alexametrics
28 C
Jember
Thursday, 18 August 2022

Pernah Gagal di Jakarta, Kini Hasilkan Ribuan Lukisan

Darah seni Susmiadi mengalir dari keluarga besarnya. Meski petani, sang ayah hobi melukis wayang. Sedangkan almarhum kakaknya pembuat ilustrasi komik jempolan. Wajar jika dia ingin menjadi pelukis tersohor. Meski begitu, tak banyak yang tahu. Di tengah kehidupan yang terbatas dulu, dia sempat nekat ke Jakarta demi mewujudkan impiannya. Bagaimana kisahnya?

Mobile_AP_Rectangle 1

Sadar tak punya banyak uang saku, ia pun berbohong kepada ibunya jika sedang membutuhkan uang untuk membeli motor. Susmiadi dikirimi Rp 2 juta hasil utang. “Namanya sudah berbohong, makanya nggak lancar di Jakarta,” tuturnya.

Selain berbekal uang Rp 2 juta, Susmiadi juga membawa tujuh lukisan. Namun, belum sampai Jakarta, lukisan itu rusak. Diinjak-injak oleh para penumpang kereta. Sesampainya di Jakarta, ia langsung memperbaiki kembali lukisan itu. Lalu memajangnya di sebuah pagar dekat rentetan penjual makanan di Blok M Jakarta. Apes. Ia diusir.

Susmiadi pindah tempat di depan SMA 17 Jakarta. Tak ada yang melirik. Lapaknya sepi. Tak surut semangat, beberapa hari kemudian ia berniat menjual tiga lukisannya pada sebuah galeri Jogi Painting yang kala itu mengadakan pameran di Hotel Borobudur, Jakarta. Rupanya pemilik galeri tak melirik sama sekali. “Ia mengatakan, jika lukisan saya lebih baik dari yang dipajang, maka ia akan membelinya dengan harga berapa pun,” kenang Susmiadi.

Mobile_AP_Rectangle 2

Susmiadi melongo ketika melihat lukisan yang dipajang di galeri. Sebab, semua lukisan tersebut adalah karya pelukis terkenal. Salah satunya adalah Afandi. “Akhirnya, saya belajar di sana. Tinggal seminggu jadi pesuruh. Dapat makan plus dapat ilmu. Mulai saat itu, saya harus melukis sesuatu yang belum pernah dilukis orang,” bebernya.

Ikhtiar tetap dijalankan. Menjajakan lukisan selama tiga bulan. Titik balik Susmiadi muncul ketika ia menjual lukisan di Taman Ancol. Di sana, Susmiadi terpesona dengan lukisan laki-laki sepuh yang juga tengah memajang karyanya. “Saat itu saya khawatir, kalau saya bakal seperti orang tua itu. Punya lukisan bagus tapi nggak terkenal. Apalagi saat itu, kondisi finansial saya juga tidak begitu baik,” paparnya.

Akhirnya, Susmiadi balik ke Kencong. Kembali ke kantor pengairan tempat semula ia bekerja. Ia sempat ditolak karena pergi ke Jakarta tanpa pamit. Dia mendapat skors selama satu bulan. Usai menjalani hukuman, Susmiadi bekerja kembali di posisi yang sama selama enam tahun. Kendati kembali bekerja di Dinas Pengairan, Susmiadi tetap menjalankan kegemarannya. Kini, ribuan karya telah dia hasilkan. “Setelah bekerja di kantor, saya melukis. Tiada hari tanpa melukis. Karena bagi saya melukis adalah kebebasan,” pungkasnya.

- Advertisement -

Sadar tak punya banyak uang saku, ia pun berbohong kepada ibunya jika sedang membutuhkan uang untuk membeli motor. Susmiadi dikirimi Rp 2 juta hasil utang. “Namanya sudah berbohong, makanya nggak lancar di Jakarta,” tuturnya.

Selain berbekal uang Rp 2 juta, Susmiadi juga membawa tujuh lukisan. Namun, belum sampai Jakarta, lukisan itu rusak. Diinjak-injak oleh para penumpang kereta. Sesampainya di Jakarta, ia langsung memperbaiki kembali lukisan itu. Lalu memajangnya di sebuah pagar dekat rentetan penjual makanan di Blok M Jakarta. Apes. Ia diusir.

Susmiadi pindah tempat di depan SMA 17 Jakarta. Tak ada yang melirik. Lapaknya sepi. Tak surut semangat, beberapa hari kemudian ia berniat menjual tiga lukisannya pada sebuah galeri Jogi Painting yang kala itu mengadakan pameran di Hotel Borobudur, Jakarta. Rupanya pemilik galeri tak melirik sama sekali. “Ia mengatakan, jika lukisan saya lebih baik dari yang dipajang, maka ia akan membelinya dengan harga berapa pun,” kenang Susmiadi.

