alexametrics
23.5 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Bermodal Yakin meski Besar Pasak daripada Tiang

Sopir menjadi salah satu pekerjaan yang paling terdampak wabah korona. Pemasukan mereka anjlok. Bahkan, karena tak ada penghasilan mereka harus banting setir agar kehidupannya tetap bisa berjalan. Seperti apa perjuangan mereka?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sejumlah bus tertata rapi di garasi bus sekitar Terminal Tawang Alun Jember. Tak jauh dari lokasi, datang sebuah bus PO Borobudur dari arah barat. Biasanya, bus masuk ke terminal dulu sebagai tujuan akhir dari Jember. Namun, kali ini tidak. Bus kelas ekonomi yang dikemudikan seorang sopir berperawakan tinggi dan kekar itu langsung menuju garasi yang terletak dekat area persawahan, atau sebelah sisi timur Terminal Tawang Alun.

Rupanya, bus tersebut sama sekali tak membawa penumpang. Saat dilihat dari balik kaca, tampak seseorang yang tak lain sopir bus. Dia tengah mengelap keringat di dahinya. Kemudian, menurunkam masker yang menempel di mukanya.

Usai memarkir bus, sang sopir itu belum juga turun. Ia tampak gelisah. Bisa jadi, karena pendapatan hari ini kecil, sehingga tak bisa mencukupi kebutuhan hariannya. Padahal, waktu menunjukkan pukul 14.00. Beberapa lama diamati, pria itu hanya mengelap keringatnya, meski mulai mengering.

Mobile_AP_Rectangle 2

Jawa Pos Radar Jember berupaya menemui sopir tersebut. Ia kelihatan begitu letih. Seolah ada beban pikiran. Setelah bercerita, ia mengaku baru saja menurunkan penumpang terakhirnya di sekitar Wonorejo Lumajang, lalu kembali lagi ke Jember karena sudah tidak ada lagi penumpang yang akan diangkutnya ke Surabaya.

Lelaki bernama Sampurno itu merupakan warga asal Jatiroto, Lumajang. Sehari-hari, ia terbiasa menjadi sopir bus PO Borobudur. Namun, sejak kondisi sulit akibat wabah Covid-19 ini, keberuntungan tak lagi berpihak kepada bapak tiga anak tersebut. “Bagaimana lagi, biasanya bulan puasa ini momennya orang pulang kampung. Sekarang dihantam seperti ini,” keluhnya, membuka pembicaraan dengan Jawa Pos Radar Jember.

Setiap hari, pria yang sudah belasan tahun menjadi sopir itu terbiasa mengemudikan bus dengan trayek Jember-Surabaya. Biasanya, ia berangkat pukul 10.15 dan tiba di Surabaya pukul 17.15. Namun, kemarin tidak, dia justru pulang lebih awal dan sampai di garasi sekitar pukul 14.00.

Bukan tanpa alasan, kepulangannya lebih awal itu karena penumpang sangat sepi. Saat berangkat saja, Sampurno hanya mendapatkan dua penumpang. Itu pun masing-masing tujuannya ke Lumajang. Karena itu, saat keduanya sudah sampai di Kecamatan Wonorejo, Lumajang, tanpa pikir panjang Sampurnao putar arah dan kembali lagi ke Jember.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sejumlah bus tertata rapi di garasi bus sekitar Terminal Tawang Alun Jember. Tak jauh dari lokasi, datang sebuah bus PO Borobudur dari arah barat. Biasanya, bus masuk ke terminal dulu sebagai tujuan akhir dari Jember. Namun, kali ini tidak. Bus kelas ekonomi yang dikemudikan seorang sopir berperawakan tinggi dan kekar itu langsung menuju garasi yang terletak dekat area persawahan, atau sebelah sisi timur Terminal Tawang Alun.

Rupanya, bus tersebut sama sekali tak membawa penumpang. Saat dilihat dari balik kaca, tampak seseorang yang tak lain sopir bus. Dia tengah mengelap keringat di dahinya. Kemudian, menurunkam masker yang menempel di mukanya.

Usai memarkir bus, sang sopir itu belum juga turun. Ia tampak gelisah. Bisa jadi, karena pendapatan hari ini kecil, sehingga tak bisa mencukupi kebutuhan hariannya. Padahal, waktu menunjukkan pukul 14.00. Beberapa lama diamati, pria itu hanya mengelap keringatnya, meski mulai mengering.

Jawa Pos Radar Jember berupaya menemui sopir tersebut. Ia kelihatan begitu letih. Seolah ada beban pikiran. Setelah bercerita, ia mengaku baru saja menurunkan penumpang terakhirnya di sekitar Wonorejo Lumajang, lalu kembali lagi ke Jember karena sudah tidak ada lagi penumpang yang akan diangkutnya ke Surabaya.

Lelaki bernama Sampurno itu merupakan warga asal Jatiroto, Lumajang. Sehari-hari, ia terbiasa menjadi sopir bus PO Borobudur. Namun, sejak kondisi sulit akibat wabah Covid-19 ini, keberuntungan tak lagi berpihak kepada bapak tiga anak tersebut. “Bagaimana lagi, biasanya bulan puasa ini momennya orang pulang kampung. Sekarang dihantam seperti ini,” keluhnya, membuka pembicaraan dengan Jawa Pos Radar Jember.

Setiap hari, pria yang sudah belasan tahun menjadi sopir itu terbiasa mengemudikan bus dengan trayek Jember-Surabaya. Biasanya, ia berangkat pukul 10.15 dan tiba di Surabaya pukul 17.15. Namun, kemarin tidak, dia justru pulang lebih awal dan sampai di garasi sekitar pukul 14.00.

Bukan tanpa alasan, kepulangannya lebih awal itu karena penumpang sangat sepi. Saat berangkat saja, Sampurno hanya mendapatkan dua penumpang. Itu pun masing-masing tujuannya ke Lumajang. Karena itu, saat keduanya sudah sampai di Kecamatan Wonorejo, Lumajang, tanpa pikir panjang Sampurnao putar arah dan kembali lagi ke Jember.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sejumlah bus tertata rapi di garasi bus sekitar Terminal Tawang Alun Jember. Tak jauh dari lokasi, datang sebuah bus PO Borobudur dari arah barat. Biasanya, bus masuk ke terminal dulu sebagai tujuan akhir dari Jember. Namun, kali ini tidak. Bus kelas ekonomi yang dikemudikan seorang sopir berperawakan tinggi dan kekar itu langsung menuju garasi yang terletak dekat area persawahan, atau sebelah sisi timur Terminal Tawang Alun.

Rupanya, bus tersebut sama sekali tak membawa penumpang. Saat dilihat dari balik kaca, tampak seseorang yang tak lain sopir bus. Dia tengah mengelap keringat di dahinya. Kemudian, menurunkam masker yang menempel di mukanya.

Usai memarkir bus, sang sopir itu belum juga turun. Ia tampak gelisah. Bisa jadi, karena pendapatan hari ini kecil, sehingga tak bisa mencukupi kebutuhan hariannya. Padahal, waktu menunjukkan pukul 14.00. Beberapa lama diamati, pria itu hanya mengelap keringatnya, meski mulai mengering.

Jawa Pos Radar Jember berupaya menemui sopir tersebut. Ia kelihatan begitu letih. Seolah ada beban pikiran. Setelah bercerita, ia mengaku baru saja menurunkan penumpang terakhirnya di sekitar Wonorejo Lumajang, lalu kembali lagi ke Jember karena sudah tidak ada lagi penumpang yang akan diangkutnya ke Surabaya.

Lelaki bernama Sampurno itu merupakan warga asal Jatiroto, Lumajang. Sehari-hari, ia terbiasa menjadi sopir bus PO Borobudur. Namun, sejak kondisi sulit akibat wabah Covid-19 ini, keberuntungan tak lagi berpihak kepada bapak tiga anak tersebut. “Bagaimana lagi, biasanya bulan puasa ini momennya orang pulang kampung. Sekarang dihantam seperti ini,” keluhnya, membuka pembicaraan dengan Jawa Pos Radar Jember.

Setiap hari, pria yang sudah belasan tahun menjadi sopir itu terbiasa mengemudikan bus dengan trayek Jember-Surabaya. Biasanya, ia berangkat pukul 10.15 dan tiba di Surabaya pukul 17.15. Namun, kemarin tidak, dia justru pulang lebih awal dan sampai di garasi sekitar pukul 14.00.

Bukan tanpa alasan, kepulangannya lebih awal itu karena penumpang sangat sepi. Saat berangkat saja, Sampurno hanya mendapatkan dua penumpang. Itu pun masing-masing tujuannya ke Lumajang. Karena itu, saat keduanya sudah sampai di Kecamatan Wonorejo, Lumajang, tanpa pikir panjang Sampurnao putar arah dan kembali lagi ke Jember.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/