alexametrics
21.8 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

Tetap Ikhlas walau Gaji Ngepas

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sudah menjadi rahasia umum, kesejahteraan guru honorer masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah. Sebab, gaji mereka jauh dari kata layak. Kendati begitu, cukup banyak guru honorer yang masih bertahan. Mereka tetap mengabdi di lembaga pendidikan meski penghasilannya pas-pasan. Sebenarnya, apa yang menjadi motivasi para guru tersebut?

Jawa Pos Radar Jember mewawancarai sejumlah guru honorer. Ini untuk mengetahui jawaban mereka, apa sejatinya yang membuat pengabdi pendidikan tetap bertahan. Ternyata, beberapa alasan yang disampaikan cukup beragam. Tapi garis besarnya hampir sama, yakni mengabdi untuk membangun generasi yang lebih baik. “Alasan saya menjadi guru karena terinspirasi sosok ayah yang juga menjadi guru SD. Beliau begitu sabar dalam menghadapi anak kecil,” tutur Ana Mulyana, guru SMP di Kelurahan Tegal Besar, Kaliwates.

Perempuan 27 tahun tersebut mengatakan, kesabaran itu yang membuatnya terinspirasi untuk menjadi seorang guru. Karenanya, dia memutuskan menjadi tenaga pendidik sejak 2016 lalu. Selama empat tahun menjadi guru honorer, penghasilannya memang tak seberapa. Kendati demikian, dia mengaku tetap bersyukur berapa pun nilai honor yang diterimanya. “Alhamdulillah, bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. Meski sedikit, kalau barokah, insyaallah tidak akan merasa kurang,” terangnya, kemarin (25/11).

Mobile_AP_Rectangle 2

Hingga kini, dirinya masih setia di satu sekolah. Belum pernah berpindah-pindah. Selain karena sudah kerasan, jam mengajar di sekolah itu juga sudah full.

Meski dia mengaku ikhlas menjalankan pengabdian ini, tapi Ana tetap berharap suatu ketika bisa diterima menjadi pegawai negeri sipil (PNS). “Keinginan itu sudah pasti. Hanya saja, belum diberi kesempatan. Mungkin belum waktunya. Tapi setidaknya sudah berusaha,” ungkapnya.

Sementara itu, Zunaidi Abdillah, pengajar pada salah satu pondok pesantren di Kecamatan Sumberbaru, mengaku, memilih menjadi guru karena dirinya ingin meneruskan ajaran Nabi sesuai doktrin agamanya. Yakni membentuk generasi yang ber-ahlakul karimah. Dia mengungkapkan, walaupun sejak menjadi guru pada 2006 lalu gaji guru honorer jauh dari upah minimum kabupaten (UMK) yang menjadi standar kelayakan gaji di daerah.

Meski begitu, dia juga heran karena penghasilannya itu bisa cukup memenuhi kebutuhan keluarganya sehari-hari. “Alhamdulillah, rezeki tidak akan ke mana-mana selama kita berusaha,” tutur warga Dusun Sadengan, Desa Rowo Tengah, Kecamatan Sumberbaru, tersebut.

Meski demikian, dia berharap ada perhatian dari pemerintah terkait dengan kesejahteraan guru honorer di Kabupaten Jember.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sudah menjadi rahasia umum, kesejahteraan guru honorer masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah. Sebab, gaji mereka jauh dari kata layak. Kendati begitu, cukup banyak guru honorer yang masih bertahan. Mereka tetap mengabdi di lembaga pendidikan meski penghasilannya pas-pasan. Sebenarnya, apa yang menjadi motivasi para guru tersebut?

Jawa Pos Radar Jember mewawancarai sejumlah guru honorer. Ini untuk mengetahui jawaban mereka, apa sejatinya yang membuat pengabdi pendidikan tetap bertahan. Ternyata, beberapa alasan yang disampaikan cukup beragam. Tapi garis besarnya hampir sama, yakni mengabdi untuk membangun generasi yang lebih baik. “Alasan saya menjadi guru karena terinspirasi sosok ayah yang juga menjadi guru SD. Beliau begitu sabar dalam menghadapi anak kecil,” tutur Ana Mulyana, guru SMP di Kelurahan Tegal Besar, Kaliwates.

Perempuan 27 tahun tersebut mengatakan, kesabaran itu yang membuatnya terinspirasi untuk menjadi seorang guru. Karenanya, dia memutuskan menjadi tenaga pendidik sejak 2016 lalu. Selama empat tahun menjadi guru honorer, penghasilannya memang tak seberapa. Kendati demikian, dia mengaku tetap bersyukur berapa pun nilai honor yang diterimanya. “Alhamdulillah, bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. Meski sedikit, kalau barokah, insyaallah tidak akan merasa kurang,” terangnya, kemarin (25/11).

