alexametrics
30.5 C
Jember
Wednesday, 18 May 2022

Persentase Kematian Pasien Korona Meningkat

 Ditengarai Akibat Telat Penanganan Medis

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.iD – Pandemi Covid-19 masih menjadi ancaman. Ini bisa dilihat dari jumlah penderita yang terus menunjukan peningkatan. Bahkan, jumlah korban meninggal akibat korona juga terus bertambah. Salah satu faktor yang ditengarai menyumbang angka kematian tersebut adalah stigma negatif tentang penanganan pasien. Sebab, ada persepsi yang menganggap bahwa petugas medis sengaja mencatat pasien biasa menjadi pasien korona. Akibatnya, mereka yang terindikasi positif enggan melapor atau berobat ke fasilitas kesehatan.

Hingga kemarin (26/11), total kasus positif di Jember menembus angka 2.216 orang yang terinfeksi. Data Satgas Penanganan Covid-19 Pemkab Jember menunjukkan, setiap hari kasus baru bertambah hingga puluhan orang. Termasuk kasus kematian baru. Karena itu, persentase kematian akibat korona juga meningkat. Dari sebelumnya di angka tiga persen, kini menjadi empat persen.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Pemkab Jember Gatot Triyono menjelaskan, adanya kenaikan angka kematian korona yang terjadi hampir setiap hari akhir-akhir ini, disebabkan karena penderita Covid-19 sudah mengalami sakit yang berat. “Jadi yang meninggal itu, datang ke rumah sakit dan puskesmas sudah dengan gejala berat, bukan gejala ringan,” terangnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Gejala berat yang dimaksud Gatot adalah mereka yang telah sesak hingga mengalami kesulitan bernapas. Diduga, mereka telat berobat ke rumah sakit atau melapor ke petugas terkait kondisinya. Ditengarai, hal ini lantaran masih adanya kekhawatiran bahwa status pasien di-covid-kan, meski sebenarnya hanya menderita penyakit biasa. “Mereka itu takut di-covid-kan. Sehingga, memilih untuk berdiam diri di rumah. Baru saat ada gejala berat seperti susah bernapas, dilarikan ke rumah sakit,” kata Gatot.

Pria yang kini menjabat sebagai sekretaris Dinas Perhubungan (Dishub) Jember ini mengatakan, penderita korona dengan gejala ringan juga ada yang menolak untuk dirujuk ke rumah sakit dengan berbagai alasan. Karena itu, dia menegaskan, terjadinya peningkatan kasus meninggal akibat korona bukan hanya karena jumlah rumah sakit yang overload, tapi saat masuk gejala yang diderita sudah cukup berat.

Sementara itu, untuk kasus-kasus baru tersebut, hingga saat ini masih belum diketahui tertular dari klaster mana. Gatot berharap, kasus Covid-19 yang kian tinggi tersebut dapat memantik kesadaran warga agar meningkatkan kedisiplinan dalam menerapkan protokol kesehatan. “Kita harus jaga diri dan jaga keluarga,” ucapnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.iD – Pandemi Covid-19 masih menjadi ancaman. Ini bisa dilihat dari jumlah penderita yang terus menunjukan peningkatan. Bahkan, jumlah korban meninggal akibat korona juga terus bertambah. Salah satu faktor yang ditengarai menyumbang angka kematian tersebut adalah stigma negatif tentang penanganan pasien. Sebab, ada persepsi yang menganggap bahwa petugas medis sengaja mencatat pasien biasa menjadi pasien korona. Akibatnya, mereka yang terindikasi positif enggan melapor atau berobat ke fasilitas kesehatan.

Hingga kemarin (26/11), total kasus positif di Jember menembus angka 2.216 orang yang terinfeksi. Data Satgas Penanganan Covid-19 Pemkab Jember menunjukkan, setiap hari kasus baru bertambah hingga puluhan orang. Termasuk kasus kematian baru. Karena itu, persentase kematian akibat korona juga meningkat. Dari sebelumnya di angka tiga persen, kini menjadi empat persen.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Pemkab Jember Gatot Triyono menjelaskan, adanya kenaikan angka kematian korona yang terjadi hampir setiap hari akhir-akhir ini, disebabkan karena penderita Covid-19 sudah mengalami sakit yang berat. “Jadi yang meninggal itu, datang ke rumah sakit dan puskesmas sudah dengan gejala berat, bukan gejala ringan,” terangnya.

