alexametrics
24.5 C
Jember
Monday, 16 May 2022

Rezeki PKL Warkop, Bisa Naik Haji dan Kuliahkan Anak

Perputaran ekonomi di kawasan Kampus Universitas Jember (Unej) dan sekitarnya sangat menggiurkan. Banyak sektor bisnis berkembang di kawasan kampus. PKL di trotoar pun ikut merasakan manisnya. Tetapi, saat ini diakui pedagang tidak seramai dulu.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Duduk di tengah etalase dan menatap Jalan Jawa menjadi rutinitas Siti Fatimah dalam berdagang. Dia menunggu pembeli karena menjual kopi dan teh di warungnya. Meja kotak yang berisi termos, gelas, serta barang lain menjadi saksi bisu bagaimana kejayaan warung kecil milik Fatimah.

Sepuluh tahun yang lalu, banyak mahasiswa yang ngopi hingga menghabiskan waktu sorenya. Kini, kondisinya tidak seperti itu lagi. Warung kopi yang biasa dipakai mangkal abang-abang becak ini itu kini sepi. Maklum, beberapa tahun terakhir mahasiswa juga tidak masuk sepenuhnya seperti dulu. “Gak seperti dulu warungnya (sekarang sepi, Red),” ucapnya.

Warung kecil di atas jalan aspal dan di bawah tenda tersebut sempat menjadi tempat favorit mahasiswa pada awal Reformasi hingga sekitar 2010. Di kala jeda kuliah, tidak sedikit mahasiswa memilih ngopi di warung milik Fatimah yang berada tepat di Gerbang Ekonomi Unej yang kini telah ditutup. Bahkan, warung itu juga jadi tempat cuci mata, melihat lalu lalang mahasiswa dan mahasiswi pulang menuju kos-kosan.

Mobile_AP_Rectangle 2

Fatimah beserta suaminya berjualan sejak tahun 1999. Keluarga ini bahu-membahu membuka usaha. Baginya, kunci membuka warung kecil-kecilan adalah mampu bersahabat dengan pembeli. Dia juga dikenal akrab dengan mahasiswa yang langganan kopi kepadanya.

Dia mengatakan, mahasiswa sekarang dengan dulu berbeda. Mahasiswa dulu, awal Reformasi hingga 2010-an, masih banyak yang berburu makanan dan minuman murah meriah. Bahkan, Jember di daerah kampus dikenal sebagai tempat mencari makanan dan minuman murah dan nikmat. Tapi, seiring banyaknya kafe bermunculan, warung kecil seperti milik Fatimah sedikit banyak tergerus.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Duduk di tengah etalase dan menatap Jalan Jawa menjadi rutinitas Siti Fatimah dalam berdagang. Dia menunggu pembeli karena menjual kopi dan teh di warungnya. Meja kotak yang berisi termos, gelas, serta barang lain menjadi saksi bisu bagaimana kejayaan warung kecil milik Fatimah.

Sepuluh tahun yang lalu, banyak mahasiswa yang ngopi hingga menghabiskan waktu sorenya. Kini, kondisinya tidak seperti itu lagi. Warung kopi yang biasa dipakai mangkal abang-abang becak ini itu kini sepi. Maklum, beberapa tahun terakhir mahasiswa juga tidak masuk sepenuhnya seperti dulu. “Gak seperti dulu warungnya (sekarang sepi, Red),” ucapnya.

Warung kecil di atas jalan aspal dan di bawah tenda tersebut sempat menjadi tempat favorit mahasiswa pada awal Reformasi hingga sekitar 2010. Di kala jeda kuliah, tidak sedikit mahasiswa memilih ngopi di warung milik Fatimah yang berada tepat di Gerbang Ekonomi Unej yang kini telah ditutup. Bahkan, warung itu juga jadi tempat cuci mata, melihat lalu lalang mahasiswa dan mahasiswi pulang menuju kos-kosan.

Fatimah beserta suaminya berjualan sejak tahun 1999. Keluarga ini bahu-membahu membuka usaha. Baginya, kunci membuka warung kecil-kecilan adalah mampu bersahabat dengan pembeli. Dia juga dikenal akrab dengan mahasiswa yang langganan kopi kepadanya.

Dia mengatakan, mahasiswa sekarang dengan dulu berbeda. Mahasiswa dulu, awal Reformasi hingga 2010-an, masih banyak yang berburu makanan dan minuman murah meriah. Bahkan, Jember di daerah kampus dikenal sebagai tempat mencari makanan dan minuman murah dan nikmat. Tapi, seiring banyaknya kafe bermunculan, warung kecil seperti milik Fatimah sedikit banyak tergerus.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Duduk di tengah etalase dan menatap Jalan Jawa menjadi rutinitas Siti Fatimah dalam berdagang. Dia menunggu pembeli karena menjual kopi dan teh di warungnya. Meja kotak yang berisi termos, gelas, serta barang lain menjadi saksi bisu bagaimana kejayaan warung kecil milik Fatimah.

Sepuluh tahun yang lalu, banyak mahasiswa yang ngopi hingga menghabiskan waktu sorenya. Kini, kondisinya tidak seperti itu lagi. Warung kopi yang biasa dipakai mangkal abang-abang becak ini itu kini sepi. Maklum, beberapa tahun terakhir mahasiswa juga tidak masuk sepenuhnya seperti dulu. “Gak seperti dulu warungnya (sekarang sepi, Red),” ucapnya.

Warung kecil di atas jalan aspal dan di bawah tenda tersebut sempat menjadi tempat favorit mahasiswa pada awal Reformasi hingga sekitar 2010. Di kala jeda kuliah, tidak sedikit mahasiswa memilih ngopi di warung milik Fatimah yang berada tepat di Gerbang Ekonomi Unej yang kini telah ditutup. Bahkan, warung itu juga jadi tempat cuci mata, melihat lalu lalang mahasiswa dan mahasiswi pulang menuju kos-kosan.

Fatimah beserta suaminya berjualan sejak tahun 1999. Keluarga ini bahu-membahu membuka usaha. Baginya, kunci membuka warung kecil-kecilan adalah mampu bersahabat dengan pembeli. Dia juga dikenal akrab dengan mahasiswa yang langganan kopi kepadanya.

Dia mengatakan, mahasiswa sekarang dengan dulu berbeda. Mahasiswa dulu, awal Reformasi hingga 2010-an, masih banyak yang berburu makanan dan minuman murah meriah. Bahkan, Jember di daerah kampus dikenal sebagai tempat mencari makanan dan minuman murah dan nikmat. Tapi, seiring banyaknya kafe bermunculan, warung kecil seperti milik Fatimah sedikit banyak tergerus.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/