alexametrics
26.6 C
Jember
Sunday, 29 May 2022

37 Siswa SMPN 10 Jember Diperiksa Dugaan Peredaran Okerbaya

Polisi Juga Mengamankan 72 Butir Okerbaya Berlogo Y dari Siswa SMPN 10 Jember

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Peredaran obat keras berbahaya (okerbaya) sudah memasuki lingkup pendidikan. Khususnya di tingkat sekolah menengah. Hal ini menyusul munculnya dugaan peredaran okerbaya jenis pil berlogo Y di lingkungan SMPN 10 Jember. Imbasnya, 37 siswa yang masih duduk di bangku kelas VIII dan IX dimintai keterangan oleh petugas Polsek Patrang.

Hal ini berawal dari kecurigaan salah seorang guru terhadap satu siswa yang terus hadir dalam semua sesi pembelajaran tatap muka (PTM) yang digelar di sekolah. Padahal tiap siswa hanya dijadwalkan masuk pada satu sesi tertentu saja.

Dugaan ini diungkapkan oleh Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Jember Nur Hamid ketika dikonfirmasi Jawa Pos Radar Jember. “Kalau masuk sekolah itu ada sifnya. Ini dia masuk terus. Mencurigakan,” ujarnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Usut punya usut, diketahui pelajar ini tengah berupaya mengedarkan okerbaya ke teman-temannya. Setelah ditelusuri lebih lanjut, didapati fakta bahwa siswa tersebut mendapatkan okerbaya tersebut dari kakaknya. Langsung saja siswa tersebut bersama puluhan siswa SMPN 10 Jember lainnya dibawa ke Mapolsek Patrang Jember, Selasa (25/1) lalu.

Nur Hamid menegaskan, meski telah menjalani pemeriksaan, para siswa SMPN 10 Jember tersebut yang telah di-tracking oleh petugas kepolisian dan sekolah tidak menjalani tes urine. Kecuali satu siswa yang diduga mengedarkan okerbaya tersebut. Sebab, menurut dia, semuanya masih dikategorikan sebagai anak.

“Tidak ada tes urine karena masih anak-anak. Sebatas anak-anak itu. Kecuali satu yang bertindak sebagai pengedar okerbaya. Dan kakaknya yang sekarang ditahan di kantor polisi itu sanksinya berbeda,” terangnya.

Pihaknya menegaskan bahwa para siswa SMPN 10 Jember yang diperiksa itu belum sampai pada tahap mengonsumsi. Sebab, pihak guru terlebih dahulu mengetahui transaksi dan rencana peredaran okerbaya itu. Namun, ada satu siswa yang terindikasi pernah memakai okerbaya. Karena itu, nantinya akan ada sanksi yang berbeda dari pihak sekolah.

Meski demikian, Nur Hamid tidak menyebut secara detail hukuman atau punishment jenis apa yang diberikan pada siswa tersebut. “Secara keseluruhan, penanganan itu diserahkan kepada orang tua masing-masing. Yang satu berbeda hukumannya dengan yang lain. Sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan oleh sekolah,” imbuhnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Peredaran obat keras berbahaya (okerbaya) sudah memasuki lingkup pendidikan. Khususnya di tingkat sekolah menengah. Hal ini menyusul munculnya dugaan peredaran okerbaya jenis pil berlogo Y di lingkungan SMPN 10 Jember. Imbasnya, 37 siswa yang masih duduk di bangku kelas VIII dan IX dimintai keterangan oleh petugas Polsek Patrang.

Hal ini berawal dari kecurigaan salah seorang guru terhadap satu siswa yang terus hadir dalam semua sesi pembelajaran tatap muka (PTM) yang digelar di sekolah. Padahal tiap siswa hanya dijadwalkan masuk pada satu sesi tertentu saja.

Dugaan ini diungkapkan oleh Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Jember Nur Hamid ketika dikonfirmasi Jawa Pos Radar Jember. “Kalau masuk sekolah itu ada sifnya. Ini dia masuk terus. Mencurigakan,” ujarnya.

Usut punya usut, diketahui pelajar ini tengah berupaya mengedarkan okerbaya ke teman-temannya. Setelah ditelusuri lebih lanjut, didapati fakta bahwa siswa tersebut mendapatkan okerbaya tersebut dari kakaknya. Langsung saja siswa tersebut bersama puluhan siswa SMPN 10 Jember lainnya dibawa ke Mapolsek Patrang Jember, Selasa (25/1) lalu.

Nur Hamid menegaskan, meski telah menjalani pemeriksaan, para siswa SMPN 10 Jember tersebut yang telah di-tracking oleh petugas kepolisian dan sekolah tidak menjalani tes urine. Kecuali satu siswa yang diduga mengedarkan okerbaya tersebut. Sebab, menurut dia, semuanya masih dikategorikan sebagai anak.

“Tidak ada tes urine karena masih anak-anak. Sebatas anak-anak itu. Kecuali satu yang bertindak sebagai pengedar okerbaya. Dan kakaknya yang sekarang ditahan di kantor polisi itu sanksinya berbeda,” terangnya.

Pihaknya menegaskan bahwa para siswa SMPN 10 Jember yang diperiksa itu belum sampai pada tahap mengonsumsi. Sebab, pihak guru terlebih dahulu mengetahui transaksi dan rencana peredaran okerbaya itu. Namun, ada satu siswa yang terindikasi pernah memakai okerbaya. Karena itu, nantinya akan ada sanksi yang berbeda dari pihak sekolah.

Meski demikian, Nur Hamid tidak menyebut secara detail hukuman atau punishment jenis apa yang diberikan pada siswa tersebut. “Secara keseluruhan, penanganan itu diserahkan kepada orang tua masing-masing. Yang satu berbeda hukumannya dengan yang lain. Sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan oleh sekolah,” imbuhnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Peredaran obat keras berbahaya (okerbaya) sudah memasuki lingkup pendidikan. Khususnya di tingkat sekolah menengah. Hal ini menyusul munculnya dugaan peredaran okerbaya jenis pil berlogo Y di lingkungan SMPN 10 Jember. Imbasnya, 37 siswa yang masih duduk di bangku kelas VIII dan IX dimintai keterangan oleh petugas Polsek Patrang.

Hal ini berawal dari kecurigaan salah seorang guru terhadap satu siswa yang terus hadir dalam semua sesi pembelajaran tatap muka (PTM) yang digelar di sekolah. Padahal tiap siswa hanya dijadwalkan masuk pada satu sesi tertentu saja.

Dugaan ini diungkapkan oleh Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Jember Nur Hamid ketika dikonfirmasi Jawa Pos Radar Jember. “Kalau masuk sekolah itu ada sifnya. Ini dia masuk terus. Mencurigakan,” ujarnya.

Usut punya usut, diketahui pelajar ini tengah berupaya mengedarkan okerbaya ke teman-temannya. Setelah ditelusuri lebih lanjut, didapati fakta bahwa siswa tersebut mendapatkan okerbaya tersebut dari kakaknya. Langsung saja siswa tersebut bersama puluhan siswa SMPN 10 Jember lainnya dibawa ke Mapolsek Patrang Jember, Selasa (25/1) lalu.

Nur Hamid menegaskan, meski telah menjalani pemeriksaan, para siswa SMPN 10 Jember tersebut yang telah di-tracking oleh petugas kepolisian dan sekolah tidak menjalani tes urine. Kecuali satu siswa yang diduga mengedarkan okerbaya tersebut. Sebab, menurut dia, semuanya masih dikategorikan sebagai anak.

“Tidak ada tes urine karena masih anak-anak. Sebatas anak-anak itu. Kecuali satu yang bertindak sebagai pengedar okerbaya. Dan kakaknya yang sekarang ditahan di kantor polisi itu sanksinya berbeda,” terangnya.

Pihaknya menegaskan bahwa para siswa SMPN 10 Jember yang diperiksa itu belum sampai pada tahap mengonsumsi. Sebab, pihak guru terlebih dahulu mengetahui transaksi dan rencana peredaran okerbaya itu. Namun, ada satu siswa yang terindikasi pernah memakai okerbaya. Karena itu, nantinya akan ada sanksi yang berbeda dari pihak sekolah.

Meski demikian, Nur Hamid tidak menyebut secara detail hukuman atau punishment jenis apa yang diberikan pada siswa tersebut. “Secara keseluruhan, penanganan itu diserahkan kepada orang tua masing-masing. Yang satu berbeda hukumannya dengan yang lain. Sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan oleh sekolah,” imbuhnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/