alexametrics
21.6 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

Banyak Kendala, Regulasi Setengah Hati

Sejak Maret lalu, siswa mengikuti pembelajaran di rumah. Pandemi yang tak kunjung usai membuat kegiatan belajar mengajar (KBM) berlangsung daring atau jarak jauh. Ternyata, selama hampir lima bulan ini, banyak kendala yang dialami oleh siswa maupun wali murid. Lantas, apa solusinya?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Ela Indriani menunjukkan salah grup WhatsApp wali murid yang menjadi sarana belajar selama pandemi. Dia memperlihatkan apa saja tugas sekolah yang diberikan. Tak hanya tentang materi pelajaran, tapi juga tentang kemandirian dan budi pekerti. Seperti membantu orang tua di rumah serta kegiatan ibadah.

Menurut dia, semua tugas itu diberikan lewat grup WhatsApp, termasuk laporan wali murid ketika anak-anak mereka selesai mengerjakan. “Di sekolah ini ya berjalan daring. Hanya saja, pakai grup-grup WA. Kalau pakai aplikasi Zoom tidak kuat,” kata guru di SDS Al Furqon, Desa Pakis, Kecamatan Panti, tersebut.

Ela mengakui, KBM melalui saluran grup WhatsApp kurang optimal. Apalagi, jika ada salah satu murid yang tidak memiliki smartphone. Sebab, mayoritas wali murid di sekitar sekolah memang bekerja sebagai petani dan pekebun. Kalaupun menggunakan aplikasi video telekonferensi, memerlukan biaya lebih karena menyedot kuota data internet cukup banyak.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sekilas, media pembelajaran berbasis teknologi ini cukup praktis. Sebab, siswa maupun guru tinggal duduk manis di depan smartphone atau laptop. Mereka sudah bisa memberi materi pelajaran atau menyimak pembelajaran secara langsung.

Aktivitas belajar daring ini hampir merata diberlakukan di setiap jenjang pendidikan di Jember. Mulai dari SD, SMP, dan SMA sederajat, hingga perguruan tinggi. Meski di sisi lain pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (PJJ) itu, tidak semudah yang dibayangkan. Berbagai fakta di lapangan menunjukkan, tidak semua sekolah menerapkan KBM daring. Ada yang karena terkendala sinyal, minim sarana, hingga sederet permasalahan lainnya. Terutama di sekolah yang kawasannya berada di pinggiran kabupaten.

Tak jauh berbeda dengan SDS Al Furqon, Desa Pakis, di sekolah lain kendalanya juga serupa. Di SDN 01 Kaliglagah, Kecamatan Sumberbaru, misalnya, sekolah yang berada di ujung barat Kabupaten Jember itu menggunakan metode belajar yang sama. Yakni metode daring via grup WhatsApp. “Di sekolah kami pakai daring via grup WhatsApp. Tapi siswanya dibekali buku pegangan,” ujar Safaruddin Ridwan, guru di sekolah tersebut.

Selain sekolah yang menggunakan daring, belakangan mulai banyak lembaga pendidikan yang memakai metode luring. Teknisnya berbeda-beda. Ada yang mengumpulkan murid di salah satu rumah guru seperti belajar bersama, ada juga guru keliling (guling) ke rumah-rumah siswa. Metode ini, selain untuk memberikan tugas, guru sekaligus mengevaluasi perkembangan belajar para siswa.

“Kalau semester kemarin masih menggunakan daring. Tapi mulai Senin (hari ini, Red), kami evaluasi juga kemungkinan menggunakan metode guru keliling itu,” papar Zuhrotul Munawaroh, guru di SMPN 2 Jelbuk.

Metode luring itu dianggap paling tepat dengan mendatangi murid yang tidak memiliki sarana teknologi. Juga untuk menjangkau murid-murid yang berada di kawasan sulit sinyal atau blank spot area. Karena berdasar catatan Diskominfo Jember, ada sekitar 148 lembaga SD yang diperkirakan masuk kawasan blank spot yang masing-masing tersebar di beberapa titik.

