alexametrics
22.9 C
Jember
Sunday, 14 August 2022

Penjual Es Gelisah karena Harga Gula Melambung

Mobile_AP_Rectangle 1

PATRANG.RADARJEMBER.ID– Sudah jatuh tertimpa tangga. Itulah ungkapan yang menggambarkan nasib penjual es keliling di seputaran Alun-Alun Jember. Ketika Covid-19 menjadi ancaman hingga berdampak terhadap dagangan mereka, harga gula pasir juga semakin meroket.

Sejumlah penjual es mengaku terpukul imbas dari kenaikan harga gula pasir tersebut. Bahkan hari ini gula pasir di pasaran tembus Rp 18 ribu per Kg.

Dafa Satria (bukan nama sebenarnya) salah seorang penjual es cincau dan tiap hari mangkal di depan SD Baitul Amien, mengaku kelimpungan. Karena harga gula pasir kini tidak lagi bersahabat.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Setiap hari saya membutuhkan 1 Kg gula pasir untuk campuran bahan pembuatan es cincau ini. Kalau harga terus-terusan naik, mungkin saya memutuskan berhenti jualan es cincau,” kata warga Jalan Ciliwung, Kelurahan Jember Lor, Kecamatan Patrang ini.

Walau harga gula belum stabil, Dafa tidak berani memakai pemanis buatan. Karena, kata lulusan salah satu SMK Negeri di Jember itu, tidak ingin “meracuni pembeli”. Karena menurutnya pemanis buatan tidak bagus untuk kesehatan.

- Advertisement -

PATRANG.RADARJEMBER.ID– Sudah jatuh tertimpa tangga. Itulah ungkapan yang menggambarkan nasib penjual es keliling di seputaran Alun-Alun Jember. Ketika Covid-19 menjadi ancaman hingga berdampak terhadap dagangan mereka, harga gula pasir juga semakin meroket.

Sejumlah penjual es mengaku terpukul imbas dari kenaikan harga gula pasir tersebut. Bahkan hari ini gula pasir di pasaran tembus Rp 18 ribu per Kg.

Dafa Satria (bukan nama sebenarnya) salah seorang penjual es cincau dan tiap hari mangkal di depan SD Baitul Amien, mengaku kelimpungan. Karena harga gula pasir kini tidak lagi bersahabat.

“Setiap hari saya membutuhkan 1 Kg gula pasir untuk campuran bahan pembuatan es cincau ini. Kalau harga terus-terusan naik, mungkin saya memutuskan berhenti jualan es cincau,” kata warga Jalan Ciliwung, Kelurahan Jember Lor, Kecamatan Patrang ini.

Walau harga gula belum stabil, Dafa tidak berani memakai pemanis buatan. Karena, kata lulusan salah satu SMK Negeri di Jember itu, tidak ingin “meracuni pembeli”. Karena menurutnya pemanis buatan tidak bagus untuk kesehatan.

PATRANG.RADARJEMBER.ID– Sudah jatuh tertimpa tangga. Itulah ungkapan yang menggambarkan nasib penjual es keliling di seputaran Alun-Alun Jember. Ketika Covid-19 menjadi ancaman hingga berdampak terhadap dagangan mereka, harga gula pasir juga semakin meroket.

Sejumlah penjual es mengaku terpukul imbas dari kenaikan harga gula pasir tersebut. Bahkan hari ini gula pasir di pasaran tembus Rp 18 ribu per Kg.

Dafa Satria (bukan nama sebenarnya) salah seorang penjual es cincau dan tiap hari mangkal di depan SD Baitul Amien, mengaku kelimpungan. Karena harga gula pasir kini tidak lagi bersahabat.

“Setiap hari saya membutuhkan 1 Kg gula pasir untuk campuran bahan pembuatan es cincau ini. Kalau harga terus-terusan naik, mungkin saya memutuskan berhenti jualan es cincau,” kata warga Jalan Ciliwung, Kelurahan Jember Lor, Kecamatan Patrang ini.

Walau harga gula belum stabil, Dafa tidak berani memakai pemanis buatan. Karena, kata lulusan salah satu SMK Negeri di Jember itu, tidak ingin “meracuni pembeli”. Karena menurutnya pemanis buatan tidak bagus untuk kesehatan.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/