alexametrics
27.8 C
Jember
Thursday, 30 June 2022

Ada Anak Pasangan Mahasiswa hingga Bayi dari Ibu yang Dipenjara

Yayasan Panti Asuhan Mambaul Ulum sudah puluhan tahun keberadaannya. Panti asuhan yang menampung anak-anak yatim ini lambat laun juga sedikit bergeser tidak lagi merawat anak yatim. Tapi, mau tidak mau mereka juga merawat bayi yang dibuang oleh orang tuanya.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Malam itu tahun 2015, tepatnya hari ke dua Idul Fitri, Yayasan Panti Asuhan Mambaul Ulum tak seperti biasanya. Tampak sepi dari aktivitas anak-anak yatim. Namun, suasana hening itu tiba-tiba dipecahkan suara tangisan anak yang terdengar lirih. Suara itu membuat H Muh Yazid Islamiyah, Pengasuh Yayasan Panti Asuhan Mambaul Ulum, beserta istrinya terbangun dari tempat tidurnya.

Saat keluar rumah, Yazid tampak bingung. Dia mendengar suara tangisan bayi itu bersumber dari masjid yayasan. Tanpa pikir panjang, Yazid langsung menuju rumah ibadah itu. Nyatanya, keranjang yang tergeletak di teras masjid berisi bayi lengkap dengan perlengkapannya. “Ada sabun, bedak, dan lainnya,” ungkap istri Yazid.

Cerita bayi yang dimasukkan ke kotak dan diletakkan di depan rumah ini bukan kisah sinetron di televisi, tapi nyata dan terjadi di yayasan yang berada di Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Sumbersari, tersebut. Yazid pun menyodorkan klipingan koran Jawa Pos Radar Jember terbitan 19 Juli 2015. “Ini beritanya ada di koran,” kata Yazid, kepada Jawa Pos Radar Jember.

Mobile_AP_Rectangle 2

Rupanya, tak hanya sekali itu saja Mambaul Ulum menerima dan merawat bayi yang dibuang oleh orang tuanya. Tapi sudah beberapa kali. Faktor yang melatarinya juga bermacam-macam. “Ada yang karena persoalan ekonomi, anaknya ditaruh di sini. Ada TKW, ada pula ibunya dipenjara, serta ada juga pasangan mahasiswa,” ungkapnya.

Yazid tak memungkiri ada pasangan dua sejoli yang masih berstatus kuliah menyerahkan bayinya. “Kedua orang tua yang masih mahasiswa itu dari luar Jawa dan juga beda agama,” paparnya. Karena takut dan lainnya, sehingga memilih bayinya untuk ditaruh di panti asuhan. “Karena di sini mau menerima anak dari pergaulan bebas, bukan berarti saya setuju pergaulan bebas. Tapi, kasihan bayi ini,” terangnya.

Yazid menjelaskan, sebenarnya tidak ada orang tua mana pun yang ingin membuang anaknya. Tapi karena ada sesuatu persoalan, malu dengan lingkungan, keluarga, hingga takut terhadap kedua orang tua, membuat ibu yang selama 9 bulan mengandung memilih membuang anaknya. Tak sekadar itu, orang tua yang membuang bayinya juga tidak tahu apakah itu menyalahi hukum atau tidak, juga kebingungan diserahkan ke siapa bayi tersebut.

Padahal, kata Yazid, jika bayi itu tidak mau dirawat, lebih baik melaporkan ke dinas sosial (dinsos) agar pemerintah mencari pengasuh atau orang tua yang mau mengadopsi. “Setiap ada bayi atau anak yang mau diserahkan ke kami, harus lapor dulu ke dinsos. Takut nanti ada apa-apa di kemudian hari,” paparnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Malam itu tahun 2015, tepatnya hari ke dua Idul Fitri, Yayasan Panti Asuhan Mambaul Ulum tak seperti biasanya. Tampak sepi dari aktivitas anak-anak yatim. Namun, suasana hening itu tiba-tiba dipecahkan suara tangisan anak yang terdengar lirih. Suara itu membuat H Muh Yazid Islamiyah, Pengasuh Yayasan Panti Asuhan Mambaul Ulum, beserta istrinya terbangun dari tempat tidurnya.

Saat keluar rumah, Yazid tampak bingung. Dia mendengar suara tangisan bayi itu bersumber dari masjid yayasan. Tanpa pikir panjang, Yazid langsung menuju rumah ibadah itu. Nyatanya, keranjang yang tergeletak di teras masjid berisi bayi lengkap dengan perlengkapannya. “Ada sabun, bedak, dan lainnya,” ungkap istri Yazid.

Cerita bayi yang dimasukkan ke kotak dan diletakkan di depan rumah ini bukan kisah sinetron di televisi, tapi nyata dan terjadi di yayasan yang berada di Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Sumbersari, tersebut. Yazid pun menyodorkan klipingan koran Jawa Pos Radar Jember terbitan 19 Juli 2015. “Ini beritanya ada di koran,” kata Yazid, kepada Jawa Pos Radar Jember.