Bahkan, beberapa di antaranya, masih berada di kawasan pinggiran Kota Jember, seperti di Kelurahan Bintoro, Kecamatan Patrang. Data ini baru untuk lembaga SD, belum jenjang SMP dan SMA, baik negeri maupun swasta.

Salah satu sekolah yang disebut-sebut sebagai salah satu penggagas metode guling tersebut adalah SMPN 7 Jember. Syaiful Bahri, Kepala SMPN 7 Jember, saat webinar seputar KBM daring, Jumat (24/7) lalu, memaparkan bahwa di sekolahnya sendiri, selain menerapkan KBM daring, juga menerapkan model guling. Hal itu menurutnya menjadi salah satu cara untuk menjangkau siswa yang berada di luar akses sinyal telekomunikasi.

“Kalau guling itu memang harus ada surat tugas. Antisipasi agar penugasan dari guling tidak menumpuk, juga agar bisa jadi perlindungan mereka jika bertemu tim gugus tugas,” ulas Syaiful. Ia menambahkan, dalam pelaksanaan guling itu, para guru berjalan sesuai protokol kesehatan yang ada. Pihaknya mewanti-wanti berjalannya guling tidak sampai menimbulkan masalah baru. Sebab, dalam metode itu, para guru juga mengklusterkan siswa dalam jumlah terbatas atau membentuk kelompok belajar kecil yang terdiri atas 5-7 siswa.

Jika diamati, metode guling cukup menjawab problem keterbatasan akses sinyal telekomunikasi. Namun jauh dari itu, muncul kecenderungan perbedaan ketercapaian belajar siswa, antara yang mengikuti daring maupun luring. Sebab, sebagaimana diketahui, perbedaan metode pembelajaran tentu berpengaruh terhadap perbedaan hasil atau capaian belajar.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Ela Indriani menunjukkan salah grup WhatsApp wali murid yang menjadi sarana belajar selama pandemi. Dia memperlihatkan apa saja tugas sekolah yang diberikan. Tak hanya tentang materi pelajaran, tapi juga tentang kemandirian dan budi pekerti. Seperti membantu orang tua di rumah serta kegiatan ibadah.

Menurut dia, semua tugas itu diberikan lewat grup WhatsApp, termasuk laporan wali murid ketika anak-anak mereka selesai mengerjakan. “Di sekolah ini ya berjalan daring. Hanya saja, pakai grup-grup WA. Kalau pakai aplikasi Zoom tidak kuat,” kata guru di SDS Al Furqon, Desa Pakis, Kecamatan Panti, tersebut.

Ela mengakui, KBM melalui saluran grup WhatsApp kurang optimal. Apalagi, jika ada salah satu murid yang tidak memiliki smartphone. Sebab, mayoritas wali murid di sekitar sekolah memang bekerja sebagai petani dan pekebun. Kalaupun menggunakan aplikasi video telekonferensi, memerlukan biaya lebih karena menyedot kuota data internet cukup banyak.

Sekilas, media pembelajaran berbasis teknologi ini cukup praktis. Sebab, siswa maupun guru tinggal duduk manis di depan smartphone atau laptop. Mereka sudah bisa memberi materi pelajaran atau menyimak pembelajaran secara langsung.

Aktivitas belajar daring ini hampir merata diberlakukan di setiap jenjang pendidikan di Jember. Mulai dari SD, SMP, dan SMA sederajat, hingga perguruan tinggi. Meski di sisi lain pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (PJJ) itu, tidak semudah yang dibayangkan. Berbagai fakta di lapangan menunjukkan, tidak semua sekolah menerapkan KBM daring. Ada yang karena terkendala sinyal, minim sarana, hingga sederet permasalahan lainnya. Terutama di sekolah yang kawasannya berada di pinggiran kabupaten.

Tak jauh berbeda dengan SDS Al Furqon, Desa Pakis, di sekolah lain kendalanya juga serupa. Di SDN 01 Kaliglagah, Kecamatan Sumberbaru, misalnya, sekolah yang berada di ujung barat Kabupaten Jember itu menggunakan metode belajar yang sama. Yakni metode daring via grup WhatsApp. “Di sekolah kami pakai daring via grup WhatsApp. Tapi siswanya dibekali buku pegangan,” ujar Safaruddin Ridwan, guru di sekolah tersebut.

