alexametrics
24.4 C
Jember
Sunday, 3 July 2022

Hanya di Pesantren Ini, Bisa Belajar Ilmu Agama Sekaligus Mengelola Kopi

Kiprah Pesantren At Tanwir di Desa Slateng, Ledokombo, Berdayakan Anak Buruh Migran dan Petani Kopi di Lereng Raung

Mobile_AP_Rectangle 1

SLATENG, RADARJEMBER.ID – PONDOK Pesantren At Tanwir atau yang biasa disebut sebagai pesantren kopi, lokasinya berada di lereng Gunung Raung. Dari kota Jember, butuh waktu satu setengah jam jika mengendarai motor. Di tempat tersebut, para santri tak hanya belajar ilmu agama saja. Mereka juga dibekali ilmu tentang bagaimana mengelola kopi. Mulai dari pembibitan hingga pengemasan. Dari hulu ke hilir.

Potensi alam sekitar pesantren memang penuh dengan tanaman kopi. Kondisi inilah yang membuat pengasuh pesantren, Kiai Zainul Wasik, memanfaatkan potensi tersebut untuk menghidupi santrinya. Para santri dibebaskan dari biaya pendidikan dan iuran. “Siapa pun di sini yang mau belajar, kami persilakan. Tanpa biaya. Asalkan bersungguh-sungguh. Di sini kami juga ingin mengajarkan kemandirian kepada santri agar mereka kreatif memanfaatkan potensi yang ada demi bertahan hidup,” ungkap kiai yang akrab disapa Ustad Danil itu.

Mayoritas para santri di pesantren ini merupakan anak-anak dari buruh migran. Menurut Ustad Danil, dirinya tak hanya hadir sebagai guru yang memberi ilmu, tapi dia juga ingin hadir sebagai sosok orang tua bagi para santrinya. “Tentu mereka butuh perhatian orang tua. Dan kami berusaha untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Tentu dengan bimbingan ilmu dan bekal kemandirian itu,” imbuhnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Selain memperhatikan anak-anak sekitar, terutama para santrinya, Ustad Danil juga memperhatikan nasib tetangga di sekitar pesantren. Dia juga memberdayakan masyarakat sekitar dengan memberi edukasi dan membeli hasil panen kopi milik mereka. Masyarakat Slateng memang rata-rata bermata pencarian sebagai petani kopi. Dan hamparan perkebunan kopi di desa yang memiliki udara sejuk ini begitu luas.

Menurutnya, biji kopi (green bean) hasil panen masyarakat sekitar dijual dengan harga murah kepada para tengkulak. Para petani di desa itu juga tak punya akses, bahkan tak tahu harus menjual hasil panennya ke mana. “Ada yang sampai didatangi ke rumah-rumah petani. Para tengkulak itu memberi uang (modal) kepada petani, tapi dengan syarat hasil panen harus dijual ke mereka, meski dengan harga murah,” tuturnya.

- Advertisement -

SLATENG, RADARJEMBER.ID – PONDOK Pesantren At Tanwir atau yang biasa disebut sebagai pesantren kopi, lokasinya berada di lereng Gunung Raung. Dari kota Jember, butuh waktu satu setengah jam jika mengendarai motor. Di tempat tersebut, para santri tak hanya belajar ilmu agama saja. Mereka juga dibekali ilmu tentang bagaimana mengelola kopi. Mulai dari pembibitan hingga pengemasan. Dari hulu ke hilir.

Potensi alam sekitar pesantren memang penuh dengan tanaman kopi. Kondisi inilah yang membuat pengasuh pesantren, Kiai Zainul Wasik, memanfaatkan potensi tersebut untuk menghidupi santrinya. Para santri dibebaskan dari biaya pendidikan dan iuran. “Siapa pun di sini yang mau belajar, kami persilakan. Tanpa biaya. Asalkan bersungguh-sungguh. Di sini kami juga ingin mengajarkan kemandirian kepada santri agar mereka kreatif memanfaatkan potensi yang ada demi bertahan hidup,” ungkap kiai yang akrab disapa Ustad Danil itu.

