alexametrics
23 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

Idealnya Harus Ada Sekat

 Posko Karantina Covid-19 di JSG

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Penggunaan Stadion Jember Spot Garden (JSG) yang difungsikan sebagai posko karantina korona menuai pro dan kontra. Ada yang menilai, fasilitas yang disediakan pemerintah kurang memadai. Bahkan, ada juga memperbincangkan dengan tempat tidur yang dipakai tidak seperti di rumah sakit, melainkan memakai velbed. Hingga antar-velbed tidak diberi penyekat seperti layaknya rumah sakit juga menjadi sasaran kritik.

Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Jember (FK Unej) dr Cholis Abrori menilai, adanya gedung pemerintahan seperti JSG yang diubah menjadi ruang karantina orang dalam risiko (ODR) dan orang dalam pemantauan (ODP) adalah langkah yang bagus. “Kita tidak tahu badai korona itu sebesar apa, secepat apa nantinya,” ujar dosen yang juga Ketua Tim Penanggulangan Corona Unej tersebut.

Karena wabah korona tak terprediksi, menurutnya, maka langkah cadangan seperti posko karantina di JSG itu adalah tindakan yang cukup bagus. Kendati begitu, dia masih belum bisa berbicara banyak terkait kelayakannya. Tapi yang jelas, dirinya meyakini kalau dinas kesehatan punya perhitungan dan pertimbangan tertentu mengapa JSG yang dipakai.

Mobile_AP_Rectangle 2

Hanya saja, dia menegaskan, yang tak kalah penting jika JSG itu benar-benar difungsikan sebagai ruang karantina ODP dan ODR korona, harus menerapkan pemisahan yang tepat, antara ODR dan OPD dengan petugas medis yang sebelumnya sehat. Dia juga berharap Dinkes terus melakukan evaluasi persiapan JSG yang dijadikan posko Covid-19, sekaligus menjadi ruang karantina tersebut.

Evaluasi tersebut tentu saja untuk perbaikan ke depan. Salah satunya membuat sekat. “Ada sekat jadi lebih baik,” tuturnya. Pemerintah memang sangat serius dalam menghadapi korona ini. Sebab, jika badai korona tidak segera diatasi dan dibatasi, Indonesia bisa jadi seperti Wuhan, Tiongkok, dan Italia.

Jika kejadian korona seperti di dua negara itu, kata dr Cholis, sumber daya Indonesia tidak bisa menyamai dua negara tersebut. “Sumber daya kita tidak bisa bangun rumah sakit secepat kilat. Maka gedung-gedung pemerintah dipakai dan itu sudah dilakukan sebagai rencana cadangan,” terangnya.

Selain itu, sumber daya dokter dan petugas medis lainnya juga tidak akan bisa merawat pasien korona jika kasusnya meledak di Indonesia. “Kalau tenaga medis tidak mencukupi, mereka bisa kelelahan dan akan bisa semakin kacau,” paparnya.

Dia pun berharap besar, masyarakat Indonesia mendukung kebijakan yang diambil pemerintah dalam penanganan korona. Terlebih, dr Cholis masih banyak menjumpai kerumunan orang di dalam kafe, serta kerumunan orang yang antre membeli makanan di sekitar kampus.

 

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Penggunaan Stadion Jember Spot Garden (JSG) yang difungsikan sebagai posko karantina korona menuai pro dan kontra. Ada yang menilai, fasilitas yang disediakan pemerintah kurang memadai. Bahkan, ada juga memperbincangkan dengan tempat tidur yang dipakai tidak seperti di rumah sakit, melainkan memakai velbed. Hingga antar-velbed tidak diberi penyekat seperti layaknya rumah sakit juga menjadi sasaran kritik.

Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Jember (FK Unej) dr Cholis Abrori menilai, adanya gedung pemerintahan seperti JSG yang diubah menjadi ruang karantina orang dalam risiko (ODR) dan orang dalam pemantauan (ODP) adalah langkah yang bagus. “Kita tidak tahu badai korona itu sebesar apa, secepat apa nantinya,” ujar dosen yang juga Ketua Tim Penanggulangan Corona Unej tersebut.

Karena wabah korona tak terprediksi, menurutnya, maka langkah cadangan seperti posko karantina di JSG itu adalah tindakan yang cukup bagus. Kendati begitu, dia masih belum bisa berbicara banyak terkait kelayakannya. Tapi yang jelas, dirinya meyakini kalau dinas kesehatan punya perhitungan dan pertimbangan tertentu mengapa JSG yang dipakai.

Hanya saja, dia menegaskan, yang tak kalah penting jika JSG itu benar-benar difungsikan sebagai ruang karantina ODP dan ODR korona, harus menerapkan pemisahan yang tepat, antara ODR dan OPD dengan petugas medis yang sebelumnya sehat. Dia juga berharap Dinkes terus melakukan evaluasi persiapan JSG yang dijadikan posko Covid-19, sekaligus menjadi ruang karantina tersebut.

Evaluasi tersebut tentu saja untuk perbaikan ke depan. Salah satunya membuat sekat. “Ada sekat jadi lebih baik,” tuturnya. Pemerintah memang sangat serius dalam menghadapi korona ini. Sebab, jika badai korona tidak segera diatasi dan dibatasi, Indonesia bisa jadi seperti Wuhan, Tiongkok, dan Italia.

Jika kejadian korona seperti di dua negara itu, kata dr Cholis, sumber daya Indonesia tidak bisa menyamai dua negara tersebut. “Sumber daya kita tidak bisa bangun rumah sakit secepat kilat. Maka gedung-gedung pemerintah dipakai dan itu sudah dilakukan sebagai rencana cadangan,” terangnya.

Selain itu, sumber daya dokter dan petugas medis lainnya juga tidak akan bisa merawat pasien korona jika kasusnya meledak di Indonesia. “Kalau tenaga medis tidak mencukupi, mereka bisa kelelahan dan akan bisa semakin kacau,” paparnya.

Dia pun berharap besar, masyarakat Indonesia mendukung kebijakan yang diambil pemerintah dalam penanganan korona. Terlebih, dr Cholis masih banyak menjumpai kerumunan orang di dalam kafe, serta kerumunan orang yang antre membeli makanan di sekitar kampus.

 

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Penggunaan Stadion Jember Spot Garden (JSG) yang difungsikan sebagai posko karantina korona menuai pro dan kontra. Ada yang menilai, fasilitas yang disediakan pemerintah kurang memadai. Bahkan, ada juga memperbincangkan dengan tempat tidur yang dipakai tidak seperti di rumah sakit, melainkan memakai velbed. Hingga antar-velbed tidak diberi penyekat seperti layaknya rumah sakit juga menjadi sasaran kritik.

Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Jember (FK Unej) dr Cholis Abrori menilai, adanya gedung pemerintahan seperti JSG yang diubah menjadi ruang karantina orang dalam risiko (ODR) dan orang dalam pemantauan (ODP) adalah langkah yang bagus. “Kita tidak tahu badai korona itu sebesar apa, secepat apa nantinya,” ujar dosen yang juga Ketua Tim Penanggulangan Corona Unej tersebut.

Karena wabah korona tak terprediksi, menurutnya, maka langkah cadangan seperti posko karantina di JSG itu adalah tindakan yang cukup bagus. Kendati begitu, dia masih belum bisa berbicara banyak terkait kelayakannya. Tapi yang jelas, dirinya meyakini kalau dinas kesehatan punya perhitungan dan pertimbangan tertentu mengapa JSG yang dipakai.

Hanya saja, dia menegaskan, yang tak kalah penting jika JSG itu benar-benar difungsikan sebagai ruang karantina ODP dan ODR korona, harus menerapkan pemisahan yang tepat, antara ODR dan OPD dengan petugas medis yang sebelumnya sehat. Dia juga berharap Dinkes terus melakukan evaluasi persiapan JSG yang dijadikan posko Covid-19, sekaligus menjadi ruang karantina tersebut.

Evaluasi tersebut tentu saja untuk perbaikan ke depan. Salah satunya membuat sekat. “Ada sekat jadi lebih baik,” tuturnya. Pemerintah memang sangat serius dalam menghadapi korona ini. Sebab, jika badai korona tidak segera diatasi dan dibatasi, Indonesia bisa jadi seperti Wuhan, Tiongkok, dan Italia.

Jika kejadian korona seperti di dua negara itu, kata dr Cholis, sumber daya Indonesia tidak bisa menyamai dua negara tersebut. “Sumber daya kita tidak bisa bangun rumah sakit secepat kilat. Maka gedung-gedung pemerintah dipakai dan itu sudah dilakukan sebagai rencana cadangan,” terangnya.

Selain itu, sumber daya dokter dan petugas medis lainnya juga tidak akan bisa merawat pasien korona jika kasusnya meledak di Indonesia. “Kalau tenaga medis tidak mencukupi, mereka bisa kelelahan dan akan bisa semakin kacau,” paparnya.

Dia pun berharap besar, masyarakat Indonesia mendukung kebijakan yang diambil pemerintah dalam penanganan korona. Terlebih, dr Cholis masih banyak menjumpai kerumunan orang di dalam kafe, serta kerumunan orang yang antre membeli makanan di sekitar kampus.

 

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/