Selain sekolah yang menggunakan daring, belakangan mulai banyak lembaga pendidikan yang memakai metode luring. Teknisnya berbeda-beda. Ada yang mengumpulkan murid di salah satu rumah guru seperti belajar bersama, ada juga guru keliling (guling) ke rumah-rumah siswa. Metode ini, selain untuk memberikan tugas, guru sekaligus mengevaluasi perkembangan belajar para siswa.

“Kalau semester kemarin masih menggunakan daring. Tapi mulai Senin (hari ini, Red), kami evaluasi juga kemungkinan menggunakan metode guru keliling itu,” papar Zuhrotul Munawaroh, guru di SMPN 2 Jelbuk.

Metode luring itu dianggap paling tepat dengan mendatangi murid yang tidak memiliki sarana teknologi. Juga untuk menjangkau murid-murid yang berada di kawasan sulit sinyal atau blank spot area. Karena berdasar catatan Diskominfo Jember, ada sekitar 148 lembaga SD yang diperkirakan masuk kawasan blank spot yang masing-masing tersebar di beberapa titik.

Bahkan, beberapa di antaranya, masih berada di kawasan pinggiran Kota Jember, seperti di Kelurahan Bintoro, Kecamatan Patrang. Data ini baru untuk lembaga SD, belum jenjang SMP dan SMA, baik negeri maupun swasta.

Salah satu sekolah yang disebut-sebut sebagai salah satu penggagas metode guling tersebut adalah SMPN 7 Jember. Syaiful Bahri, Kepala SMPN 7 Jember, saat webinar seputar KBM daring, Jumat (24/7) lalu, memaparkan bahwa di sekolahnya sendiri, selain menerapkan KBM daring, juga menerapkan model guling. Hal itu menurutnya menjadi salah satu cara untuk menjangkau siswa yang berada di luar akses sinyal telekomunikasi.

“Kalau guling itu memang harus ada surat tugas. Antisipasi agar penugasan dari guling tidak menumpuk, juga agar bisa jadi perlindungan mereka jika bertemu tim gugus tugas,” ulas Syaiful. Ia menambahkan, dalam pelaksanaan guling itu, para guru berjalan sesuai protokol kesehatan yang ada. Pihaknya mewanti-wanti berjalannya guling tidak sampai menimbulkan masalah baru. Sebab, dalam metode itu, para guru juga mengklusterkan siswa dalam jumlah terbatas atau membentuk kelompok belajar kecil yang terdiri atas 5-7 siswa.

Jika diamati, metode guling cukup menjawab problem keterbatasan akses sinyal telekomunikasi. Namun jauh dari itu, muncul kecenderungan perbedaan ketercapaian belajar siswa, antara yang mengikuti daring maupun luring. Sebab, sebagaimana diketahui, perbedaan metode pembelajaran tentu berpengaruh terhadap perbedaan hasil atau capaian belajar.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Ela Indriani menunjukkan salah grup WhatsApp wali murid yang menjadi sarana belajar selama pandemi. Dia memperlihatkan apa saja tugas sekolah yang diberikan. Tak hanya tentang materi pelajaran, tapi juga tentang kemandirian dan budi pekerti. Seperti membantu orang tua di rumah serta kegiatan ibadah.

Menurut dia, semua tugas itu diberikan lewat grup WhatsApp, termasuk laporan wali murid ketika anak-anak mereka selesai mengerjakan. “Di sekolah ini ya berjalan daring. Hanya saja, pakai grup-grup WA. Kalau pakai aplikasi Zoom tidak kuat,” kata guru di SDS Al Furqon, Desa Pakis, Kecamatan Panti, tersebut.

Ela mengakui, KBM melalui saluran grup WhatsApp kurang optimal. Apalagi, jika ada salah satu murid yang tidak memiliki smartphone. Sebab, mayoritas wali murid di sekitar sekolah memang bekerja sebagai petani dan pekebun. Kalaupun menggunakan aplikasi video telekonferensi, memerlukan biaya lebih karena menyedot kuota data internet cukup banyak.

