alexametrics
28.7 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Angkat Kisah Sogol, Masuk Sepuluh Besar Gelar Seni Bergengsi

Bagi generasi yang lahir sebelum 90-an, kisah Sogol Pendekar Sumur Gemuling begitu masyhur di kawasan Jember selatan. Cerita rakyat asal Sumberejo, Ambulu, itu kembali diangkat oleh penggiat seni Jember dalam pentas seni budaya di Jakarta. Kisah itu berhasil masuk sepuluh besar sebagai penyaji terbaik dalam penghargaan kategori manajemen produksi.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Santet yang dikirim Kiai Mukti kembali tanpa bau anyir darah. Ilmu hitam itu gagal membunuh pendekar yang menjadi sasasarannya, Sogol. Bahkan, Sogol mengetahui bahwa yang mengirim tenung itu adalah Kiai Mukti, hingga keduanya terlibat pertarungan sengit. Fragmen perkelahian ini dimenangkan oleh Sogol. Kiai Mukti tewas.

Dalam cerita rakyat yang kerap diangkat seni tradisional ludruk ini, Sogol digambarkan sebagai sosok protagonis. Kesaktiannya kerap dipakai membela kaum papa. Ilmu kanuragannya digunakan melawan kesewenang-wenangan kompeni pada masa penjajahan Belanda. Sedangkan Kiai Mukti sebaliknya. Dia menjadi antek kompeni bersama seorang muridnya.

Sogol, yang diceritakan sakti mandraguna ini, tak bisa mati meski peluru kompeni sering menerjangnya. Rahasianya adalah ayam jago yang dirawat oleh sang ibu, yang dalam lakon itu disebut Si Mbok. Nyawa Sogol tak bisa lepas selama ayam jago miliknya tetap hidup. Ayam itu dirawat penuh kasih oleh Si Mbok.

Mobile_AP_Rectangle 2

Namun, sebagaimana kisah heroisme, selalu ada pesan moral yang ingin disampaikan. Dalam lakon Sogol Pendekar Sumur Gemuling ini, ayam jago yang menjadi kunci kesaktian Sogol merupakan simbol kasih sayang seorang ibu. Kasih ibu sangat menentukan kehebatan anak. Dalam kisah itu, meski Sogol telah mati, dia bisa hidup kembali lantaran sang ibu tidak rela dan memanggil namanya.

Di sisi lain, kisah Sogol juga tak melulu soal kepahlawanan. Dalam narasinya juga diwarnai dengan kisah cinta yang mengharukan. Pengorbanan pendekar perempuan bernama Tumpi menjadi fragmen lain. Dia diceritakan sebagai seorang kekasih yang selalu mendukung perjuangan Sogol. Meski Tumpi pada akhirnya mati akibat bedil kompeni, ketulusan cintanya, juga ditambah kasih sayang Si Mbok, mampu mengantarkan Sogol menumpas penjajah di wilayahnya.

Kisah kepahlawanan rakyat inilah yang disuguhkan penggiat seni Jember dalam pementasan Gelar Seni Budaya Daerah (GSBD) di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, awal Desember lalu. Cerita yang dikemas dalam drama tari dengan tema Gebyar Jember Mukti Mahambara ini berhasil masuk sepuluh besar sebagai penyaji terbaik dalam Anugerah Duta Seni Budaya Jawa Timur 2019 dalam kategori Akusara Budaya.

Piagam penghargaan itu diberikan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur kepada perwakilan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jember, Sabtu (21/12) lalu, di TMII Jakarta. Anugerah tersebut menjadi gelar pertama yang diraih penggiat seni Jember.

Pementasan seni dalam panggung nasional tersebut merupakan hasil kolaborasi seniman kawakan Jember. Sebut saja Enys Kartika yang menjadi pimpinan produksi dan Didik Suharijadi sebagai sutradara. Selain itu, juga ada Dhebora Krisnawati dengan ide cerita, penata tari Rendra Adi, penata iringan Ndhalungnesia Etnic Fusion, dan penata artistik Pradita Intan. Terakhir adalah penata rias dan busana, Gandes Production.

“Kami memadukan orang-orang dengan keahlihan spesifik. Membangun sebuah karya yang kuat, cermat dalam pemilihan lokalitasnya dengan tidak mengesampingkan aspek daya tarik hiburan itu sendiri,” tutur Enys Kartika.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Santet yang dikirim Kiai Mukti kembali tanpa bau anyir darah. Ilmu hitam itu gagal membunuh pendekar yang menjadi sasasarannya, Sogol. Bahkan, Sogol mengetahui bahwa yang mengirim tenung itu adalah Kiai Mukti, hingga keduanya terlibat pertarungan sengit. Fragmen perkelahian ini dimenangkan oleh Sogol. Kiai Mukti tewas.

Dalam cerita rakyat yang kerap diangkat seni tradisional ludruk ini, Sogol digambarkan sebagai sosok protagonis. Kesaktiannya kerap dipakai membela kaum papa. Ilmu kanuragannya digunakan melawan kesewenang-wenangan kompeni pada masa penjajahan Belanda. Sedangkan Kiai Mukti sebaliknya. Dia menjadi antek kompeni bersama seorang muridnya.

Sogol, yang diceritakan sakti mandraguna ini, tak bisa mati meski peluru kompeni sering menerjangnya. Rahasianya adalah ayam jago yang dirawat oleh sang ibu, yang dalam lakon itu disebut Si Mbok. Nyawa Sogol tak bisa lepas selama ayam jago miliknya tetap hidup. Ayam itu dirawat penuh kasih oleh Si Mbok.

Namun, sebagaimana kisah heroisme, selalu ada pesan moral yang ingin disampaikan. Dalam lakon Sogol Pendekar Sumur Gemuling ini, ayam jago yang menjadi kunci kesaktian Sogol merupakan simbol kasih sayang seorang ibu. Kasih ibu sangat menentukan kehebatan anak. Dalam kisah itu, meski Sogol telah mati, dia bisa hidup kembali lantaran sang ibu tidak rela dan memanggil namanya.

Di sisi lain, kisah Sogol juga tak melulu soal kepahlawanan. Dalam narasinya juga diwarnai dengan kisah cinta yang mengharukan. Pengorbanan pendekar perempuan bernama Tumpi menjadi fragmen lain. Dia diceritakan sebagai seorang kekasih yang selalu mendukung perjuangan Sogol. Meski Tumpi pada akhirnya mati akibat bedil kompeni, ketulusan cintanya, juga ditambah kasih sayang Si Mbok, mampu mengantarkan Sogol menumpas penjajah di wilayahnya.

Kisah kepahlawanan rakyat inilah yang disuguhkan penggiat seni Jember dalam pementasan Gelar Seni Budaya Daerah (GSBD) di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, awal Desember lalu. Cerita yang dikemas dalam drama tari dengan tema Gebyar Jember Mukti Mahambara ini berhasil masuk sepuluh besar sebagai penyaji terbaik dalam Anugerah Duta Seni Budaya Jawa Timur 2019 dalam kategori Akusara Budaya.

Piagam penghargaan itu diberikan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur kepada perwakilan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jember, Sabtu (21/12) lalu, di TMII Jakarta. Anugerah tersebut menjadi gelar pertama yang diraih penggiat seni Jember.

Pementasan seni dalam panggung nasional tersebut merupakan hasil kolaborasi seniman kawakan Jember. Sebut saja Enys Kartika yang menjadi pimpinan produksi dan Didik Suharijadi sebagai sutradara. Selain itu, juga ada Dhebora Krisnawati dengan ide cerita, penata tari Rendra Adi, penata iringan Ndhalungnesia Etnic Fusion, dan penata artistik Pradita Intan. Terakhir adalah penata rias dan busana, Gandes Production.

“Kami memadukan orang-orang dengan keahlihan spesifik. Membangun sebuah karya yang kuat, cermat dalam pemilihan lokalitasnya dengan tidak mengesampingkan aspek daya tarik hiburan itu sendiri,” tutur Enys Kartika.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Santet yang dikirim Kiai Mukti kembali tanpa bau anyir darah. Ilmu hitam itu gagal membunuh pendekar yang menjadi sasasarannya, Sogol. Bahkan, Sogol mengetahui bahwa yang mengirim tenung itu adalah Kiai Mukti, hingga keduanya terlibat pertarungan sengit. Fragmen perkelahian ini dimenangkan oleh Sogol. Kiai Mukti tewas.

Dalam cerita rakyat yang kerap diangkat seni tradisional ludruk ini, Sogol digambarkan sebagai sosok protagonis. Kesaktiannya kerap dipakai membela kaum papa. Ilmu kanuragannya digunakan melawan kesewenang-wenangan kompeni pada masa penjajahan Belanda. Sedangkan Kiai Mukti sebaliknya. Dia menjadi antek kompeni bersama seorang muridnya.

Sogol, yang diceritakan sakti mandraguna ini, tak bisa mati meski peluru kompeni sering menerjangnya. Rahasianya adalah ayam jago yang dirawat oleh sang ibu, yang dalam lakon itu disebut Si Mbok. Nyawa Sogol tak bisa lepas selama ayam jago miliknya tetap hidup. Ayam itu dirawat penuh kasih oleh Si Mbok.

Namun, sebagaimana kisah heroisme, selalu ada pesan moral yang ingin disampaikan. Dalam lakon Sogol Pendekar Sumur Gemuling ini, ayam jago yang menjadi kunci kesaktian Sogol merupakan simbol kasih sayang seorang ibu. Kasih ibu sangat menentukan kehebatan anak. Dalam kisah itu, meski Sogol telah mati, dia bisa hidup kembali lantaran sang ibu tidak rela dan memanggil namanya.

Di sisi lain, kisah Sogol juga tak melulu soal kepahlawanan. Dalam narasinya juga diwarnai dengan kisah cinta yang mengharukan. Pengorbanan pendekar perempuan bernama Tumpi menjadi fragmen lain. Dia diceritakan sebagai seorang kekasih yang selalu mendukung perjuangan Sogol. Meski Tumpi pada akhirnya mati akibat bedil kompeni, ketulusan cintanya, juga ditambah kasih sayang Si Mbok, mampu mengantarkan Sogol menumpas penjajah di wilayahnya.

Kisah kepahlawanan rakyat inilah yang disuguhkan penggiat seni Jember dalam pementasan Gelar Seni Budaya Daerah (GSBD) di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, awal Desember lalu. Cerita yang dikemas dalam drama tari dengan tema Gebyar Jember Mukti Mahambara ini berhasil masuk sepuluh besar sebagai penyaji terbaik dalam Anugerah Duta Seni Budaya Jawa Timur 2019 dalam kategori Akusara Budaya.

Piagam penghargaan itu diberikan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur kepada perwakilan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jember, Sabtu (21/12) lalu, di TMII Jakarta. Anugerah tersebut menjadi gelar pertama yang diraih penggiat seni Jember.

Pementasan seni dalam panggung nasional tersebut merupakan hasil kolaborasi seniman kawakan Jember. Sebut saja Enys Kartika yang menjadi pimpinan produksi dan Didik Suharijadi sebagai sutradara. Selain itu, juga ada Dhebora Krisnawati dengan ide cerita, penata tari Rendra Adi, penata iringan Ndhalungnesia Etnic Fusion, dan penata artistik Pradita Intan. Terakhir adalah penata rias dan busana, Gandes Production.

“Kami memadukan orang-orang dengan keahlihan spesifik. Membangun sebuah karya yang kuat, cermat dalam pemilihan lokalitasnya dengan tidak mengesampingkan aspek daya tarik hiburan itu sendiri,” tutur Enys Kartika.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/