alexametrics
28 C
Jember
Monday, 15 August 2022

Gagal di Jember, Ustad Hanan Attaki Akan Tampil di Bondowoso

Mobile_AP_Rectangle 1

BADEAN, Radar Ijen – Penolakan terhadap rencana pengajian dengan penceramah Ustad Hanan Attaki (UHA) sempat terjadi di sejumlah lokasi. Di antaranya di Kabupaten Gresik dan Jember. Alasan penolakan nyaris sama. Menduga UHA sebagai eks anggota HTI, namun belakangan telah diklarifikasi dan tersebar di sejumlah media. Nah, setelah urung melakukan Konser Langit di Jember, UHA dikabarkan akan mengisi pengajian 1 Muharram 1444 di Bondowoso, Jumat (29/7) nanti.

Rencana kehadiran UHA di Kota Tape itu pun memantik banyak pendapat di jagat maya. Ada kabar mengenai penolakan terhadap rencana tersebut. Guna memahami duduk perkaranya, Jawa Pos Radar Jember menghubungi beberapa tokoh terkait hal itu.

Menurut Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Bondowoso KH Qodir Syam, sebuah pengajian atau ceramah menjadi kewenangan pemerintah untuk menyikapinya. Di sisi lain, juga menjadi kewenangan penyelenggara, dalam hal ini Pondok Pesantren Al Ishlah.

Mobile_AP_Rectangle 2

Menurutnya, sepanjang pemerintah tidak mengambil sikap, maka rencana bisa terus berlangsung. Apalagi, lokasi yang dipakai bukan milik umum. “Kalau itu tidak ada warga NU yang datang ke Al Ishlah, ya silakan. Itu menjadi haknya Al Ishlah. Kami tidak punya hak untuk menolak atau mendukung,” ucapnya saat dikonfirmasi oleh Jawa Pos Radar Jember, kemarin.

Berbeda jika tempat dakwahnya di tempat umum. Di alun-alun atau di lapangan. Ini tentunya akan melibatkan masyarakat umum di Bondowoso. Menurutnya, pemerintah perlu mengambil sikap, apalagi rencana itu sudah dekat. Hal itu penting diambil agar tidak melahirkan keresahan bagi masyarakat.

Dikatakan, pengajian seluruhnya memang baik. Namun, jika isi ceramahnya membuat keresahan di masyarakat, misal ada perbedaan prinsip terkait yang disampaikan dengan amalan masyarakat, hal itu perlu disikapi pemerintah.

Dikatakan, masyarakat Bondowoso sudah memiliki keyakinan untuk mengamalkan sesuai dengan yang diyakini. Sehingga, tidak perlu diberikan ceramah yang akan memberikan perbedaan keyakinan secara prinsip bagi masyarakat Bondowoso. “Kalau itu memang melahirkan keresahan, itu urusannya pemerintah lah. Masak itu urusannya kami,” urainya.

Menurutnya, jika kedatangan UHA melahirkan keresahan bagi masyarakat, maka pemerintah perlu mengambil sikap demi tetap menjaga ketenangan di Bondowoso. “Kalau pemerintah ingin masyarakatnya tentram, damai, mestinya harus menjaga lah pemerintah. Apa gunanya punya pemerintah,” tanyanya. Sementara, jika NU yang melakukan penolakan, justru akan lebih menambah keresahan.

Kedatangan Ustad Hanan Attaki itu juga melahirkan reaksi dari kalangan organisasi muda. Yaitu rilis penolakan yang ditujukan kepada Polres Bondowoso. Di antara alasan penolakan yakni serupa dengan kasus penolakan sebelum-sebelumnya, yakni menduga UHA sebagai eks anggota HTI. Dalam rilis resminya, UHA telah mengklarifikasi dan menyatakan dirinya bukan seperti yang dimaksud.

- Advertisement -

BADEAN, Radar Ijen – Penolakan terhadap rencana pengajian dengan penceramah Ustad Hanan Attaki (UHA) sempat terjadi di sejumlah lokasi. Di antaranya di Kabupaten Gresik dan Jember. Alasan penolakan nyaris sama. Menduga UHA sebagai eks anggota HTI, namun belakangan telah diklarifikasi dan tersebar di sejumlah media. Nah, setelah urung melakukan Konser Langit di Jember, UHA dikabarkan akan mengisi pengajian 1 Muharram 1444 di Bondowoso, Jumat (29/7) nanti.

Rencana kehadiran UHA di Kota Tape itu pun memantik banyak pendapat di jagat maya. Ada kabar mengenai penolakan terhadap rencana tersebut. Guna memahami duduk perkaranya, Jawa Pos Radar Jember menghubungi beberapa tokoh terkait hal itu.

Menurut Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Bondowoso KH Qodir Syam, sebuah pengajian atau ceramah menjadi kewenangan pemerintah untuk menyikapinya. Di sisi lain, juga menjadi kewenangan penyelenggara, dalam hal ini Pondok Pesantren Al Ishlah.

Menurutnya, sepanjang pemerintah tidak mengambil sikap, maka rencana bisa terus berlangsung. Apalagi, lokasi yang dipakai bukan milik umum. “Kalau itu tidak ada warga NU yang datang ke Al Ishlah, ya silakan. Itu menjadi haknya Al Ishlah. Kami tidak punya hak untuk menolak atau mendukung,” ucapnya saat dikonfirmasi oleh Jawa Pos Radar Jember, kemarin.