Hingga kini, dirinya masih setia di satu sekolah. Belum pernah berpindah-pindah. Selain karena sudah kerasan, jam mengajar di sekolah itu juga sudah full.

Meski dia mengaku ikhlas menjalankan pengabdian ini, tapi Ana tetap berharap suatu ketika bisa diterima menjadi pegawai negeri sipil (PNS). “Keinginan itu sudah pasti. Hanya saja, belum diberi kesempatan. Mungkin belum waktunya. Tapi setidaknya sudah berusaha,” ungkapnya.

Sementara itu, Zunaidi Abdillah, pengajar pada salah satu pondok pesantren di Kecamatan Sumberbaru, mengaku, memilih menjadi guru karena dirinya ingin meneruskan ajaran Nabi sesuai doktrin agamanya. Yakni membentuk generasi yang ber-ahlakul karimah. Dia mengungkapkan, walaupun sejak menjadi guru pada 2006 lalu gaji guru honorer jauh dari upah minimum kabupaten (UMK) yang menjadi standar kelayakan gaji di daerah.

Meski begitu, dia juga heran karena penghasilannya itu bisa cukup memenuhi kebutuhan keluarganya sehari-hari. “Alhamdulillah, rezeki tidak akan ke mana-mana selama kita berusaha,” tutur warga Dusun Sadengan, Desa Rowo Tengah, Kecamatan Sumberbaru, tersebut.

Meski demikian, dia berharap ada perhatian dari pemerintah terkait dengan kesejahteraan guru honorer di Kabupaten Jember.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sudah menjadi rahasia umum, kesejahteraan guru honorer masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah. Sebab, gaji mereka jauh dari kata layak. Kendati begitu, cukup banyak guru honorer yang masih bertahan. Mereka tetap mengabdi di lembaga pendidikan meski penghasilannya pas-pasan. Sebenarnya, apa yang menjadi motivasi para guru tersebut?

Jawa Pos Radar Jember mewawancarai sejumlah guru honorer. Ini untuk mengetahui jawaban mereka, apa sejatinya yang membuat pengabdi pendidikan tetap bertahan. Ternyata, beberapa alasan yang disampaikan cukup beragam. Tapi garis besarnya hampir sama, yakni mengabdi untuk membangun generasi yang lebih baik. “Alasan saya menjadi guru karena terinspirasi sosok ayah yang juga menjadi guru SD. Beliau begitu sabar dalam menghadapi anak kecil,” tutur Ana Mulyana, guru SMP di Kelurahan Tegal Besar, Kaliwates.

Perempuan 27 tahun tersebut mengatakan, kesabaran itu yang membuatnya terinspirasi untuk menjadi seorang guru. Karenanya, dia memutuskan menjadi tenaga pendidik sejak 2016 lalu. Selama empat tahun menjadi guru honorer, penghasilannya memang tak seberapa. Kendati demikian, dia mengaku tetap bersyukur berapa pun nilai honor yang diterimanya. “Alhamdulillah, bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. Meski sedikit, kalau barokah, insyaallah tidak akan merasa kurang,” terangnya, kemarin (25/11).

Hingga kini, dirinya masih setia di satu sekolah. Belum pernah berpindah-pindah. Selain karena sudah kerasan, jam mengajar di sekolah itu juga sudah full.

Meski dia mengaku ikhlas menjalankan pengabdian ini, tapi Ana tetap berharap suatu ketika bisa diterima menjadi pegawai negeri sipil (PNS). “Keinginan itu sudah pasti. Hanya saja, belum diberi kesempatan. Mungkin belum waktunya. Tapi setidaknya sudah berusaha,” ungkapnya.

Sementara itu, Zunaidi Abdillah, pengajar pada salah satu pondok pesantren di Kecamatan Sumberbaru, mengaku, memilih menjadi guru karena dirinya ingin meneruskan ajaran Nabi sesuai doktrin agamanya. Yakni membentuk generasi yang ber-ahlakul karimah. Dia mengungkapkan, walaupun sejak menjadi guru pada 2006 lalu gaji guru honorer jauh dari upah minimum kabupaten (UMK) yang menjadi standar kelayakan gaji di daerah.

Meski begitu, dia juga heran karena penghasilannya itu bisa cukup memenuhi kebutuhan keluarganya sehari-hari. “Alhamdulillah, rezeki tidak akan ke mana-mana selama kita berusaha,” tutur warga Dusun Sadengan, Desa Rowo Tengah, Kecamatan Sumberbaru, tersebut.

Meski demikian, dia berharap ada perhatian dari pemerintah terkait dengan kesejahteraan guru honorer di Kabupaten Jember.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/