alexametrics
23.2 C
Jember
Thursday, 18 August 2022

Jago Partai Bukan Kader

Kepentingan Jadi Kendala Alotnya Kompromi

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sebelas partai politik (parpol) yang menguasai 50 kursi DPRD Jember tak sepenuhnya siap menghadapi pemilihan kepala daerah (pilkada). Tidak tampilnya jago parpol guna merebut kursi empuk P-1, menunjukkan kader partai tidak ada yang benar-benar dipersiapkan. Inilah yang menjadi penyebab, penentuan pasangan bakal calon bupati dan calon wakil bupati (cabup-cawabup) cukup alot dipasangkan.

Kader parpol di Jember, seperti diketahui, sejauh ini banyak yang hanya diproyeksikan untuk menduduki kursi P-2 alias sebagai bakal cawabup. Sementara, bakal cabup yang akan diusung justru hampir semuanya bukan kader yang sudah digembleng bertahun-tahun. Semisal, bila ada partai A mengusung ketua partainya, kemudian partai B mengusung kadernya, maka perkawinan partai A dan B dalam mengusung pasangan calon akan lebih mudah. Akan tetapi, yang sedang terjadi di Jember malah sebaliknya. Karena itu, mau tidak mau, partai mencari calon yang bukan kader sendiri.

Pengamat politik, Itok Wicaksono menyebut, selain tidak adanya partai yang benar-benar menyiapkan kader untuk menjadi P-1, alotnya penentuan pasangan calon juga dipengaruhi beberapa faktor. Di antaranya, partai politik memiliki kepentingan masing-masing untuk partai politiknya. “Sehingga, partai mempunyai kecenderungan untuk memilih calon menurut partai,” ucapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Faktor selanjutnya yakni banyaknya calon yang muncul membuat partai harus benar-benar berhitung. Apalagi, belasan tokoh yang sempat muncul mayoritas bukan kader partai. “Apalagi, masing-masing calon punya kepentingan yang tidak bisa dikompromi,” imbuh dosen Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammad Jember (UMJ) tersebut.

Faktor berikutnya yakni tentang asal-usul warna partai. Masing-masing partai memiliki kepentingan dengan ideologi perjuangan yang berbeda-beda. “Jika perbedaan warna dan secara ideologi bisa ditengahi calon tertentu, ini luar biasa,” ungkapnya.

Dengan fenomena politik yang demikian, maka menyiapkan kader partai untuk ditarungkan guna merebut kursi P-1, tentunya menjadi PR besar bagi partai politik. Jangan sampai, ke depan partai yang memiliki tiket pencalonan, justru hanya menjadi pendamping orang yang bukan kader.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sebelas partai politik (parpol) yang menguasai 50 kursi DPRD Jember tak sepenuhnya siap menghadapi pemilihan kepala daerah (pilkada). Tidak tampilnya jago parpol guna merebut kursi empuk P-1, menunjukkan kader partai tidak ada yang benar-benar dipersiapkan. Inilah yang menjadi penyebab, penentuan pasangan bakal calon bupati dan calon wakil bupati (cabup-cawabup) cukup alot dipasangkan.

Kader parpol di Jember, seperti diketahui, sejauh ini banyak yang hanya diproyeksikan untuk menduduki kursi P-2 alias sebagai bakal cawabup. Sementara, bakal cabup yang akan diusung justru hampir semuanya bukan kader yang sudah digembleng bertahun-tahun. Semisal, bila ada partai A mengusung ketua partainya, kemudian partai B mengusung kadernya, maka perkawinan partai A dan B dalam mengusung pasangan calon akan lebih mudah. Akan tetapi, yang sedang terjadi di Jember malah sebaliknya. Karena itu, mau tidak mau, partai mencari calon yang bukan kader sendiri.

Pengamat politik, Itok Wicaksono menyebut, selain tidak adanya partai yang benar-benar menyiapkan kader untuk menjadi P-1, alotnya penentuan pasangan calon juga dipengaruhi beberapa faktor. Di antaranya, partai politik memiliki kepentingan masing-masing untuk partai politiknya. “Sehingga, partai mempunyai kecenderungan untuk memilih calon menurut partai,” ucapnya.

Faktor selanjutnya yakni banyaknya calon yang muncul membuat partai harus benar-benar berhitung. Apalagi, belasan tokoh yang sempat muncul mayoritas bukan kader partai. “Apalagi, masing-masing calon punya kepentingan yang tidak bisa dikompromi,” imbuh dosen Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammad Jember (UMJ) tersebut.

Faktor berikutnya yakni tentang asal-usul warna partai. Masing-masing partai memiliki kepentingan dengan ideologi perjuangan yang berbeda-beda. “Jika perbedaan warna dan secara ideologi bisa ditengahi calon tertentu, ini luar biasa,” ungkapnya.

Dengan fenomena politik yang demikian, maka menyiapkan kader partai untuk ditarungkan guna merebut kursi P-1, tentunya menjadi PR besar bagi partai politik. Jangan sampai, ke depan partai yang memiliki tiket pencalonan, justru hanya menjadi pendamping orang yang bukan kader.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sebelas partai politik (parpol) yang menguasai 50 kursi DPRD Jember tak sepenuhnya siap menghadapi pemilihan kepala daerah (pilkada). Tidak tampilnya jago parpol guna merebut kursi empuk P-1, menunjukkan kader partai tidak ada yang benar-benar dipersiapkan. Inilah yang menjadi penyebab, penentuan pasangan bakal calon bupati dan calon wakil bupati (cabup-cawabup) cukup alot dipasangkan.

Kader parpol di Jember, seperti diketahui, sejauh ini banyak yang hanya diproyeksikan untuk menduduki kursi P-2 alias sebagai bakal cawabup. Sementara, bakal cabup yang akan diusung justru hampir semuanya bukan kader yang sudah digembleng bertahun-tahun. Semisal, bila ada partai A mengusung ketua partainya, kemudian partai B mengusung kadernya, maka perkawinan partai A dan B dalam mengusung pasangan calon akan lebih mudah. Akan tetapi, yang sedang terjadi di Jember malah sebaliknya. Karena itu, mau tidak mau, partai mencari calon yang bukan kader sendiri.

Pengamat politik, Itok Wicaksono menyebut, selain tidak adanya partai yang benar-benar menyiapkan kader untuk menjadi P-1, alotnya penentuan pasangan calon juga dipengaruhi beberapa faktor. Di antaranya, partai politik memiliki kepentingan masing-masing untuk partai politiknya. “Sehingga, partai mempunyai kecenderungan untuk memilih calon menurut partai,” ucapnya.

Faktor selanjutnya yakni banyaknya calon yang muncul membuat partai harus benar-benar berhitung. Apalagi, belasan tokoh yang sempat muncul mayoritas bukan kader partai. “Apalagi, masing-masing calon punya kepentingan yang tidak bisa dikompromi,” imbuh dosen Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammad Jember (UMJ) tersebut.

Faktor berikutnya yakni tentang asal-usul warna partai. Masing-masing partai memiliki kepentingan dengan ideologi perjuangan yang berbeda-beda. “Jika perbedaan warna dan secara ideologi bisa ditengahi calon tertentu, ini luar biasa,” ungkapnya.

Dengan fenomena politik yang demikian, maka menyiapkan kader partai untuk ditarungkan guna merebut kursi P-1, tentunya menjadi PR besar bagi partai politik. Jangan sampai, ke depan partai yang memiliki tiket pencalonan, justru hanya menjadi pendamping orang yang bukan kader.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/