alexametrics
26.6 C
Jember
Sunday, 29 May 2022

Demi Keluarga, Manfaatkan Keadaan untuk Bertahan

Saat banyak orang memilih pulang, ada beberapa orang yang pasrah dan memilih bertahan di perantauan. Rindu keluarga itu pasti. Yang bingung pekerjaan juga banyak. Tapi, pulang menjadi pantangan bagi sebagian orang.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tanpa ekspresi, Gufron menanti pelanggan yang hendak membeli es di outlet tempatnya bekerja. Sesekali, ekspresi datar itu ditutup masker ketika ada pelanggan datang. “Biar tak terpapar korona,” tegasnya. Ekspresi datar tersebut datang dari rasa lapar setelah berpuasa sepanjang hari.

Namun, ada alasan lain yang membuatnya tak bersemangat beberapa hari ini. Dia tak bisa pulang lantaran ada larangan mudik per tanggal 24 April 2020. Terlebih, kesepian menggerogoti hari-harinya.

Pertama, karena perkuliahan diliburkan. Kedua, lantaran pekerjaannya menerapkan sistem sif per minggu. Jadi, seminggu kerja, lalu seminggu libur.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Puasa kali ini beda dengan puasa tahun-tahun sebelumnya,” tutur pemuda yang memiliki nama M Gufron Burhanuddin tersebut. Bagaimana tidak, wabah korona membuat dia tak bisa bertegur sapa dengan keluarga di kampung halaman. Yakni, Pamekasan, Pulau Madura.

“Perkuliahan diliburkan dan banyak mahasiswa yang pulang,” ujar pemuda yang kerap disapa Gufron itu. Sementara itu, dia mengaku tak bisa pulang karena memiliki kontrak kerja dengan salah satu pengusaha minuman di sekitar kampus.

“Meski hanya bekerja dua minggu dalam sebulan, saya bersyukur,” ungkapnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tanpa ekspresi, Gufron menanti pelanggan yang hendak membeli es di outlet tempatnya bekerja. Sesekali, ekspresi datar itu ditutup masker ketika ada pelanggan datang. “Biar tak terpapar korona,” tegasnya. Ekspresi datar tersebut datang dari rasa lapar setelah berpuasa sepanjang hari.

Namun, ada alasan lain yang membuatnya tak bersemangat beberapa hari ini. Dia tak bisa pulang lantaran ada larangan mudik per tanggal 24 April 2020. Terlebih, kesepian menggerogoti hari-harinya.

Pertama, karena perkuliahan diliburkan. Kedua, lantaran pekerjaannya menerapkan sistem sif per minggu. Jadi, seminggu kerja, lalu seminggu libur.

“Puasa kali ini beda dengan puasa tahun-tahun sebelumnya,” tutur pemuda yang memiliki nama M Gufron Burhanuddin tersebut. Bagaimana tidak, wabah korona membuat dia tak bisa bertegur sapa dengan keluarga di kampung halaman. Yakni, Pamekasan, Pulau Madura.

“Perkuliahan diliburkan dan banyak mahasiswa yang pulang,” ujar pemuda yang kerap disapa Gufron itu. Sementara itu, dia mengaku tak bisa pulang karena memiliki kontrak kerja dengan salah satu pengusaha minuman di sekitar kampus.

“Meski hanya bekerja dua minggu dalam sebulan, saya bersyukur,” ungkapnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tanpa ekspresi, Gufron menanti pelanggan yang hendak membeli es di outlet tempatnya bekerja. Sesekali, ekspresi datar itu ditutup masker ketika ada pelanggan datang. “Biar tak terpapar korona,” tegasnya. Ekspresi datar tersebut datang dari rasa lapar setelah berpuasa sepanjang hari.

Namun, ada alasan lain yang membuatnya tak bersemangat beberapa hari ini. Dia tak bisa pulang lantaran ada larangan mudik per tanggal 24 April 2020. Terlebih, kesepian menggerogoti hari-harinya.

Pertama, karena perkuliahan diliburkan. Kedua, lantaran pekerjaannya menerapkan sistem sif per minggu. Jadi, seminggu kerja, lalu seminggu libur.

“Puasa kali ini beda dengan puasa tahun-tahun sebelumnya,” tutur pemuda yang memiliki nama M Gufron Burhanuddin tersebut. Bagaimana tidak, wabah korona membuat dia tak bisa bertegur sapa dengan keluarga di kampung halaman. Yakni, Pamekasan, Pulau Madura.

“Perkuliahan diliburkan dan banyak mahasiswa yang pulang,” ujar pemuda yang kerap disapa Gufron itu. Sementara itu, dia mengaku tak bisa pulang karena memiliki kontrak kerja dengan salah satu pengusaha minuman di sekitar kampus.

“Meski hanya bekerja dua minggu dalam sebulan, saya bersyukur,” ungkapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/