alexametrics
22.9 C
Jember
Sunday, 22 May 2022

Minyak Goreng Langka, Toko Ritel Kena Getahnya

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID- Hingga saat ini, kelangkaan minyak goreng masih saja terjadi. Masyarakat masih mengeluhkan sulitnya mendapatkan bahan pokok tersebut di pasaran. Bahkan, ada yang sampai mengunggah unek-uneknya itu ke media sosial. Warga mengaku, ketika berbelanja di salah satu toko ritel yang ada di Kecamatan Balung, karyawan toko seperti enggan melayani. Padahal stok di toko tersebut terlihat masih ada.

Fisha Yuanda, Manajer Marketing Lariso Balung, mengakui jika unggahan di media sosial itu ditujukan ke tokonya. Hanya saja, dia menjelaskan, apa yang disampaikan dalam postingan itu tidak sepenuhnya benar. Karena sepanjang minyak goreng langka di pasaran, tokonya selalu menjual langsung ke konsumen. Tidak pernah menimbun barang. “Jadi, begitu barang datang kami langsung jual. Untuk stok setiap hari tergantung kiriman dari distributor,” katanya.

Sejak kelangkaan minyak goreng terjadi, Fisha menuturkan, di tokonya memang menerapkan kebijakan pembatasan pembelian. Setiap orang maksimal hanya boleh membeli dua liter setiap harinya. Maka dari itu, pihaknya menempatkan karyawan khusus sebagai tenaga tambahan untuk melayani konsumen yang membeli minyak goreng. “Sehingga butuh waktu dan tenaga lebih. Baik saat proses mengeluarkan dari gudang maupun ketika melayani pelanggan,” paparnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Fisha mengungkapkan, seandainya toko melakukan penimbunan justru akan merugi. Sebab, dia berkata, setelah terjadinya kelangkaan, pihak toko harus membayar tunai setiap ada kiriman minyak goreng dari distributor. Ini berbeda dengan sebelumnya. Pembayaran bisa tempo, sepekan hingga satu bulan. “Oleh karena itu, kami mengimbau agar masyarakat membeli minyak goreng secukupnya saja. Tidak perlu membeli lebih dari yang dibutuhkan. Agar kondisi seperti ini tidak berlarut-larut,” pintanya.

Kondisi ini menempatkan toko ritel pada posisi serba salah. Ibaratnya, tidak makan nangkanya, tapi kena getahnya. Karena sejatinya, kondisi carut-marutnya distribusi minyak goreng ini, pangkal masalahnya ada di hulu bukan di hilir. Setelah kebijakan minyak goreng satu harga ditetapkan pemerintah Rp 14 ribu per liter, minyak goreng curah justru hilang dari pasar tradisional dan toko kelontongan. Sehingga masyarakat menyerbu toko ritel untuk mendapatkan minyak goreng kemasan. Padahal, toko ritel mengandalkan pasokan dari distributor. Jika pasokan tersendat, otomatis penjualan juga terhambat.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID- Hingga saat ini, kelangkaan minyak goreng masih saja terjadi. Masyarakat masih mengeluhkan sulitnya mendapatkan bahan pokok tersebut di pasaran. Bahkan, ada yang sampai mengunggah unek-uneknya itu ke media sosial. Warga mengaku, ketika berbelanja di salah satu toko ritel yang ada di Kecamatan Balung, karyawan toko seperti enggan melayani. Padahal stok di toko tersebut terlihat masih ada.

Fisha Yuanda, Manajer Marketing Lariso Balung, mengakui jika unggahan di media sosial itu ditujukan ke tokonya. Hanya saja, dia menjelaskan, apa yang disampaikan dalam postingan itu tidak sepenuhnya benar. Karena sepanjang minyak goreng langka di pasaran, tokonya selalu menjual langsung ke konsumen. Tidak pernah menimbun barang. “Jadi, begitu barang datang kami langsung jual. Untuk stok setiap hari tergantung kiriman dari distributor,” katanya.

Sejak kelangkaan minyak goreng terjadi, Fisha menuturkan, di tokonya memang menerapkan kebijakan pembatasan pembelian. Setiap orang maksimal hanya boleh membeli dua liter setiap harinya. Maka dari itu, pihaknya menempatkan karyawan khusus sebagai tenaga tambahan untuk melayani konsumen yang membeli minyak goreng. “Sehingga butuh waktu dan tenaga lebih. Baik saat proses mengeluarkan dari gudang maupun ketika melayani pelanggan,” paparnya.

