29 C
Jember
Wednesday, 29 March 2023

Menolak Dibawa ke Rumah Sakit. Ayah Bocah Lahir Tidak Normal: Untuk apa?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sayadi, ayah dari dua bersaudara penyandang disabilitas asal Desa Jatimulyo, Kecamatan Jenggawah Jember, menolak anaknya dibawa ke rumah sakit (RS). Menurut dia, keadaan yang dialami kedua anaknya bukanlah penyakit parah. Dia justru menilai kedua putranya tersebut dalam keadaan sehat.

“Untuk apa? Saya bingung. Anak saya kan sehat. Efeknya apa? Dia juga makan masih enak,” ungkapnya kepada awak media. Sayadi mengatakan, sejak awal lahir hingga saat ini kondisi kedua putranya tak pernah mengkhawatirkan.

Dia berkata, setiap hari, Rudi, sang kakak, selalu aktif bermain dan mampu tertawa, meski tidak bisa berinteraksi dengan orang asing. Sedangkan adiknya, Rosidi, juga bisa makan dengan baik, hanya penglihatannya yang bermasalah. “Perawatan selama ini mulai lahir sampai sekarang, ya, terus kayak gini. Sehat kok. Yang kecil sehat, cuma tidak bisa melihat. Ini kan ada penyakitnya. Ini otaknya miring, berarti kan tidak sambung,” tuturnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Penolakan ini merupakan kali kedua yang dilakukan oleh Sayadi. Sebelumnya, kedua putranya juga sempat dibawa ke RS oleh istrinya, Maryam, tanpa meminta izin kepada sang suami. “Sebelumnya pernah dibawa ke rumah sakit, terus katanya mau dioperasi kepalanya. Awalnya, bilang ke saya katanya untuk senang-senang, tidak ngomong operasi,” ucapnya.

Seusai dari RS, Maryam tak menceritakan hal apa pun kepada suaminya. Namun, ada yang aneh saat itu. Rudi dan Rosidi tidak diberi makan dengan alasan agar berpuasa. Sejak itulah, Sayadi mulai curiga atas perlakuan aneh sang istri. Keesokan harinya, istri dan kedua anaknya tersebut kembali ke RS bersama dengan Sayadi.

Saat itu, Rudi mulai dibawa masuk ke ruang operasi. Selang beberapa menit, Sayadi mendengar jeritan putranya tersebut. Dokter yang hendak membedah juga turut keluar meminta bantuan Sayadi dan Maryam agar menenangkan Rudi. “Nyampai ruangan operasi dipegang orang empat tidak mampu. Akhirnya, saya langsung masuk dan langsung pegang. Jadi, tidak sempat operasi. Itu dulu dijanjikan gratis,” akunya.

Akhirnya, Sayadi membawa pulang Rudi demi menenangkan anak kesayangannya itu. “Akhirnya saya bawa pulang. Terus dokternya minta maaf,” sebutnya.

Dia menyebut, dirinya memiliki alasan menolak tawaran perawatan anaknya itu. Menurut dia, pihak dokter seharusnya menjelaskan lebih awal terkait penyakit yang diderita Rudi dan Rosidi jika memang hendak mengobati. “Tapi, menurut saya, penyakitnya apa kalau begini? Dokternya tidak bilang. Kan harusnya ini penyakitnya apa, kenapa harus dioperasi?” tandasnya.

Reporter : Delfi Nihayah/Radar Jember

Fotografer :

Editor : Mahrus Sholih/Radar Jember

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sayadi, ayah dari dua bersaudara penyandang disabilitas asal Desa Jatimulyo, Kecamatan Jenggawah Jember, menolak anaknya dibawa ke rumah sakit (RS). Menurut dia, keadaan yang dialami kedua anaknya bukanlah penyakit parah. Dia justru menilai kedua putranya tersebut dalam keadaan sehat.

“Untuk apa? Saya bingung. Anak saya kan sehat. Efeknya apa? Dia juga makan masih enak,” ungkapnya kepada awak media. Sayadi mengatakan, sejak awal lahir hingga saat ini kondisi kedua putranya tak pernah mengkhawatirkan.

Dia berkata, setiap hari, Rudi, sang kakak, selalu aktif bermain dan mampu tertawa, meski tidak bisa berinteraksi dengan orang asing. Sedangkan adiknya, Rosidi, juga bisa makan dengan baik, hanya penglihatannya yang bermasalah. “Perawatan selama ini mulai lahir sampai sekarang, ya, terus kayak gini. Sehat kok. Yang kecil sehat, cuma tidak bisa melihat. Ini kan ada penyakitnya. Ini otaknya miring, berarti kan tidak sambung,” tuturnya.

Penolakan ini merupakan kali kedua yang dilakukan oleh Sayadi. Sebelumnya, kedua putranya juga sempat dibawa ke RS oleh istrinya, Maryam, tanpa meminta izin kepada sang suami. “Sebelumnya pernah dibawa ke rumah sakit, terus katanya mau dioperasi kepalanya. Awalnya, bilang ke saya katanya untuk senang-senang, tidak ngomong operasi,” ucapnya.