Susmiadi melongo ketika melihat lukisan yang dipajang di galeri. Sebab, semua lukisan tersebut adalah karya pelukis terkenal. Salah satunya adalah Afandi. “Akhirnya, saya belajar di sana. Tinggal seminggu jadi pesuruh. Dapat makan plus dapat ilmu. Mulai saat itu, saya harus melukis sesuatu yang belum pernah dilukis orang,” bebernya.

Ikhtiar tetap dijalankan. Menjajakan lukisan selama tiga bulan. Titik balik Susmiadi muncul ketika ia menjual lukisan di Taman Ancol. Di sana, Susmiadi terpesona dengan lukisan laki-laki sepuh yang juga tengah memajang karyanya. “Saat itu saya khawatir, kalau saya bakal seperti orang tua itu. Punya lukisan bagus tapi nggak terkenal. Apalagi saat itu, kondisi finansial saya juga tidak begitu baik,” paparnya.

Akhirnya, Susmiadi balik ke Kencong. Kembali ke kantor pengairan tempat semula ia bekerja. Ia sempat ditolak karena pergi ke Jakarta tanpa pamit. Dia mendapat skors selama satu bulan. Usai menjalani hukuman, Susmiadi bekerja kembali di posisi yang sama selama enam tahun. Kendati kembali bekerja di Dinas Pengairan, Susmiadi tetap menjalankan kegemarannya. Kini, ribuan karya telah dia hasilkan. “Setelah bekerja di kantor, saya melukis. Tiada hari tanpa melukis. Karena bagi saya melukis adalah kebebasan,” pungkasnya.

Sadar tak punya banyak uang saku, ia pun berbohong kepada ibunya jika sedang membutuhkan uang untuk membeli motor. Susmiadi dikirimi Rp 2 juta hasil utang. “Namanya sudah berbohong, makanya nggak lancar di Jakarta,” tuturnya.

Selain berbekal uang Rp 2 juta, Susmiadi juga membawa tujuh lukisan. Namun, belum sampai Jakarta, lukisan itu rusak. Diinjak-injak oleh para penumpang kereta. Sesampainya di Jakarta, ia langsung memperbaiki kembali lukisan itu. Lalu memajangnya di sebuah pagar dekat rentetan penjual makanan di Blok M Jakarta. Apes. Ia diusir.

Susmiadi pindah tempat di depan SMA 17 Jakarta. Tak ada yang melirik. Lapaknya sepi. Tak surut semangat, beberapa hari kemudian ia berniat menjual tiga lukisannya pada sebuah galeri Jogi Painting yang kala itu mengadakan pameran di Hotel Borobudur, Jakarta. Rupanya pemilik galeri tak melirik sama sekali. “Ia mengatakan, jika lukisan saya lebih baik dari yang dipajang, maka ia akan membelinya dengan harga berapa pun,” kenang Susmiadi.

Susmiadi melongo ketika melihat lukisan yang dipajang di galeri. Sebab, semua lukisan tersebut adalah karya pelukis terkenal. Salah satunya adalah Afandi. “Akhirnya, saya belajar di sana. Tinggal seminggu jadi pesuruh. Dapat makan plus dapat ilmu. Mulai saat itu, saya harus melukis sesuatu yang belum pernah dilukis orang,” bebernya.

Ikhtiar tetap dijalankan. Menjajakan lukisan selama tiga bulan. Titik balik Susmiadi muncul ketika ia menjual lukisan di Taman Ancol. Di sana, Susmiadi terpesona dengan lukisan laki-laki sepuh yang juga tengah memajang karyanya. “Saat itu saya khawatir, kalau saya bakal seperti orang tua itu. Punya lukisan bagus tapi nggak terkenal. Apalagi saat itu, kondisi finansial saya juga tidak begitu baik,” paparnya.

Akhirnya, Susmiadi balik ke Kencong. Kembali ke kantor pengairan tempat semula ia bekerja. Ia sempat ditolak karena pergi ke Jakarta tanpa pamit. Dia mendapat skors selama satu bulan. Usai menjalani hukuman, Susmiadi bekerja kembali di posisi yang sama selama enam tahun. Kendati kembali bekerja di Dinas Pengairan, Susmiadi tetap menjalankan kegemarannya. Kini, ribuan karya telah dia hasilkan. “Setelah bekerja di kantor, saya melukis. Tiada hari tanpa melukis. Karena bagi saya melukis adalah kebebasan,” pungkasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/