alexametrics
22.7 C
Jember
Sunday, 14 August 2022

Ada Anak Pasangan Mahasiswa hingga Bayi dari Ibu yang Dipenjara

Yayasan Panti Asuhan Mambaul Ulum sudah puluhan tahun keberadaannya. Panti asuhan yang menampung anak-anak yatim ini lambat laun juga sedikit bergeser tidak lagi merawat anak yatim. Tapi, mau tidak mau mereka juga merawat bayi yang dibuang oleh orang tuanya.

Mobile_AP_Rectangle 1

Yazid mengaku, pernah ada kejadian orang yang ingin mengambil anak yang dititipkan di panti asuhan Mambaul Ulum. “Jadi, awalnya ada nenek menyerahkan balita ke kami, karena tidak ada biaya lagi,” ungkapnya. Namun, pada suatu ketika ada ibu-ibu datang dari Bali meminta balita tersebut karena itu adalah anaknya. Tak hanya itu, juga ada orang yang mengaku pamannya dan budenya. “Ibu dari Bali itu memang benar ibu kandungnya. Tapi sejak bayi, tidak dirawat dan diserahkan ke neneknya,” tambahnya.

Anak yang baru-baru ini dirawat oleh panti asuhan adalah balita yang dipisahkan dari ibunya karena ada persoalan hukum. Oleh polisi, yayasan ini dipasrahi untuk merawat bayi tersebut. Sejak yayasan itu berdiri, sebetulnya tidak ada tujuan dan berpikir akan menampung bayi-bayi yang dibuang oleh orang tuanya. “Sebenarnya ya terpaksa. Mau tidak mau ya harus mau. Secara kesiapan ya tidak siap, karena menampung bayi itu harus ada sarana dan prasarana untuk tumbuh kembang bayi, termasuk juga petugas medisnya. Sementara, kami tidak punya seperti itu semua,” jelasnya.

Dia mengaku, Yayasan Mambaul Ulum awalnya adalah pondok pesantren pada umumnya yang berdiri sejak 1925. “Jadi, saya ini generasi ketiga. Pertama itu Kiai Habibullah Musa, generasi kedua Kiai Muh Samsul Arifin, dan generasi ketiga saya sendiri,” terang pria 54 tahun ini.

Mobile_AP_Rectangle 2

Lantaran santrinya mulai banyak anak-anak yatim, maka pada 1965 pihaknya mulai mendaftarkan sebagai panti asuhan. “Tahun 1990 pendaftaran resmi ke notaris,” jelasnya. Kini total ada 100 anak yatim maupun anak telantar yang dirawatnya.

Lantas, bagaimana bisa bertahan puluhan tahun merawat anak yatim. Kuncinya harus sayang binatang dan bisa merawatnya. Di lingkungan Mambaul Ulum memang banyak kucing sebagai hewan peliharaan. “Merawat kucing itu tidak ada untungnya, dagingnya tidak bisa dimakan, tidak bisa dijual. Kucing ya sukanya makan, tidur. Belum lagi membersihkan kotorannya dan baunya gak kalah dengan manusia,” paparnya.

Hanya saja, kata dia, jika bisa merawat kucing dengan baik dan hewan mengeong itu betah, maka Yazid meyakini orang itu bisa merawat anak yatim. “Makanya konsep santri di ponpes dan anak yatim ini beda. Kalau merawat anak-anak ini, saya seperti orang tua mereka. Juga bercanda dan lainnya,” tambahnya.

Selama merawat anak yatim termasuk anak-anak yang dibuang oleh orang tuanya, dia tidak pernah menutupi latar belakang mereka. “Saya ajarkan dari kecil nama ayahnya dan ibunya siapa. Kalau saya itu abahnya dan istri saya uminya,” pungkasnya.

- Advertisement -

Yazid mengaku, pernah ada kejadian orang yang ingin mengambil anak yang dititipkan di panti asuhan Mambaul Ulum. “Jadi, awalnya ada nenek menyerahkan balita ke kami, karena tidak ada biaya lagi,” ungkapnya. Namun, pada suatu ketika ada ibu-ibu datang dari Bali meminta balita tersebut karena itu adalah anaknya. Tak hanya itu, juga ada orang yang mengaku pamannya dan budenya. “Ibu dari Bali itu memang benar ibu kandungnya. Tapi sejak bayi, tidak dirawat dan diserahkan ke neneknya,” tambahnya.

Anak yang baru-baru ini dirawat oleh panti asuhan adalah balita yang dipisahkan dari ibunya karena ada persoalan hukum. Oleh polisi, yayasan ini dipasrahi untuk merawat bayi tersebut. Sejak yayasan itu berdiri, sebetulnya tidak ada tujuan dan berpikir akan menampung bayi-bayi yang dibuang oleh orang tuanya. “Sebenarnya ya terpaksa. Mau tidak mau ya harus mau. Secara kesiapan ya tidak siap, karena menampung bayi itu harus ada sarana dan prasarana untuk tumbuh kembang bayi, termasuk juga petugas medisnya. Sementara, kami tidak punya seperti itu semua,” jelasnya.