Seusai dari RS, Maryam tak menceritakan hal apa pun kepada suaminya. Namun, ada yang aneh saat itu. Rudi dan Rosidi tidak diberi makan dengan alasan agar berpuasa. Sejak itulah, Sayadi mulai curiga atas perlakuan aneh sang istri. Keesokan harinya, istri dan kedua anaknya tersebut kembali ke RS bersama dengan Sayadi.

Saat itu, Rudi mulai dibawa masuk ke ruang operasi. Selang beberapa menit, Sayadi mendengar jeritan putranya tersebut. Dokter yang hendak membedah juga turut keluar meminta bantuan Sayadi dan Maryam agar menenangkan Rudi. “Nyampai ruangan operasi dipegang orang empat tidak mampu. Akhirnya, saya langsung masuk dan langsung pegang. Jadi, tidak sempat operasi. Itu dulu dijanjikan gratis,” akunya.

Akhirnya, Sayadi membawa pulang Rudi demi menenangkan anak kesayangannya itu. “Akhirnya saya bawa pulang. Terus dokternya minta maaf,” sebutnya.

Dia menyebut, dirinya memiliki alasan menolak tawaran perawatan anaknya itu. Menurut dia, pihak dokter seharusnya menjelaskan lebih awal terkait penyakit yang diderita Rudi dan Rosidi jika memang hendak mengobati. “Tapi, menurut saya, penyakitnya apa kalau begini? Dokternya tidak bilang. Kan harusnya ini penyakitnya apa, kenapa harus dioperasi?” tandasnya.

Reporter : Delfi Nihayah/Radar Jember

Fotografer :

Editor : Mahrus Sholih/Radar Jember

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sayadi, ayah dari dua bersaudara penyandang disabilitas asal Desa Jatimulyo, Kecamatan Jenggawah Jember, menolak anaknya dibawa ke rumah sakit (RS). Menurut dia, keadaan yang dialami kedua anaknya bukanlah penyakit parah. Dia justru menilai kedua putranya tersebut dalam keadaan sehat.

“Untuk apa? Saya bingung. Anak saya kan sehat. Efeknya apa? Dia juga makan masih enak,” ungkapnya kepada awak media. Sayadi mengatakan, sejak awal lahir hingga saat ini kondisi kedua putranya tak pernah mengkhawatirkan.

Dia berkata, setiap hari, Rudi, sang kakak, selalu aktif bermain dan mampu tertawa, meski tidak bisa berinteraksi dengan orang asing. Sedangkan adiknya, Rosidi, juga bisa makan dengan baik, hanya penglihatannya yang bermasalah. “Perawatan selama ini mulai lahir sampai sekarang, ya, terus kayak gini. Sehat kok. Yang kecil sehat, cuma tidak bisa melihat. Ini kan ada penyakitnya. Ini otaknya miring, berarti kan tidak sambung,” tuturnya.

Penolakan ini merupakan kali kedua yang dilakukan oleh Sayadi. Sebelumnya, kedua putranya juga sempat dibawa ke RS oleh istrinya, Maryam, tanpa meminta izin kepada sang suami. “Sebelumnya pernah dibawa ke rumah sakit, terus katanya mau dioperasi kepalanya. Awalnya, bilang ke saya katanya untuk senang-senang, tidak ngomong operasi,” ucapnya.

Seusai dari RS, Maryam tak menceritakan hal apa pun kepada suaminya. Namun, ada yang aneh saat itu. Rudi dan Rosidi tidak diberi makan dengan alasan agar berpuasa. Sejak itulah, Sayadi mulai curiga atas perlakuan aneh sang istri. Keesokan harinya, istri dan kedua anaknya tersebut kembali ke RS bersama dengan Sayadi.

Saat itu, Rudi mulai dibawa masuk ke ruang operasi. Selang beberapa menit, Sayadi mendengar jeritan putranya tersebut. Dokter yang hendak membedah juga turut keluar meminta bantuan Sayadi dan Maryam agar menenangkan Rudi. “Nyampai ruangan operasi dipegang orang empat tidak mampu. Akhirnya, saya langsung masuk dan langsung pegang. Jadi, tidak sempat operasi. Itu dulu dijanjikan gratis,” akunya.

Akhirnya, Sayadi membawa pulang Rudi demi menenangkan anak kesayangannya itu. “Akhirnya saya bawa pulang. Terus dokternya minta maaf,” sebutnya.

Dia menyebut, dirinya memiliki alasan menolak tawaran perawatan anaknya itu. Menurut dia, pihak dokter seharusnya menjelaskan lebih awal terkait penyakit yang diderita Rudi dan Rosidi jika memang hendak mengobati. “Tapi, menurut saya, penyakitnya apa kalau begini? Dokternya tidak bilang. Kan harusnya ini penyakitnya apa, kenapa harus dioperasi?” tandasnya.

Reporter : Delfi Nihayah/Radar Jember

Fotografer :

Editor : Mahrus Sholih/Radar Jember

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca