alexametrics
26.2 C
Jember
Thursday, 19 May 2022

Kurangi Setoran Sopir

Cara Pengusaha Lin Bertahan di Tengah Wabah

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Diskon menjadi langkah yang diambil pengusaha angkutan umum agar armadanya tetap beroperasi. Tapi yang diberi diskon bukan tarif penumpang, melainkan setoran sopir. Sebab, di tengah masa sulit akibat korona ini, okupansi penumpang sangat sepi.

Sore itu, ruas Jalan Imam Bonjol tampak lengang. Tak banyak hiruk pikuk dan lalu lalang kendaraan. Deretan angkutan kota atau yang disebut lin kuning juga tampak terparkir di tepi jalan. Wanita tua berkerudung dan berkacamata pun hanya bisa melihat lin yang biasanya mengaspal. “Sepi ya jalan,” ucap wanita bernama Umi Indrayati itu.

Wanita 66 tahun ini adalah pengusaha lin kuning dan sudah merasakan asam, manis, dan pahitnya angkot. Tapi yang paling pahit adalah saat korona ini. Memulai usaha lin tahun 1990 lalu, dia pernah terkena badai krisis moneter di tahun 1999. “Daripada krisis moneter, korona yang lebih parah,” jelasnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dulu, kata dia, saat krisis moneter, masih banyak orang keluar, sehingga angkutan publik masih berjalan lancar. Sedangkan akibat korona, orang enggan keluar rumah. “Kalau orang tidak keluar, terus mau angkut siapa. Lin kan untuk angkut orang bukan barang,” jelasnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Diskon menjadi langkah yang diambil pengusaha angkutan umum agar armadanya tetap beroperasi. Tapi yang diberi diskon bukan tarif penumpang, melainkan setoran sopir. Sebab, di tengah masa sulit akibat korona ini, okupansi penumpang sangat sepi.

Sore itu, ruas Jalan Imam Bonjol tampak lengang. Tak banyak hiruk pikuk dan lalu lalang kendaraan. Deretan angkutan kota atau yang disebut lin kuning juga tampak terparkir di tepi jalan. Wanita tua berkerudung dan berkacamata pun hanya bisa melihat lin yang biasanya mengaspal. “Sepi ya jalan,” ucap wanita bernama Umi Indrayati itu.

Wanita 66 tahun ini adalah pengusaha lin kuning dan sudah merasakan asam, manis, dan pahitnya angkot. Tapi yang paling pahit adalah saat korona ini. Memulai usaha lin tahun 1990 lalu, dia pernah terkena badai krisis moneter di tahun 1999. “Daripada krisis moneter, korona yang lebih parah,” jelasnya.

Dulu, kata dia, saat krisis moneter, masih banyak orang keluar, sehingga angkutan publik masih berjalan lancar. Sedangkan akibat korona, orang enggan keluar rumah. “Kalau orang tidak keluar, terus mau angkut siapa. Lin kan untuk angkut orang bukan barang,” jelasnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Diskon menjadi langkah yang diambil pengusaha angkutan umum agar armadanya tetap beroperasi. Tapi yang diberi diskon bukan tarif penumpang, melainkan setoran sopir. Sebab, di tengah masa sulit akibat korona ini, okupansi penumpang sangat sepi.

Sore itu, ruas Jalan Imam Bonjol tampak lengang. Tak banyak hiruk pikuk dan lalu lalang kendaraan. Deretan angkutan kota atau yang disebut lin kuning juga tampak terparkir di tepi jalan. Wanita tua berkerudung dan berkacamata pun hanya bisa melihat lin yang biasanya mengaspal. “Sepi ya jalan,” ucap wanita bernama Umi Indrayati itu.

Wanita 66 tahun ini adalah pengusaha lin kuning dan sudah merasakan asam, manis, dan pahitnya angkot. Tapi yang paling pahit adalah saat korona ini. Memulai usaha lin tahun 1990 lalu, dia pernah terkena badai krisis moneter di tahun 1999. “Daripada krisis moneter, korona yang lebih parah,” jelasnya.

Dulu, kata dia, saat krisis moneter, masih banyak orang keluar, sehingga angkutan publik masih berjalan lancar. Sedangkan akibat korona, orang enggan keluar rumah. “Kalau orang tidak keluar, terus mau angkut siapa. Lin kan untuk angkut orang bukan barang,” jelasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/