” tukasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/