alexametrics
30.6 C
Jember
Sunday, 29 May 2022

Klaster Padi Organik Solusi Ketahanan Pangan

Mobile_AP_Rectangle 1

ROWOSARI, RADARJEMBER.ID – Beras organik mulai menjadi pangan yang diminati warga. Sebab, beras ini diolah dengan cara yang lebih menyehatkan. Yakni melalui proses budidaya organik, tanpa menggunakan pupuk pestisida yang mengandung kimia. Pertanian organik bisa menjadi salah satu solusi mewujudkan ketahanan pangan.

Kebutuhan pangan sehat terus berkembang seiring kemajuan jaman. Pasarnya terus berkembang, tak hanya lokal, namun juga pasar eksport. Padi organik ditanam di tanah yang ramah lingkungan. Pupuknya menggunakan kompos, pupuk hijau dan pupuk hayati. Semakin lama, tanahnya semakin subur.

Di Jember, pertanian organik dikembangkan oleh Koperasi Tani Jaya di Dusun Gardu Timur Desa Rowosari, Kecamatan Sumberjambe. Koperasi ini semakin berkembang seiring hadirnya program klaster binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Wilayah Jember. “Tanaman Organik kami dimulai sejak 2008 lalu,” kata Rudiyanto, ketua Koperasi Tani Jaya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Saat itu, masih dalam tahap percobaan. Lalu, pada tahun 2010, mengajukan sertifikasi padi organik pada lembaga sertifikasi organik Inofice.  Setelah disurvei belum bisa memenuhi persyaratan untuk disebut sebagai pertanian organik. “Karena masih ada bekas pupuk pestisida,” akunya. Namun, para petani tidak menyerah.

Tahun 2012, mereka kembali mengajukan sertifikasi kembali pada Inofice. Hasilnya, lahan petani seluas lima hektare itu lolos sertifikasi untuk menjadi tanaman organik. “Air untuk irigasi kita langsung ambil dari pegunungan,” tuturnya.

Pertama kali panen, kata dia, lahan satu hektare langsung menghasilkan tiga ton padi. Akhirnya, luas lahan organik terus dikembangkan, tahun 2013 bertambah menjadi 12 hekatre. Tahun 2014 menjadi 40 hektare, dan tahun 2015 sampai sekarang sudah mencapai 64 hektare .

Sekarang, kata Rudi, hasil panen sudah naik dari tiga ton per hektare menjadi lima ton. Hasil panen padi organik memang lebih sedikit jumlahnya dibanding padi non organik, selisih satu ton perhektarenya. “Tetapi, harga jualnya lebih mahal padi organik,” terangnya.
Gabah padi organik perkilo sebesar Rp 6 ribu, sedangkan nonorganik sekitar Rp 4.200 hingga Rp 4.500 perkilogram. Permintaan penjualan beras organik itu, lanjut Rudi, sangat luas.

Bahkan sudah kontrak dengan berbagai perusahaan. “Kita kontrak dengan pasar dari Lombok, Kalimantan, Golden Market, Bulog dan lainnya,” jelasnya.

MENJANJIKAN: Padi organik termasuk beras premium, peminatnya tak hanya lokal, tapi juga luar negeri.

Apalagi, tanaman padi organik yang dikelola oleh para petani sudah memiliki teknologi yang cukup maju. Penjemuran menggunakan teknologi yang bisa menampung 10 ton setiap delapan jam. “Meskipun hujan, kita tetap bisa mengeringkan karena punya mesin,” tuturnya.

Perjalanan koperasi untuk mengembangkan padi organik ini tidak mudah. Perlu perjuangan untuk meyakinkan para petani agar beralih ke pertanian organik. Sekarang, sudah ada 150 petani yang mengelola lahannya sebagai pertanian organik. “Tidak mudah merubah mindset petani beralih ke organik,” tegasnya.

Cara yang dipakai untuk menggerakkan petani dengan menunjukkan keunggulannya. Seperti harga yang lebih mahal, pasar yang terjamin, pupuk tidak perlu membeli karena bisa menggunakan kotoran ternak hewan.

Setiap bulan, lahan organik itu digilir panennya, sehingga permintaan beras selalu tersedia. “Ke Kalimantan kontrak kita 200 ton per tahun,” tambahnya. Bahkan ke Bulog Jakarta mencapai 10 ton per bulan, Bulog Jember mencapai 5 kuintal per bulan. Sekarang pihaknya terus mengembangkan lahan agar mampu memenuhi permintaan tersebut. “Harganya, beras organik putih Rp 15.000, beras hitam Rp 28.000 dan beras merah Rp 17.000,” imbuhnya.

Sekarang, Permintaan beras organik pada petani di Kecamatan Sumberjambe terus meningkat. Bahkan, dalam satu tahun mencapai 400 ton. Sedangkan petani hanya mampu produksi 80 persen dari permintaan. “Kami masih kurang 20 persen,” tutur Rudi.

- Advertisement -

ROWOSARI, RADARJEMBER.ID – Beras organik mulai menjadi pangan yang diminati warga. Sebab, beras ini diolah dengan cara yang lebih menyehatkan. Yakni melalui proses budidaya organik, tanpa menggunakan pupuk pestisida yang mengandung kimia. Pertanian organik bisa menjadi salah satu solusi mewujudkan ketahanan pangan.

Kebutuhan pangan sehat terus berkembang seiring kemajuan jaman. Pasarnya terus berkembang, tak hanya lokal, namun juga pasar eksport. Padi organik ditanam di tanah yang ramah lingkungan. Pupuknya menggunakan kompos, pupuk hijau dan pupuk hayati. Semakin lama, tanahnya semakin subur.

Di Jember, pertanian organik dikembangkan oleh Koperasi Tani Jaya di Dusun Gardu Timur Desa Rowosari, Kecamatan Sumberjambe. Koperasi ini semakin berkembang seiring hadirnya program klaster binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Wilayah Jember. “Tanaman Organik kami dimulai sejak 2008 lalu,” kata Rudiyanto, ketua Koperasi Tani Jaya.

Saat itu, masih dalam tahap percobaan. Lalu, pada tahun 2010, mengajukan sertifikasi padi organik pada lembaga sertifikasi organik Inofice.  Setelah disurvei belum bisa memenuhi persyaratan untuk disebut sebagai pertanian organik. “Karena masih ada bekas pupuk pestisida,” akunya. Namun, para petani tidak menyerah.

Tahun 2012, mereka kembali mengajukan sertifikasi kembali pada Inofice. Hasilnya, lahan petani seluas lima hektare itu lolos sertifikasi untuk menjadi tanaman organik. “Air untuk irigasi kita langsung ambil dari pegunungan,” tuturnya.

Pertama kali panen, kata dia, lahan satu hektare langsung menghasilkan tiga ton padi. Akhirnya, luas lahan organik terus dikembangkan, tahun 2013 bertambah menjadi 12 hekatre. Tahun 2014 menjadi 40 hektare, dan tahun 2015 sampai sekarang sudah mencapai 64 hektare .

Sekarang, kata Rudi, hasil panen sudah naik dari tiga ton per hektare menjadi lima ton. Hasil panen padi organik memang lebih sedikit jumlahnya dibanding padi non organik, selisih satu ton perhektarenya. “Tetapi, harga jualnya lebih mahal padi organik,” terangnya.
Gabah padi organik perkilo sebesar Rp 6 ribu, sedangkan nonorganik sekitar Rp 4.200 hingga Rp 4.500 perkilogram. Permintaan penjualan beras organik itu, lanjut Rudi, sangat luas.

Bahkan sudah kontrak dengan berbagai perusahaan. “Kita kontrak dengan pasar dari Lombok, Kalimantan, Golden Market, Bulog dan lainnya,” jelasnya.

MENJANJIKAN: Padi organik termasuk beras premium, peminatnya tak hanya lokal, tapi juga luar negeri.

Apalagi, tanaman padi organik yang dikelola oleh para petani sudah memiliki teknologi yang cukup maju. Penjemuran menggunakan teknologi yang bisa menampung 10 ton setiap delapan jam. “Meskipun hujan, kita tetap bisa mengeringkan karena punya mesin,” tuturnya.

Perjalanan koperasi untuk mengembangkan padi organik ini tidak mudah. Perlu perjuangan untuk meyakinkan para petani agar beralih ke pertanian organik. Sekarang, sudah ada 150 petani yang mengelola lahannya sebagai pertanian organik. “Tidak mudah merubah mindset petani beralih ke organik,” tegasnya.

Cara yang dipakai untuk menggerakkan petani dengan menunjukkan keunggulannya. Seperti harga yang lebih mahal, pasar yang terjamin, pupuk tidak perlu membeli karena bisa menggunakan kotoran ternak hewan.

Setiap bulan, lahan organik itu digilir panennya, sehingga permintaan beras selalu tersedia. “Ke Kalimantan kontrak kita 200 ton per tahun,” tambahnya. Bahkan ke Bulog Jakarta mencapai 10 ton per bulan, Bulog Jember mencapai 5 kuintal per bulan. Sekarang pihaknya terus mengembangkan lahan agar mampu memenuhi permintaan tersebut. “Harganya, beras organik putih Rp 15.000, beras hitam Rp 28.000 dan beras merah Rp 17.000,” imbuhnya.

Sekarang, Permintaan beras organik pada petani di Kecamatan Sumberjambe terus meningkat. Bahkan, dalam satu tahun mencapai 400 ton. Sedangkan petani hanya mampu produksi 80 persen dari permintaan. “Kami masih kurang 20 persen,” tutur Rudi.

