alexametrics
23.4 C
Jember
Monday, 27 June 2022

Klaster Padi Organik Solusi Ketahanan Pangan

Mobile_AP_Rectangle 1

Beras Premium Binaan KPwBI Jember Berhasil Diekspor

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Wilayah Jember menjadikan pertanian organik ini sebagai program klaster binaan. Tak hanya Jember, namun di lima Kabupaten, yakni Jember, Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso dan Lumajang. Bahkan, padi organik Banyuwangi sudah ekspor ke Itali. Permintaan juga datang dari Jerman, Inggris, dan negara eropa lainnya, namun stok masih terbatas.

Lahan padi organik di Banyuwangi seluas 42 hektare dengan jumlah petani 132 orang. Sedangkan di Bondowoso seluas 150 hektare dengan jumlah petani 350 orang. Kemudian, di Situbondo sebanyak 25 hingga 50 hektare dengan jumlah petani 70 orang.

Mobile_AP_Rectangle 2

Program binaan ini bertujuan untuk pengendalian inflasi dan agar produknya bisa ekspor ke luar negeri. “Karena beras organik produk premium bukan produk biasa,” kata Lukman Hakim, kepala tim Advisory dan pengembangan ekonomi KPwBI Jember.

Menurutnya, tak mudah untuk ekspor barang ke luar. Sebab, harus memiliki sertifikat internasional yang membutuhkan biaya mahal. “Ada syarat yang tak mudah, mulai dari penggunaan bibit, pupuk, tak boleh ada bahan kimia dan lainnya,” tutur Lukman.

Untuk itulah, KPwBI Jember hadir meningkatkan kualitas petani dengan memberikan pelatihan cara budidaya pertanian organik. “Kami Kerjasama dengan pihak kompeten, penyuluh pertanian hingga kampus untuk memberikan pemahaman manfaat pertanian organik,” jelasnya.

Tak hanya itu, KPwBI juga mencarikan pasar beras organik. Produk itu diikutkan berbagai pameran. Bahkan, juga dipertemukan dengan pasar luar negeri. “Dari sisi budidaya sampai pemasarannya, ada dukungan yang diberikan BI,” akunya.

Program klaster binaan yang dilakukan sekitar lima tahun itu pun membuahkan hasil. Salah satu binaan pertanian organik di Banyuwangi sudah berhasil diekspor ke Itali. “Itu satu pencapain yang bagus, bisa menjadi contoh bagi kabupaten lain untuk ikuti jejak. Karena peluang terbuka, permintaan cukup banyak,” terang pria berkacamata ini.
Diakuinya, padi organik lebih menjanjikan dibanding padi non organik. Sebab harga jualnya lebih mahal. Bila padi organik perkilogram bisa Rp 15 ribu. Sementara padi non organik hanya Rp 10 ribu.

STUDI BANDING: Petani padi organik binaa KPwBI Jember saat diajak untuk studi banding ke Bali.

Biaya tanam juga lebih murah karena tidak menggunakan pupuk berbahan kimia yang harganya terus naik. “Kenaikan harga beras, tidak bisa menutupi harga pupuk kimia,” ujarnya. Penggunaan pupuk non organik bisa Rp 5 juta saat tanam, pakai pupuk organik hanya Rp 2 juta.

Selain itu, batang pohon organik lebih kuat, Lebih tahan angin dan hama. Lahan, semakin lama semakin subur, sejalan dengan hasil produksi yang terus meningkat. “ Lahan non organik semakin sakau dan jelek,” imbuhnya.

Akhirnya, biaya tanam petani terus meningkat setiap tahunnya. Keuntungan pertanian organik bisa mengurangi biaya bagi petani. Petani Indonesia diharapkan mengurangi penggunaan pestisida karena merusak lingkungan. “Menciptakan Green farming, pertanian ramah lingkungan,” ujarnya.

Pembinaan klaster itu diharapkan bisa membuat petani mandiri. Memiliki SOP yang sudah sepakati, kualitas yang sudah dijaga sehingga bisa jalan sendiri. “Kami ajak lima kabupaten ini bersinergi, salung support,” pungkasnya.

