alexametrics
23.6 C
Jember
Saturday, 2 July 2022

Pernah Gagal di Jakarta, Kini Hasilkan Ribuan Lukisan

Darah seni Susmiadi mengalir dari keluarga besarnya. Meski petani, sang ayah hobi melukis wayang. Sedangkan almarhum kakaknya pembuat ilustrasi komik jempolan. Wajar jika dia ingin menjadi pelukis tersohor. Meski begitu, tak banyak yang tahu. Di tengah kehidupan yang terbatas dulu, dia sempat nekat ke Jakarta demi mewujudkan impiannya. Bagaimana kisahnya?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu Susmiadi hendak mulai melukis. Bukan menggunakan kuas, melainkan menggunakan cetok kecil yang biasa disebut palet. Sebab, lukisan yang akan digarapnya ini adalah jenis abstrak, bukan realis. Lukisan itu adalah pesanan nomor wahid di awal September. Sudah tiga hari lukisan bercorak kuda itu digarap. Hampir selesai. “Mungkin kurang 30 persen lagi,” ungkapnya, sembari menciduk cat.

Pensiunan pegawai negeri sipil (PNS) ini dapat merampungkan satu lukisan dalam waktu tiga hari hingga satu minggu. Tergantung jenis dan ukuran yang digarap. Baginya, melukis wajah adalah tantangan paling sulit. “Karena kita seolah menduplikasi wajah pemesan,” tambah mantan Camat Kencong tersebut.

Tiada hari tanpa melukis. Jika kadung menggabungkan warna, Susmiadi bisa tidak tidur selama tiga hari. Ini bukan perkara target penyelesaian yang dipasang pemesan. Melainkan, karena kecintaannya dalam melukis. Rasanya, hidupnya sedang diwakafkan untuk melukis. Dalam setiap kegiatan, Susmiadi berprinsip untuk menciptakan lukisan yang belum pernah dilihat oleh orang. Sampai-sampai lukisannya selalu berhasil memikat orang untuk memilikinya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Kini, lukisan Susmiadi dapat dinikmati di seluruh Indonesia. Bahkan Eropa. Itu bermula, sebelum peristiwa bom Bali, ketika temannya dari Pulau Dewata memperkenalkan para turis Eropa dengan lukisannya. Mereka kepincut. Lalu, memesan beberapa lukisan yang langsung dikirim ke Eropa. “Saya bersyukur, walaupun belum pernah ke Eropa, tapi lukisan saya sudah sampai sana,” tuturnya pelan, kemudian menatap ke langit- langit rumah.

Susmiadi lahir dari keluarga yang memiliki ekonomi pas-pasan. Untuk bisa sekolah SLTA, ia harus ikut pakde-nya di Kencong, Jember. Susmiadi bukan warga asli Jember. Ia berasal dari Jombang, Jawa Timur. Mengadu nasib ke Jember untuk mendapatkan kehidupan dan pendidikan yang lebih layak.

Di tengah kesibukannya membantu pekerjaan rumah tangga pakde dan sekolahnya, Susmiadi ajek melukis. Di awal, ia sangat gemar menggambar pahlawan. Lukisan pertamanya yang berhasil terjual adalah Diponegoro. Saat itu laku Rp 500. Di tahun 80-an segitu cukup besar. “Nggak langsung laku. Saya harus berkeliling mengayuh sepeda dari rumah ke rumah,” ungkapnya.

Lalu, pada tahun 1981, Susmiadi nekat pergi ke Jakarta. Mengadu nasib untuk menjadi pelukis kenamaan sesuai dengan impiannya. Padahal kala itu, dia sudah bekerja sebagai pegawai penjaga pintu air (PPA) di Dinas Pengairan. Susmiadi kabur dari pekerjaannya tanpa pamit. Tak ada yang tahu rencananya itu. Sekalipun pakde dan orang tuanya di Jombang. Ia hanya berkabar kepada kakak iparnya yang tengah merantau di ibu kota.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu Susmiadi hendak mulai melukis. Bukan menggunakan kuas, melainkan menggunakan cetok kecil yang biasa disebut palet. Sebab, lukisan yang akan digarapnya ini adalah jenis abstrak, bukan realis. Lukisan itu adalah pesanan nomor wahid di awal September. Sudah tiga hari lukisan bercorak kuda itu digarap. Hampir selesai. “Mungkin kurang 30 persen lagi,” ungkapnya, sembari menciduk cat.

Pensiunan pegawai negeri sipil (PNS) ini dapat merampungkan satu lukisan dalam waktu tiga hari hingga satu minggu. Tergantung jenis dan ukuran yang digarap. Baginya, melukis wajah adalah tantangan paling sulit. “Karena kita seolah menduplikasi wajah pemesan,” tambah mantan Camat Kencong tersebut.

Tiada hari tanpa melukis. Jika kadung menggabungkan warna, Susmiadi bisa tidak tidur selama tiga hari. Ini bukan perkara target penyelesaian yang dipasang pemesan. Melainkan, karena kecintaannya dalam melukis. Rasanya, hidupnya sedang diwakafkan untuk melukis. Dalam setiap kegiatan, Susmiadi berprinsip untuk menciptakan lukisan yang belum pernah dilihat oleh orang. Sampai-sampai lukisannya selalu berhasil memikat orang untuk memilikinya.

Kini, lukisan Susmiadi dapat dinikmati di seluruh Indonesia. Bahkan Eropa. Itu bermula, sebelum peristiwa bom Bali, ketika temannya dari Pulau Dewata memperkenalkan para turis Eropa dengan lukisannya. Mereka kepincut. Lalu, memesan beberapa lukisan yang langsung dikirim ke Eropa. “Saya bersyukur, walaupun belum pernah ke Eropa, tapi lukisan saya sudah sampai sana,” tuturnya pelan, kemudian menatap ke langit- langit rumah.

Susmiadi lahir dari keluarga yang memiliki ekonomi pas-pasan. Untuk bisa sekolah SLTA, ia harus ikut pakde-nya di Kencong, Jember. Susmiadi bukan warga asli Jember. Ia berasal dari Jombang, Jawa Timur. Mengadu nasib ke Jember untuk mendapatkan kehidupan dan pendidikan yang lebih layak.

Di tengah kesibukannya membantu pekerjaan rumah tangga pakde dan sekolahnya, Susmiadi ajek melukis. Di awal, ia sangat gemar menggambar pahlawan. Lukisan pertamanya yang berhasil terjual adalah Diponegoro. Saat itu laku Rp 500. Di tahun 80-an segitu cukup besar. “Nggak langsung laku. Saya harus berkeliling mengayuh sepeda dari rumah ke rumah,” ungkapnya.

Lalu, pada tahun 1981, Susmiadi nekat pergi ke Jakarta. Mengadu nasib untuk menjadi pelukis kenamaan sesuai dengan impiannya. Padahal kala itu, dia sudah bekerja sebagai pegawai penjaga pintu air (PPA) di Dinas Pengairan. Susmiadi kabur dari pekerjaannya tanpa pamit. Tak ada yang tahu rencananya itu. Sekalipun pakde dan orang tuanya di Jombang. Ia hanya berkabar kepada kakak iparnya yang tengah merantau di ibu kota.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu Susmiadi hendak mulai melukis. Bukan menggunakan kuas, melainkan menggunakan cetok kecil yang biasa disebut palet. Sebab, lukisan yang akan digarapnya ini adalah jenis abstrak, bukan realis. Lukisan itu adalah pesanan nomor wahid di awal September. Sudah tiga hari lukisan bercorak kuda itu digarap. Hampir selesai. “Mungkin kurang 30 persen lagi,” ungkapnya, sembari menciduk cat.

Pensiunan pegawai negeri sipil (PNS) ini dapat merampungkan satu lukisan dalam waktu tiga hari hingga satu minggu. Tergantung jenis dan ukuran yang digarap. Baginya, melukis wajah adalah tantangan paling sulit. “Karena kita seolah menduplikasi wajah pemesan,” tambah mantan Camat Kencong tersebut.

Tiada hari tanpa melukis. Jika kadung menggabungkan warna, Susmiadi bisa tidak tidur selama tiga hari. Ini bukan perkara target penyelesaian yang dipasang pemesan. Melainkan, karena kecintaannya dalam melukis. Rasanya, hidupnya sedang diwakafkan untuk melukis. Dalam setiap kegiatan, Susmiadi berprinsip untuk menciptakan lukisan yang belum pernah dilihat oleh orang. Sampai-sampai lukisannya selalu berhasil memikat orang untuk memilikinya.

Kini, lukisan Susmiadi dapat dinikmati di seluruh Indonesia. Bahkan Eropa. Itu bermula, sebelum peristiwa bom Bali, ketika temannya dari Pulau Dewata memperkenalkan para turis Eropa dengan lukisannya. Mereka kepincut. Lalu, memesan beberapa lukisan yang langsung dikirim ke Eropa. “Saya bersyukur, walaupun belum pernah ke Eropa, tapi lukisan saya sudah sampai sana,” tuturnya pelan, kemudian menatap ke langit- langit rumah.

Susmiadi lahir dari keluarga yang memiliki ekonomi pas-pasan. Untuk bisa sekolah SLTA, ia harus ikut pakde-nya di Kencong, Jember. Susmiadi bukan warga asli Jember. Ia berasal dari Jombang, Jawa Timur. Mengadu nasib ke Jember untuk mendapatkan kehidupan dan pendidikan yang lebih layak.

Di tengah kesibukannya membantu pekerjaan rumah tangga pakde dan sekolahnya, Susmiadi ajek melukis. Di awal, ia sangat gemar menggambar pahlawan. Lukisan pertamanya yang berhasil terjual adalah Diponegoro. Saat itu laku Rp 500. Di tahun 80-an segitu cukup besar. “Nggak langsung laku. Saya harus berkeliling mengayuh sepeda dari rumah ke rumah,” ungkapnya.

Lalu, pada tahun 1981, Susmiadi nekat pergi ke Jakarta. Mengadu nasib untuk menjadi pelukis kenamaan sesuai dengan impiannya. Padahal kala itu, dia sudah bekerja sebagai pegawai penjaga pintu air (PPA) di Dinas Pengairan. Susmiadi kabur dari pekerjaannya tanpa pamit. Tak ada yang tahu rencananya itu. Sekalipun pakde dan orang tuanya di Jombang. Ia hanya berkabar kepada kakak iparnya yang tengah merantau di ibu kota.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/