alexametrics
24.3 C
Jember
Sunday, 22 May 2022

3 Kecamatan di Jember Ini Jadi Pusat Peredaran Pil Koplo. Dimana Saja ?

Orangtua, Warga dan Sekolah Harus Sinergi Memberantas Okerbaya

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – KASUS peredaran okerbaya pada 23 pelajar di SMPN 10 Jember menjadi bukti bahwa anak-anak merupakan sasaran empuk bagi para pengedar okerbaya atau pil koplo. Dari kasus ini, sekolah lain memiliki potensi serupa. Dan ditengarai terungkapnya perkara peredaran okerbaya atau pil koplo merupakan fenomena gunung es. Tampak kecil di permukaan, tapi sejatinya sangat besar di dasar.

Data yang dihimpun Lembaga Swadaya Masyarakat Bengkel Jiwa, setidaknya ada sekitar lima anak yang tersandung kasus narkoba selama 2021. Mereka terjaring dalam instansi pendidikan, tempat tongkrongan, lingkungan rumah, hingga pesantren.

Ketua Bengkel Jiwa Agus Wahyu Permana menyebut, daerah yang menjadi kantong peredaran okerbaya atau pil koplo dan narkoba itu di antaranya adalah Kecamatan Sumbersari, Mumbulsari, Bangsalsari, dan Pakusari. “Kami bisa lakukan sampling. Itu kalau kami lihat kecamatan mana, kecamatan yang paling banyak itu Sumbersari, lalu Mumbulsari, serta Bangsalsari. Itu sudah sabu. Dan Pakusari itu masih okerbaya atau pil koplo,” terang Agus kepada Jawa Pos Radar Jember, kemarin (27/1).

Mobile_AP_Rectangle 2

Saat ini, lanjut Agus, tren okerbaya atau pil koplo itu dikonsumsi dengan mencampurkan dalam racikan kopi di tongkrongan. Sehingga, anak-anak yang sudah mengalami adiksi terhadap okerbaya atau pil koplo akan mengonsumsi obat-obatan dicampurkan dengan segelas kopi di tongkrongan. Tak heran, beberapa penangkapan terjadi di tempat mereka kongkow. “Samar-samar, konsumsinya menggunakan kopi,” katanya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – KASUS peredaran okerbaya pada 23 pelajar di SMPN 10 Jember menjadi bukti bahwa anak-anak merupakan sasaran empuk bagi para pengedar okerbaya atau pil koplo. Dari kasus ini, sekolah lain memiliki potensi serupa. Dan ditengarai terungkapnya perkara peredaran okerbaya atau pil koplo merupakan fenomena gunung es. Tampak kecil di permukaan, tapi sejatinya sangat besar di dasar.

Data yang dihimpun Lembaga Swadaya Masyarakat Bengkel Jiwa, setidaknya ada sekitar lima anak yang tersandung kasus narkoba selama 2021. Mereka terjaring dalam instansi pendidikan, tempat tongkrongan, lingkungan rumah, hingga pesantren.

Ketua Bengkel Jiwa Agus Wahyu Permana menyebut, daerah yang menjadi kantong peredaran okerbaya atau pil koplo dan narkoba itu di antaranya adalah Kecamatan Sumbersari, Mumbulsari, Bangsalsari, dan Pakusari. “Kami bisa lakukan sampling. Itu kalau kami lihat kecamatan mana, kecamatan yang paling banyak itu Sumbersari, lalu Mumbulsari, serta Bangsalsari. Itu sudah sabu. Dan Pakusari itu masih okerbaya atau pil koplo,” terang Agus kepada Jawa Pos Radar Jember, kemarin (27/1).

Saat ini, lanjut Agus, tren okerbaya atau pil koplo itu dikonsumsi dengan mencampurkan dalam racikan kopi di tongkrongan. Sehingga, anak-anak yang sudah mengalami adiksi terhadap okerbaya atau pil koplo akan mengonsumsi obat-obatan dicampurkan dengan segelas kopi di tongkrongan. Tak heran, beberapa penangkapan terjadi di tempat mereka kongkow. “Samar-samar, konsumsinya menggunakan kopi,” katanya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – KASUS peredaran okerbaya pada 23 pelajar di SMPN 10 Jember menjadi bukti bahwa anak-anak merupakan sasaran empuk bagi para pengedar okerbaya atau pil koplo. Dari kasus ini, sekolah lain memiliki potensi serupa. Dan ditengarai terungkapnya perkara peredaran okerbaya atau pil koplo merupakan fenomena gunung es. Tampak kecil di permukaan, tapi sejatinya sangat besar di dasar.

Data yang dihimpun Lembaga Swadaya Masyarakat Bengkel Jiwa, setidaknya ada sekitar lima anak yang tersandung kasus narkoba selama 2021. Mereka terjaring dalam instansi pendidikan, tempat tongkrongan, lingkungan rumah, hingga pesantren.

Ketua Bengkel Jiwa Agus Wahyu Permana menyebut, daerah yang menjadi kantong peredaran okerbaya atau pil koplo dan narkoba itu di antaranya adalah Kecamatan Sumbersari, Mumbulsari, Bangsalsari, dan Pakusari. “Kami bisa lakukan sampling. Itu kalau kami lihat kecamatan mana, kecamatan yang paling banyak itu Sumbersari, lalu Mumbulsari, serta Bangsalsari. Itu sudah sabu. Dan Pakusari itu masih okerbaya atau pil koplo,” terang Agus kepada Jawa Pos Radar Jember, kemarin (27/1).

Saat ini, lanjut Agus, tren okerbaya atau pil koplo itu dikonsumsi dengan mencampurkan dalam racikan kopi di tongkrongan. Sehingga, anak-anak yang sudah mengalami adiksi terhadap okerbaya atau pil koplo akan mengonsumsi obat-obatan dicampurkan dengan segelas kopi di tongkrongan. Tak heran, beberapa penangkapan terjadi di tempat mereka kongkow. “Samar-samar, konsumsinya menggunakan kopi,” katanya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

Sapi Terpaksa Diobral

Banyak Perempuan Minta Cerai

/