alexametrics
24 C
Jember
Monday, 8 August 2022

Idealnya Harus Ada Sekat

 Posko Karantina Covid-19 di JSG

Mobile_AP_Rectangle 1

Unggul, Jauh Permukiman Warga

 

Terpisah, Kepala Tim Medis Satgas Penanganan Covid-19 Letkol Ckm dr Maksum Pandelima SpOT menyatakan, Jember itu beruntung memiliki tempat seperti JSG. Terlebih, kata dia, posko karantina korona yang nanti untuk ODR dan ODP itu baru pertama di Indonesia. Bahkan, Malang dan Surabaya, yang sudah masuk kategori zona merah di Jawa Timur, tidak memiliki fasilitas seperti JSG.

Mobile_AP_Rectangle 2

Artinya, dia menegaskan, stadion di Malang dan Surabaya itu lokasinya di padat penduduk. Terlebih lagi, juga aktif sebagai home base klub, serta di sekitar juga ada kegiatan ekonomi seperti berdagang. Oleh karenanya, JSG itu dinilainya sangat cocok lantaran jauh dari permukiman penduduk, serta tidak ada kegiatan rutin olahraga dan ekonomi seperti stadion di kota-kota besar lainnya. “Sekitar JSG ini masih persawahan, jauh dari rumah penduduk. Ini sangat cocok. Selain jauh dari rumah warga, udara yang dihasilkan juga sejuk,” tambahnya.

Lantas, mengapa tidak memakai gedung milik pemkab, seperti eks Gedung BHS samping lapas atau GOR PKPSO? Alasan utama adalah gedung tersebut dekat permukiman warga. Sementara itu, kata dia, JSG ada nilai plusnya. “Selain jauh dari rumah penduduk dan udaranya sejuk, sinar matahari di JSG itu melimpah,” ungkapnya.

Jadi, kata dr Maksum, dalam penanganan virus korona, cahaya matahari juga menjadi bagian yang penting. Sebab, virus itu suka dengan daerah yang basah dan lembap. Dia kemudian mempertegas, pasien yang akan dirawat di posko karantina hanya ODR dan ODP. “Kalau pasien dalam pengawasan (PDP) bahkan yang positif, tempatnya bukan di sini, tapi di rumah sakit,” terangnya.

Tim Medis Satgas Penanganan Covid-19 Jember, dia menjelaskan, sangat paham bagaimana menghindari penularan penyakit antarpasien. “Kami tidak mungkin mengumpulkan orang sehat dengan orang sakit,” katanya. Sehingga, kata dia, kunci pertama siapa yang akan dirawat di JSG itu harus ada pengecekan. “Screening ini akan dilakukan ketat,” ujarnya.

Perihal tempat tidur memakai velbed dan tidak ada sekat layaknya rumah sakit, dr Maksum menyatakan, tidak ada masalah. Bahkan, menurut dia, justru lebih baik pakai velbed, karena untuk pembersihan serta meseterilkan dengan disinfektan jauh lebih mudah. Lagi pula, orang yang dirawat di JSG nantinya bukan yang positif dan PDP. “Di Natuna juga pakai velbed. Bahkan, memakai tenda yang berdiri di dalam hanggar,” jelasnya.

- Advertisement -

Unggul, Jauh Permukiman Warga

 

Terpisah, Kepala Tim Medis Satgas Penanganan Covid-19 Letkol Ckm dr Maksum Pandelima SpOT menyatakan, Jember itu beruntung memiliki tempat seperti JSG. Terlebih, kata dia, posko karantina korona yang nanti untuk ODR dan ODP itu baru pertama di Indonesia. Bahkan, Malang dan Surabaya, yang sudah masuk kategori zona merah di Jawa Timur, tidak memiliki fasilitas seperti JSG.

Artinya, dia menegaskan, stadion di Malang dan Surabaya itu lokasinya di padat penduduk. Terlebih lagi, juga aktif sebagai home base klub, serta di sekitar juga ada kegiatan ekonomi seperti berdagang. Oleh karenanya, JSG itu dinilainya sangat cocok lantaran jauh dari permukiman penduduk, serta tidak ada kegiatan rutin olahraga dan ekonomi seperti stadion di kota-kota besar lainnya. “Sekitar JSG ini masih persawahan, jauh dari rumah penduduk. Ini sangat cocok. Selain jauh dari rumah warga, udara yang dihasilkan juga sejuk,” tambahnya.