- Advertisement -

Beras Premium Binaan KPwBI Jember Berhasil Diekspor

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Wilayah Jember menjadikan pertanian organik ini sebagai program klaster binaan. Tak hanya Jember, namun di lima Kabupaten, yakni Jember, Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso dan Lumajang. Bahkan, padi organik Banyuwangi sudah ekspor ke Itali. Permintaan juga datang dari Jerman, Inggris, dan negara eropa lainnya, namun stok masih terbatas.

Lahan padi organik di Banyuwangi seluas 42 hektare dengan jumlah petani 132 orang. Sedangkan di Bondowoso seluas 150 hektare dengan jumlah petani 350 orang. Kemudian, di Situbondo sebanyak 25 hingga 50 hektare dengan jumlah petani 70 orang.

Program binaan ini bertujuan untuk pengendalian inflasi dan agar produknya bisa ekspor ke luar negeri. “Karena beras organik produk premium bukan produk biasa,” kata Lukman Hakim, kepala tim Advisory dan pengembangan ekonomi KPwBI Jember.

Menurutnya, tak mudah untuk ekspor barang ke luar. Sebab, harus memiliki sertifikat internasional yang membutuhkan biaya mahal. “Ada syarat yang tak mudah, mulai dari penggunaan bibit, pupuk, tak boleh ada bahan kimia dan lainnya,” tutur Lukman.

Untuk itulah, KPwBI Jember hadir meningkatkan kualitas petani dengan memberikan pelatihan cara budidaya pertanian organik. “Kami Kerjasama dengan pihak kompeten, penyuluh pertanian hingga kampus untuk memberikan pemahaman manfaat pertanian organik,” jelasnya.

Tak hanya itu, KPwBI juga mencarikan pasar beras organik. Produk itu diikutkan berbagai pameran. Bahkan, juga dipertemukan dengan pasar luar negeri. “Dari sisi budidaya sampai pemasarannya, ada dukungan yang diberikan BI,” akunya.

Program klaster binaan yang dilakukan sekitar lima tahun itu pun membuahkan hasil. Salah satu binaan pertanian organik di Banyuwangi sudah berhasil diekspor ke Itali. “Itu satu pencapain yang bagus, bisa menjadi contoh bagi kabupaten lain untuk ikuti jejak. Karena peluang terbuka, permintaan cukup banyak,” terang pria berkacamata ini.
Diakuinya, padi organik lebih menjanjikan dibanding padi non organik. Sebab harga jualnya lebih mahal. Bila padi organik perkilogram bisa Rp 15 ribu. Sementara padi non organik hanya Rp 10 ribu.

STUDI BANDING: Petani padi organik binaa KPwBI Jember saat diajak untuk studi banding ke Bali.

Biaya tanam juga lebih murah karena tidak menggunakan pupuk berbahan kimia yang harganya terus naik. “Kenaikan harga beras, tidak bisa menutupi harga pupuk kimia,” ujarnya. Penggunaan pupuk non organik bisa Rp 5 juta saat tanam, pakai pupuk organik hanya Rp 2 juta.

Selain itu, batang pohon organik lebih kuat, Lebih tahan angin dan hama. Lahan, semakin lama semakin subur, sejalan dengan hasil produksi yang terus meningkat. “ Lahan non organik semakin sakau dan jelek,” imbuhnya.

Akhirnya, biaya tanam petani terus meningkat setiap tahunnya. Keuntungan pertanian organik bisa mengurangi biaya bagi petani. Petani Indonesia diharapkan mengurangi penggunaan pestisida karena merusak lingkungan. “Menciptakan Green farming, pertanian ramah lingkungan,” ujarnya.

Pembinaan klaster itu diharapkan bisa membuat petani mandiri. Memiliki SOP yang sudah sepakati, kualitas yang sudah dijaga sehingga bisa jalan sendiri. “Kami ajak lima kabupaten ini bersinergi, salung support,” pungkasnya.

