alexametrics
23.2 C
Jember
Thursday, 18 August 2022

Terharu Kesantunan Kiai saat Ditawan Jepang

Penampilan anak-anak ini kocak tapi edukatif. Meskipun banyak mengundang gelak tawa, namun penonton juga kerap dibuat haru. Seolah mereka dibawa menyelami kembali kilas balik sejarah perlawanan kaum bersarung era kemerdekaan. Inilah yang tampak dalam kreasi teater yang diperankan sejumlah pemuda Lingkungan Condro.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Wajah penuh percaya diri begitu tampak di raut anak-anak saat itu. Mereka ada yang bersarung dan berkopiah. Namun, tidak sedikit yang membawa bambu runcing. Genap dengan senapan laras panjang yang entah mereka dapatkan dari mana.

Suasana sempat hening saat salah seorang anak mengenakan sorban dan pakaian serba putih, berjalan menunduk dengan memegang tongkat. Sepertinya yang satu ini bukan sembarang karakter. Sebab, beberapa dari anak-anak tampak sangat santun berkata-kata kepadanya.

Dari situ pula muncul karisma dan wibawa si tokoh dengan sorban dan pakaian serba putih itu dikeramatkan. Mereka menyebutnya sebagai Kiai Hasyim Asy’ari. “Hukum membela dan mempertahankan negara dari penjajah adalah wajib bagi setiap umat Islam,” terang anak yang berperan sebagai Sang Kiai itu, kepada para santri dan pengikutnya. “Inggih Kiai (Iya Kiai, Red),” jawab para pengikut dan santrinya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Latar belakang sebuah pesantren dan bangunan musala begitu terlihat nyata. Apalagi saat setting waktu malam hari, saat itu mengisahkan tokoh kiai yang tengah memberikan tausiah dan pencerahan kepada santri dan pengikutnya.

Tiba-tiba, gemuruh suara derap langkah kaki cukup banyak memecah suasana keheningan tausiah dan konsolidasi itu. “Jangan macam-macam. Diam di tempat,” gertak salah seorang anak yang berperan sebagai tentara Jepang.

Saat pementasan itu hening karena kedatangan tentara Jepang, penonton justru sebaliknya. Mereka pecah, disambut tepuk tangan. Itu belum selesai, saat kembali ke cerita, kedatangan tentara Jepang cukup mengusik suasana saat itu. “Kita minta jangan lagi melakukan perlawanan. Kalau tidak, semua yang di sini akan dihabisi,” pinta seorang anak yang memerankan tentara Jepang saat itu, mengancam Sang Kiai. Saat itu suasana seketika kembali hening.

Dengan kesantunannya, sang kiai tidak seketika mengiyakan. Setelah sesaat memikirkan sesuatu, dengan sedikit negosiasi, tentara Jepang tiba-tiba membawa sang kiai untuk dijadikan tawanan. “Kalian di sini saja. Insyaallah semua akan baik-baik saja,” pinta sang kiai kepada santri dan pengikutnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Wajah penuh percaya diri begitu tampak di raut anak-anak saat itu. Mereka ada yang bersarung dan berkopiah. Namun, tidak sedikit yang membawa bambu runcing. Genap dengan senapan laras panjang yang entah mereka dapatkan dari mana.

Suasana sempat hening saat salah seorang anak mengenakan sorban dan pakaian serba putih, berjalan menunduk dengan memegang tongkat. Sepertinya yang satu ini bukan sembarang karakter. Sebab, beberapa dari anak-anak tampak sangat santun berkata-kata kepadanya.

Dari situ pula muncul karisma dan wibawa si tokoh dengan sorban dan pakaian serba putih itu dikeramatkan. Mereka menyebutnya sebagai Kiai Hasyim Asy’ari. “Hukum membela dan mempertahankan negara dari penjajah adalah wajib bagi setiap umat Islam,” terang anak yang berperan sebagai Sang Kiai itu, kepada para santri dan pengikutnya. “Inggih Kiai (Iya Kiai, Red),” jawab para pengikut dan santrinya.

