alexametrics
22.8 C
Jember
Friday, 12 August 2022

Hanya di Pesantren Ini, Bisa Belajar Ilmu Agama Sekaligus Mengelola Kopi

Kiprah Pesantren At Tanwir di Desa Slateng, Ledokombo, Berdayakan Anak Buruh Migran dan Petani Kopi di Lereng Raung

Mobile_AP_Rectangle 1

Ketidakberdayaan petani kopi didasari oleh mahalnya modal perawatan tanaman kopi. Khususnya dalam pembelian dan ketersediaan pupuk. Sebagai sosok kiai yang peduli lingkungan, Ustad Danil mengajak warganya agar tak lagi menjual hasil panen kepada para tengkulak. Dia membeli hasil panen itu dengan harga sesuai standar di pasaran. “Kualitas kopi kami bagus, karena warga di sini berpengalaman dalam perawatan kopi. Jadi, eman kalau kopi yang bagus itu dijual dengan harga murah, bahkan jauh dari harga pasaran,” katanya.

Bukan tak punya lahan perkebunan, Ustad Danil juga dikenal sebagai petani kopi yang andal. Hasil panen miliknya dan milik warga yang telah ia beli sebelumnya, akhirnya dia kelola sendiri dengan melibatkan para santri. Di sinilah para santri mendapatkan pengalaman yang bisa menjadi bekal ketika mereka bermasyarakat nantinya. “Setelah panen, kami ajak para santri untuk mengolah biji kopi itu. Mulai dari proses sortir, roasting, pengemasan, penjualan, dan kami juga memberi pelatihan barista kepada mereka,” imbuhnya.

Produk kopi dari pesantren di wilayah Jember Timur itu pun tak hanya laku di wilayah Jember. Berkat banyaknya relasi dan ilmu teknologi, bahan minuman hitam pekat itu juga dipesan hingga luar pulau. “Penjualannya ada yang manual, di toko-toko atau warung. Kemudian, juga ada yang dijual melalui online dan dibantu oleh keponakan,” pungkasnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Reporter : Delfi Nihayah

Fotografer : Pesantren Kopi For Radar Jember

Editor : Mahrus Sholih

- Advertisement -

Ketidakberdayaan petani kopi didasari oleh mahalnya modal perawatan tanaman kopi. Khususnya dalam pembelian dan ketersediaan pupuk. Sebagai sosok kiai yang peduli lingkungan, Ustad Danil mengajak warganya agar tak lagi menjual hasil panen kepada para tengkulak. Dia membeli hasil panen itu dengan harga sesuai standar di pasaran. “Kualitas kopi kami bagus, karena warga di sini berpengalaman dalam perawatan kopi. Jadi, eman kalau kopi yang bagus itu dijual dengan harga murah, bahkan jauh dari harga pasaran,” katanya.

Bukan tak punya lahan perkebunan, Ustad Danil juga dikenal sebagai petani kopi yang andal. Hasil panen miliknya dan milik warga yang telah ia beli sebelumnya, akhirnya dia kelola sendiri dengan melibatkan para santri. Di sinilah para santri mendapatkan pengalaman yang bisa menjadi bekal ketika mereka bermasyarakat nantinya. “Setelah panen, kami ajak para santri untuk mengolah biji kopi itu. Mulai dari proses sortir, roasting, pengemasan, penjualan, dan kami juga memberi pelatihan barista kepada mereka,” imbuhnya.

Produk kopi dari pesantren di wilayah Jember Timur itu pun tak hanya laku di wilayah Jember. Berkat banyaknya relasi dan ilmu teknologi, bahan minuman hitam pekat itu juga dipesan hingga luar pulau. “Penjualannya ada yang manual, di toko-toko atau warung. Kemudian, juga ada yang dijual melalui online dan dibantu oleh keponakan,” pungkasnya.

Reporter : Delfi Nihayah

Fotografer : Pesantren Kopi For Radar Jember

Editor : Mahrus Sholih

Ketidakberdayaan petani kopi didasari oleh mahalnya modal perawatan tanaman kopi. Khususnya dalam pembelian dan ketersediaan pupuk. Sebagai sosok kiai yang peduli lingkungan, Ustad Danil mengajak warganya agar tak lagi menjual hasil panen kepada para tengkulak. Dia membeli hasil panen itu dengan harga sesuai standar di pasaran. “Kualitas kopi kami bagus, karena warga di sini berpengalaman dalam perawatan kopi. Jadi, eman kalau kopi yang bagus itu dijual dengan harga murah, bahkan jauh dari harga pasaran,” katanya.

Bukan tak punya lahan perkebunan, Ustad Danil juga dikenal sebagai petani kopi yang andal. Hasil panen miliknya dan milik warga yang telah ia beli sebelumnya, akhirnya dia kelola sendiri dengan melibatkan para santri. Di sinilah para santri mendapatkan pengalaman yang bisa menjadi bekal ketika mereka bermasyarakat nantinya. “Setelah panen, kami ajak para santri untuk mengolah biji kopi itu. Mulai dari proses sortir, roasting, pengemasan, penjualan, dan kami juga memberi pelatihan barista kepada mereka,” imbuhnya.

Produk kopi dari pesantren di wilayah Jember Timur itu pun tak hanya laku di wilayah Jember. Berkat banyaknya relasi dan ilmu teknologi, bahan minuman hitam pekat itu juga dipesan hingga luar pulau. “Penjualannya ada yang manual, di toko-toko atau warung. Kemudian, juga ada yang dijual melalui online dan dibantu oleh keponakan,” pungkasnya.

Reporter : Delfi Nihayah

Fotografer : Pesantren Kopi For Radar Jember

Editor : Mahrus Sholih

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/