alexametrics
23.2 C
Jember
Thursday, 18 August 2022

Kecetit Bisa Sebabkan Kelumpuhan

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Dua hari lalu (24/12), Riyadi tidak bisa bekerja seperti biasanya. Warga Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, itu mengalami sakit pinggang setelah memanggul banyak kelapa muda, sehari sebelumnya. Kepada Miskun, juragannya, kuli panggul kelapa itu tak bisa bekerja karena kecetit atau saraf tulang belakang yang terjepit.

Miskun, warga Dusun Krajan Barat, Desa/Kecamatan Ambulu, mengungkapkan, apa yang dialami oleh Riyadi sudah jamak dirasakan oleh para kuli panggul lainnya. Mereka kerap mengalami sakit pinggang. “Selain banyak pohon kelapa yang harus dipanjat, mereka juga mengangkat banyak kelapa muda setiap hari. Antara 100 hingga 200 buah per hari,” katanya.

Biasanya, warga di perdesaan yang mengalami kecetit itu tidak segera berobat ke dokter. Mereka akan mendatangi tukang pijat untuk mengurangi gejalanya. Padahal, jika tak segera teratasi, kondisi saraf terjepit ini bisa berbahaya. Bahkan, dapat menyebabkan kelumpuhan bagi penderitanya.

Mobile_AP_Rectangle 2

dr I Nyoman Semita, dokter spesialis tulang belakang di RSD Soebandi, menjelaskan, saraf terjepit di tulang belakang itu ada dua macam. Saraf terjepit bagian tepi dan saraf pusat. Kalau saraf pusat yang terkena, biasanya menimbulkan kelumpuhan di tungkai. Bisa empat atau dua tungkai di bagian bawah yang disertai dengan gangguan berak dan kencing. “Kalau saraf tepi yang kena, biasanya menimbulkan rasa nyeri yang panjang. Mulai pinggang, bokong, paha, hingga betis. Kadang sampai ke telapak kaki,” jelasnya.

Menurut dia, penyebab saraf terjepit bisa karena tekanan sesuatu. Baik proses penuaan, infeksi, tumor, kecelakaan, maupun oleh beban yang berjalan panjang. “Yang dimaksud saraf kejepit oleh masyarakat, biasanya yang terkait dengan beban yang panjang dan berulang-ulang,” ucapnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Dua hari lalu (24/12), Riyadi tidak bisa bekerja seperti biasanya. Warga Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, itu mengalami sakit pinggang setelah memanggul banyak kelapa muda, sehari sebelumnya. Kepada Miskun, juragannya, kuli panggul kelapa itu tak bisa bekerja karena kecetit atau saraf tulang belakang yang terjepit.

Miskun, warga Dusun Krajan Barat, Desa/Kecamatan Ambulu, mengungkapkan, apa yang dialami oleh Riyadi sudah jamak dirasakan oleh para kuli panggul lainnya. Mereka kerap mengalami sakit pinggang. “Selain banyak pohon kelapa yang harus dipanjat, mereka juga mengangkat banyak kelapa muda setiap hari. Antara 100 hingga 200 buah per hari,” katanya.

Biasanya, warga di perdesaan yang mengalami kecetit itu tidak segera berobat ke dokter. Mereka akan mendatangi tukang pijat untuk mengurangi gejalanya. Padahal, jika tak segera teratasi, kondisi saraf terjepit ini bisa berbahaya. Bahkan, dapat menyebabkan kelumpuhan bagi penderitanya.

dr I Nyoman Semita, dokter spesialis tulang belakang di RSD Soebandi, menjelaskan, saraf terjepit di tulang belakang itu ada dua macam. Saraf terjepit bagian tepi dan saraf pusat. Kalau saraf pusat yang terkena, biasanya menimbulkan kelumpuhan di tungkai. Bisa empat atau dua tungkai di bagian bawah yang disertai dengan gangguan berak dan kencing. “Kalau saraf tepi yang kena, biasanya menimbulkan rasa nyeri yang panjang. Mulai pinggang, bokong, paha, hingga betis. Kadang sampai ke telapak kaki,” jelasnya.

Menurut dia, penyebab saraf terjepit bisa karena tekanan sesuatu. Baik proses penuaan, infeksi, tumor, kecelakaan, maupun oleh beban yang berjalan panjang. “Yang dimaksud saraf kejepit oleh masyarakat, biasanya yang terkait dengan beban yang panjang dan berulang-ulang,” ucapnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Dua hari lalu (24/12), Riyadi tidak bisa bekerja seperti biasanya. Warga Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, itu mengalami sakit pinggang setelah memanggul banyak kelapa muda, sehari sebelumnya. Kepada Miskun, juragannya, kuli panggul kelapa itu tak bisa bekerja karena kecetit atau saraf tulang belakang yang terjepit.

Miskun, warga Dusun Krajan Barat, Desa/Kecamatan Ambulu, mengungkapkan, apa yang dialami oleh Riyadi sudah jamak dirasakan oleh para kuli panggul lainnya. Mereka kerap mengalami sakit pinggang. “Selain banyak pohon kelapa yang harus dipanjat, mereka juga mengangkat banyak kelapa muda setiap hari. Antara 100 hingga 200 buah per hari,” katanya.

Biasanya, warga di perdesaan yang mengalami kecetit itu tidak segera berobat ke dokter. Mereka akan mendatangi tukang pijat untuk mengurangi gejalanya. Padahal, jika tak segera teratasi, kondisi saraf terjepit ini bisa berbahaya. Bahkan, dapat menyebabkan kelumpuhan bagi penderitanya.

dr I Nyoman Semita, dokter spesialis tulang belakang di RSD Soebandi, menjelaskan, saraf terjepit di tulang belakang itu ada dua macam. Saraf terjepit bagian tepi dan saraf pusat. Kalau saraf pusat yang terkena, biasanya menimbulkan kelumpuhan di tungkai. Bisa empat atau dua tungkai di bagian bawah yang disertai dengan gangguan berak dan kencing. “Kalau saraf tepi yang kena, biasanya menimbulkan rasa nyeri yang panjang. Mulai pinggang, bokong, paha, hingga betis. Kadang sampai ke telapak kaki,” jelasnya.

Menurut dia, penyebab saraf terjepit bisa karena tekanan sesuatu. Baik proses penuaan, infeksi, tumor, kecelakaan, maupun oleh beban yang berjalan panjang. “Yang dimaksud saraf kejepit oleh masyarakat, biasanya yang terkait dengan beban yang panjang dan berulang-ulang,” ucapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/