Fisha mengungkapkan, seandainya toko melakukan penimbunan justru akan merugi. Sebab, dia berkata, setelah terjadinya kelangkaan, pihak toko harus membayar tunai setiap ada kiriman minyak goreng dari distributor. Ini berbeda dengan sebelumnya. Pembayaran bisa tempo, sepekan hingga satu bulan. “Oleh karena itu, kami mengimbau agar masyarakat membeli minyak goreng secukupnya saja. Tidak perlu membeli lebih dari yang dibutuhkan. Agar kondisi seperti ini tidak berlarut-larut,” pintanya.

Kondisi ini menempatkan toko ritel pada posisi serba salah. Ibaratnya, tidak makan nangkanya, tapi kena getahnya. Karena sejatinya, kondisi carut-marutnya distribusi minyak goreng ini, pangkal masalahnya ada di hulu bukan di hilir. Setelah kebijakan minyak goreng satu harga ditetapkan pemerintah Rp 14 ribu per liter, minyak goreng curah justru hilang dari pasar tradisional dan toko kelontongan. Sehingga masyarakat menyerbu toko ritel untuk mendapatkan minyak goreng kemasan. Padahal, toko ritel mengandalkan pasokan dari distributor. Jika pasokan tersendat, otomatis penjualan juga terhambat.

JEMBER, RADARJEMBER.ID- Hingga saat ini, kelangkaan minyak goreng masih saja terjadi. Masyarakat masih mengeluhkan sulitnya mendapatkan bahan pokok tersebut di pasaran. Bahkan, ada yang sampai mengunggah unek-uneknya itu ke media sosial. Warga mengaku, ketika berbelanja di salah satu toko ritel yang ada di Kecamatan Balung, karyawan toko seperti enggan melayani. Padahal stok di toko tersebut terlihat masih ada.

Fisha Yuanda, Manajer Marketing Lariso Balung, mengakui jika unggahan di media sosial itu ditujukan ke tokonya. Hanya saja, dia menjelaskan, apa yang disampaikan dalam postingan itu tidak sepenuhnya benar. Karena sepanjang minyak goreng langka di pasaran, tokonya selalu menjual langsung ke konsumen. Tidak pernah menimbun barang. “Jadi, begitu barang datang kami langsung jual. Untuk stok setiap hari tergantung kiriman dari distributor,” katanya.

Sejak kelangkaan minyak goreng terjadi, Fisha menuturkan, di tokonya memang menerapkan kebijakan pembatasan pembelian. Setiap orang maksimal hanya boleh membeli dua liter setiap harinya. Maka dari itu, pihaknya menempatkan karyawan khusus sebagai tenaga tambahan untuk melayani konsumen yang membeli minyak goreng. “Sehingga butuh waktu dan tenaga lebih. Baik saat proses mengeluarkan dari gudang maupun ketika melayani pelanggan,” paparnya.

Fisha mengungkapkan, seandainya toko melakukan penimbunan justru akan merugi. Sebab, dia berkata, setelah terjadinya kelangkaan, pihak toko harus membayar tunai setiap ada kiriman minyak goreng dari distributor. Ini berbeda dengan sebelumnya. Pembayaran bisa tempo, sepekan hingga satu bulan. “Oleh karena itu, kami mengimbau agar masyarakat membeli minyak goreng secukupnya saja. Tidak perlu membeli lebih dari yang dibutuhkan. Agar kondisi seperti ini tidak berlarut-larut,” pintanya.

Kondisi ini menempatkan toko ritel pada posisi serba salah. Ibaratnya, tidak makan nangkanya, tapi kena getahnya. Karena sejatinya, kondisi carut-marutnya distribusi minyak goreng ini, pangkal masalahnya ada di hulu bukan di hilir. Setelah kebijakan minyak goreng satu harga ditetapkan pemerintah Rp 14 ribu per liter, minyak goreng curah justru hilang dari pasar tradisional dan toko kelontongan. Sehingga masyarakat menyerbu toko ritel untuk mendapatkan minyak goreng kemasan. Padahal, toko ritel mengandalkan pasokan dari distributor. Jika pasokan tersendat, otomatis penjualan juga terhambat.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/