alexametrics
30.3 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Konsumen Rela Ganti Baju demi Siasati Pembatasan Pembelian Minyak Goreng

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID- Problem kelangkaan minyak goreng ternyata cukup kompleks. Tak hanya karena berkurangnya pasokan dari distributor ke toko atau pasar tradisional, melainkan juga lantaran aksi borong dari konsumen. Bahkan, sampai ada konsumen yang berganti kostum dan menghapus tinta di jari sebagai tanda telah membeli. Ini demi menyiasati kebijakan pembatasan pembelian dari toko agar tak ketahuan ketika kembali ke toko untuk mendapatkan minyak goreng kemasan dua liter.

Cara lancung ini diungkap oleh akun Nuansa Jember yang diunggah dalam grup Facebook Berita Balung (BB). Postingan itu mengungkapkan tentang dampak kepanikan terkait kelangkaan minyak goreng. Sehingga, bagi yang memiliki duit lebih mereka berlomba-lomba untuk membeli minyak goreng sebanyak-banyaknya atau menimbun di rumah. “Pinternya mereka ketika membeli bergonta-ganti kostum, agar tidak diketahui oleh petugas market. Sebab, kalau ketahuan pastinya tidak diperbolehkan,” tulis akun tersebut.

Selanjutnya, akun itu lantas bertanya, siapa yang dirugikan? “Mbok ya mikir, jane minyak kui arep digawe goreng krupuk opo ape digawe adus, mak tager ditimbun mbarang. Sakno seng nggak duwe duit. Pas tuku stok minyak kosong gara-gara si penimbun,” sindirnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Direktur Utama Larisso Grup Hero Sidharta mengatakan, pihaknya memang melakukan pembatasan penjualan. Tiap hari, masing-masing konsumen hanya diperbolehkan membeli dua liter minyak goreng kemasan dengan harga sesuai ketetapan pemerintah. Rp 14 ribu per liter. “Dan khusus untuk penjualan minyak goreng, kami menyiapkan pegawai. Mereka bertugas melayani pembeli sekaligus menerapkan aturan pembatasan. Karena tiap konsumen hanya boleh membawa pulang dua liter,” jelasnya.

Tak hanya itu, manajemen toko juga melakukan pengawasan. Hanya saja, adanya keterbatasan membuat petugas tidak bisa mendeteksi orang per orang. Apakah sebelumnya telah berbelanja minyak goreng di toko ritelnya atau tidak. “Di luar itu, yang jelas kami berusaha melayani kebutuhan masyarakat semaksimal mungkin. Termasuk menjaga stok agar tetap tersedia setiap hari,” paparnya.

Khusus temuan adanya konsumen yang menyiasati kebijakan pembatasan, seperti mengganti baju dan menghapus tinta di jari yang menjadi tanda telah membeli, menurutnya hal itu mungkin temuan warga. “Sebagai tindak lanjut kami telah berkoordinasi dengan pihak kepolisian. Dalam hal ini Polsek Balung. Agar hal-hal semacam ini bisa dihindari,” pungkasnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID- Problem kelangkaan minyak goreng ternyata cukup kompleks. Tak hanya karena berkurangnya pasokan dari distributor ke toko atau pasar tradisional, melainkan juga lantaran aksi borong dari konsumen. Bahkan, sampai ada konsumen yang berganti kostum dan menghapus tinta di jari sebagai tanda telah membeli. Ini demi menyiasati kebijakan pembatasan pembelian dari toko agar tak ketahuan ketika kembali ke toko untuk mendapatkan minyak goreng kemasan dua liter.

Cara lancung ini diungkap oleh akun Nuansa Jember yang diunggah dalam grup Facebook Berita Balung (BB). Postingan itu mengungkapkan tentang dampak kepanikan terkait kelangkaan minyak goreng. Sehingga, bagi yang memiliki duit lebih mereka berlomba-lomba untuk membeli minyak goreng sebanyak-banyaknya atau menimbun di rumah. “Pinternya mereka ketika membeli bergonta-ganti kostum, agar tidak diketahui oleh petugas market. Sebab, kalau ketahuan pastinya tidak diperbolehkan,” tulis akun tersebut.

Selanjutnya, akun itu lantas bertanya, siapa yang dirugikan? “Mbok ya mikir, jane minyak kui arep digawe goreng krupuk opo ape digawe adus, mak tager ditimbun mbarang. Sakno seng nggak duwe duit. Pas tuku stok minyak kosong gara-gara si penimbun,” sindirnya.

