alexametrics
24 C
Jember
Saturday, 13 August 2022

Berjaya di Masanya, Kini Sepuluh Hari Mangkal Tak Dapat Penumpang

Ojek seolah telah jadi bagian hidup Karmu. Sejak motor jadi barang langka hingga membeludak seperti sekarang ini, Karmu tetap setia menekuni profesinya. Bahkan ketika rekan-rekannya sudah berhenti akibat serbuan ojek daring.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Keberadaan kendaraan di daerah kampus tidak perlu diragukan lagi. Beragam jenis mobil bertebaran, motor pun begitu. Transportasi umum pun ada. Ada angkutan kota atau disebut lin, becak, hingga ojek daring (online).

Walau daerah kampus telah ramai kendaraan dan pilihan sarana transportasi umum, tapi ojek pangkalan masih saja bertahan. Mereka biasanya mangkal di bundaran DPRD. Sekilas, tempat ojek pangkalan itu tidak seperti pada umumnya. Selain ukurannya yang mini, tulisan yang menandakan bahwa tempat itu adalah pangkalan ojek juga sudah kabur karena berkarat. Karenanya, jika dilihat sekilas, lokasi itu lebih seperti tempat berteduh.

Beratapkan asbes, pangkalan itu berukuran cukup kecil sekitar 2×1 meter. Tak banyak motor yang terparkir di sana. Beberapa waktu lalu hanya terlihat dua motor dan satu becak. Sementara itu, di sebelahnya tampak seorang pria paruh baya yang duduk bersila.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Sekarang ini, tukang ojek yang mangkal cuma saya,” kata Karmu, lelaki bersila itu, kepada Jawa Pos Radar Jember. Dia pun menunjukkan motor Yamaha RX 100 keluaran 1980-an. Kendaraan butut inilah yang dipakainya mencari nafkah.

“Kalau motor bebek Honda Prima ini milik tukang kunci, bukan ojek,” jelasnya, sembari menunjuk kendaraan yang berada di sebelahnya. Mengenakan topi dan rompi biru tua, pandangan Karmu terlihat tidak fokus. Sesekali dia menatap padatnya lalu-lalang kendaraan di Bundaran DPRD. Dia juga mengamati setiap orang yang melintas. Siapa tahu, salah seorang di antara mereka membutuhkan jasanya.

Karmu termasuk orang pertama sejak pangkalan ojek itu berdiri pada 1995 lalu. Bahkan, bisa jadi, pria kelahiran 1952 ini juga menjadi tukang ojek bundaran DPRD yang terakhir. Sebab, dari puluhan tukang ojek pangkalan, kini hanya tersisa dua orang. “Hanya sisa dua orang saja. Saya dengan kemenakan, namanya Nili, panggilannya Pak Amir,” tuturnya.

Meski ada dua orang, tapi yang rutin nongkrong di pangkalan ojek adalah Karmu. Sejak bujang sekitar 1980-an hingga jadi kakek seperti saat ini, pekerjaannya tetap sama. Tak pernah berganti. Yakni sebagai tukang ojek. “Awalnya dulu ojek di Gladak Kembar, tapi waktu itu tidak punya motor, setiap hari harus setoran,” kisahnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Keberadaan kendaraan di daerah kampus tidak perlu diragukan lagi. Beragam jenis mobil bertebaran, motor pun begitu. Transportasi umum pun ada. Ada angkutan kota atau disebut lin, becak, hingga ojek daring (online).

Walau daerah kampus telah ramai kendaraan dan pilihan sarana transportasi umum, tapi ojek pangkalan masih saja bertahan. Mereka biasanya mangkal di bundaran DPRD. Sekilas, tempat ojek pangkalan itu tidak seperti pada umumnya. Selain ukurannya yang mini, tulisan yang menandakan bahwa tempat itu adalah pangkalan ojek juga sudah kabur karena berkarat. Karenanya, jika dilihat sekilas, lokasi itu lebih seperti tempat berteduh.

Beratapkan asbes, pangkalan itu berukuran cukup kecil sekitar 2×1 meter. Tak banyak motor yang terparkir di sana. Beberapa waktu lalu hanya terlihat dua motor dan satu becak. Sementara itu, di sebelahnya tampak seorang pria paruh baya yang duduk bersila.

