alexametrics
29.2 C
Jember
Friday, 1 July 2022

Screening Cegah Efek Imunisasi

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Penyakit penyerta alias komorbid menjadi salah satu faktor yang mengakibatkan tingginya angka kematian pada pasien Covid-19. Oleh karena itu, identifikasi keberadaan komorbid tersebut wajib dilakukan untuk menekan risiko kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI), atau efek dari imunisasi.

Untuk itu, pada kegiatan vaksinasi kemarin (27/1), para calon penerima wajib melakukan screening untuk mengetahui apakah tubuh mereka siap menerima vaksin atau tidak. “Screening ini untuk meminimalisasi adanya efek samping dari vaksinasi Covid-19,” tutur Dyah Kusworini Indriaswati, Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Jember.

Selain untuk menyiapkan penerima vaksin, pihaknya juga mengintegrasikan dengan deteksi faktor risiko penyakit tidak menular. Misalnya, integrasi dini yang dapat mengecek gula darah, kolesterol, atau asam urat. “Jadi, sekali bertemu dengan sasaran, tak hanya melakukan vaksinasi. Namun, juga memberikan pelayanan lain sesuai standar pelayanan,” lanjutnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dalam pembahasan screening itu, Dyah menambahkan, ada hal lain yang bakal diperiksa petugas kepada calon penerima vaksin. Di antaranya, apakah pernah terpapar Covid-19, sedang hamil, dan menyusui atau tidak. “Ataukah mereka memiliki penyakit penyerta seperti penyakit jantung, ginjal, diabetes melitus, atau HIV,” ungkapnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Penyakit penyerta alias komorbid menjadi salah satu faktor yang mengakibatkan tingginya angka kematian pada pasien Covid-19. Oleh karena itu, identifikasi keberadaan komorbid tersebut wajib dilakukan untuk menekan risiko kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI), atau efek dari imunisasi.

Untuk itu, pada kegiatan vaksinasi kemarin (27/1), para calon penerima wajib melakukan screening untuk mengetahui apakah tubuh mereka siap menerima vaksin atau tidak. “Screening ini untuk meminimalisasi adanya efek samping dari vaksinasi Covid-19,” tutur Dyah Kusworini Indriaswati, Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Jember.

Selain untuk menyiapkan penerima vaksin, pihaknya juga mengintegrasikan dengan deteksi faktor risiko penyakit tidak menular. Misalnya, integrasi dini yang dapat mengecek gula darah, kolesterol, atau asam urat. “Jadi, sekali bertemu dengan sasaran, tak hanya melakukan vaksinasi. Namun, juga memberikan pelayanan lain sesuai standar pelayanan,” lanjutnya.

Dalam pembahasan screening itu, Dyah menambahkan, ada hal lain yang bakal diperiksa petugas kepada calon penerima vaksin. Di antaranya, apakah pernah terpapar Covid-19, sedang hamil, dan menyusui atau tidak. “Ataukah mereka memiliki penyakit penyerta seperti penyakit jantung, ginjal, diabetes melitus, atau HIV,” ungkapnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Penyakit penyerta alias komorbid menjadi salah satu faktor yang mengakibatkan tingginya angka kematian pada pasien Covid-19. Oleh karena itu, identifikasi keberadaan komorbid tersebut wajib dilakukan untuk menekan risiko kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI), atau efek dari imunisasi.

Untuk itu, pada kegiatan vaksinasi kemarin (27/1), para calon penerima wajib melakukan screening untuk mengetahui apakah tubuh mereka siap menerima vaksin atau tidak. “Screening ini untuk meminimalisasi adanya efek samping dari vaksinasi Covid-19,” tutur Dyah Kusworini Indriaswati, Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Jember.

Selain untuk menyiapkan penerima vaksin, pihaknya juga mengintegrasikan dengan deteksi faktor risiko penyakit tidak menular. Misalnya, integrasi dini yang dapat mengecek gula darah, kolesterol, atau asam urat. “Jadi, sekali bertemu dengan sasaran, tak hanya melakukan vaksinasi. Namun, juga memberikan pelayanan lain sesuai standar pelayanan,” lanjutnya.

Dalam pembahasan screening itu, Dyah menambahkan, ada hal lain yang bakal diperiksa petugas kepada calon penerima vaksin. Di antaranya, apakah pernah terpapar Covid-19, sedang hamil, dan menyusui atau tidak. “Ataukah mereka memiliki penyakit penyerta seperti penyakit jantung, ginjal, diabetes melitus, atau HIV,” ungkapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/