Rupanya, tak hanya sekali itu saja Mambaul Ulum menerima dan merawat bayi yang dibuang oleh orang tuanya. Tapi sudah beberapa kali. Faktor yang melatarinya juga bermacam-macam. “Ada yang karena persoalan ekonomi, anaknya ditaruh di sini. Ada TKW, ada pula ibunya dipenjara, serta ada juga pasangan mahasiswa,” ungkapnya.

Yazid tak memungkiri ada pasangan dua sejoli yang masih berstatus kuliah menyerahkan bayinya. “Kedua orang tua yang masih mahasiswa itu dari luar Jawa dan juga beda agama,” paparnya. Karena takut dan lainnya, sehingga memilih bayinya untuk ditaruh di panti asuhan. “Karena di sini mau menerima anak dari pergaulan bebas, bukan berarti saya setuju pergaulan bebas. Tapi, kasihan bayi ini,” terangnya.

Yazid menjelaskan, sebenarnya tidak ada orang tua mana pun yang ingin membuang anaknya. Tapi karena ada sesuatu persoalan, malu dengan lingkungan, keluarga, hingga takut terhadap kedua orang tua, membuat ibu yang selama 9 bulan mengandung memilih membuang anaknya. Tak sekadar itu, orang tua yang membuang bayinya juga tidak tahu apakah itu menyalahi hukum atau tidak, juga kebingungan diserahkan ke siapa bayi tersebut.

Padahal, kata Yazid, jika bayi itu tidak mau dirawat, lebih baik melaporkan ke dinas sosial (dinsos) agar pemerintah mencari pengasuh atau orang tua yang mau mengadopsi. “Setiap ada bayi atau anak yang mau diserahkan ke kami, harus lapor dulu ke dinsos. Takut nanti ada apa-apa di kemudian hari,” paparnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Malam itu tahun 2015, tepatnya hari ke dua Idul Fitri, Yayasan Panti Asuhan Mambaul Ulum tak seperti biasanya. Tampak sepi dari aktivitas anak-anak yatim. Namun, suasana hening itu tiba-tiba dipecahkan suara tangisan anak yang terdengar lirih. Suara itu membuat H Muh Yazid Islamiyah, Pengasuh Yayasan Panti Asuhan Mambaul Ulum, beserta istrinya terbangun dari tempat tidurnya.

Saat keluar rumah, Yazid tampak bingung. Dia mendengar suara tangisan bayi itu bersumber dari masjid yayasan. Tanpa pikir panjang, Yazid langsung menuju rumah ibadah itu. Nyatanya, keranjang yang tergeletak di teras masjid berisi bayi lengkap dengan perlengkapannya. “Ada sabun, bedak, dan lainnya,” ungkap istri Yazid.

Cerita bayi yang dimasukkan ke kotak dan diletakkan di depan rumah ini bukan kisah sinetron di televisi, tapi nyata dan terjadi di yayasan yang berada di Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Sumbersari, tersebut. Yazid pun menyodorkan klipingan koran Jawa Pos Radar Jember terbitan 19 Juli 2015. “Ini beritanya ada di koran,” kata Yazid, kepada Jawa Pos Radar Jember.

Rupanya, tak hanya sekali itu saja Mambaul Ulum menerima dan merawat bayi yang dibuang oleh orang tuanya. Tapi sudah beberapa kali. Faktor yang melatarinya juga bermacam-macam. “Ada yang karena persoalan ekonomi, anaknya ditaruh di sini. Ada TKW, ada pula ibunya dipenjara, serta ada juga pasangan mahasiswa,” ungkapnya.

Yazid tak memungkiri ada pasangan dua sejoli yang masih berstatus kuliah menyerahkan bayinya. “Kedua orang tua yang masih mahasiswa itu dari luar Jawa dan juga beda agama,” paparnya. Karena takut dan lainnya, sehingga memilih bayinya untuk ditaruh di panti asuhan. “Karena di sini mau menerima anak dari pergaulan bebas, bukan berarti saya setuju pergaulan bebas. Tapi, kasihan bayi ini,” terangnya.

Yazid menjelaskan, sebenarnya tidak ada orang tua mana pun yang ingin membuang anaknya. Tapi karena ada sesuatu persoalan, malu dengan lingkungan, keluarga, hingga takut terhadap kedua orang tua, membuat ibu yang selama 9 bulan mengandung memilih membuang anaknya. Tak sekadar itu, orang tua yang membuang bayinya juga tidak tahu apakah itu menyalahi hukum atau tidak, juga kebingungan diserahkan ke siapa bayi tersebut.

Padahal, kata Yazid, jika bayi itu tidak mau dirawat, lebih baik melaporkan ke dinas sosial (dinsos) agar pemerintah mencari pengasuh atau orang tua yang mau mengadopsi. “Setiap ada bayi atau anak yang mau diserahkan ke kami, harus lapor dulu ke dinsos. Takut nanti ada apa-apa di kemudian hari,” paparnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/