Mayoritas para santri di pesantren ini merupakan anak-anak dari buruh migran. Menurut Ustad Danil, dirinya tak hanya hadir sebagai guru yang memberi ilmu, tapi dia juga ingin hadir sebagai sosok orang tua bagi para santrinya. “Tentu mereka butuh perhatian orang tua. Dan kami berusaha untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Tentu dengan bimbingan ilmu dan bekal kemandirian itu,” imbuhnya.

Selain memperhatikan anak-anak sekitar, terutama para santrinya, Ustad Danil juga memperhatikan nasib tetangga di sekitar pesantren. Dia juga memberdayakan masyarakat sekitar dengan memberi edukasi dan membeli hasil panen kopi milik mereka. Masyarakat Slateng memang rata-rata bermata pencarian sebagai petani kopi. Dan hamparan perkebunan kopi di desa yang memiliki udara sejuk ini begitu luas.

Menurutnya, biji kopi (green bean) hasil panen masyarakat sekitar dijual dengan harga murah kepada para tengkulak. Para petani di desa itu juga tak punya akses, bahkan tak tahu harus menjual hasil panennya ke mana. “Ada yang sampai didatangi ke rumah-rumah petani. Para tengkulak itu memberi uang (modal) kepada petani, tapi dengan syarat hasil panen harus dijual ke mereka, meski dengan harga murah,” tuturnya.

SLATENG, RADARJEMBER.ID – PONDOK Pesantren At Tanwir atau yang biasa disebut sebagai pesantren kopi, lokasinya berada di lereng Gunung Raung. Dari kota Jember, butuh waktu satu setengah jam jika mengendarai motor. Di tempat tersebut, para santri tak hanya belajar ilmu agama saja. Mereka juga dibekali ilmu tentang bagaimana mengelola kopi. Mulai dari pembibitan hingga pengemasan. Dari hulu ke hilir.

Potensi alam sekitar pesantren memang penuh dengan tanaman kopi. Kondisi inilah yang membuat pengasuh pesantren, Kiai Zainul Wasik, memanfaatkan potensi tersebut untuk menghidupi santrinya. Para santri dibebaskan dari biaya pendidikan dan iuran. “Siapa pun di sini yang mau belajar, kami persilakan. Tanpa biaya. Asalkan bersungguh-sungguh. Di sini kami juga ingin mengajarkan kemandirian kepada santri agar mereka kreatif memanfaatkan potensi yang ada demi bertahan hidup,” ungkap kiai yang akrab disapa Ustad Danil itu.

Mayoritas para santri di pesantren ini merupakan anak-anak dari buruh migran. Menurut Ustad Danil, dirinya tak hanya hadir sebagai guru yang memberi ilmu, tapi dia juga ingin hadir sebagai sosok orang tua bagi para santrinya. “Tentu mereka butuh perhatian orang tua. Dan kami berusaha untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Tentu dengan bimbingan ilmu dan bekal kemandirian itu,” imbuhnya.

Selain memperhatikan anak-anak sekitar, terutama para santrinya, Ustad Danil juga memperhatikan nasib tetangga di sekitar pesantren. Dia juga memberdayakan masyarakat sekitar dengan memberi edukasi dan membeli hasil panen kopi milik mereka. Masyarakat Slateng memang rata-rata bermata pencarian sebagai petani kopi. Dan hamparan perkebunan kopi di desa yang memiliki udara sejuk ini begitu luas.

Menurutnya, biji kopi (green bean) hasil panen masyarakat sekitar dijual dengan harga murah kepada para tengkulak. Para petani di desa itu juga tak punya akses, bahkan tak tahu harus menjual hasil panennya ke mana. “Ada yang sampai didatangi ke rumah-rumah petani. Para tengkulak itu memberi uang (modal) kepada petani, tapi dengan syarat hasil panen harus dijual ke mereka, meski dengan harga murah,” tuturnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/