Direktur Utama Larisso Grup Hero Sidharta mengatakan, pihaknya memang melakukan pembatasan penjualan. Tiap hari, masing-masing konsumen hanya diperbolehkan membeli dua liter minyak goreng kemasan dengan harga sesuai ketetapan pemerintah. Rp 14 ribu per liter. “Dan khusus untuk penjualan minyak goreng, kami menyiapkan pegawai. Mereka bertugas melayani pembeli sekaligus menerapkan aturan pembatasan. Karena tiap konsumen hanya boleh membawa pulang dua liter,” jelasnya.

Tak hanya itu, manajemen toko juga melakukan pengawasan. Hanya saja, adanya keterbatasan membuat petugas tidak bisa mendeteksi orang per orang. Apakah sebelumnya telah berbelanja minyak goreng di toko ritelnya atau tidak. “Di luar itu, yang jelas kami berusaha melayani kebutuhan masyarakat semaksimal mungkin. Termasuk menjaga stok agar tetap tersedia setiap hari,” paparnya.

Khusus temuan adanya konsumen yang menyiasati kebijakan pembatasan, seperti mengganti baju dan menghapus tinta di jari yang menjadi tanda telah membeli, menurutnya hal itu mungkin temuan warga. “Sebagai tindak lanjut kami telah berkoordinasi dengan pihak kepolisian. Dalam hal ini Polsek Balung. Agar hal-hal semacam ini bisa dihindari,” pungkasnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID- Problem kelangkaan minyak goreng ternyata cukup kompleks. Tak hanya karena berkurangnya pasokan dari distributor ke toko atau pasar tradisional, melainkan juga lantaran aksi borong dari konsumen. Bahkan, sampai ada konsumen yang berganti kostum dan menghapus tinta di jari sebagai tanda telah membeli. Ini demi menyiasati kebijakan pembatasan pembelian dari toko agar tak ketahuan ketika kembali ke toko untuk mendapatkan minyak goreng kemasan dua liter.

Cara lancung ini diungkap oleh akun Nuansa Jember yang diunggah dalam grup Facebook Berita Balung (BB). Postingan itu mengungkapkan tentang dampak kepanikan terkait kelangkaan minyak goreng. Sehingga, bagi yang memiliki duit lebih mereka berlomba-lomba untuk membeli minyak goreng sebanyak-banyaknya atau menimbun di rumah. “Pinternya mereka ketika membeli bergonta-ganti kostum, agar tidak diketahui oleh petugas market. Sebab, kalau ketahuan pastinya tidak diperbolehkan,” tulis akun tersebut.

Selanjutnya, akun itu lantas bertanya, siapa yang dirugikan? “Mbok ya mikir, jane minyak kui arep digawe goreng krupuk opo ape digawe adus, mak tager ditimbun mbarang. Sakno seng nggak duwe duit. Pas tuku stok minyak kosong gara-gara si penimbun,” sindirnya.

Direktur Utama Larisso Grup Hero Sidharta mengatakan, pihaknya memang melakukan pembatasan penjualan. Tiap hari, masing-masing konsumen hanya diperbolehkan membeli dua liter minyak goreng kemasan dengan harga sesuai ketetapan pemerintah. Rp 14 ribu per liter. “Dan khusus untuk penjualan minyak goreng, kami menyiapkan pegawai. Mereka bertugas melayani pembeli sekaligus menerapkan aturan pembatasan. Karena tiap konsumen hanya boleh membawa pulang dua liter,” jelasnya.

Tak hanya itu, manajemen toko juga melakukan pengawasan. Hanya saja, adanya keterbatasan membuat petugas tidak bisa mendeteksi orang per orang. Apakah sebelumnya telah berbelanja minyak goreng di toko ritelnya atau tidak. “Di luar itu, yang jelas kami berusaha melayani kebutuhan masyarakat semaksimal mungkin. Termasuk menjaga stok agar tetap tersedia setiap hari,” paparnya.

Khusus temuan adanya konsumen yang menyiasati kebijakan pembatasan, seperti mengganti baju dan menghapus tinta di jari yang menjadi tanda telah membeli, menurutnya hal itu mungkin temuan warga. “Sebagai tindak lanjut kami telah berkoordinasi dengan pihak kepolisian. Dalam hal ini Polsek Balung. Agar hal-hal semacam ini bisa dihindari,” pungkasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/