Latar belakang sebuah pesantren dan bangunan musala begitu terlihat nyata. Apalagi saat setting waktu malam hari, saat itu mengisahkan tokoh kiai yang tengah memberikan tausiah dan pencerahan kepada santri dan pengikutnya.

Tiba-tiba, gemuruh suara derap langkah kaki cukup banyak memecah suasana keheningan tausiah dan konsolidasi itu. “Jangan macam-macam. Diam di tempat,” gertak salah seorang anak yang berperan sebagai tentara Jepang.

Saat pementasan itu hening karena kedatangan tentara Jepang, penonton justru sebaliknya. Mereka pecah, disambut tepuk tangan. Itu belum selesai, saat kembali ke cerita, kedatangan tentara Jepang cukup mengusik suasana saat itu. “Kita minta jangan lagi melakukan perlawanan. Kalau tidak, semua yang di sini akan dihabisi,” pinta seorang anak yang memerankan tentara Jepang saat itu, mengancam Sang Kiai. Saat itu suasana seketika kembali hening.

Dengan kesantunannya, sang kiai tidak seketika mengiyakan. Setelah sesaat memikirkan sesuatu, dengan sedikit negosiasi, tentara Jepang tiba-tiba membawa sang kiai untuk dijadikan tawanan. “Kalian di sini saja. Insyaallah semua akan baik-baik saja,” pinta sang kiai kepada santri dan pengikutnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Wajah penuh percaya diri begitu tampak di raut anak-anak saat itu. Mereka ada yang bersarung dan berkopiah. Namun, tidak sedikit yang membawa bambu runcing. Genap dengan senapan laras panjang yang entah mereka dapatkan dari mana.

Suasana sempat hening saat salah seorang anak mengenakan sorban dan pakaian serba putih, berjalan menunduk dengan memegang tongkat. Sepertinya yang satu ini bukan sembarang karakter. Sebab, beberapa dari anak-anak tampak sangat santun berkata-kata kepadanya.

Dari situ pula muncul karisma dan wibawa si tokoh dengan sorban dan pakaian serba putih itu dikeramatkan. Mereka menyebutnya sebagai Kiai Hasyim Asy’ari. “Hukum membela dan mempertahankan negara dari penjajah adalah wajib bagi setiap umat Islam,” terang anak yang berperan sebagai Sang Kiai itu, kepada para santri dan pengikutnya. “Inggih Kiai (Iya Kiai, Red),” jawab para pengikut dan santrinya.

Latar belakang sebuah pesantren dan bangunan musala begitu terlihat nyata. Apalagi saat setting waktu malam hari, saat itu mengisahkan tokoh kiai yang tengah memberikan tausiah dan pencerahan kepada santri dan pengikutnya.

Tiba-tiba, gemuruh suara derap langkah kaki cukup banyak memecah suasana keheningan tausiah dan konsolidasi itu. “Jangan macam-macam. Diam di tempat,” gertak salah seorang anak yang berperan sebagai tentara Jepang.

Saat pementasan itu hening karena kedatangan tentara Jepang, penonton justru sebaliknya. Mereka pecah, disambut tepuk tangan. Itu belum selesai, saat kembali ke cerita, kedatangan tentara Jepang cukup mengusik suasana saat itu. “Kita minta jangan lagi melakukan perlawanan. Kalau tidak, semua yang di sini akan dihabisi,” pinta seorang anak yang memerankan tentara Jepang saat itu, mengancam Sang Kiai. Saat itu suasana seketika kembali hening.

Dengan kesantunannya, sang kiai tidak seketika mengiyakan. Setelah sesaat memikirkan sesuatu, dengan sedikit negosiasi, tentara Jepang tiba-tiba membawa sang kiai untuk dijadikan tawanan. “Kalian di sini saja. Insyaallah semua akan baik-baik saja,” pinta sang kiai kepada santri dan pengikutnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/