Beras Premium Binaan KPwBI Jember Berhasil Diekspor

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Wilayah Jember menjadikan pertanian organik ini sebagai program klaster binaan. Tak hanya Jember, namun di lima Kabupaten, yakni Jember, Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso dan Lumajang. Bahkan, padi organik Banyuwangi sudah ekspor ke Itali. Permintaan juga datang dari Jerman, Inggris, dan negara eropa lainnya, namun stok masih terbatas.

Lahan padi organik di Banyuwangi seluas 42 hektare dengan jumlah petani 132 orang. Sedangkan di Bondowoso seluas 150 hektare dengan jumlah petani 350 orang. Kemudian, di Situbondo sebanyak 25 hingga 50 hektare dengan jumlah petani 70 orang.

Program binaan ini bertujuan untuk pengendalian inflasi dan agar produknya bisa ekspor ke luar negeri. “Karena beras organik produk premium bukan produk biasa,” kata Lukman Hakim, kepala tim Advisory dan pengembangan ekonomi KPwBI Jember.

Menurutnya, tak mudah untuk ekspor barang ke luar. Sebab, harus memiliki sertifikat internasional yang membutuhkan biaya mahal. “Ada syarat yang tak mudah, mulai dari penggunaan bibit, pupuk, tak boleh ada bahan kimia dan lainnya,” tutur Lukman.

Untuk itulah, KPwBI Jember hadir meningkatkan kualitas petani dengan memberikan pelatihan cara budidaya pertanian organik. “Kami Kerjasama dengan pihak kompeten, penyuluh pertanian hingga kampus untuk memberikan pemahaman manfaat pertanian organik,” jelasnya.

Tak hanya itu, KPwBI juga mencarikan pasar beras organik. Produk itu diikutkan berbagai pameran. Bahkan, juga dipertemukan dengan pasar luar negeri. “Dari sisi budidaya sampai pemasarannya, ada dukungan yang diberikan BI,” akunya.

Program klaster binaan yang dilakukan sekitar lima tahun itu pun membuahkan hasil. Salah satu binaan pertanian organik di Banyuwangi sudah berhasil diekspor ke Itali. “Itu satu pencapain yang bagus, bisa menjadi contoh bagi kabupaten lain untuk ikuti jejak. Karena peluang terbuka, permintaan cukup banyak,” terang pria berkacamata ini.
Diakuinya, padi organik lebih menjanjikan dibanding padi non organik. Sebab harga jualnya lebih mahal. Bila padi organik perkilogram bisa Rp 15 ribu. Sementara padi non organik hanya Rp 10 ribu.

STUDI BANDING: Petani padi organik binaa KPwBI Jember saat diajak untuk studi banding ke Bali.

Biaya tanam juga lebih murah karena tidak menggunakan pupuk berbahan kimia yang harganya terus naik. “Kenaikan harga beras, tidak bisa menutupi harga pupuk kimia,” ujarnya. Penggunaan pupuk non organik bisa Rp 5 juta saat tanam, pakai pupuk organik hanya Rp 2 juta.

Selain itu, batang pohon organik lebih kuat, Lebih tahan angin dan hama. Lahan, semakin lama semakin subur, sejalan dengan hasil produksi yang terus meningkat. “ Lahan non organik semakin sakau dan jelek,” imbuhnya.

Akhirnya, biaya tanam petani terus meningkat setiap tahunnya. Keuntungan pertanian organik bisa mengurangi biaya bagi petani. Petani Indonesia diharapkan mengurangi penggunaan pestisida karena merusak lingkungan. “Menciptakan Green farming, pertanian ramah lingkungan,” ujarnya.

Pembinaan klaster itu diharapkan bisa membuat petani mandiri. Memiliki SOP yang sudah sepakati, kualitas yang sudah dijaga sehingga bisa jalan sendiri. “Kami ajak lima kabupaten ini bersinergi, salung support,” pungkasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/