Dia mengaku, Yayasan Mambaul Ulum awalnya adalah pondok pesantren pada umumnya yang berdiri sejak 1925. “Jadi, saya ini generasi ketiga. Pertama itu Kiai Habibullah Musa, generasi kedua Kiai Muh Samsul Arifin, dan generasi ketiga saya sendiri,” terang pria 54 tahun ini.

Lantaran santrinya mulai banyak anak-anak yatim, maka pada 1965 pihaknya mulai mendaftarkan sebagai panti asuhan. “Tahun 1990 pendaftaran resmi ke notaris,” jelasnya. Kini total ada 100 anak yatim maupun anak telantar yang dirawatnya.

Lantas, bagaimana bisa bertahan puluhan tahun merawat anak yatim. Kuncinya harus sayang binatang dan bisa merawatnya. Di lingkungan Mambaul Ulum memang banyak kucing sebagai hewan peliharaan. “Merawat kucing itu tidak ada untungnya, dagingnya tidak bisa dimakan, tidak bisa dijual. Kucing ya sukanya makan, tidur. Belum lagi membersihkan kotorannya dan baunya gak kalah dengan manusia,” paparnya.

Hanya saja, kata dia, jika bisa merawat kucing dengan baik dan hewan mengeong itu betah, maka Yazid meyakini orang itu bisa merawat anak yatim. “Makanya konsep santri di ponpes dan anak yatim ini beda. Kalau merawat anak-anak ini, saya seperti orang tua mereka. Juga bercanda dan lainnya,” tambahnya.

Selama merawat anak yatim termasuk anak-anak yang dibuang oleh orang tuanya, dia tidak pernah menutupi latar belakang mereka. “Saya ajarkan dari kecil nama ayahnya dan ibunya siapa. Kalau saya itu abahnya dan istri saya uminya,” pungkasnya.

Yazid mengaku, pernah ada kejadian orang yang ingin mengambil anak yang dititipkan di panti asuhan Mambaul Ulum. “Jadi, awalnya ada nenek menyerahkan balita ke kami, karena tidak ada biaya lagi,” ungkapnya. Namun, pada suatu ketika ada ibu-ibu datang dari Bali meminta balita tersebut karena itu adalah anaknya. Tak hanya itu, juga ada orang yang mengaku pamannya dan budenya. “Ibu dari Bali itu memang benar ibu kandungnya. Tapi sejak bayi, tidak dirawat dan diserahkan ke neneknya,” tambahnya.

Anak yang baru-baru ini dirawat oleh panti asuhan adalah balita yang dipisahkan dari ibunya karena ada persoalan hukum. Oleh polisi, yayasan ini dipasrahi untuk merawat bayi tersebut. Sejak yayasan itu berdiri, sebetulnya tidak ada tujuan dan berpikir akan menampung bayi-bayi yang dibuang oleh orang tuanya. “Sebenarnya ya terpaksa. Mau tidak mau ya harus mau. Secara kesiapan ya tidak siap, karena menampung bayi itu harus ada sarana dan prasarana untuk tumbuh kembang bayi, termasuk juga petugas medisnya. Sementara, kami tidak punya seperti itu semua,” jelasnya.

Dia mengaku, Yayasan Mambaul Ulum awalnya adalah pondok pesantren pada umumnya yang berdiri sejak 1925. “Jadi, saya ini generasi ketiga. Pertama itu Kiai Habibullah Musa, generasi kedua Kiai Muh Samsul Arifin, dan generasi ketiga saya sendiri,” terang pria 54 tahun ini.

Lantaran santrinya mulai banyak anak-anak yatim, maka pada 1965 pihaknya mulai mendaftarkan sebagai panti asuhan. “Tahun 1990 pendaftaran resmi ke notaris,” jelasnya. Kini total ada 100 anak yatim maupun anak telantar yang dirawatnya.

Lantas, bagaimana bisa bertahan puluhan tahun merawat anak yatim. Kuncinya harus sayang binatang dan bisa merawatnya. Di lingkungan Mambaul Ulum memang banyak kucing sebagai hewan peliharaan. “Merawat kucing itu tidak ada untungnya, dagingnya tidak bisa dimakan, tidak bisa dijual. Kucing ya sukanya makan, tidur. Belum lagi membersihkan kotorannya dan baunya gak kalah dengan manusia,” paparnya.

Hanya saja, kata dia, jika bisa merawat kucing dengan baik dan hewan mengeong itu betah, maka Yazid meyakini orang itu bisa merawat anak yatim. “Makanya konsep santri di ponpes dan anak yatim ini beda. Kalau merawat anak-anak ini, saya seperti orang tua mereka. Juga bercanda dan lainnya,” tambahnya.

Selama merawat anak yatim termasuk anak-anak yang dibuang oleh orang tuanya, dia tidak pernah menutupi latar belakang mereka. “Saya ajarkan dari kecil nama ayahnya dan ibunya siapa. Kalau saya itu abahnya dan istri saya uminya,” pungkasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/