Gejala berat yang dimaksud Gatot adalah mereka yang telah sesak hingga mengalami kesulitan bernapas. Diduga, mereka telat berobat ke rumah sakit atau melapor ke petugas terkait kondisinya. Ditengarai, hal ini lantaran masih adanya kekhawatiran bahwa status pasien di-covid-kan, meski sebenarnya hanya menderita penyakit biasa. “Mereka itu takut di-covid-kan. Sehingga, memilih untuk berdiam diri di rumah. Baru saat ada gejala berat seperti susah bernapas, dilarikan ke rumah sakit,” kata Gatot.

Pria yang kini menjabat sebagai sekretaris Dinas Perhubungan (Dishub) Jember ini mengatakan, penderita korona dengan gejala ringan juga ada yang menolak untuk dirujuk ke rumah sakit dengan berbagai alasan. Karena itu, dia menegaskan, terjadinya peningkatan kasus meninggal akibat korona bukan hanya karena jumlah rumah sakit yang overload, tapi saat masuk gejala yang diderita sudah cukup berat.

Sementara itu, untuk kasus-kasus baru tersebut, hingga saat ini masih belum diketahui tertular dari klaster mana. Gatot berharap, kasus Covid-19 yang kian tinggi tersebut dapat memantik kesadaran warga agar meningkatkan kedisiplinan dalam menerapkan protokol kesehatan. “Kita harus jaga diri dan jaga keluarga,” ucapnya.

JEMBER, RADARJEMBER.iD – Pandemi Covid-19 masih menjadi ancaman. Ini bisa dilihat dari jumlah penderita yang terus menunjukan peningkatan. Bahkan, jumlah korban meninggal akibat korona juga terus bertambah. Salah satu faktor yang ditengarai menyumbang angka kematian tersebut adalah stigma negatif tentang penanganan pasien. Sebab, ada persepsi yang menganggap bahwa petugas medis sengaja mencatat pasien biasa menjadi pasien korona. Akibatnya, mereka yang terindikasi positif enggan melapor atau berobat ke fasilitas kesehatan.

Hingga kemarin (26/11), total kasus positif di Jember menembus angka 2.216 orang yang terinfeksi. Data Satgas Penanganan Covid-19 Pemkab Jember menunjukkan, setiap hari kasus baru bertambah hingga puluhan orang. Termasuk kasus kematian baru. Karena itu, persentase kematian akibat korona juga meningkat. Dari sebelumnya di angka tiga persen, kini menjadi empat persen.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Pemkab Jember Gatot Triyono menjelaskan, adanya kenaikan angka kematian korona yang terjadi hampir setiap hari akhir-akhir ini, disebabkan karena penderita Covid-19 sudah mengalami sakit yang berat. “Jadi yang meninggal itu, datang ke rumah sakit dan puskesmas sudah dengan gejala berat, bukan gejala ringan,” terangnya.

Gejala berat yang dimaksud Gatot adalah mereka yang telah sesak hingga mengalami kesulitan bernapas. Diduga, mereka telat berobat ke rumah sakit atau melapor ke petugas terkait kondisinya. Ditengarai, hal ini lantaran masih adanya kekhawatiran bahwa status pasien di-covid-kan, meski sebenarnya hanya menderita penyakit biasa. “Mereka itu takut di-covid-kan. Sehingga, memilih untuk berdiam diri di rumah. Baru saat ada gejala berat seperti susah bernapas, dilarikan ke rumah sakit,” kata Gatot.

Pria yang kini menjabat sebagai sekretaris Dinas Perhubungan (Dishub) Jember ini mengatakan, penderita korona dengan gejala ringan juga ada yang menolak untuk dirujuk ke rumah sakit dengan berbagai alasan. Karena itu, dia menegaskan, terjadinya peningkatan kasus meninggal akibat korona bukan hanya karena jumlah rumah sakit yang overload, tapi saat masuk gejala yang diderita sudah cukup berat.

Sementara itu, untuk kasus-kasus baru tersebut, hingga saat ini masih belum diketahui tertular dari klaster mana. Gatot berharap, kasus Covid-19 yang kian tinggi tersebut dapat memantik kesadaran warga agar meningkatkan kedisiplinan dalam menerapkan protokol kesehatan. “Kita harus jaga diri dan jaga keluarga,” ucapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/