Lantas, mengapa tidak memakai gedung milik pemkab, seperti eks Gedung BHS samping lapas atau GOR PKPSO? Alasan utama adalah gedung tersebut dekat permukiman warga. Sementara itu, kata dia, JSG ada nilai plusnya. “Selain jauh dari rumah penduduk dan udaranya sejuk, sinar matahari di JSG itu melimpah,” ungkapnya.

Jadi, kata dr Maksum, dalam penanganan virus korona, cahaya matahari juga menjadi bagian yang penting. Sebab, virus itu suka dengan daerah yang basah dan lembap. Dia kemudian mempertegas, pasien yang akan dirawat di posko karantina hanya ODR dan ODP. “Kalau pasien dalam pengawasan (PDP) bahkan yang positif, tempatnya bukan di sini, tapi di rumah sakit,” terangnya.

Tim Medis Satgas Penanganan Covid-19 Jember, dia menjelaskan, sangat paham bagaimana menghindari penularan penyakit antarpasien. “Kami tidak mungkin mengumpulkan orang sehat dengan orang sakit,” katanya. Sehingga, kata dia, kunci pertama siapa yang akan dirawat di JSG itu harus ada pengecekan. “Screening ini akan dilakukan ketat,” ujarnya.

Perihal tempat tidur memakai velbed dan tidak ada sekat layaknya rumah sakit, dr Maksum menyatakan, tidak ada masalah. Bahkan, menurut dia, justru lebih baik pakai velbed, karena untuk pembersihan serta meseterilkan dengan disinfektan jauh lebih mudah. Lagi pula, orang yang dirawat di JSG nantinya bukan yang positif dan PDP. “Di Natuna juga pakai velbed. Bahkan, memakai tenda yang berdiri di dalam hanggar,” jelasnya.

Unggul, Jauh Permukiman Warga

 

Terpisah, Kepala Tim Medis Satgas Penanganan Covid-19 Letkol Ckm dr Maksum Pandelima SpOT menyatakan, Jember itu beruntung memiliki tempat seperti JSG. Terlebih, kata dia, posko karantina korona yang nanti untuk ODR dan ODP itu baru pertama di Indonesia. Bahkan, Malang dan Surabaya, yang sudah masuk kategori zona merah di Jawa Timur, tidak memiliki fasilitas seperti JSG.

Artinya, dia menegaskan, stadion di Malang dan Surabaya itu lokasinya di padat penduduk. Terlebih lagi, juga aktif sebagai home base klub, serta di sekitar juga ada kegiatan ekonomi seperti berdagang. Oleh karenanya, JSG itu dinilainya sangat cocok lantaran jauh dari permukiman penduduk, serta tidak ada kegiatan rutin olahraga dan ekonomi seperti stadion di kota-kota besar lainnya. “Sekitar JSG ini masih persawahan, jauh dari rumah penduduk. Ini sangat cocok. Selain jauh dari rumah warga, udara yang dihasilkan juga sejuk,” tambahnya.

Lantas, mengapa tidak memakai gedung milik pemkab, seperti eks Gedung BHS samping lapas atau GOR PKPSO? Alasan utama adalah gedung tersebut dekat permukiman warga. Sementara itu, kata dia, JSG ada nilai plusnya. “Selain jauh dari rumah penduduk dan udaranya sejuk, sinar matahari di JSG itu melimpah,” ungkapnya.

Jadi, kata dr Maksum, dalam penanganan virus korona, cahaya matahari juga menjadi bagian yang penting. Sebab, virus itu suka dengan daerah yang basah dan lembap. Dia kemudian mempertegas, pasien yang akan dirawat di posko karantina hanya ODR dan ODP. “Kalau pasien dalam pengawasan (PDP) bahkan yang positif, tempatnya bukan di sini, tapi di rumah sakit,” terangnya.

Tim Medis Satgas Penanganan Covid-19 Jember, dia menjelaskan, sangat paham bagaimana menghindari penularan penyakit antarpasien. “Kami tidak mungkin mengumpulkan orang sehat dengan orang sakit,” katanya. Sehingga, kata dia, kunci pertama siapa yang akan dirawat di JSG itu harus ada pengecekan. “Screening ini akan dilakukan ketat,” ujarnya.

Perihal tempat tidur memakai velbed dan tidak ada sekat layaknya rumah sakit, dr Maksum menyatakan, tidak ada masalah. Bahkan, menurut dia, justru lebih baik pakai velbed, karena untuk pembersihan serta meseterilkan dengan disinfektan jauh lebih mudah. Lagi pula, orang yang dirawat di JSG nantinya bukan yang positif dan PDP. “Di Natuna juga pakai velbed. Bahkan, memakai tenda yang berdiri di dalam hanggar,” jelasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/