Berbeda jika tempat dakwahnya di tempat umum. Di alun-alun atau di lapangan. Ini tentunya akan melibatkan masyarakat umum di Bondowoso. Menurutnya, pemerintah perlu mengambil sikap, apalagi rencana itu sudah dekat. Hal itu penting diambil agar tidak melahirkan keresahan bagi masyarakat.

Dikatakan, pengajian seluruhnya memang baik. Namun, jika isi ceramahnya membuat keresahan di masyarakat, misal ada perbedaan prinsip terkait yang disampaikan dengan amalan masyarakat, hal itu perlu disikapi pemerintah.

Dikatakan, masyarakat Bondowoso sudah memiliki keyakinan untuk mengamalkan sesuai dengan yang diyakini. Sehingga, tidak perlu diberikan ceramah yang akan memberikan perbedaan keyakinan secara prinsip bagi masyarakat Bondowoso. “Kalau itu memang melahirkan keresahan, itu urusannya pemerintah lah. Masak itu urusannya kami,” urainya.

Menurutnya, jika kedatangan UHA melahirkan keresahan bagi masyarakat, maka pemerintah perlu mengambil sikap demi tetap menjaga ketenangan di Bondowoso. “Kalau pemerintah ingin masyarakatnya tentram, damai, mestinya harus menjaga lah pemerintah. Apa gunanya punya pemerintah,” tanyanya. Sementara, jika NU yang melakukan penolakan, justru akan lebih menambah keresahan.

Kedatangan Ustad Hanan Attaki itu juga melahirkan reaksi dari kalangan organisasi muda. Yaitu rilis penolakan yang ditujukan kepada Polres Bondowoso. Di antara alasan penolakan yakni serupa dengan kasus penolakan sebelum-sebelumnya, yakni menduga UHA sebagai eks anggota HTI. Dalam rilis resminya, UHA telah mengklarifikasi dan menyatakan dirinya bukan seperti yang dimaksud.

BADEAN, Radar Ijen – Penolakan terhadap rencana pengajian dengan penceramah Ustad Hanan Attaki (UHA) sempat terjadi di sejumlah lokasi. Di antaranya di Kabupaten Gresik dan Jember. Alasan penolakan nyaris sama. Menduga UHA sebagai eks anggota HTI, namun belakangan telah diklarifikasi dan tersebar di sejumlah media. Nah, setelah urung melakukan Konser Langit di Jember, UHA dikabarkan akan mengisi pengajian 1 Muharram 1444 di Bondowoso, Jumat (29/7) nanti.

Rencana kehadiran UHA di Kota Tape itu pun memantik banyak pendapat di jagat maya. Ada kabar mengenai penolakan terhadap rencana tersebut. Guna memahami duduk perkaranya, Jawa Pos Radar Jember menghubungi beberapa tokoh terkait hal itu.

Menurut Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Bondowoso KH Qodir Syam, sebuah pengajian atau ceramah menjadi kewenangan pemerintah untuk menyikapinya. Di sisi lain, juga menjadi kewenangan penyelenggara, dalam hal ini Pondok Pesantren Al Ishlah.

Menurutnya, sepanjang pemerintah tidak mengambil sikap, maka rencana bisa terus berlangsung. Apalagi, lokasi yang dipakai bukan milik umum. “Kalau itu tidak ada warga NU yang datang ke Al Ishlah, ya silakan. Itu menjadi haknya Al Ishlah. Kami tidak punya hak untuk menolak atau mendukung,” ucapnya saat dikonfirmasi oleh Jawa Pos Radar Jember, kemarin.

Berbeda jika tempat dakwahnya di tempat umum. Di alun-alun atau di lapangan. Ini tentunya akan melibatkan masyarakat umum di Bondowoso. Menurutnya, pemerintah perlu mengambil sikap, apalagi rencana itu sudah dekat. Hal itu penting diambil agar tidak melahirkan keresahan bagi masyarakat.

Dikatakan, pengajian seluruhnya memang baik. Namun, jika isi ceramahnya membuat keresahan di masyarakat, misal ada perbedaan prinsip terkait yang disampaikan dengan amalan masyarakat, hal itu perlu disikapi pemerintah.

Dikatakan, masyarakat Bondowoso sudah memiliki keyakinan untuk mengamalkan sesuai dengan yang diyakini. Sehingga, tidak perlu diberikan ceramah yang akan memberikan perbedaan keyakinan secara prinsip bagi masyarakat Bondowoso. “Kalau itu memang melahirkan keresahan, itu urusannya pemerintah lah. Masak itu urusannya kami,” urainya.

Menurutnya, jika kedatangan UHA melahirkan keresahan bagi masyarakat, maka pemerintah perlu mengambil sikap demi tetap menjaga ketenangan di Bondowoso. “Kalau pemerintah ingin masyarakatnya tentram, damai, mestinya harus menjaga lah pemerintah. Apa gunanya punya pemerintah,” tanyanya. Sementara, jika NU yang melakukan penolakan, justru akan lebih menambah keresahan.

Kedatangan Ustad Hanan Attaki itu juga melahirkan reaksi dari kalangan organisasi muda. Yaitu rilis penolakan yang ditujukan kepada Polres Bondowoso. Di antara alasan penolakan yakni serupa dengan kasus penolakan sebelum-sebelumnya, yakni menduga UHA sebagai eks anggota HTI. Dalam rilis resminya, UHA telah mengklarifikasi dan menyatakan dirinya bukan seperti yang dimaksud.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/