Sekilas, media pembelajaran berbasis teknologi ini cukup praktis. Sebab, siswa maupun guru tinggal duduk manis di depan smartphone atau laptop. Mereka sudah bisa memberi materi pelajaran atau menyimak pembelajaran secara langsung.

Aktivitas belajar daring ini hampir merata diberlakukan di setiap jenjang pendidikan di Jember. Mulai dari SD, SMP, dan SMA sederajat, hingga perguruan tinggi. Meski di sisi lain pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (PJJ) itu, tidak semudah yang dibayangkan. Berbagai fakta di lapangan menunjukkan, tidak semua sekolah menerapkan KBM daring. Ada yang karena terkendala sinyal, minim sarana, hingga sederet permasalahan lainnya. Terutama di sekolah yang kawasannya berada di pinggiran kabupaten.

Tak jauh berbeda dengan SDS Al Furqon, Desa Pakis, di sekolah lain kendalanya juga serupa. Di SDN 01 Kaliglagah, Kecamatan Sumberbaru, misalnya, sekolah yang berada di ujung barat Kabupaten Jember itu menggunakan metode belajar yang sama. Yakni metode daring via grup WhatsApp. “Di sekolah kami pakai daring via grup WhatsApp. Tapi siswanya dibekali buku pegangan,” ujar Safaruddin Ridwan, guru di sekolah tersebut.

Selain sekolah yang menggunakan daring, belakangan mulai banyak lembaga pendidikan yang memakai metode luring. Teknisnya berbeda-beda. Ada yang mengumpulkan murid di salah satu rumah guru seperti belajar bersama, ada juga guru keliling (guling) ke rumah-rumah siswa. Metode ini, selain untuk memberikan tugas, guru sekaligus mengevaluasi perkembangan belajar para siswa.

“Kalau semester kemarin masih menggunakan daring. Tapi mulai Senin (hari ini, Red), kami evaluasi juga kemungkinan menggunakan metode guru keliling itu,” papar Zuhrotul Munawaroh, guru di SMPN 2 Jelbuk.

Metode luring itu dianggap paling tepat dengan mendatangi murid yang tidak memiliki sarana teknologi. Juga untuk menjangkau murid-murid yang berada di kawasan sulit sinyal atau blank spot area. Karena berdasar catatan Diskominfo Jember, ada sekitar 148 lembaga SD yang diperkirakan masuk kawasan blank spot yang masing-masing tersebar di beberapa titik.

Bahkan, beberapa di antaranya, masih berada di kawasan pinggiran Kota Jember, seperti di Kelurahan Bintoro, Kecamatan Patrang. Data ini baru untuk lembaga SD, belum jenjang SMP dan SMA, baik negeri maupun swasta.

Salah satu sekolah yang disebut-sebut sebagai salah satu penggagas metode guling tersebut adalah SMPN 7 Jember. Syaiful Bahri, Kepala SMPN 7 Jember, saat webinar seputar KBM daring, Jumat (24/7) lalu, memaparkan bahwa di sekolahnya sendiri, selain menerapkan KBM daring, juga menerapkan model guling. Hal itu menurutnya menjadi salah satu cara untuk menjangkau siswa yang berada di luar akses sinyal telekomunikasi.

“Kalau guling itu memang harus ada surat tugas. Antisipasi agar penugasan dari guling tidak menumpuk, juga agar bisa jadi perlindungan mereka jika bertemu tim gugus tugas,” ulas Syaiful. Ia menambahkan, dalam pelaksanaan guling itu, para guru berjalan sesuai protokol kesehatan yang ada. Pihaknya mewanti-wanti berjalannya guling tidak sampai menimbulkan masalah baru. Sebab, dalam metode itu, para guru juga mengklusterkan siswa dalam jumlah terbatas atau membentuk kelompok belajar kecil yang terdiri atas 5-7 siswa.

Jika diamati, metode guling cukup menjawab problem keterbatasan akses sinyal telekomunikasi. Namun jauh dari itu, muncul kecenderungan perbedaan ketercapaian belajar siswa, antara yang mengikuti daring maupun luring. Sebab, sebagaimana diketahui, perbedaan metode pembelajaran tentu berpengaruh terhadap perbedaan hasil atau capaian belajar.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/