ROWOSARI, RADARJEMBER.ID – Beras organik mulai menjadi pangan yang diminati warga. Sebab, beras ini diolah dengan cara yang lebih menyehatkan. Yakni melalui proses budidaya organik, tanpa menggunakan pupuk pestisida yang mengandung kimia. Pertanian organik bisa menjadi salah satu solusi mewujudkan ketahanan pangan.

Kebutuhan pangan sehat terus berkembang seiring kemajuan jaman. Pasarnya terus berkembang, tak hanya lokal, namun juga pasar eksport. Padi organik ditanam di tanah yang ramah lingkungan. Pupuknya menggunakan kompos, pupuk hijau dan pupuk hayati. Semakin lama, tanahnya semakin subur.

Di Jember, pertanian organik dikembangkan oleh Koperasi Tani Jaya di Dusun Gardu Timur Desa Rowosari, Kecamatan Sumberjambe. Koperasi ini semakin berkembang seiring hadirnya program klaster binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Wilayah Jember. “Tanaman Organik kami dimulai sejak 2008 lalu,” kata Rudiyanto, ketua Koperasi Tani Jaya.

Saat itu, masih dalam tahap percobaan. Lalu, pada tahun 2010, mengajukan sertifikasi padi organik pada lembaga sertifikasi organik Inofice.  Setelah disurvei belum bisa memenuhi persyaratan untuk disebut sebagai pertanian organik. “Karena masih ada bekas pupuk pestisida,” akunya. Namun, para petani tidak menyerah.

Tahun 2012, mereka kembali mengajukan sertifikasi kembali pada Inofice. Hasilnya, lahan petani seluas lima hektare itu lolos sertifikasi untuk menjadi tanaman organik. “Air untuk irigasi kita langsung ambil dari pegunungan,” tuturnya.

Pertama kali panen, kata dia, lahan satu hektare langsung menghasilkan tiga ton padi. Akhirnya, luas lahan organik terus dikembangkan, tahun 2013 bertambah menjadi 12 hekatre. Tahun 2014 menjadi 40 hektare, dan tahun 2015 sampai sekarang sudah mencapai 64 hektare .

Sekarang, kata Rudi, hasil panen sudah naik dari tiga ton per hektare menjadi lima ton. Hasil panen padi organik memang lebih sedikit jumlahnya dibanding padi non organik, selisih satu ton perhektarenya. “Tetapi, harga jualnya lebih mahal padi organik,” terangnya.
Gabah padi organik perkilo sebesar Rp 6 ribu, sedangkan nonorganik sekitar Rp 4.200 hingga Rp 4.500 perkilogram. Permintaan penjualan beras organik itu, lanjut Rudi, sangat luas.

Bahkan sudah kontrak dengan berbagai perusahaan. “Kita kontrak dengan pasar dari Lombok, Kalimantan, Golden Market, Bulog dan lainnya,” jelasnya.

MENJANJIKAN: Padi organik termasuk beras premium, peminatnya tak hanya lokal, tapi juga luar negeri.

Apalagi, tanaman padi organik yang dikelola oleh para petani sudah memiliki teknologi yang cukup maju. Penjemuran menggunakan teknologi yang bisa menampung 10 ton setiap delapan jam. “Meskipun hujan, kita tetap bisa mengeringkan karena punya mesin,” tuturnya.

Perjalanan koperasi untuk mengembangkan padi organik ini tidak mudah. Perlu perjuangan untuk meyakinkan para petani agar beralih ke pertanian organik. Sekarang, sudah ada 150 petani yang mengelola lahannya sebagai pertanian organik. “Tidak mudah merubah mindset petani beralih ke organik,” tegasnya.

Cara yang dipakai untuk menggerakkan petani dengan menunjukkan keunggulannya. Seperti harga yang lebih mahal, pasar yang terjamin, pupuk tidak perlu membeli karena bisa menggunakan kotoran ternak hewan.

Setiap bulan, lahan organik itu digilir panennya, sehingga permintaan beras selalu tersedia. “Ke Kalimantan kontrak kita 200 ton per tahun,” tambahnya. Bahkan ke Bulog Jakarta mencapai 10 ton per bulan, Bulog Jember mencapai 5 kuintal per bulan. Sekarang pihaknya terus mengembangkan lahan agar mampu memenuhi permintaan tersebut. “Harganya, beras organik putih Rp 15.000, beras hitam Rp 28.000 dan beras merah Rp 17.000,” imbuhnya.

Sekarang, Permintaan beras organik pada petani di Kecamatan Sumberjambe terus meningkat. Bahkan, dalam satu tahun mencapai 400 ton. Sedangkan petani hanya mampu produksi 80 persen dari permintaan. “Kami masih kurang 20 persen,” tutur Rudi.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/