“Sekarang ini, tukang ojek yang mangkal cuma saya,” kata Karmu, lelaki bersila itu, kepada Jawa Pos Radar Jember. Dia pun menunjukkan motor Yamaha RX 100 keluaran 1980-an. Kendaraan butut inilah yang dipakainya mencari nafkah.

“Kalau motor bebek Honda Prima ini milik tukang kunci, bukan ojek,” jelasnya, sembari menunjuk kendaraan yang berada di sebelahnya. Mengenakan topi dan rompi biru tua, pandangan Karmu terlihat tidak fokus. Sesekali dia menatap padatnya lalu-lalang kendaraan di Bundaran DPRD. Dia juga mengamati setiap orang yang melintas. Siapa tahu, salah seorang di antara mereka membutuhkan jasanya.

Karmu termasuk orang pertama sejak pangkalan ojek itu berdiri pada 1995 lalu. Bahkan, bisa jadi, pria kelahiran 1952 ini juga menjadi tukang ojek bundaran DPRD yang terakhir. Sebab, dari puluhan tukang ojek pangkalan, kini hanya tersisa dua orang. “Hanya sisa dua orang saja. Saya dengan kemenakan, namanya Nili, panggilannya Pak Amir,” tuturnya.

Meski ada dua orang, tapi yang rutin nongkrong di pangkalan ojek adalah Karmu. Sejak bujang sekitar 1980-an hingga jadi kakek seperti saat ini, pekerjaannya tetap sama. Tak pernah berganti. Yakni sebagai tukang ojek. “Awalnya dulu ojek di Gladak Kembar, tapi waktu itu tidak punya motor, setiap hari harus setoran,” kisahnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Keberadaan kendaraan di daerah kampus tidak perlu diragukan lagi. Beragam jenis mobil bertebaran, motor pun begitu. Transportasi umum pun ada. Ada angkutan kota atau disebut lin, becak, hingga ojek daring (online).

Walau daerah kampus telah ramai kendaraan dan pilihan sarana transportasi umum, tapi ojek pangkalan masih saja bertahan. Mereka biasanya mangkal di bundaran DPRD. Sekilas, tempat ojek pangkalan itu tidak seperti pada umumnya. Selain ukurannya yang mini, tulisan yang menandakan bahwa tempat itu adalah pangkalan ojek juga sudah kabur karena berkarat. Karenanya, jika dilihat sekilas, lokasi itu lebih seperti tempat berteduh.

Beratapkan asbes, pangkalan itu berukuran cukup kecil sekitar 2×1 meter. Tak banyak motor yang terparkir di sana. Beberapa waktu lalu hanya terlihat dua motor dan satu becak. Sementara itu, di sebelahnya tampak seorang pria paruh baya yang duduk bersila.

“Sekarang ini, tukang ojek yang mangkal cuma saya,” kata Karmu, lelaki bersila itu, kepada Jawa Pos Radar Jember. Dia pun menunjukkan motor Yamaha RX 100 keluaran 1980-an. Kendaraan butut inilah yang dipakainya mencari nafkah.

“Kalau motor bebek Honda Prima ini milik tukang kunci, bukan ojek,” jelasnya, sembari menunjuk kendaraan yang berada di sebelahnya. Mengenakan topi dan rompi biru tua, pandangan Karmu terlihat tidak fokus. Sesekali dia menatap padatnya lalu-lalang kendaraan di Bundaran DPRD. Dia juga mengamati setiap orang yang melintas. Siapa tahu, salah seorang di antara mereka membutuhkan jasanya.

Karmu termasuk orang pertama sejak pangkalan ojek itu berdiri pada 1995 lalu. Bahkan, bisa jadi, pria kelahiran 1952 ini juga menjadi tukang ojek bundaran DPRD yang terakhir. Sebab, dari puluhan tukang ojek pangkalan, kini hanya tersisa dua orang. “Hanya sisa dua orang saja. Saya dengan kemenakan, namanya Nili, panggilannya Pak Amir,” tuturnya.

Meski ada dua orang, tapi yang rutin nongkrong di pangkalan ojek adalah Karmu. Sejak bujang sekitar 1980-an hingga jadi kakek seperti saat ini, pekerjaannya tetap sama. Tak pernah berganti. Yakni sebagai tukang ojek. “Awalnya dulu ojek di Gladak Kembar, tapi waktu itu tidak punya motor, setiap hari harus setoran,” kisahnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/